
Sudah menguap beberapa kali, bahkan selama meeting juga tidak fokus. Lagi-lagi hanya Elo yang ikut dibuat pusing. Sebagai asisten cuma bisa bersabar, meluaskan dada layaknya samudra.
Laki-laki bermata cokelat itu masih sibuk melirik adik sepupunya. Sudah bisa ia tebak, pasti Zean begadang lagi.
“Apa Anda ingin tidur dulu, Tuan Muda?” Elo mendekat.
Zean mengangkat wajah setelah beberapa saat hanya menunduk dan ditopangnya kepala dengan kedua telapak tangan. Dia menggeleng, “Sebentar lagi Papa ke sini. Apa yang akan dia lemparkan padaku El? jika tahu aku tidur di jam kerja.”
Merapikan jas abu-abu yang ia kenakan lalu duduk di sofa perlahan. “Ternyata … Anda tahu batasan juga.”
Zean beranjak. Meraih gelas lalu menuang air. Ikut di posisi Elo, meneguk perlahan minumnya. “Bagaimanapun juga, aku hanya pekerja di sini, El. Kalau aku dipecat, anak istriku bagaimana?” Minum lagi sampai habis.
“Bukankah, uang Anda selama ini lebih dari cukup? Bahkan untuk setiap hari jalan-jalan antar negara?”
“Kau gila! Meski punya uang sebanyak itu, aku tidak akan jalan-jalan setiap hari. Buang-buang waktu.”
Elo menepuk kening. “Sepertinya … nyawa Anda benar-benar tidak berada dalam raga, Tuan. Saya hanya bercanda tapi Anda menganggap serius. Ck!”
Tak ada jawaban, ternyata Zean sudah tertidur. Elo berdecak malas melihat kelakuan adik sepupunya. Laki-laki itu membiarkan saja, hanya membantu melonggarkan kaitan dasi di leher, membuka satu kancing kemeja bagian atas agar Zean tidak sesak napas.
Kembali ke meja kerja karena perlu memeriksa laporan yang diberikan sekretaris Zean tadi pagi. Pembahasan proyek sehabis meeting juga tak kalah ikut menyita perhatian darinya.
Baru beberapa saat Elo mulai fokus, pintu ruangan terbuka dan terlihatlah Direktur Utama gedung Pratama Group itu. Elo gelagapan, segera berdiri dan menghampiri pamannya.
“Tuan Besar ….”
Tangan Pak Bobi hanya terangkat ke atas pertanda tidak perlu melanjutkan bicara. Melirik ke arah sofa, mendapati anak semata wayangnya tengah terlelap.
“Sejak kapan?” Masih memperhatikan Zean.
“Baru saja, Tuan.” Beliau mengangguk.
“Perlu saya bangunkan, Tuan?”
Memilih duduk tak jauh dari Zean. Melihat Elo yang masih berdiri, beliau meminta lelaki itu ikut duduk. “Aku tidak ingin serius, hanya ingin ngobrol dengan kalian. Kenapa Bocah Nakal ini malah tidur?”
“Tuan muda bilang semalam dia begadang lagi, Tuan.”
“Ck! Jangan memanggil dengan sebutan itu. Aku bilang ingin ngobrol santai dengan kalian.”
Elo mengangguk. “Ada yang mau dibicarakan, Om?”
“Pesankan aku minum,” titahnya.
“Kopi atau teh?” Menjawab sekaligus bertanya.
“Air hangat dengan madu saja.”
“Hah?” Elo sedikit tak paham.
“Aku sudah tidak terlalu minum kopi ataupun teh, El. Aku tidak mau kesehatanku terganggu sebelum cucuku lahir.”
__ADS_1
Lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
Tak banyak bertanya lagi. Elo meraih ponsel menelepon seseorang untuk mengantarkan pesanan pamannya.
“El.”
“Iya, Om.”
“Sebentar lagi aku ingin istirahat di rumah. Biarkan Zean melanjutkan posisiku. Aku harap … kau masih mau menemaninya.”
Mulai bicara serius. “Aku usahakan, Om. Zean melebihi saudara kandungku sendiri. Jujur, aku terlalu menyayanginya sampai rela berpisah dengan keluarga.”
Pak Bobi terkekeh mendengar jawaban keponakannya. Tidak ada yang salah. Elo memang rela meninggalkan keluarga Bagaskara demi menemani Zean. Ketika sang ayah menginginkan ia tinggal dan bekerja di perusahaan sendiri, lelaki itu justru menolak dan memberikan tawaran posisi tersebut pada orang lain. Katanya, ingin juga memberi kesempatan pada semua yang membutuhkan pekerjaan.
Pintu diketuk segera Elo menyahut untuk memberikan izin masuk. Satu Office Boy datang dengan nampan berisi secangkir pesanan pak Bobi dan lain berisi kopi susu.
Sejenak mencuri pandang pada Zean yang masih terlelap. Tatapannya mungkin heran atau entah bagaimana. “Jangan terpesona dengannya!” Elo memperingati pada Office Boy yang memang setengah jadi itu.
“Eh, saya tidak berani, Tuan,” jawabnya mendayu. Membuat Pak Bobi mengerutkan kening sedang Elo bergidik ngeri.
“Keluar!” ucapnya tegas.
“Ba-baik, Tuan.” Segera ngacir sebelum disemprot lebih lanjut oleh asisten dari laki-laki tampan yang selalu menarik perhatian itu.
“Apa dia kelainan?”
“Eh, siapa, Om?”
Elo menyesap kopinya lalu menggeleng. “Kurang paham, Om. Hanya saja, setiap berpapasan dengan kami selalu salah tingkah.”
“Haaah ….” Pak Bobi menghela panjang, “dunia sungguh aneh.”
Elo hanya tertawa mendengar ucapan orang tua di hadapannya.
“I-iya, Say—“ Tiba-tiba Zean terbangun. “Eh, Papa.”
“Kau mimpi apa?”
“Hah?” Menjadi bodoh karena nyawanya belum kembali penuh.
“Kau mau bilang sayang? Pasti sedang mimpi putriku, ‘kan?”
Cih, sejak kapan Papa punya putri. Yang ada juga putra, dan itu adalah aku.
“Kenapa diam? Kau sedang mimpi Sally?”
“Eh, hehe … Papa tahu aja.”
Pak Bobi hanya berdecak lalu meminum air madunya yang mulai dingin. “Jangan banyak begadang, biar nggak tidur di jam kerja.”
Diam. Zean tak bisa menjawab.
__ADS_1
“Istrimu ngidam aneh-aneh?” Zean menggeleng. “Lalu?” Pura-pura atau memang tidak tahu jika Sally setiap malam susah tidur.
“Susah tidur katanya, Pa. Jadi … mau nggak mau ya aku nemenin. Semalam aja nggak mau tidur sampai jam tiga pagi.” Wajahnya berubah lesu mengingat momen tadi malam.
“Sabar, mamamu dulu juga gitu.”
Zean mengangguk. Ua ingat jika sang mama pernah bercerita saat Zean ada di kandungan begitu rewel.
“Kau beruntung istrimu tidak minta aneh-aneh, seperti di TV dan novel-novel." Kembali minum.
Kenapa tiba-tiba membahas novel Papa ini.
Pak Bobi kembali berkata, "Dia cuma minta ditemenin aja. Bayangkan jika dia minta kamu pulang saat jam meeting atau minta makan bubur tapi pakai sumpit, makan ayam tapi tidak boleh dibunuh ayamnya. Bagaimana?”
“Hah? Kok aneh.” Setengah melirik Elo. “Mama pernah gitu, Pa?” Rasa kantuk sudah hilang berganti antusiasnya pada petuah sang ayah.
“Tidak satu pun dari yang aku sebutkan. Tapi pernah, dia meminta belikan manggis tanpa biji.”
“Pfftt ….” Elo keceplosan menahan tawa lantaran mendengar calon ayah dan ayah tengah bicara soal ibu hamil yang ngidam.
Laki-laki berjas abu-abu itu segera mengembalikan wajah stay cool yang ia miliki. Merutuki dirinya yang tak bisa mengontrol diri.
“Sebentar lagi kau akan merasakannya, El. Bersiaplah,” kata pak Bobi.
Elo mengerjap bingung memperhatikan lelaki paruh baya yang sudah beranjak dari sofa setelah menghabiskan minumannya. Ia tergemap, ingin bertanya maksud dari omongan pamannya tapi beliau sudah menghilang di balik pintu. Maksudnya apa? Mungkinkah Om Bobi tahu jika ia ingin segera menikah juga seperti Zean? Oh, hohoho … tidak, tidak mungkin. Tidak ada yang tahu apa pun tentang Elo, bahkan Zean sekalipun.
“Bolehkah aku pulang?” Masih menatap pintu atas kepergian ayahnya. Niat hati ingin merayu agar bisa pulang dan menemui anak istri tapi beliau sudah hilang duluan.
“Apa Anda belum sadar, Tuan? Tolong, mulai sekarang hilangkan hobi Anda yang membuat saya menjadi gila.” Berdiri dengan malas, lagi-lagi merapikan jas yang ia kenakan.
Sebelum sempurna berdiri, Zean sudah menendang tulang kering yang dimiliki Elo. Membuat putra bungsu keluarga Bagaskara itu mengaduh lalu mengusap prihatin pada kakinya yang jadi korban.
“Awas saja, El! Jika kau punya istri, aku tidak akan memberimu izin pulang!” hardiknya.
“Ck!” Melirik sinis, “saya pastikan, waktu itu tidak akan pernah ada.”
“Sialan!” Zean melempar bantal sofa sedang Elo memilih pergi meninggalkan ruang kerja karena sudah masuk jam makan siang. Tumben sekali dia berani keluar lebih dulu tanpa diperintah Zean.
.
.
.
..
.
.
. Bersambung….
__ADS_1