Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 16


__ADS_3

“Lihat apa, Bi? Serius banget.”


“Eh, Nyonya Anna. Ini lhoh, ada berita kecelakaan beruntun di jembatan kota nggak jauh dari sini, Nyah.”


Mata bu Anna ikut mengarah pada televisi yang menempel di dinding dapur, menyaksikan seksama berita yang disorot kamera.


“Parah banget itu, Bi.” Duduk, tanpa mengalihkan perhatian. “Itu mobil sampek rusak parah gitu.” Tangan meraih gelas, menuang air dari teko kaca, lalu diteguk sampai habis.


“Iya, Nyah. Itu beruntun empat mobil. Dua mobil rusak mengakibatkan pengendara ikut luka, satu mobil parah pengemudi meninggal, dan satu mobil jatuh ke sungai. Tapi belum ketemu  sampai pagi ini.”


“Ya Tuhan … kenapa bisa gitu.” Jadi lupa tujuan ke dapur ingin membuatkan teh hangat untuk bu Lyra dan susu untuk putrinya, malah asyik ngobrolin berita.


“Tadi bibi nonton dari awal, itu katanya … gara-gara ada emak-emak bawa motor ngelawan arus gitu, Nyah. Nah, yang bawa mobil kaget, langsung belok kanan tiba-tiba. Tapi ternyata mobil dari belakang melaju kencang, jadi tabrakan gitu. Saking kencangnya mobil yang nabrak, sampek jatuhin mobil yang banting setir tadi ke sungai, Nyah.”


Bu Anna terdiam, masih mendengarkan reporter membacakan berita.


“Nyonya ngapain ke dapur?” Beralih topik karena merasa tak ada respon.


“Eh, sampek lupa. Mau buatkan teh hangat buat Lyra, Bi. Sama susu buat Sally.” Beranjak dari duduk, hendak mengambil panci untuk merebus air.


“Biar saya saja, Nyonya.”


“Nggak usah, Bi. Aku juga jarang ke sini, nggak papa sekali-kali ngurusin anakku.”


Bi Minah terdiam. “Nyah, Non Sally nggak papa?”


Bu Anna bergeming, ingatannya kembali dengan kejadian semalam yang menyayat hati semua anggota keluarga.


“Doakan saja yang terbaik, Bi. Aku sendiri nggak nyangka kalau Zean seperti itu.” Menghela napas pelan, seolah benar-benar pasrah dengan keadaan.


“Semua nggak ada yang tahu, Nyah. Bahkan nyonya Lyra yang deket sama anaknya sendiri. Tapi tuan muda berbuat  begitu mungkin karena pengaruh lingkungan, serta tekanan dari tuan besar.”


Bu Anna menatap lekat bi Minah sejenak, wanita tua itu langsung menutup mulut karena merasa telah lancang bicara. “Maaf, Nyonya.”


“Nggak papa, Bi. Kalau gini aku jadi tahu keluarga ini sedikit. Ku kira Zean itu manja lhoh, Bi. Dia anak tunggal.”

__ADS_1


Bi Minah mengangguk dan tersenyum, “Tuan muda memang manja sama nyonya Lyra, Nyah. Tapi tidak pada tuan. Beliau mendidik dengan keras, dan tuan muda tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga, harus kuat sebagai pewaris tunggal keluarga Pratama.”


“Bibi, tahu banyak soal keluarga ini, ya.” Tiga sendok susu hamil di tuang dalam gelas, tinggal menunggu air yang sebentar lagi mendidih.


“Lumayan, Nyonya. Sebenarnya semua orang di sini baik-baik. Tapi … ya itu, tekanan yang ada kadang terlalu berat. Itu sudah ada dari tuan Pratama sendiri. Jadi menurun pada tuan Bobi dan tuan Andra juga. Sampai pada tuan muda Zean.”


Bu Anna kembali mengangguk, merasa heran dengan perubahan drastis dari pak Bobi. Dulu … pak Tomi bilang kalau pak Bobi bersikap baik tidak sampai menyeramkan seperti semalam. Tapi karena kebenciannya pada kedua orang tua yang  dikira telah menelantarkan, mengubah semua sikap lembutnya.


“Nyah, udah anget ini.” Bi Minah mengagetkan bu Anna, yang sejak tadi tampak melamun memikirkan masa lalu.


“Ambilkan teh celup satu, Bi.” Dengan cekatan bi Minah segera mengambilkan teh dari tempatnya tersimpan.


Segelas susu hangat dan secangkir teh selesai dibuat, ditaruh di atas nampan dan tinggal membawa. “Saya antarkan, Nyonya.”


“Nggak usah, Bi. Lyra ada di kamar bawah sama Sally. Deket kok.”


“Baik, Nyah kalau gitu. Kalau butuh apa-apa bisa panggil aja, nggak perlu repot begini.”


Bu Anna tersenyum, pada asisten rumah tangga besannya ini, hampir seumuran bi Mur. Sama-sama ramah dan pengertian.


“Ra … diminum.” Bu Anna memegang lembut pundak bu Lyra, beliau hanya tersenyum paksa.


“Berdoa aja, semoga suamimu segera berhenti marah dan meminta anaknya kembali ke rumah ini.”


Isak tangis kembali terdengar, terlihat bu Lyra sudah menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Ra … sabar.” Segera bu Anna memeluk, “semua pasti segera selesai.” Menggeleng, seolah tak yakin dengan ucapan ibu dari menantunya itu.


“Nggak semudah itu, Na. Papa Zean jika sudah marah tak ada yang bisa menghentikan kemauannya.” Mengangkat wajah dan melepas pelukan, “kami minta maaf, karena kami sendiri juga nggak tahu kalau Zean selama ini punya pacar sebanyak itu di masa lalu.” Tangisnya semakin pecah. Sally tak kuat melihat ibu mertua. Pikirannya masih kacau, gadis itu memilih keluar daripada tak sanggup.


“Sa … mau ke mana?” Kedua ibu itu justru semakin khawatir dengan kondisi Sally, mengingat hari kelahiran cucu mereka tak lama lagi.


“Susul dia, Na. Jangan biarkan anakmu sendirian. Dia tidak boleh stres.” Mengangguk lalu segera beranjak, membuntuti Sally yang terus berjalan menuju luar rumah.


Gadis itu terisak di bangku dekat kolam renang, wajah ia tundukkan di kedua tangan yang terlipat saling menumpu.


“Sa … sabar, ya. Mami tahu ini cobaan paling berat selama kamu hidup, mungkin lebih menyakitkan dari saat kehilangan nenekmu. Mami dan papi akan coba berikan yang terbaik. Apa kau ingin pulang? Papi dan Dion sore ini ke sini lagi, setelah pulang kantor dan Dion pulang dari sekolah. Nanti mami coba bilang sama kedua mertuamu.”

__ADS_1


Gadis itu mengangkat wajah, memeluk erat perut ibunya. “Mi … apakah cinta harus semenyakitkan ini? Kenapa, Mi? Sally belum pernah pacaran, belum pernah juga menolak laki-laki dengan kejam. Tapi kenapa begini? Ketika baru belajar mengenal cinta, ternyata sakit luar biasa.”


Tangis semakin dalam, dada sudah naik turun tak karuan. Gadis itu tak sanggup rasanya. “Sa … tenanglah, kasian anakmu. Tenang, ya … tenang.” Belaian lembut bu Anna berikan pada surai panjang bergelombang yang Sally miliki, sebisa mungkin ia harus memberikan ketenangan pada putrinya.


“Kita kembali ke kota A sore ini. Mami akan bicara pada papa mertuamu setelah beliau pulang dari perusahaan. Sabar sebentar, ya. Beliau pasti juga kalang kabut dengan perginya Zean. Keluarga penting, perusahaan juga penting. Banyak yang bergantung hidup dengan Pratama Group, oke? Mami di sini menemanimu, sampai kapan pun.”


Berangsur tenang dan berusaha tersenyum, ia akhirnya memilih pulang dan meninggalkan kediaman keluarga Pratama. Terlalu menyakitkan di rumah itu, bayangan Zean di mana-mana. Canda tawa keduanya, kejahilan, bahkan sikap konyol Zean seolah menghias setiap sudut ruangan. Teringat jika setiap malam sang suami bingung tak bisa tidur nyaman, pulang bekerja langsung menanyakan kabar anaknya, dan bayangan lain menari di pandangan Sally.


Tak sanggup! Benar-benar tak sanggup. Ia yang dulu kuat sekuat baja, hatinya telah remuk seiring cinta yang telah hancur karena kesalahan masa lalu.


“Kita masuk, susu yang mami buatkan keburu dingin. Apa pun yang terjadi, cucu mami harus tetap sehat.” Tampak bu Anna tersenyum, teduhnya wajah beliau menenangkan hati Sally. Gadis itu mengangguk, lalu berdiri dibantu oleh wanita yang melahirkannya ke dunia.


.


..


.


.


.


.


.


Bersambung….


Maap kemaleman. Met istirahat kak. Bab ini udah aku revisi ya, kemren isinya curhatan aku. wkkwkwk...


jangan lupa, tinggalkan like dan komennya dulu. 😁


luph.. luph pull, dari Zesa.


Visual aku hapus. aku pindahkan di story instagram yak. 😁

__ADS_1


cus follow instagramku kalau belum follow. 😁😘


__ADS_2