Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 11


__ADS_3

Mobil terparkir rapi di garasi rumah. Anggota keluarga Pratama masuk bergantian. Bi Minah datang dengan tergopoh, tampak wajahnya sedikit lesu karena mungkin beliau tadi sempat tidur sebentar.


“Tuan Andra ….” Memekik histeris. Kesadaran sudah kembali 100% saat itu juga, lantaran sudah beberapa tahun tidak melihat adik dari majikannya. “Anda sehat, Tuan?”


Om Andra mengangguk dan tersenyum, menerima pelukan sebentar dari wanita tua yang pernah menemani kehidupan beliau selama di keluarga Pratama.


“Sehat, Bi. Bibi sendiri gimana?”


“Saya sehat, Tuan. Tuan Bobi dan Nyonya Lyra memperlakukan saya dengan baik.”


Bi Minah mundur beberapa langkah, menawarkan hal jika memerlukan sesuatu. “Istirahat saja, Bi. Udah malam, besok aku bantuin bikin sarapan.” Bu Lyra berkata, sambil menepuk pelan bahu asisten rumah tangga itu.


“Ndra, kamu tidur di kamarmu dulu?” tanya pak Bobi.


Sejenak berpikir. “Tidur di bawah aja, Mas.”


“Kenapa? Kamarmu setiap hari dibersihkan Bi Minah, Ndra,” lanjut pak Bobi.


“Benar, Tuan. Masih seperti dulu saat Anda tinggalkan.” Bi Minah ikut berkata, membenarkan ucapan pak Bobi.


“Baiklah, aku akan ke atas.”


“Nay … mau tidur di kamar mana?” Zean bertanya, karena sepertinya pundak lelaki itu mulai pegal sejak tadi menggendong Eza.


“Eh, di kamar tamu aja, Kak.” Naya tersadar. Tanpa menunggu lainnya, Zean melangkah lebih dulu ke kamar tamu tepat di sebelah kamar yang mereka tempati  mulai kemarin malam.


“Sa … istirahatlah.” Gadis itu mengangguk menuruti omongan ibu mertua, lalu menyusul Zean bersamaan dengan Naya.


Semua kembali ke kamar masing-masing. Melepas penat seharian yang belum hilang, karena setelah bekerja lanjut bersiap makan malam.


Sally segera mengganti pakaian tidur yang nyaman, daster polos berbahan katun ia kenakan. Menyandarkan diri di headboard ranjang setelah bersih mencuci muka dan gosok gigi.


Pintu kamar terbuka, Zean menghampiri Sally yang tengah sibuk membaca buku seputar kehamilan. Mendekat dan semakin merapat, membuat gadis itu sedikit melirik ke atas memastikan apa yang akan dilakukan Zean.


“Kakak nggak ganti baju?”


Diam. Tangannya justru menyingkap lembut untaian rambut yang menutup sebagian wajah karena menunduk.


“Siapin baju kakak, dong.”


Sally mengangkat wajah, alisnya naik sebelah melihat tingkah aneh Zean. Tumben sekali manusia bunglon satu ini menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘kakak’.  “Kakak nggak papa?” Menggeleng.


Turun perlahan dari ranjang, segera membuka lemari dan mengambil beberapa potong pakaian yang perlu dipakai suaminya.


Gadis itu tersentak, tubuh ikut menegang. Pergerakan tangannya terhenti, kala terasa dekapan hangat dari arah belakang. Tiba-tiba rambut panjang yang dimiliki tersibak ke samping kanan, seiring dengan hembusan napas hangat menyeruak di sepanjang leher bagian belakang.

__ADS_1


Ia reflek berdesis, bersamaan satu kecupan mendarat di leher yang putih.


“Kak, ini bajunya.” Mencoba tetap tersadar, ketika Zean terus menyerangnya sampai mana-mana. Gigitan-gigitan kecil terasa sedikit perih, sudah pasti mulai terdapat bekas di sana.


“Kak ….”


“Hmm ….” Tak kalah singkat, tapi tak mau berhenti.


“Ganti baju, udah malam. Besok Kakak kerja.” Masih mencoba menahan diri, Sally tak ingin sampai terbawa arus. Mengingat kamar sebelah ada orang yang menempati.


“Kamu nggak pengen kasih aku hadiah, atas kesuksesan yang kuraih saat ini, Sayang?” bisik Zean tepat di telinga Sally, suara serak yang terdengar sensual, mendayu dengan sedikit napas yang menderu.


“Kakak sudah punya segalanya, apa masih butuh hadiah?”


“Tentu saja, aku butuh ini.” Tak terkontrol, tangan Zean sudah menyibak rok yang istrinya pakai. Membelai lembut paha mulus yang gadis itu miliki, membuat pemiliknya menggeliat seketika.


Tak menunggu aba-aba, ia segera menggendong Sally membawa ke peraduan. Pakaian yang sempat diambil gadis itu terburai begitu saja di lantai. Merebahkan dengan lembut, tanpa berhenti menyesap bibir mungil yang istrinya miliki.


Sally memukul punggung Zean beberapa kali, hingga tautan bibir mereka terlepas. Merasa sesak kehabisan oksigen.


Napas keduanya memburu, seolah menuntut sesuatu untuk segera disalurkan.


“Kak … ki-kita baru kemarin melakukannya.” Sally tergugu-gugu, sedang Zean tak peduli.


“Kak, di sebelah ada Eza,” katanya lagi, berharap Zean mengurungkan niat.


“Pelankan suaramu, Sayang.”


Sally mencoba menggeleng, tapi tetap percuma. Dia kalah dengan sentuhan lembut yang Zean berikan.


***


Eza terbangun dari tidur, ia mengerjap sambil mengucek mata. Bocah itu tiba-tiba takut, lantas membangunkan Naya yang ada di dekatnya.


“Mommy, bangun Mom!” pintanya segera. Bahkan tangan mungilnya nyaris gemetar, sekuat tenaga menggoyang tubuh sang ibu.


“Kenapa, Jagoan? Kau ingin pipis?” Naya mengerjap-ngerjap. Ia baru sebentar terlelap, tapi harus terbangun lagi ketika anaknya memanggil.


“No Mommy, ada suara aneh dari kamar daddy, Mom.”


Naya tersentak, seketika ia harus bangun saat itu juga. Mengumpulkan kesadaran penuh, dan mencoba mencuri dengar suara apa yang Eza maksud.


Dengan segera kedua tangan menutup telinga Eza, setelah mendengar suara aneh yang dimaksud Bocah Cilik itu tadi.


“Mom, ada apa?” Jagoan Kecil itu bahkan berbisik, seolah agar tidak ketahuan keberadaan mereka.

__ADS_1


“Sayang, kita pindah kamar di atas saja, ya. Di kamar Daddy.”


Segera Naya turun dari ranjang, menggendong putranya yang masih polos itu, sebelum suara laknat dari kamar sebelah semakin meracuni otak suci yang Eza miliki.


“Mom, apa daddy dan mommy Sally baik-baik saja? Apa mungkin ada monster Mom, Eza dengar tadi mommy Sally juga berteriak.”


Dasar pasangan gila. Apa otak mereka tertinggal di restoran? Bisa-bisanya melakukan hal seperti itu ketika aku dan anakku tidur di kamar sebelah mereka.


“Mom … kenapa tidak menjawab?”


“Eh, iya. Bukan Sayang, mungkin daddy dan mommy sedang main-main. Mommy Sally kalah, lalu dihukum oleh daddy. Mungkin hukumannya menyakitkan, jadi mom Sally berteriak.”


“Eum … apa begitu?” Bocah itu ragu, kedua bibir mungilnya masuk ke dalam, mata beningnya melirik atas, pertanda berpikir keras.


“Tentu.”


“Kalau begitu, biarkan aku ikut bermain.”


Naya semakin terhenyak, mendengar tanggapan Eza. “Eh, jangan!” Bocah kecil itu memasang wajah cemberut, ingin menangis. “Mommy melarangku?”


“Tidak, Jagoan. Ini sudah malam, sebentar lagi mereka pasti akan selesai. Besok saja ya mainnya. Kalau sekarang main, besok Eza kesiangan dan tidak bisa bangun pagi.”


“Benarkah, Mom?” Masih terus bertanya, seolah memastikan apa yang dikatakan ibunya benar. Naya hanya bisa mengangguk, mencoba sebisa mungkin mendiamkan Eza agar tidak membahas itu lagi.


Tanpa sadar, kini mereka sudah berada di depan pintu kamar Zean yang ada di lantai dua. Masuk perlahan, dan segera menemani Eza untuk tidur kembali.


Mencoba terpejam, meski di dalam hati Naya terus menggerutu. Kesal setengah mati dengan kakak sepupu yang tak tahu diri. Seolah tak memahami status wanita single parent seperti Naya.


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Maaf Cuma satu bab. Besok aja lagi ya. Moodku anjlok hari ini. Jadi nggak dapet feelnya mau ngetik. Hehehe…


Jangan lupa hadiahnya. Kali aja aku semangat lagi. haahaha ... modus banget akuh. 😘


Pokoknya tinggalin jejak, komen kakak. semangatkuh 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2