
Duduk di tepi ranjang, menanti sang suami keluar dari kamar mandi. Kemarahannya sudah melebur tak tersisa, ego yang tadi menjulang tinggi, sudah tumbang mendengar perkataan ayah mertua.
Pintu kamar mandi terbuka, laki-laki dengan piyama polos warna abu-abu keluar. Berjalan mendekat, duduk di samping gadis bergelar istri, yang terus menatap tak mengalihkan pandangan sejak keluar tadi.
“Kenapa?” Sally menggeleng.
“Bohong.” Tangannya mengulur menyelipkan rambut istrinya yang semakin memanjang.
Tak ada pembicaraan beberapa saat, Zean sibuk menatap lekat pada paras seputih salju yang mulai mengembung pipinya.
“Sepertinya … nutrisi makanan di rumah ini terserap sempurna ke dalam tubuhmu, Sayang.”
Entah harus marah atau bersyukur, mendengar kalimat sang suami yang terdengar ambigu.
“Kakak mau bilang aku gendut, ‘kan?” Tatapannya menyelidik, bibir ikut maju.
Zean menipiskan bibir. Karena memang anggapan Sally tak sepenuhnya salah. “Kau tetap cantik, meski gendut atau tidak.”
Tatapan tak suka kembali menyorot, gadis itu membuang muka.
“Ck! Gitu aja marah, Sa. Udah dong, jangan marah-marah terus, kasihan ‘kan Si Kecil?” Berpindah pada perut, membelai lembut.
“Kakak nggak pengen ketemu Eza?” Menoleh kembali.
Mengangkat muka, netra hitam bening yang dimiliki hanya berputar, mengurai memori tentang setiap detik bersama Eza dan keberadaannya di rumah Andra Pratama saat perseteruan beberapa waktu lalu.
“Aku bingung,” jawabnya jujur.
“Masih marah sama beliau?”
Zean hanya mengedikkan bahu, ia tak tahu harus menjawab apa. Mungkin sudah tak marah, tapi kenangan buruk itu masih tersimpan rapi di memori.
“Kau tahu, Sa?” Menatap Zean seksama. Ia selalu mencoba menjadi pendengar yang baik, setiap laki-laki di hadapannya mulai berbagi cerita.
“Aku dulu dekat dengan beliau, sebelum Oma pergi. Dulu, beliau tidak seperti itu. Tapi, memang saat itu dia masih di Pratama Group, hingga akhirnya pengalihan pimpinan membuat ia mengibarkan bendera perang saudara.”
“Apa aku boleh tahu, kenapa beliau seperti itu, Kak?”
“Huft ….” Menghela panjang, lalu merebahkan kasar tubuh kekarnya. Menopang dengan kedua tangan yang ditekuk di belakang kepala, menatap nanar langit-langit kamar.
“Kau ingat saat aku bercerita soal kehidupan kecil papa?” Sally mengangguk.
“Papa dulu terpisah dari kedua orang tuanya, karena seorang wanita gila membawa kabur saat Oma masuk ke dalam rumah mengambil sesuatu. Berniat berjemur di halaman rumah pagi hari dengan anaknya, justru berakhir di luar dugaan. Oma dulu mengasuh papa tanpa bantuan babysitter, jadi semua sendiri. Entah bagaimana ceritanya, papa sudah berada di salah satu panti asuhan di kota A, lalu ketemu dengan nenekmu.”
Bangun lalu meneguk segelas air dari nakas dan mengembalikan. “Ketika kembali ke keluarga Pratama, tentu saja om Andra syok. Karena beliau pikir, kakaknya telah meninggal. Tapi ternyata tidak. Awalnya semua baik-baik saja, om Andra memimpin Pratama Group, sedangkan papa di perusahaan yang om Andra kelola saat ini. Karena suatu kegagalan dalam penanganan proyek, hampir semua pemegang saham menarik saham mereka dari Pratama Group. Membuat kondisi perusahaan terguncang, dan Oma meminta pertukaran posisi antara papa dan om Andra saat itu juga. Akhirnya, terjadilah seperti itu. Aku bahkan masih kuliah semester enam, papa memaksaku untuk membantunya dalam membangkitkan lagi Pratama Group. Maka dari itu, om Andra tidak terlalu menyukaiku, ‘kan? Sejak saat itu memang aku sudah kesal dengannya, hubungan kami jadi merenggang.”
__ADS_1
“Tapi, Kak. Om Andra sudah meminta maaf. Bahkan pada anak kecil sepertiku, beliau tidak malu meminta maaf secara langsung waktu di rumah sakit. Maafkan dia.”
Mendengar ucapan Sally, Zean menegakkan tubuh, mendekat. “Ish, kau memang anak kecil. Tapi tahu-tahu udah mau punya anak kecil.” Alisnya naik turun, menggoda dengan seringai menyebalkan.
Satu cubitan mendarat pada perut, membuat Zean mengaduh. Sally justru merasa ketagihan, tak mau berhenti mengerjai Zean.
“Sayang … cukup. Besok badanku merah-merah, karena KDRT darimu.”
Gadis itu memutar mata malas, lalu merangkak menyandarkan diri di kepala ranjang. Zean ikut menghampiri, menidurkan diri di pangkuan Sally. Wajah yang tampan itu memaling ke perut, mengajak ngobrol calon buah hati mereka.
“Apa kau ada keluhan, Sa, selama hadirnya?”
Sally menunduk, memandangi Zean yang sibuk menciumi perut sejak tadi. “Tidak, dia terlalu pintar, tidak pernah rewel.”
Zean mengangkat wajah. “Pasti saat lahir akan secerdas aku?” katanya bangga, membuat sang istri hanya menatap sinis.
Sally akui, memang dia tidak sepandai suaminya. Dalam hati juga berharap jika keturunan mereka bisa secerdas Tuan Muda Pratama itu.
“Sa ….”
“Hmm …,” jawabnya tak kalah singkat.
“Main yuk.” Alis Sally naik sebelah, menatap heran pada laki-laki di pangkuannya. “Main apa? Udah malem, mau ngajak main apa sih, Kak?” Gadis itu tak paham.
“Tsk! Kau ini, sudah hampir setahun menikah, tidak paham juga.”
Menegakkan tubuh, mengulum senyum semanis mungkin. Luluh sudah hati Sally, gadis itu justru ikut senyum malu-malu.
Mulai melancarkan aksi, jemari mulai merambat ke setiap sisi. Merebahkan gadis pujaan, mulai mencumbu mesra setiap sisi.
“Boleh?”
Hanya tersenyum, istrinya menurut dan menikmati sentuhan sang suami. Tiap hari bertemu, bukan berarti mereka bisa melepas rindu setiap saat. Mood Sally yang tak menentu, membuat Zean kadang kewalahan dan tidak bisa mendapatkan hak itu setiap waktu.
Menyatu di ruang dengan redupnya penerangan, saling menikmati setiap pergerakan. Tidak ada rasa sakit atau tidak nyaman, Zean bermain lembut, agar keduanya saling menikmati.
Selama kondisi Sally berbadan dua, Zean selalu mengontrol diri. Membuat gadis itu nyaman, dan semakin tergila-gila dengan permainan yang Zean ciptakan. Laki-laki itu tidak ingin menyakiti anak dan istri ketika hasratnya tersalur, memastikan pula memberi rasa bahagia pada keduanya.
Tidak ingin egois, ia juga ingin membawa orang yang disayangi dalam kebahagiaan cinta. Mereguk kenikmatan bersama, mencapai nirwana dunia.
Dua jam berlalu terasa begitu cepat bagi kedua insan yang tengah bercucuran keringat, saling mengecup mesra dan saling membelai saat semua selesai. Mendekap lembut tubuh Sally, menyalurkan banyak cinta melalui sebuah makna yang tersirat dalam setiap perlakuan. Rasanya, Zean tak bisa hanya mengucapkan terima kasih.
“Mau bersih-bersih sekarang?”
Sally hanya menggeleng, ia semakin meringsek ke pelukan Zean. Sesekali bibirnya yang mungil menyesap kulit bidang laki-laki yang tengah memeluk itu, meninggalkan bekas tanpa diminta.
__ADS_1
“Ish, kau agresif sekali sekarang?” desisnya, seiring dengan gelanyar aneh menjalar di sekujur tubuh.
“Apa aku sudah pandai untuk memuaskan, Kakak?” ucapnya tanpa rasa malu dan keraguan.
Zean menegang, baru kali ini Sally seberani itu. Mungkinkah itu juga faktor kehamilan? Uhuy … hatinya pasti akan begitu senang jika Sally akan selalu agresif ke depannya.
“Kamu memberikan izin padaku untuk meminta hak seorang suami, itu saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri olehku, Sa ….”
Gadis itu mendongak, menatap wajah putih penuh buliran keringat yang membuat makhluk itu terlihat semakin tampan. “Jadi … Kakak tidak suka jika aku bersikap lebih agresif?” Ia mengerucutkan bibir.
“Eh, tentu saja tidak. Tapi aku tidak menuntut, aku hanya ingin kau dan Si Kecil nyaman ketika aku ingin menjenguknya.” Tersenyum manis.
Merapatkan diri, menyembunyikan wajah setelah tersenyum dan tersipu. “Kenapa kau lucu sekali, tadi dengan percaya diri bicara soal keagresifan, sekarang justru malu-malu.”
Tak menjawab, gadis itu hanya memukul kecil dada sang suami yang sudah penuh dengan tanda-tanda yang ia berikan, membuat Zean mengeratkan pelukan, mengecup kepala berulang kali.
“Mau tidur?” Tangannya membelai kepala Sally.
“Mau ke kamar mandi dulu.” Mulai menjauh, dan bersiap duduk sambil menarik selimut. “Kak, ambilkan bajuku.” Gadis itu kesusahan jika harus mengambil sesuatu di lantai.
“Udah, gitu aja, kenapa sih, Sa?” Omongannya membuat Sally mendelik tidak suka.
Seringai konyol yang terukir itu sirna, dengan segera ia bangun dan mengambil pakaian sang istri yang dibuang tadi.
“Mau dibantuin nggak?”
“Nggak!” Dengan cepat, tangannya menyambar piyama tidur dari tangan Zean.
Beranjak dari ranjang, bersiap ke kamar mandi membersihkan diri. “Jangan mandi, Sayang.” Sally menoleh, netra cokelatnya seolah bertanya, kenapa?
“Ingat, kamu hamil. Besok saja mandinya,” timpal Zean dari atas ranjang.
Sally hanya melanjutkan tujuan, menuruti kemauan Zean saat itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....