Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 51


__ADS_3

Akhir pekan itu pun tiba, setelah obrolan via telepon yang Zean dan Sally lakukan hampir setiap malam. Zean bilang, akan menjemput sang istri pagi ini. Koper kecil sudah masuk di bagasi mobil, bu Lyra masih sibuk memandangi anaknya dari teras rumah. Beliau mendekat, mengamati sang anak yang dari tadi tak berhenti untuk tersenyum.


“Kamu bawa mobil istrimu, Nak?”


Anak tunggal pasangan pak Bobi dan bu Lyra itu mendongak, sambil menutup bagasi. “Iya, Ma. Mama ‘kan tahu kemarin Ze pulang dari rumah papi Tomi bawa mobil ini.”


Bu Lyra hanya mengangguk, hatinya merasa ikut bahagia atas apa yang dirasa sang anak. Beliau tahu, jika Zean mau menikah dengan Sally hanya karena perintah sang ayah. Meninggalkan semua wanita yang pernah menjadi seorang kekasih baginya, dan menerima perjodohan itu.


Terlihat jelas, awal ia menjalani pernikahan. Tak ada ekspresi dari wajahnya, hanya datar-datar saja. Sengaja, kedua orang tua pasangan muda tersebut tidak akan mengurusi urusan mereka, membiarkan mereka berjalan mengikuti alur kehidupan. Dan ternyata benar, karena kebiasaan bersama, cinta itu tumbuh tanpa diminta.


“Kemarin mobilmu siapa yang ngambil dari hotel?” tanya bu Lyra lagi.


“Kurang tahu, Ma. Ze, kemarin minta tolong sama Elo.” Ia menghampiri sang mama. “Sudah ya, Ma. Ze mau berangkat dulu,” kata Zean. Ia lalu mencium tangan sang ibu, dan memeluk hangat seperti biasa.


“Kau tidak pamitan sama papamu?” Zean menggeleng. “Papa masih tidur ‘kan, Ma?”


Bu Lyra hanya mengangguk, membenarkan omongan putranya. Karena memang Zean berangkat terlalu pagi, pukul setengah lima saja dia sudah mulai bersiap. Dan sekarang masih jam lima pagi.


Zean memutar badan ke arah pintu mobil bagian pengemudi, lalu hendak membuka pintu. “Bocah nakal ... kau mau kabur?” Pak Bobi datang, terlihat beliau sedang berdiri dan berkacak pinggang di depan pintu. Kedua mata berwarna hitam sama seperti milik anaknya, menyorot ke arah Zean.


Zean hanya tersenyum. Menunjukkan deretan gigi putihnya, sambil menggaruk tengkuk yang pasti tidak gatal. Merasa canggung karena mendapat teguran sang ayah. Dengan langkah perlahan ia menghampiri laki-laki yang sudah memberikannya banyak pengalaman hidup itu.


“Papa sudah bangun ternyata. Hehehe ….” Pak Bobi hanya bergeming, sambil memberi tatapan tanpa ekspresi.


Zean meraih tangan sang ayah, lalu menciumnya sebagai tanda pamit. “Salam buat papi dan mamimu di sana,” kata pak Bobi.


“Siap, Pa. Nanti Ze sampaikan. Zean berangkat dulu.” Pak Bobi mengangguk, lalu ikut mengiringi langkah Zean menuju mobil.


Laki-laki berstatus kepala rumah tangga itu merangkul pundak istrinya, sambil terus memperhatikan kepergian Zean.


“Apa … menurut Papa, kita sudah pantas punya cucu, Pa?” Wanita paruh baya itu mendongak, menatap wajah suaminya.


“Pertanyaan macam apa yang Mama tanyakan? Bukankah kita memang sudah punya cucu? Mama lupa dengan Eza?” Memutar tubuh istrinya, mulai mengajak untuk masuk kembali ke dalam rumah.


“Bukan itu, Pa. Cucu kita ... yang dari Zean dan Sally. Bukan dari keponakan kita.”


Pak Bobi menatap istrinya sekilas, lalu mengecup kening sang istri. “Kita sudah pantas, tapi kedua anak itu sudah pantas atau belum jadi orang tua, kita tidak tahu. Mama ‘kan tahu anak Mama itu, dia masih terkadang manja.”


“Tapi, Pa. Mama rasa Zean sudah bisa menjadi sosok ayah, terlihat setiap kali dia memperlakukan Eza dengan penuh kasih sayang.” Bu Lyra tak mau kalah, seakan sudah sangat ingin memiliki cucu.

__ADS_1


Masih terus menggiring istrinya menuju kamar, menaiki tangga dengan terus merangkul. “Sudahlah istriku tercinta, biarkan itu menjadi urusan mereka. Sekarang, layani suamimu yang pengen sarapan ini.” Pak Bobi tersenyum smirk.


“Sarapan apa, Pa? Kenapa kita justru ke kamar? Mama ambilkan makanan dulu kalau Papa mau sarapan di kamar.”


Pintu kamar terbuka, pak Bobi mendorong istrinya. Merasakan tanda-tanda tidak beres, bu Lyra ingin segera pergi.


“Papa mau ngapain? Katanya mau sarapan. Malah mengunci pintu.”


Tidak menjawab, justru malah tersenyum. “Papa mau sarapan Mama. Kita bikinkan adik buat Zean, Ma.”


Sudah diduga, benar-benar ada yang tidak beres. Mau kabur tidak bisa, hanya bisa pasrah menurut saja.


***


Pintu kamar Sally terbuka, Zean masuk dengan mengendap-ngendap saat tahu sang istri masih terlelap. Gadis itu masih sama saja, bangun selalu dibuat siang saat weekend. Padahal, Zean sudah bilang kemarin malam jika pagi ini dia datang menjemput.


Menyibak pelan selimut yang menutup tubuh Sally, lalu perlahan ia mulai naik dan ikut masuk ke dalam selimut. Tidur di belakang sang istri yang masih setia memeluk guling. Jemarinya menyibak helaian rambut yang menutup wajah gadis itu, memandangi sejenak lalu mengecup berulang.


Tidak ada pergerakan, betapa nyenyaknya gadis itu. Tak tinggal diam, tangan Zean sudah meraba ke mana-mana sesuai naluri seorang lelaki. Ia gemas, dengan sengaja tangannya menyusup masuk ke dalam kaos sang istri. Mencari sesuatu yang menarik baginya, lalu dengan antusias  bermain gemas.


Sally tersentak, gadis itu dengan sengaja memukul dengan guling yang ia dekap sejak tadi. Gadis itu berhenti, saat ia baru sadar dengan siapa yang ia pukul.


“Hehehe … selamat pagi, Sayang.”


“Pagi banget datangnya, jam berapa sekarang?” Bukan menjawab, tapi kembali bertanya.


“Emm ….” Laki-laki itu seakan berpikir, lalu menjawab, “setengah tujuh mungkin.”


“Kirain jam berapa.” Beranjak dari tempatnya, lalu menuju meja rias mengambil ikat rambut. Mengumpulkan rambut bergelombang panjang itu menjadi satu, dan mengikat rapi.


Ia kembali berjalan menuju ranjang, menghampiri laki-laki yang selalu ia panggil kakak itu. Kemudian duduk di depannya lagi. Zean masih setia tersenyum manis, seakan  begitu banyak stok senyuman yang ia miliki.


Netra hitam beningnya tak berhenti memandangi wajah Sally. Wajah gadis yang selalu hadir dalam mimpinya yang sukses membuat Zean harus keramas setiap pagi.


Putra keluarga Pratama itu mendekat, merebahkan kepala di paha mulus istrinya. Melingkarkan kedua lengan di pinggang Sally, lalu membenamkan wajah di perut sang istri.


“Geli, Kak.” Tangannya meraih kepala suaminya, menghentikan kelakuan Zean yang sibuk uyel-uyel dari tadi.


“Pelit!” memasang tampang cemberut, bahkan bibirnya ikut maju beberapa senti. Persis seperti ikan cucut saja.

__ADS_1


“Nggak sarapan?” Zean menggeleng, “kenapa?” menggeleng lagi.


“Menunya nggak cocok?” masih saja menggeleng. Membuat Sally membuang napas besar. Bertanya-tanya dalam hati, kenapa suaminya tiba-tiba begitu.


“Aku mandi dulu kalau gitu, ya.” Zean justru meringsek membenamkan wajahnya lebih dalam ke perut Sally. Membuat gadis itu susah beranjak.


“Ada apa sih, Kak?”


Masih bergeming, Zean tak membuka suara dari tadi. Hanya tingkahnya saja yang aneh. Membuat Sally semakin tak paham saja. Benar-benar … mungkin suaminya ini memang manusia bunglon, selalu berubah-ubah.


Ikut diam saja. Membiarkan Zean sibuk dengan ulahnya di bawah sana. Sally justru menyandarkan punggung di headboard ranjang, sambil mengelus rambut legam yang Zean miliki.


Lelaki itu masih sibuk dengan semua hal yang ia suka. Tangannya bahkan ke mana-mana. Sally hanya diam, mau mandi juga tak bisa. Membiarkan sang suami dengan segala aktivitasnya. Membuat ia mendesis, ketika tak tahan menahan geli karena ulah Zean.


Mungkin lupa kalau tujuan mereka hari ini akan berlibur, malah sibuk diam-diaman di kamar, bahkan melewatkan acara sarapan keluarga.


.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Nggak ada yang istimewa di bab ini. mohon maap yak, lagi nggak mood nulis. Tenaga aku terkuras hari ini, otakku jadi ikut sedikit lelah. Kalau nggak suka bisa komen, besok aku revisi kalau sudah membaik.


Jangan lupa like nya. Lengkapin jempolnya dari bab 1 kalau belum lengkap yak. Hehehe…


Lope,lope buat kakak semua, yang masih mau baca sampai sini.

__ADS_1


__ADS_2