Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
TCGK-15


__ADS_3

Pintu kamar diketuk seseorang. Sally yang tengah bersantai sambil bermain ponsel lekas beranjak. Dia merapikan diri sebentar lalu melangkah untuk membuka.


“Boleh Mama masuk?” Wajah cantik Bu Lyra yang pertama kali dilihat Sally saat membuka pintu. Ibu mertuanya sudah berdandan rapi.


“Iya, Ma. Silakan.” Sally menggeser diri dan memberi ruang agar Bu Lyra bisa masuk. Kemudian, dia mengikuti di belakang beliau.


Keduanya duduk bersama di sofa. Bu Lyra mengedarkan pandangan ke segala sisi. Sally yang melihat itu ingin bertanya tetapi enggan.


“Zean di mana?”


“Kak Ze masih mandi, Ma.”


Ibu mertua Sally manggut-manggut. “Ya, sudah kalau begitu. Mama ke sini cuma mau bilang pulang duluan, kalian nanti nyusul, ya.”


Sally tersenyum tipis. “Baik, Ma.”


Ibu kandung Zean itu memeluk Sally sekejap sebelum keluar kamar.


“Hati-hati, Ma.”


“Siapa?”


Suara Zean mengagetkan orang yang baru saja menutup pintu. Sementara itu, Sally sampai terlonjak karena tidak siap.


“Kenapa diam? Kemari!”


Sally masih linglung. Dia tidak paham dengan omongan Zean. Hatinya bertanya, kenapa sang suami memintanya datang?


“Kemari, Gadis Kecil!” pinta Zean sekali lagi.


Gadis cantik 18 tahun itu mendekat secara pelan. Dia sedikit ragu dalam melangkah. Tinggal berdua dalam satu ruangan dari kemarin mengubah Sally menjadi enggan bergerak.


“Duduk sini!”


Suaminya memerintah lagi ketika Sally sudah berdiri di dekat sofa. Melihat istrinya mematung, Zean berdecak.


“Duduk sini. Apa kau tuli?”


Sally terhenyak dengan ucapan Zean. Pria yang tengah menyodorkan handuk itu benar-benar kasar dalam bicara. Siapa betah tinggal dengannya kalau demikian?


Tak ada respons dari Sally membuat Zean lelah dan menarik tangan istrinya yang putih. Gadis itu sampai terhuyung dan menubruk Zean.


Beberapa detik mereka saling pandang tanpa bicara. Sally sedikit hilang kesadaran saat pandangannya bisa menembus sampai ke dalam mata bening Zean.


“Sudah?” Zean menyadarkan istrinya. Pria itu menyeringai halus.


Sally segera menarik diri dan merapikan pakaian. Dia lantas duduk dengan benar di sebelah.


Zean berbalik dan memunggungi istrinya. “Ayo keringkan rambutku. Pakai handuk itu.” Dia menoleh sepintas guna memastikan Sally paham dengan omongannya.


Gadis itu sempat terdiam lagi. Namun, karena lagi-lagi Zean menyeru akhirnya dia bergerak dan mulai mengeringkan rambut suaminya.


Nona Muda Birawan itu mengambil posisi berlutut karena tinggi badan yang jauh. Dia menumpu badan dan memastikan seimbang.


Orang yang tengah diusap rambutnya terlihat menikmati. Zean sempat memejam dan membuka mata kembali ketika ingat keluarga.

__ADS_1


“Kau ingin pulang sekarang?” Zean bertanya tanpa menoleh. Dia biarkan Sally terus melakukan aktivitasnya.


“Gadis Kecil ….” Pria itu mengulang panggilan karena tak kunjung dapat jawaban.


“Iya. Besok aku sekolah. Jadi harus pulang hari ini juga.”


Zean berdecak lirih. “Bahkan aku lupa kalau kau masih sekolah.”


Istrinya tak menjawab lagi. Sally tahu Zean sedang mengejek dirinya. Pria itu terlalu menyebalkan, wajar saja jika Sally membenci.


Detik berganti menjadi menit. Akan tetapi, kegiatan Sally tak kunjung disudahi oleh penyuruhnya. Zean seolah sedang perawatan di salon, dengan tega dia terus meminta istrinya mengeringkan rambut dan sesekali memijat kepala.


“Aku capek.” Akhirnya Sally memberanikan diri bicara.


Suaminya langsung membuka mata. Dia memutar badan tanpa bicara lebih dulu. Perlakuan itu membuat Sally terkejut dan nyaris terjungkal dari tempatnya duduk.


“Oke. Cukup.” Zean berkata sembari mencubit pipi Sally. Pria itu tak memungkiri kalau wajah putih istrinya begitu menggemaskan.


“Jangan asal pegang!” Anak pertama Bu Anna itu menghardik kesal. Dia mengusap pipinya secara kasar.


Zean yang melihat itu justru tertawa. Respons demikian membuat Sally bergidik sendiri.


Pria aneh.


Sally pergi dengan mengentakkan kaki, sementara sang suami yang meIihat justru geleng kepala. Tanpa berpikir apa pun, Zean menyambar ponsel untuk menghubungi Elo agar datang ke rumah keluarga Pratama.


Pesan telah terkirim dan tinggal menunggu balasan. Zean beranjak dan segera bersiap. Ketika menuju ranjang, dia mengernyit.


Di mana Gadis itu?


“KAKAK! PAKAI BAJU!” Istri Zean menjerit histeris ketika baru saja membuka pintu.


Seseorang yang diteriaki tidak peduli, justru terbahak sampai puas. “Hei, Gadis Kecil! Keluar kau! Mau sampai kapan mengurung diri di kamar mandi.”


Tak ada tanda-tanda Sally keluar. Zean menghela napas sebentar. Istri kecilnya ini memang masih bocah. Jadi harus sabar.


“Aku sudah selesai,” ucapnya lagi.


Tak selang lama pintu terbuka. Sally melongokkan kepala sedikit untuk mengintip perkataan Zean. Dia bernapas lega saat mendapati suaminya tidak berbohong.


“Takut sekali,” sindir Zean.


Usai drama teriak-teriakan di kamar hotel, akhirnya kedua pengantin baru itu kembali ke kediaman Pratama.


Pintu dibukakan oleh Bi Minah—asisten rumah tangga—dengan sopan. Beliau menyapa sembari tersenyum. Sally yang melihat itu memberikan timbal balik yang ramah pula.


“Mau minum apa, Tuan Muda?”


“Gadis Kecil, kau mau minum apa?” Zean tak menjawab Bi Minah, tetapi justru bertanya pada Sally.


Gadis itu menjawab, “Jus jeruk aja, Bi.”


“Baik, Nona.”


Zean memilih mengempaskan diri di sofa ketika Bi Minah sudah kembali ke belakang lagi. Sally ikut duduk di sampingnya dengan jarak cukup jauh. Suaminya yang melihat itu tersenyum miring.

__ADS_1


Tak selang lama minuman buatan Bi Minah datang dengan beberapa potong kue kecil. Beliau mempersilakan lalu kembali lagi.


“Minum.”


Sally langsung meraih gelas yang disodorkan suaminya karena memang haus. Sejenak lupa sifat jaga image dan harga diri yang dijunjung tinggi ketika bersama Zean.


Pria itu masih memperhatikan sang istri minum begitu antusias. Dia sampai berhenti menggerakkan bibir yang sudah menempel di ujung gelas.


Satu gelas tandas begitu saja oleh Sally. Zean menyodorkan kembali minumannya dan urung untuk menikmati.


Lagi-lagi Sally mulai minum. Entah kenapa dia begitu haus rasanya.


“Ternyata kau mau minum juga di tempat bekas bibirku, Gadis Kecil.”


Mendengar ucapan Zean, Sally reflek menyemburkan semua air yang ada di mulut.


Zean ternganga langsung. Dia menunduk dan melihat kemejanya sudah basah semua karena kelakuan istrinya.


“SALLY, KAU!”


Mata Zean melotot dan terlihat garang. Sally sampai beringsut mundur sampai sudut sofa.


Bu Lyra dan Pak Bobi yang mendengar suara Zean menggelegar segera datang. Mereka berjalan cepat.


“Ada apa ini?”


Zean membisu ketika sang ayah bertanya lantang. Dia bisa merasakan sebentar lagi akan dapat amukan.


Tak kunjung dapat jawaban, Pak Bobi semakin emosi. Melihat menantunya ketakutan, beliau hendak memukul Zean tetapi dihalangi Sally.


“Jangan, Pa.”


Pak Bobi mundur dan duduk dan masih memandang Zean dengan tatapan tajam. Namun, sang anak tak peduli dan melenggang ke kamar ingin ganti pakaian.


“ZEAN!”


Panggilan ayahnya diabaikan. Pria 26 tahun itu seolah tidak peduli lagi.


“Sa, kamu nggak apa-apa?” Bu Lyra mendekat lantas memeluk si menantu. Tubuh gadis itu sempat gemetar dengan jantung berdegup kencang.


“Kita ke kamar, ya.”


Sally hanya mengangguk tanpa bersuara. Dia membiarkan ibu mertua menggiringnya naik ke lantai atas.


Elo datang ketika Sally baru melangkah beberapa pijakan. Dia menatap heran pada Bu Lyra dan adik ipar barunya.


“Ada apa, Om?” Elo mendekat pada Pak Bobi.


“Biasa. Adikmu berulah.”


Elo manggut-manggut sok paham.


“Ma, panggilkan Ze ke ruang kerja Papa.”


.

__ADS_1


.


__ADS_2