Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 28: Ujian Nasional


__ADS_3

Sebulan berlalu, usia pernikahan yang tak pernah Zean dan Sally hitung. Meski masih banyak hal yang belum mereka ketahui satu sama lain. Entah dari sifat, kebiasaan bahkan masa lalu.


Sally hanya berusaha untuk menerima apa pun perlakuan sang suami selama tidak menyakitinya. Hatinya yang pernah keras sepert batu karang, kini mulai terkikis ombak perasaan.


Sejak tadi, Sally tengah berkutat dengan semua soal-soal latihan. Dia begitu serius belajar untuk Ujian Nasional besok. Beberapa soal dikerjakan dengan sungguh-sunnguh, bahkan tidak terasa jam sudah menunjuk pukul 21.37. Gadis itu mulai menguap sedari tadi, mungkin matanya telah lelah untuk bekerja keras selepas makan malam.


Zean membuka pintu kamar. Laki-laki itu baru saja datang dari ruang keluarga untuk menonton televisi sembari mengobrol dengan kedua mertuanya.


Berbeda dengan Sally yang masih berjarak dengan orang tua baru, Zean jauh lebih akrab dengan status hubungan menantu dan anak. Bukan hal sulit, karena memang Zean sering berkunjung ke kediaman Birawan sejak kecil sampai SMP, tetapi mulai renggang ketika masuk SMA. Pak Tomi dan Bu Anna sudah menganggapnya seperti anak sendiri, tanpa ikatan menantu pun Zean tetap anak bagi mereka.


Pria berkaus putih itu memasuki kamar dengan santai sambil melirik sang istri yang dari tadi terus menguap, lantas tersenyum. Dia mendekat ke meja belajar, mengacak rambut Sally sejenak, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Usai dengan urusan kebersihan, Zean merangkak ke atas ranjang berlapis sprei putih. Punggungnya bersandar di kepala ranjang, sementara jarinya mengutak-atik ponsel guna mengecek beberapa pesan yang masuk. Kondisi masih baik-baik saja, Zean terus meminta Delon untuk


memberi kabar mengenai keadaan perusahaan dan ayahnya.


Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi.


Mata hitamnya menerawang jauh ke langit-langit kamar, pikiran Zean melayang bebas memikirkan berbagai hal. Semua hal yang harus dia pikul sebagai pewaris tunggal Pratama Group.


Sally menutup buku latihan terakhir lantaran sudah tidak kuat lagi. Matanya bahkan beberapa kali terpejam tanpa sadar bersamaan kepala yang terantuk meja. Dia melangkah gonta menuju pembaringan, sesekali menutup mulut yang terus menguap.


“Geser sana, Kak.” Gadis itu berdiri di pinggir kasur, di sisi Zean berada. Dua tampak malas jika harus memutar diri untuk menuju sisi ranjang yang lain.


Masih di posisi yang sama, Zean hanya melirik Sally.


Bukannya bergeser, pria itu justru menarik tangan sang istri.


Sally tekejut, nyawa yang tadi sempat hilang separuh kini


kembali terkumpul. Dia memukul dada bidang sang suami yang sengaja mencuri kesempatan untuk memeluknya.


“Apaan sih, Kak?” Gadis itu sudah bersungut. Bibirnya maju lima senti, membuat Zean terpancing.

__ADS_1


Pria itu memajukan bibir dengan segera. Zean tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kedua. Namun, sayangnya Sally sudah melengos lebih dulu. Dia yang pernah kecolongan, sekarang lebih bisa waspada.


“Mau nyosor lagi, ya,” sarkas Sally. Tangannya menutup rapat bibir Zean, yang hendak mendarat pada miliknya. Dia lantas melepaskan diri dari Zean. Kemudian, memilih naik dan melewati tubuh laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu. Segera Sally merebahkan diri, rasa kantuk tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya dia terlelap dengan posisi memunggungi sang suami.


Zean yang melihat itu mendengkus. Sudah gagal mendaratkan ciuman, justru ditambah ditinggal tidur.


****


Ruang kelas sudah ramai, tetapi tidak penuh dengan siswa.


Mengingat hari pertama ujian nasional, satu kelas tentu terisi dengan jumlah murid yang terbatas.


Sally dan Lisa tidak sebangku seperti biasa, tapi justru duduk mereka saling berjauhan. Buku materi, Sally keluarkan. Dia berniat mengulangi materi yang telah dipelajari kemarin malam.


Lisa mendekat dengan sebuah buku yang sama di tangan. Dia duduk di bangku sebelah Sally tanpa bersuara cempreng seperti biasanya.


“Lis, kebetulan kamu ke sini. Aku jadi inget.”


Lisa menoleh, mengabaikan buku yang ada di hadapannya. “Kenapa?” tanyanya.


“Oh, kayak ada apa aja kamu ini, Sa.” Gadis berambut pendek dengan satu jepit di sebelah kiri itu tersenyum manis. Dia tidak pernah keberatan jika Sally berulang kali membutuhkan bantuan.


Mereka menghentikan obrolan ketika bel berbunyi. Semua siswa kembali ke tempat duduk masing-masing.


Suasana hening seketika. Semua siswa bersiap menjalani ujian dengan sungguh-sungguh demi menyandang prediket lulus.


Jam menunjuk pukul 11 siang. Kelas kembali riuh pertanda ujian telah berakhir. Sally segera menghampiri Lisa, memastikan gadis itu tidak lupa.


“Ayok!” Lisa beranjak dari duduk, tote bag hitam menghias bahu sebelah kiri. Gadis itu selalu tampil modis. Ketika tidak memakai seragam SMA, banyak orang mengira jika dia bukan anak sekolahan.


“Pulang ke mana, Sa?” Lisa bertanya setelah mobil yang dikemudinya telah keluar dari gerbang sekolah.


“Ke rumahlah, mau ke mana lagi. Jangan bilang mau ngajakin nongkrong.” Gadis berambut panjang bergelombang itu mendadak jadi sok tahu.

__ADS_1


Lisa mendengkus kesal. Padahal, dia hanya bertanya tujuan pulang. Akan tetapi, Sally menuduh sembarangan.


“Aku cuma nanya, Sa. Kali aja mau ke kantor suamimu. Ini, kan, sudah hampir jam makan siang.” Masih fokus mengemudi, Lisa hanya menyampaikan apa yang ada di pikirannya.


Ketika hendak menjawab, ponsel Sally bergetar. Dua gadis itu refleks melihat layar ponsel yang menunjukkan ID pemanggil di sana.


“Angkatlah, Sa.” Lisa mengingatkan lantaran sejak tadi Sally seolah enggan menerima telepon.


Kakak kandung Dion itu mengangguk, meggeser icon hijau dari layar, lalu menempelkan ke telinga. "Halo," sapanya pelan.


“Gadis Kecil, sudah pulang?” Suara yang tak asing bagi Sally menyapa dari seberang.


“Sudah, Kak. Bareng Lisa ini di jalan,” jawabnya, lalu melirik orang di sebelah yang tengah mengemudi.


“Kebetulan.” Zean kembali bicara, membuat Sally bingung. “Mampir ke kantor, ya. Makan siang bersama, sebagai tanda ucapan terima kasihku pada temanmu.”


Sally memandang Lisa sejenak. Kemudian, dia berbisik, memberitahu tentang ajakan sang suami untuk makan bersama. Tak tanggung-tanggung, Lisa segera menerima tawaran tersebut. Bukan soal makanan gratis, melainkan rasa bahagianya ketika melihat tampang suami sahabatnya yang berlevel di atas rata-rata.


Menempuh perjalanan tiga puluh menit, dengan diarahkan Sally, mobil navy milik Lisa terparkir di depan gedung di mana Zean bekerja. Mereka turun dengan seragam yang masih melekat pada tubuh. Hanya sweter yang menutup kemeja atas.


Satpam dan beberapa karyawan tampak heran, sebagian menatap sinis pada kedua gadis SMA tersebut.


Dua gadis itu menghampiri meja resepsionis untuk bertanya. Namun, dua wanita dewasa yang berdiri di balik meja resepsionis tersebut tampak ragu untuk menjawab pertanyaan di mana letak ruangan direktur utama.


“Kamu nggak tahu ruangannya, Sa?” Lisa berulang kali menanyakan hal yang sama. Namun, tetap dijawab Sally dengan jawaban ‘tidak’. Putri Pak Tomi itu baru pertama kali berkunjung ke situ, wajar jika tidak tahu apa-apa. Sang ayah bekerja di perusahaan pusat. Namun, Sally juga jarang mendatangi.


“Mbak, tolong telepon Pak Zean aja dulu, deh. Beneran teman saya ini istrinya.” Lisa kembali meyakinkan para resepsionis yang sejak tadi menolak kedatangan keduanya dengan alasan tanpa ada janji.


“Maaf, Nona. Kami tidak bisa, sebaiknya kembali besok lagi. Setelah membuat janji dengan beliau. Anda bisa menuliskan data diri pada buku tamu ini, untuk kami sampaikan pada sekretaris beliau hari ini. Besok, kami akan menghubungi Anda setelah mendapat jawaban.”


Mendengar ucapan panjang lebar resepsionis tersebut, Lisa berdecak sebal. Dia kesal sejak tadi harus mematung di depan meja resepsionis tersebut.


“Telepon ajalah, Sa.” Lisa sudah frustrasi, kakinya yang ramping itu sudah mulai pegal.

__ADS_1


.


.


__ADS_2