
Mata Sally terpejam erat. Namun, dua detik berikutnya dia mendengar derap langkah banyak orang.
Sally akhirnya memberanikan diri membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Dia menganga saat tahu penjahat yang hendak menembak tadi, kini sudah bersimpuh di aspal dan mulai diamankan petugas.
Mata gadis itu berkeliling, lalu tersadar bahwa Zean butuh pertolongan. Dia buru-buru mendekati suaminya seiring Delon yang juga datang.
"Kak Ze." Sally segera memangku kepala Zean yang tergeletak di aspal. Napas suaminya sudah kembang kempis dengan dada naik turun.
Delon datang dan segera berjongkok. Lelaki 25 tahun itu menyibak jas, lalu menumpu badan dengan lutut. Satu tangan Delon segera dipakai merengkuh Zean. "Ze, maafkan aku."
Zean melirik tajam. Dia memukul bahu Delon dengan sisa tenaga. "Ke mana saja kau? Aku dan istriku hampir mati. Akan kupecat kau kalau terjadi apa-apa pada Sally."
Tak peduli seberapa marah Zean, Delon segera memapah sepupunya itu. Bukan sekali dua kali dia melihat Zean mengamuk, jadi bagi Delon itu adalah hal biasa.
Mobil mulai melaju meninggalkan area perkelahian. Delon hendak membawa Zean dan Sally ke rumah sakit terdekat. Urusan ketiga penjahat sementara ini diserahkan pada pihak berwajib. Dia akan menyusul ke kantor polisi setelah memastikan sepupunya dapat penanganan.
................
Dengan posisi berbaring di kursi mobil bagian belakang dan kepala berada di pangkuan Sally, Zean hanya bisa terdiam sambil mencoba tersenyum dan mengelus pipi istrinya. Rasa ngilu dari luka robek bagian bibir dan dahi tak dihiraukan sama sekali.
“Gadis Kecil, kenapa kau menangis terus?”
__ADS_1
Sally hanya membisu, tatapan pilu tak beralih dari sang suami yang ada di pangkuan. Bibirnya kelu, sepatah kata pun tak bisa keluar. Dia mencoba tersenyum lalu menggeleng, seakan berkata tidak apa-apa.
Apa kau bodoh, Ze? Bisa-bisanya bertanya seperti itu saat Istrimu sedang khawatir.
Delon emosi sendiri melihat Zean yang konyol. Namun, dia diamkan saja sepupunya itu agar fokus menyetir.
Tempat yang jauh dari pusat kota menjadikan mereka harus memakan waktu cukup lama. Hampir dua puluh menit berlalu, tetapi belum juga sampai di rumah sakit.
Kedua mata Zean sudah mulai tertutup sejak tadi. Dia memang tidak mengeluh sakit. Hanya berkata lelah dan ingin tidur sebentar. Sementara itu, darah masih mengalir terus membasahi pelipis dan sebagian rambut legamnya, bahkan sudah mengotori rok yang Sally kenakan.
Sally sendiri tidak berhenti menangis melihat Zean terkulai lemah tak berdaya. Gadis itu terus dapat perhatian dari Delon di depan.
“Adik Ipar, tolong berikan kabar pada Om Bobi dan Tante Lyra. Beliau mungkin saat ini sedang menunggu kedatangan kalian.”
“Adik Ipar, tenanglah.” Delon bicara lagi hingga membuat Sally mendongak ke arahnya. Pria itu lanjut berkata, “Ze, tidak selemah itu. Ini bukan pertama kali dia seperti ini. Sudah biasa.”
Hah? Bukan pertama kali? Lalu ini sudah ke berapa kali?
Mata Sally melotot. Bibirnya bergetar ingin menimpali. Namun, semua kata-kata itu hanya terucap dalam hati.
“Kau belum melihat kalau suamimu pernah sekarat dan dirawat di ICU hampir sebulan karena meminum racun,” terang Elo kembali.
__ADS_1
Sally mengerjap-ngerjap, ingin mengorek telinga saat ini. Hatinya bertanya, lelaki macam apa yang dia nikahi.
Setelah bicara demikian, Delon kembali fokus mengemudi. Dia biarkan Sally kebingungan.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit swasta terdekat dengan lokasi kejadian. Tubuh Zean yang sudah terkulai lemas, langsung dibawa ke ruang IGD.
Sally masih ingin menemani sang suami, tetapi dirinya justru pingsan saat mengikuti ke mana para perawat membawa brankar pasien.
Delon yang kaget segera meminta pertolongan pada perawat lain agar adik iparnya itu juga ditangani. Pria itu menunggu dengan gusar di balik tirai IGD yang tertutup.
Selepas menunggu beberapa menit, penanganan selesai. Delon buru-buru mengadang sang dokter untuk bertanya keadaan Zean.
"Dokter, bagaimana keadaan keduanya?"
Dokter perempuan itu tersenyum ramah. "Semua sudah ditangani, Tuan. Tidak perlu khawatir. Pendarahan juga sudah dihentikan, tapi mungkin akan meninggalkan luka memar. Untuk melihat apa ada cedera di bagian dalam karena pukulan, kami akan melakukan rontgen agar hasil lebih akurat."
Delon mengangguk cemas. "Lalu bagaimana istrinya?"
"Oh, Nona Sally hanya dehidrasi. Tapi ada kemungkinan juga kalau kejadian ini akan membawa trauma baginya. Saya harap keluarga bisa bersikap suportif setelah dia sadar. Pastikan Nona Sally bisa diajak bicara dan diyakinkan bahwa semua sudah aman."
Pernyataan dokter membuat Delon tak bisa berkata-kata. Pria itu hanya bisa mengangguk pertanda paham. Perkara hal lain, akan dirundingkan nanti bersama orang tua Zean maupun orang tua Sally.
__ADS_1
"Saya permisi, Tuan. Anda bisa mengurus administrasi agar saudara Anda segera dapat kamar."
"Baik, Dokter. Terima kasih."