
Mobil melesat bagai kilatan cahaya. Udara malam yang dingin membuat siapa saja lebih memilih untuk berada di tempat yang hangat. Duduk di depan perapian, meminum teh hangat, kopi, susu atau lainnya yang bisa meredakan udara dingin yang menusuk kulit.
Setelah dua hari semalam Zean hanya berputar-putar di jalanan, mencari kabar dari Sally, akhirnya dia tahu di mana sang istri berada.
Telepon dari Lisa yang diterima beberapa waktu tadi, membuat Zean tidak sabar dan melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia menggila, padahal jam baru menunjuk pukul setengah tujuh malam, tentu saja masih banyak pengguna jalan lainnya. Apa dia tak peduli? Seakan lupa pula jika berkendara telah diatur dalam hukum Negara.
Satu jam lewat tiga puluh menit Zean gunakan untuk menerobos sepanjang jalan kota A ke kota C. Dia berhenti di sebuah hotel yang tadi dapat namanya dari Lisa.
Gadis cantik berambut pendek itu dengan sukarela membantu Zean setelah tahu kondisi hubungan sahabatnya dari Bu Anna. Lisa berusaha tak tinggal diam, sampai akhirnya mendapat sedikit titik terang.
Lisa bilang jika Sally tengah menginap di hotel tersebut sejak dua malam lalu. Melalui kakak sepupu yang mau menjawab pertanyaan, dia akhirnya memberi kabar pada Zean. Namun, bodohnya, Lisa tidak memberi penjelasan jika sang kakak sepupu yang selama ini membantu Sally.
Telepon dari Lisa sudah terabaikan oleh Zean sejak tadi. Pikiran lelaki itu sudah fokus pada keberadaan sang istri dan ingin segera menemuinya. Padahal, sahabat istrinya itu ingin menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Hampir setengah jam Zean mengamuk di meja resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Sally, tetapi tidak diperkenankan oleh pegawai hotel. Mereka tidak bisa memberikan informasi penyewa kamar dengan mudah, apalagi sampai memberikan kunci cadangan.
Tiba-tiba, emosi Zean berhenti. Kedua mata hitam miliknya terpaku pada gadis yang tengah bercakap dengan seorang lelaki yang baru saja menurunkannya dari mobil. Kedua tangan gadis itu membawa tiga paper bag entah berisi apa.
Zean segera berlari menghampiri kedua orang tersebut. Dia dengan lancang menarik kerah baju laki-laki yang hendak beranjak, lalu melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Laki-laki itu tersungkur menabrak pintu mobil.
“KAKAK!” Sally memekik histeris, melihat suaminya tengah emosi dan memukul Leon tanpa menjelaskan apa pun.
“Bedebah! Dia istriku, kenapa kau berani membawanya!” Zean gila, emosinya meluap-luap, napasnya memburu, dadanya naik turun seakan ingin meledak. Dia tidak peduli Sally yang ada di belakang sedang memeluk erat ingin memisahkan.
“Apa yang kamu lakukan, Kak?” Gadis yang sejak tadi mencoba melerai itu masih menarik tubuh suaminya. Dia memeluk Zean dari belakang dengan erat, mencoba menghentikan kelakuan suaminya yang sudah melewati batas.
Tak peduli. Zean benar-benar tak peduli, otak cerdasnya tiba-tiba tumpul, pendengarannya jadi tuli. Teriakan dan tangisan gadis di belakangnya sejak tadi seakan tak terdengar sama sekali.
Dua satpam segera melerai, menarik tubuh Zean yang sudah tak terkendali. Leon meringis menahan sakit sambil memegangi pipinya yang sudah memar takkeruan.
Sally segera menarik suaminya menuju kamar, takpeduli dengan tatapan heran para pegawai hotel dan beberapa pengunjung yang kebetulan ada di lobby. Dia juga tidak mau bicara apa pun saat Zean sudah mengomel dan memaki Leon tiada henti.
__ADS_1
Sally menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian, membuang tiga paper bag berisi pakaian yang baru saja dibeli beberapa jam lalu. Sengaja meminta Leon menemani, karena memang Sally tidak terlalu hafal dengan kondisi jalanan kota.
Gadis itu duduk di atas ranjang, lalu melepas sepatunya secara asal. Sorot mata tajam mengarah pada suaminya yang masih berdiri dan berkacak pinggang di hadapannya.
Deru napas Zean masih terdengar memburu, terlihat jelas ia masih menahan emosi.
Bergeming, Sally lebih memilih mendiamkan suaminya untuk memberi waktu Zean mengontrol emosi.
“Sudah kuduga, ada yang tidak beres dengan Bocah itu.” Zean membuang muka, lalu memilih duduk di sofa.
Tangan Zean tiba-tiba membuang jaket yang membuatnya panas, sementara istrinya masih diam. Sally begitu malas untuk bertemu apalagi bicara.
Kamar hotel terasa begitu hening, kedua anak manusia itu masih sibuk dengan segala rasa dan kekesalan di hati mereka masing-masing.
“Minum, Kak.” Sally sudah berdiri di samping Zean, menyodorkan segelas air putih yang entah sejak kapan diambil.
Putra Pratama itu melengos, merasa muak dengan istrinya sendiri.
Sally menghela napas. Dia benar-benar lelah saat ini. Tidak ingin berdebat, Sally mengambil duduk di samping Zean, lalu menaruh gelas ke meja.
Zean segera menghadap istrinya. “Maksudmu?” Matanya masih memerah karena amarah yang belum tuntas, dahinya berkerut, alisnya menukik tajam hampir menyatu.
Sally kembali menghela napas. Dia enggan menghadap suaminya. “Aku tahu, Kakak pasti berpikir macam-macam dengan Kak Leon. Tapi semua itu tidak seperti apa yang Kakak pikirkan.”
Zean tersenyum masam. “Dia membawa istri orang malam-malam, mengantarkan ke hotel, lalu kau masih membelanya dengan jawaban tidak seperti yang aku pikirkan?” Dia menoleh pada Sally, lalu kembali tersenyum sinis.
Sally ikut menoleh pada sang suami. Dia tidak merasakan takut seperti biasanya saat Zean marah. Rasa sakit di hati membuat Sally menjadi lebih kuat sekarang.
“Dia hanya mengantarku membeli pakaian, aku yang memintanya. Karena aku tidak tahu kondisi kota ini.”
Zean seakan ingin tertawa, menertawakan gadis belia yang membohongi dirinya bagai bocah berumur lima tahun.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak memintaku? Kau kira aku tidak tahu seluk beluk kota ini?” Kembali Zean berkata dengan nada sinis.
Kali ini ganti Sally yang tersenyum remeh. “Aku tidak akan mengganggu kebahagiaan suamiku bersama anaknya. Aku cukup tahu diri.”
“Maksudmu?” Sorot mata tajam itu kembali, Zean tak mengerti dengan omongan yang dibicarakan istrinya.
Sally memilih meninggalkan suaminya. Dia berdiri, lalu membereskan paper bag yang masih berserak di lantai. Kemudian, baru meletakkan dengan benar ke atas nakas.
Sahabat Lisa itu memutar tubuh dengan malas, memilih bersandar pada ranjang, lalu berkata, “Tiga hari kemarin sore, aku ke rumah Pratama. Mama sering bilang lewat telepon Mami kalau Kakak berharap aku datang. Tapi
aku masih malas, aku sedang lelah, untuk menyikapi sifat Kakak yang berubah-ubah. Lima hari aku tidak mengangkat telepon dan tidak membalas pesanmu, karena aku memang sengaja. Aku di rumah hanya membaca novel sebagai pengalihan pikiran agar tidak memikirkan Kakak terus. Tapi ....”
Belum sampai selesai kalimat yang Sally ucap, gadis itu sudah mengalihkan pandangannya dari Zean. Dia menunduk, meremas ujung pakaiannya, sementara Zean masih menatap serius dari sofa yang diduduki.
“Tapi ….” Isakan tangis itu mulai terdengar, membuat hati Zean merasa sakit. “Tapi, aku melihat seorang anak kecil sibuk memanggilmu daddy. Aku syok, Kak. Selama ini lelaki seperti apa sebenarnya yang telah menikah denganku? Apa benar dia anakmu? Dan perempuan cantik itu adalah istrimu sebelum aku?”
Zean terperanjat, ikut syok dengan pertanyaan dan pernyataan dari istrinya. Hatinya terpukul saat Sally mengaku telah lelah dengan sifatnya, merasa kaget pula ketika mendapat pertanyaan tentang Eza.
Zean bingung. Dia harus menjawab semua itu dari mana. Dia hanya bisa menggeleng, tidak paham harus menjelaskan semua itu dengan cara apa.
Zean mendekat ke arah Sally, duduk di samping istrinya. Dia berusaha memeluk sang istri, tetapi ditolak secara kasar.
Sally sengaja melakukannya. Dia tidak mau melemah dengan kelembutan Zean. Dia harus mendapat keputusan dari Zean. Tentang dia, bocah kecil itu, dan wanita cantik yang ada di rumah keluarga Pratama kemarin.
“Sa … di-dia ….” Zean bingung harus berkata apa. Lidahnya kelu, seakan tak bisa digerakkan untuk bicara.
.
.
.
__ADS_1
.
…