Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 4


__ADS_3

“Akhir-akhir ini kau tampak bahagia sekali, El.” Sejak tadi Zean memperhatikan Elo. Lelaki itu memang sebentar-sebentar tersenyum di balik tumpukan berkas dan  sudah berlangsung mungkin sekitar satu Minggu.


Hanya memicingkan mata. Rasanya malas untuk menanggapi lalu kembali ke pekerjaan. Zean berdiri, mendekat ke meja Elo yang satu ruang dengannya. “Apa kau punya sesuatu yang aku tidak tahu?” tanyanya penuh selidik.


Mengangkat wajah sebagian. “Tidak, Tuan.” Kembali bekerja.


“Ish, kau pasti bohong. Tumben sekali.”


Berdecak malas. “Tidak semua hal harus Anda ketahui Tuan Muda ….”


“Tsk! Kau sungguh aneh. Ketika aku selalu berbagi semua hal padamu, tapi kau tidak mau. Kenapa kau jadi menyebalkan sekali.”


Tidak menjawab. Salah satu lelaki tampan di Pratama Group itu tidak ingin acara mendekati wanita idaman yang menjadi cintanya dalam hati kacau karena ulah Zean.


Sepupunya itu pasti akan menertawakan dia habis-habisan jika sampai tahu Elo tengah mengejar seorang wanita.


“Sebaiknya kita bersiap, Tuan. Janji temu dengan Tuan Miko setengah jam lagi.” Memilih mengalihkan pembicaraan daripada harus mendengar Zean mengoceh tiada henti.


Kembali ke meja. Laki-laki yang sebentar lagi menjadi ayah itu bersiap. Mengambil ponsel lalu pergi meninggalkan ruangan bersama Elo.


Tak lupa berpesan pada sekretaris di depan ruangan, memberi tahu jika akan ada urusan keluar.


Sang sekretaris hanya menjawab ‘ya’,  dan menulis beberapa catatan sesuai perintah Zean.


“Pak, lalu bagaimana jika istri Anda nanti telepon?” Zean kembali berpikir. Ia ingat jika Sally selalu telepon ke kantor jika nomornya tak bisa dihubungi.


“Sampaikan saja aku akan segera menghubunginya balik.”


“Baik, Pak.”


Melanjutkan pergi, menuju ke tempat janji temu mereka.


***


“Kita mampir makan siang sebentar, El,” kata Zean di tengah perjalanan usai bertemu dengan Tuan Miko.


Tanpa berkata dan hanya mengangguk, Elo segera mencari restoran terdekat.


Tepat memasuki sebuah restoran. Tak sengaja menabrak seorang anak kecil memakai seragam sekolah. Mungkin mulai masuk di Taman Kanak-kanak atau sejenisnya.


“Hei … kau tak apa?” Zean berjongkok, menyejajari tinggi anak itu.


Hanya diam. Seolah anak kecil itu sedikit takut. Zean tersenyum, membelai rambut halus yang diikat dua. “Di mana ibumu?” Elo bahkan ikut berjongkok pula.


“Elis!” Seseorang menyeru nama anak kecil itu, membuat ia menoleh dan berlari menghampiri.

__ADS_1


“Mama!” Ia menghambur ke pelukan seorang wanita yang tadi menyeru namanya.


Zean dan Elo segera berdiri. Menatap penuh pada wanita di hadapan mereka yang berjarak mungkin satu meter.


“Alika!” Elo ikut semringah, lalu sigap menghampiri.


Tapi tidak untuk wanita beranak satu itu, kedua netra menatap sosok lelaki yang masih bergeming di tempat. Bahkan tidak menyadari jika Elo menghampiri dirinya berada.


“Hei, jadi ini anakmu?” Tidak ada rasa terkejut lagi, padahal seminggu lalu ia menganggap jika Alika berbohong dan hanya bercanda mengenai seorang anak. Ternyata benar, dan sepertinya Elo tidak mempermasalahkan itu.


Zean mendekat, menghampiri kakak sepupunya. “Siapa dia?” Menyenggol lengan Elo yang sejak tadi berubah bahagia.


“Oh, ini Alika. Teman kelas di kampus dulu.” Zean memperhatikan dengan saksama.


“Apa kita pernah bertemu? Nama dan wajahmu tidak asing bagiku?” tanya Zean.


“Tentu saja pernah bertemu, kampus kita sama dulu. Kau aneh.” sahut Elo lebih dulu.


Alika mengangguk membenarkan jawaban Elo. “Mama—“ Anaknya memanggil. Segera ia menanggapi panggilan Elis dan tidak menjawab pertanyaan Zean.


“Aku ingin pulang, makan kue bolu susu!” seru gadis kecil itu antusias.


“Oke, kita pulang. Dan makan bolu susu sesuai keinginan kamu.” Gadis kecil itu mengangguk.


“El, aku pamit pulang kalau begitu.”


“Tokoku di seberang, tidak jauh dari sini. Aku bisa jalan kaki,” jawab Alika lalu menggandeng putrinya pergi.


“Selamat tinggal, Paman. Main-main ke toko kue Mama, ya. Elis tunggu.” Gadis itu berubah ceria dan tidak takut lagi setelah ibunya tiba dan ternyata mengenal dua lelaki yang sempat ia tabrak tadi.


Masih memandang Alika pergi sampai harus ditepuk pundaknya oleh Elo.


“Hei Bro, ada apa denganmu?” Zean terhenyak.


“Tidak. Jadi perempuan itu yang kau incar?” Elo hanya meringis. Ia tak menjawab dan masuk ke dalam meninggalkan Zean.


Masih berpikir tentang Alika. Mungkinkah dia kenal sebelumnya? Ah, Zean benar-benar lupa. Saking banyaknya gadis yang pernah dekat dengannya dulu sampai tak ingat satu pun nama dari wanita yang pernah ia singgahi. Sampai akhirnya ia memutuskan semua wanita itu, meninggalkan dunia gila, dan mengabdikan diri di Pratama Group sampai sekarang.


Tak sadar jika waktu istirahat jam kantor sudah habis. Keduanya baru memesan makanan. Menelepon sekretaris sejenak, memberi kabar jika mereka akan kembali ke kantor dengan sedikit telat.


“Apa makanannya tidak cocok, Ze?” Bertanya lantaran Zean tidak seperti biasanya. Sesekali termenung, tatapan matanya kosong.


“Kau merindukan adik ipar?” Kembali bertanya.


Tak menjawab. Zean segera mengambil ponsel dan menelepon istrinya. Ia bahkan sampai lupa menanyakan kabar gara-gara sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


“Sayang ….” sapanya manja setelah telepon tersambung. Sontak membuat Elo merasa mual, jijik dengan kelakuan adik sepupunya itu.


Apa dia bakal semenjijikkan adiknya jika kelak menjadi seorang suami? Hish, amit-amit. Elo bergidik ngeri.


Masih mengobrol dengan Sally via telepon, Zean menatap sinis pada Elo yang juga menatapnya aneh. Sekali-kali menyuapkan makanan sambil terus mengobrol, sampai tak sadar makanan habis.


“Jangan lupa makan yang banyak, beritahu pada si Kecil untuk tidak rewel dan tidak merindukan aku.”


Kata-kata Zean membuat Elo benar-benar ingin membalik meja. Tak cukupkah dia pamer kemesraan dan sekarang justru ditambah dengan kenarsisan tingkat dewa. Mendengus kesal, entah kenapa dia bisa sewot seperti itu. Padahal, dia juga tidak sedang menginginkan Sally untuk berselingkuh dengannya, tapi entah kenapa hatinya kesal.


Memilih keluar lebih dulu saja. Memantik api, menyalakan rokok sembari menunggu Zean selesai mengobrol. Tak dipungkiri, semenjak bertemu Alika, ia sudah tidak tertarik dengan wanita-wanita yang menawarkan diri padanya. Mungkin terobsesi pada wanita beranak satu itu, dialah salah satu wanita yang menolak Elo terang-terangan dulu dengan alasan Alika sudah memiliki hubungan dengan salah satu senior mereka.


Zean mendekat menghampiri Elo yang memandang seberang jalan. “Berhentilah menikmati benda perusak organ paru-parumu itu.”


Elo menoleh lalu membuang puntung rokok yang baru terbakar separuh. “Aku akan berhenti jika seseorang yang berarti buatku memintanya sendiri.”


Jawaban Elo membuat Zean menaikkan alis sebelah. “Apa aku bukan seseorang yang berarti di hidupmu?”


“Berarti dalam konteks yang berbeda, Ze.” Mulai berjalan menuju mobil.


Zean menyusul sambil menyahut,  “Kau sedang jatuh cinta?” Pertanyaan aneh dan tidak ada hubungannya terlontar.


“Apa urusanmu menanyakan itu?” Elo sinis.


“Haha … ayolah, bukankah aku bagian dari hidupmu? Aku tak menyangka, kau akhirnya bisa jatuh cinta juga.” Ia meledek, sesekali terkekeh dengan hal yang belum tentu benar.


“Aku juga tidak pernah menyangka jika kau akan menjadi Budak Cinta seperti sekarang.” Pernyataan Zean dikembalikan telak oleh Elo.


Terhenti sejenak. “Ish, kenapa kau sekarang seserius itu.”


“Berhentilah bercanda, Ze. Aku tidak ingin membahas masalah kehidupanku.” Melenggang lebih cepat, segera masuk mobil dan mengambil alih kemudi.


“Eh, hei … El. Tsk!” Suami Sally itu mendecak kesal, lalu sedikit berlari menyusul Elo yang sudah lebih dulu masuk dan siap meninggalkannya kapan saja.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


. Bersambung….


__ADS_2