
udah pada liat visual kemarin ya? Aku hapus malam ini. Kepoin di ig aku aja kalau penasaran. 🙄
Happy reading.
.
***
Pulang dengan berat hati, Sally masih menatap nanar sepanjang perjalanan menuju ke kota A. Papi, Dion, dan pak Bobi terpaksa pulang dengan tangan hampa. Tanpa petunjuk dan kabar yang jelas tentang orang yang tercebur ke sungai. Bangkai mobil yang mereka harap sebagai petunjuk pun sudah tidak ada di sana. Sudah dibereskan oleh tim evakuasi.
Bertanya pada beberapa orang yang menyaksikan evakuasi dari tadi pagi, mereka hanya bisa memberi keterangan jika mobil itu berwarna putih, satu merek dengan yang Zean miliki. Cukup sulit, mengingat mobil merek tersebut juga banyak yang punya karena bukan cakupan barang limited edition yang hanya dimiliki segelintir pengusaha di dunia. Tapi sayangnya, nomor plat kendaraan tidak bisa ditemukan lantaran hilang dan hanyut terbawa arus.
Semakin susah saat tak ada tanda pengenal atau apa pun benda yang bisa dijadikan petunjuk siapa gerangan pemilik mobil, bahkan pengemudinya belum juga diketemukan. Terpaksa pencarian dihentikan karena hari semakin larut dan akan dilanjutkan esok hari.
“Sa … jangan terlalu stres. Ingat anakmu.” Bu Anna tak henti menenangkan Sally yang sesekali masih mengusap air mata dari pipi.
Dion melirik kakaknya sekilas, hatinya ikut sedih. Padahal pemuda itu terbiasa jadi biang usil. Tukang menggoda tak mau diam.
“Apa kakak baik-baik aja, Mi? Di mana dia sekarang? Kenapa tidak menghubungiku.”
Diam, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Sally. Semua juga tahu jika Zean tiba-tiba menghilang. Ditambah dengan kabar kecelakaan yang terjadi tepat saat Zean juga tak berada di rumah lagi.
“Dia pasti baik-baik aja, Sa. Zean bukan lelaki yang lemah. Bukankah kamu sering lihat jika dia berkelahi dengan beberapa penjahat saat dulu masih bersiteru dengan Andra? Dia tetap baik-baik saja, ‘kan? Dia laki-laki yang cerdas, semua hal terpikir dengan matang.”
“Tapi nyatanya dia tidak memikirkan dengan matang soal tidur dengan banyak wanita.”
Gadis itu menatap ibunya sekilas. Tatapan kosong seolah tiada gairah. Hanya kesedihan mendalam yang terpancar, membuat hati bu Anna berdenyut ngilu.
“Tidurlah, masih setengah perjalanan. Atau kau mau makan? Ada makanan tadi dibuatkan bi Minah. Buat bekal katanya.
Sally hanya menggeleng, entah ke mana nafsu makan itu ikut lenyap. Padahal ia terbiasa makan sehari 4-5 kali. Belum dengan selingan buah-buahan yang dipotongkan sang suami.
***
__ADS_1
Dua jam seperti biasa waktu yang dihabiskan untuk perjalanan. Pak Im dibuat kaget dengan bunyi klakson mobil dari luar gerbang. Mata yang tadi sudah tertutup jadi terbuka kembali. Dengan gelagapan pria itu segera membukakan gerbang.
“Malam, Tuan.” Pak Tomi hanya mengangguk, lalu masuk dan memarkir mobil di garasi. Segera semua turun dan masuk ke dalam.
“Sa … tidur di kamar bawah, ya,” tawar bu Anna, saat sudah masuk di dalam rumah dibukakan bi Mur yang tampak mengantuk.
“Enggak, Mi. Pengen di kamarku sendiri,” tolaknya lirih. Lalu segera perlahan menapaki anak tangga bergantian.
“Kuantar, Kak.” Dion sigap menggandeng sang kakak, tak tega rasanya melihat Sally selemah itu.
Hanya mengangguk pelan, dengan perlahan melanjutkan langkah untuk sampai ke tujuan.
Tiba di kamar dengan semua kondisi ruangan yang masih sama. Meja belajar semasa sekolah masih ada di sana. Tirai dan pintu balkon yang selalu menjadi pemandangan pertama saat membuka mata masih dengan kondisi terawat.
“Makasih, Di. Kamu balik aja ke kamarmu.” Dion bergeming, ia masih berdiri tepat di hadapan Sally setelah membantu gadis itu duduk di tepi ranjang. Sedetik kemudian anak muda itu berjongkok dan menumpu badan dengan kedua kakinya. Memberanikan diri mengusap perut sang kakak untuk pertama kali.
“Kakak dulu yang selalu menjagaku, kita bermain bersama.” Ia menatap Sally yang juga tengah menunduk melakukan hal yang sama. “Sekarang, sudah ada dia, Kak. Harusnya Kakak juga bisa menjaganya, ‘kan? Jangan bersedih terus, semua ada untuk Kakak. Aku janji nggak akan membully Kakak lagi, biar Kakak semangat ngadepin ini semua.”
Sally justru terkekeh mendengar penuturan Dion. Tiba-tiba saja adiknya itu justru menjadi laki-laki sok dewasa. “Kamu makan apa sih, Di, selama kakak nggak di rumah?” Masih terus tertawa geli, membuat pemuda itu mengernyit linglung.
Sally menutup mulut dengan sebelah tangan, kemudian ia turunkan pindah mengusap rambut lurus hitam yang Dion miliki. “Kakak nggak papa, kamu nggak perlu khawatir gitu. Kakak nggak pernah mikirin soal kamu yang suka menjahili dan meledek kakak. Tenang aja, hati kakak sudah kebal dengan keusilan kamu.”
Pemuda yang menginjak usia enam belas tahun itu menaruh kepala di pangkuan Sally. Sejenak mendengar detak jantung keponakan. “Apa dia cantik atau ganteng, Kak? Kalau laki-laki apa akan seganteng aku?” ucapnya narsis. Lalu mendapat jitakan dari Sally.
“Auw … masih saja galak. Sakit, Kak.” Wajahnya yang tampan mulai merengut.
“Kamu ngaco, mana bisa mirip kamu. Ya mirip kakaklah.”
Menarik kepala cepat, mendongak melihat Sally. “Tapi Kakak perempuan,” cibirnya tak mau kalah.
“Memang salah kalau anak laki-laki mirip sama ibunya. Lihat wajah kamu, yang nurun dari papi cuma hidung sama alis aja. Mata sama bibir kayak kakak, mirip mami, ‘kan?”
Pemuda itu berdiri, bergegas menuju meja rias. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah menelisik setiap sisi wajah yang katanya mirip dengan bu Anna.
__ADS_1
“Udah,” pungkas Sally segera, “itu tandanya, kamu itu anak mami dan papi.”
Dion melotot, menatap Sally yang tanpa dosa setelah berkata demikian. “Memang Kakak kira aku anak pungut,” sungutnya sebal.
“Hahaha … udah balik ke kamar sana. Kakak udah ngantuk.”
“Iya … iya. Jangan nangis lagi, besok nggak bisa melek tuh.” Mulai lagi pada sifat menyebalkan yang dimiliki.
Menutup pintu kamar setelah Dion benar-benar pergi, dengan segera ia ingin mandi. Tapi tiba-tiba teringat ucapan Zean lagi.
“Sa … jangan mandi malam, kamu sedang hamil.”
Segera menggeleng cepat menghilangkan bayangan Zean sejenak. Melangkahkan kaki menuju meja rias. Ia mematut diri di depan cermin. Diusapnya perut yang semakin membesar, tinggal beberapa minggu jadwalnya untuk melahirkan.
“Nak, doain papamu segera menemui kita. Pasti dia juga ingin melihatmu lahir ke dunia. Bahkan selalu protes jika mamamu melarangnya untuk melihat kau laki-laki atau perempuan.” Sally tersenyum. “Baik-baik ya, jangan rewel meski tidak ada papamu untuk saat ini. Masih ada mama. Mama nggak sabar lihat kamu, biar mama punya teman dan nggak kesepian lagi.”
Satu bulir air mata menetes ke pipi, betapa ia tak sanggup menahan kerinduan dan kesepian yang mulai terasa saat tidak ada Zean. Lelaki itu biasanya sibuk menggerutu di jam sekarang karena tidak pernah bisa tidur pulas.
Mengembus napas pelan, segera beranjak dan berganti pakaian. Ia juga perlu istirahat, anaknya juga perlu untuk proses tumbuh kembang.
Merebahkan diri di kasur yang sudah lama tak ia tiduri, melirik jam sekilas. Sudah pukul satu dini hari, mata yang ikut lelah akhirnya terpejam. Sejenak pikiran yang kacau ikut beristirahat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.