Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 52


__ADS_3

Jam menunjuk pukul empat sore. Hari sudah menjelang malam, tinggal beberapa jam lagi. Keberangkatan yang direncanakan pagi hari dan sampai tujuan siang, mendadak berubah jadi berangkat siang dan tiba sore.


Sally tak berhenti bersorak riang, dia mengagumi pesona alam di sekitar vila yang akan mereka tempati. Tak peduli jika kunjungan mereka sebenarnya bukan sepenuhnya untuk liburan, ia akan tetap menikmati.


Zean hanya tersenyum memperhatikan Sally. Lelaki itu menurunkan dua koper, dan menyeret masuk ke dalam vila.


“Mau masuk nggak?” Setengah berteriak, saat Sally tak menyadari jika Zean sudah lebih dulu hilang dari tempatnya tadi.


Gadis itu segera ikut masuk, menuju lantai dua meninggalkan suaminya. Tak ada protes, suami dari Sally itu hanya mengikuti langkah gadis kecilnya menuju kamar.


Menelentangkan kedua tangan, menikmati empuknya kasur. Zean hanya berdecak, melihat tingkah Sally.


Gadis itu merasa senang, karena sudah lama tidak liburan. Hampir delapan bulan terakhir, sang nenek sakit-sakitan, menjadikan keluarga Birawan fokus pada penyembuhan dan tidak ada kata liburan.


“Nggak dilepas jaketnya?” Sally hanya mengangkat kepala sekilas, menengok Zean, lalu menaruhnya kembali di ranjang. Tangannya naik turun, seolah tengah berenang.


Zean ikut merebahkan diri di samping Sally, membuat gadis itu terpaksa mengangkat satu tangannya. Tak mungkin membiarkan Zean berbantal lengannya, bisa-bisa dia kram nanti.


“Kamu suka?” Sally menoleh. “Suka banget,” jawabnya dengan senyuman begitu manis.


“Kamu manis juga kalau tersenyum. Kenapa tidak pernah senyum tulus padaku dari awal kita menikah?”


Mendengar Zean, tiba-tiba pipi Sally merona. Ini adalah pertama kali Zean memujinya secara nyata. Selama menikah, tak ada kata sayang dan pujian dari keduanya. Mereka saling sibuk dengan ego masing-masing, bahkan kadang saling tak peduli meski tidur satu ranjang.


“Kamu malu?”


“Enggak!” sahut Sally cepat.


“Lalu, kenapa pipimu merah?”


Sally langsung berpaling memunggungi Zean, wajahnya semakin memerah. Kulit putihnya memang tidak bisa berbohong, jika Sally tengah malu atau marah, pasti akan berubah kemerah-merahan.


“Ayok mandi. Sudah mau malam bentar lagi.”


Sally bergeming, belum mau membuka mulut. Beberapa detik tak ada pembicaraan, hening terasa.


Gadis itu berbalik, memastikan sang suami masih berada di belakangnya. Dan ternyata benar, Zean diam karena ia tertidur.


Tangannya mengulur menyibak rambut legam suaminya, memperhatikan setiap garis wajah sang suami. “Sempurna." satu kata itu yang Sally ucapkan di hati. Melihat setiap sisi wajah lelaki yang telah mengisi hatinya.


Wajahnya mulus, bersih tanpa noda. Bahkan bulu-bulu halus pun tak ada. Bulu mata lentik, alis hitam sedikit tebal, rahang yang tegas, dan bibir sensual yang selalu membuat darah Sally berdesir hebat saat mengamatinya.

__ADS_1


“Lisa tidak salah kalau selalu menyebut kakak dengan sebutan ‘kakak ganteng’. Wajah ini terlalu sempurna, aku yakin, di luar sana pasti banyak yang mengagumi kakak.” Tangannya masih terus menyusuri wajah di hadapannya. Membuat pemiliknya merasa terganggu.


“Ehm … aku ketiduran, Gadis kecil,” ucapnya sambil memutar tubuh menghadap Sally tanpa membuka mata. Terlihat lucu bagi Sally. Membuat gadis itu gemas sendiri.


Meraih kepala sang suami, lalu mendekapnya erat. Zean yang merasa berada di bagian favoritnya, justru semakin meringsek dan menikmati. Tak ingin bangun, lupa jika tadi dia mengajak Sally mandi. Justru dua insan itu hanyut dalam mimpi.


***


Jam menunjuk pukul 18.39. Terbangun karena lapar, Sally membangunkan Zean dengan menepuk bahu tangan. “Kak, bangun. Sudah malam ternyata.”  Zean hanya menggeliat sejenak, masih enggan membuka mata.


“Aku lapar, Kak,” tambahnya lagi.


Mulai mengerjap-ngerjap, terpaksa menjauhkan wajahdari pelukan Sally. Zean mendongak, mencoba menatap wajah istrinya. “Kenapa gelap begini?” tanya Ze dengan suara yang parau. Terlihat jelas dia masih susah untuk membuka mata.


“Kita tidur sore tadi, lampu belum dinyalakan. Sekarang sudah malam sepertinya,” jawab Sally.


“Kalau gitu, ayo tidur lagi.” Jawaban di luar dugaan Sally. Zean justru kembali ke posisi tadi, membenamkan wajah, tangannya memeluk erat.


“Kakak … aku lapar. Ayo bangun!” Tak mau menyerah, ia menjauhkan wajah suaminya lagi. Mencoba bangun, untuk terlepas dari Zean. Kemudian menyalakan lampu.


Jendela kaca yang belum tertutup tirai menampakkan pemandangan malam hari kawasan puncak. Sally berdecak kagum. Padahal, baru melihat dari kamar saja ia sudah senang sekali.


Tak peduli dengan Zean yang masih mencoba meraih kesadaran, gadis itu sudah merapat ke jendela kamar berbahan kaca full dari atas sampai bawah. Satu tangan mengarahkan jemarinya menyentuh kaca, sambil tak henti-henti ia mengagumi pemandangan malam itu.


“Kau menyukainya?” tanya Zean, dan mendapat anggukan kepala oleh Sally.


“Kalau begitu … ayo kita lakukan lebih.” Kembali, laki-laki pemilik rambut hitam itu menyusuri kulit mulus istrinya. Menggigit gemas, dan meninggalkan bekas.


“Kakak … jangan lakukan itu lagi.” Segera Sally menjauh, mendorong Zean agar tidak meninggalkan jejak semakin banyak.


“Kenapa?” Alisnya naik sebelah, ekspresi wajahnya sudah berubah cemberut. “Kamu bilang tadi menyukainya.” Masih mencoba mendekat lagi, tangannya sudah mengayun ke depan bersiap memeluk Sally.


Sally mundur teratur, dia baru sadar telah terjadi kesalah pahaman. “Bukan itu maksudku, Kak. Tapi—“


“Kau tidak menyukainya?” Zean sudah menyela, dan memotong omongan Sally dengan sedikit ketus.


Astaga! Dia kumat lagi. Di waktu yang tidak tepat, aku lapar tidak punya tenaga untuk berdebat dengannya. Menyebalkan sekali.


Oke. Sally lebih memilih berdamai. Mengeluarkan jurus rayuan, agar hati manusia bunglon itu segera berubah menjadi baik tanpa harus kembali salah paham.


“Bukan, bukan begitu. Aku selalu suka kamu menyentuhku. Tapi, tidak sekarang. Kita belum makan, dan aku lapar. Ayo kita keluar, sambil menikmati suasana puncak malam hari.” Masih terus mencoba memberi pengertian semanis mungkin, sambil tangannya menggenggam tangan suaminya yang mulai menggeram itu.

__ADS_1


“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau lapar.” Zean mencubit gemas pipi Sally. Membuat pemiliknya mengaduh karena sakit.


Hanya bisa pura-pura tersenyum, agar tidak semakin panjang saja. Padahal, dalam hati ia sudah kesal mati-matian. Bagaimana bisa, dia tidak dengar jika sejak tadi Sally mengadu perutnya lapar. Justru dia yang masih enggan bangun, sampai akhirnya perhatian Sally teralihkan dengan suasana pemandangan malam.


***


Sudah rapi keduanya. Sama-sama memakai sweater rajut berkerah turtle, celana jeans panjang menghias kedua pasang kaki mereka. Sally hendak mengikat rambutnya seperti biasa, namun Zean melarang.


“Jangan diikat, biarkan tergerai. Di luar dingin, Gadis kecil.” Zean berkata, sambil menarik ikat rambut dari tangan sang istri, menaruh di meja rias. Lalu menggenggam tangan gadis kecilnya dan mengajak keluar.


Memilih berjalan kaki, dan berhenti di sebuah warung makan tenda lesehan tak jauh dari vila mereka menginap. Zean awalnya menolak untuk makan di tempat tersebut, namun Sally kekeuh. Gadis itu bilang, di warung tenda tersebut menjual minuman wedang jahe, bisa untuk menghangatkan badan.


Menunggu makanan mereka datang, Sally sibuk memandangi pemandangan malam. Ribuan kelip lampu menyebar seperti bintang, terlihat dari tempat ia duduk saat ini.


“Bagus ya, Kak.” Sally tak henti berdecak kagum.


“Hmm ….” Hanya itu, ekspresi yang ditunjukkan Zean. Laki-laki itu mungkin masih kesal dengan pilihan istrinya, karena mengajak makan di tempat yang tak pernah ia singgahi.


“Gadis kecil, kenapa kita tidak naik mobil dan makan di kafe atau rumah makan yang lebih mendingan dari sini? Aku tak mau kau sakit perut, mengacau liburan kita.”


Kesal! Lagi-lagi hatinya dibuat kesal oleh suaminya. Perkataan Zean mengingatkan dia pada saat  pertemuannya dengan Zean untuk membeli cincin, dia juga mengatakan jika Sally yang mengacaukannya. Huft … sabaaarr….


“Kakak nggak pernah makan di tempat beginian?” Zean menggeleng  cepat. Berharap jika Sally berubah pikiran, dan mau pindah ke tempat makan yang menurut Zean lebih pantas dikunjungi.


“Kalau gitu … cobalah kali ini. Biar tahu rasanya jadi orang biasa.”


Zean menatap cengo, ternyata kenyataan tak sesuai harapannya. Bukan berpindah tempat, malah meminta dia mencoba. Dan apa tadi alasannya? Meminta dia mencoba menjadi orang biasa? Memangnya selama ini Zean bukan orang biasa. Laki-laki itu merengut, jadi malas bicara.


Sampai akhirnya dua mangkok bakso datang, dengan dua gelas wedang jahe sesuai pesanan Sally. Asap mengepul dari kedua hidangan tersebut, aroma menguar sampai menusuk hidung.


Dengan cekatan Sally menuang saos, sambel dan kecap sesuka hati. Kapan lagi dia bisa menikmati bakso dengan suasana dingin puncak malam hari. Haaah … mungkin itu kenikmatan tersendiri baginya.


Sedang Zean, justru bergidik ngeri. Sejak kecil bu Lyra selalu melarang ia jajan sembarangan, sampai akhirnya mendarah daging dan tercetak jelas di otaknya untuk tidak makan makanan yang menurutnya tidak jelas.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung….


__ADS_2