Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Bab 37


__ADS_3

Dua hari berlalu semenjak insiden pengeroyokan yang Zean alami. Sally masih setia menemani Zean berada di rumah sakit. Padahal, suaminya sudah berulang kali meminta dia pulang ke rumah mau pun ke kediaman Birawan.


Tepat hari ini, ketiga anggota keluarga Sally akan pulang setelah ia tiba kemarin siang. Menginap hanya semalam di keluarga Pratama, dan harus kembali sore hari karena Dion masih harus sekolah besok.


Berbeda dengan Sally yang telah selesai  ujian, tapi tidak untuk Dion. Pelajar kelas tiga SMP itu masih ada waktu sekitar tujuh hari menuju Ujian Nasional. Ia terpaksa ikut ke kota C, lantaran khawatir juga dengan keadaan kakak perempuannya.


Tepat jarum jam menunjuk angka sebelas pagi, pintu kamar ruangan Zean diketuk. Sally menghentikan aktivitas mengupas buah apel dari tangan, lalu hendak berdiri melihat siapa yang datang.


Aneh, siapa yang datang? Jika mama atau anggota keluarga lain pasti langsung masuk.


“Sebentar ya, Kak.” Gadis itu meletakkan apel dan pisau kembali ke tempat, lalu menuju pintu.


Pintu terbuka, tampak gadis berambut pendek lurus langsung memeluk Sally begitu saja.


“Kamu nggak papa, Sa?” Semakin mengeratkan pelukan. Melepas lalu menelisik setiap inci tubuh Sally, mencari luka atau sejenisnya untuk ia temukan.


“Aku baik, Lisa. Bagaimana bisa kau ke sini?”


“Kau bodoh! Tentu saja aku tahu, kemarin aku ke rumahmu. Tapi semua orang tidak ada. Ku tanya bi Mur, dia bilang kamu mengalami kecelakaan. Cepat-cepat aku izin sama mama dan papa terus ke sini.” Lisa, menjelaskan dengan memburu. Sedikit kesal, karena merasa Sally sengaja menutupi musibah yang menimpa dirinya.


“Kok tumben papa dan mamamu mengizinkan?” Memastikan.  Sally tidak sadar jika sedari tadi  di belakang Lisa ada seorang lelaki menemaninya.


“Pertanyaan macam apa itu, Sa?” Lisa mengerucutkan bibir, lalu berkata, “aku ditemeni kak Leon. Tuh di belakang.” Tunjuknya pada lelaki tersebut.


Sally mengedarkan pandangan. Memang benar, lelaki bermata biru itu berdiri tak jauh dari mereka berada. Melambai lalu tersenyum ramah, seperti saat mereka bertemu di sekolah beberapa waktu dulu.


“Ayo, masuk!” Lisa mengangguk.


Mengekori langkah Sally, masuk ke ruangan VIP yang tak lain di mana Zean berada. Langkah Leon terhenti, ia bingung kenapa ada pasien yang tengah bersandar di brankar.  Tak ambil pusing, kembali menghampiri kedua adik kelasnya.


Lisa memang tidak menjelaskan jika Sally sudah menikah, ia ngotot minta dijemput dan ditemani di kota C dengan alasan hanya menjenguk Sally.


Leon  yang mendengar jika Sally mengalami kecelakaan langsung mengiyakan permintaan adiknya, segera meninggalkan apartemen dan menjemput Lisa. Tanpa tanya apa dan kenapa, dia hanya menurut saja sampai di rumah sakit.


Mata Zean bersirobos dengan Leon, aura dingin seketika memenuhi sekitar Zean berada. Dua gadis yang sebentar lagi melepas seragam putih abu mereka, masih riang bercengkrama.


“Kakak ganteng, apa kabar?” Lisa menyapa, selalu dengan manis dan lembut.


“Baik,” jawabnya singkat.


Mendengar jawaban dingin dari Zean, Lisa justru semakin bahagia. Baginya, sosok cool seperti Zean semakin membuat ia terkagum-kagum, membayangkan sosok pemeran laki-laki di drama-drama yang telah ia tonton, seperti Zean. Terbayang, bagaimana jika sampai Zean bucin. Ah, pasti sangat romantis.


Lisa tersenyum-senyum, sampai sebuah senggolan dari Sally menyadarkan.


“Ah, iya, Sa. Tadi bilang apa?”

__ADS_1


Leon memperhatikan keanehan Lisa, ia berpikir jika Lisa memiliki rasa pada lelaki yang tengah terbaring sakit itu.


Sally mencebikan bibir, ia tahu jika sahabatnya itu tengah mengagumi suaminya. Tak ada rasa cemburu di hati Sally, ia mengenal Lisa. Temannya itu memang terang-terangan selalu memuji Zean sejak pertama keduanya bertemu.


“Udah makan belum? Kalau belum, aku beliin dulu di kantin,” ucap Sally kembali, karena tadi Lisa mengabaikannya.


“Udah, kok. Tenang aja,” jawabnya dengan senyum manis seperti biasa.


“Kalian mending duduk, mau sampai kapan berdiri di sini.” Zean berucap setengah malas.


“Ah, Kakak ganteng, meski sakit, masih saja perhatian.” Lisa lagi-lagi menggoda.


Kali ini Sally mulai bereaksi, ia segera memukul Lisa. Gadis berambut pendek itu reflek hanya menunjukkan deretan gigi putihnya, tanpa rasa berdosa.


“Kamu!” Tatapannya mengarah pada sang istri. “Duduk sini.” Ia menepuk sisi ranjang yang masih tersisa, memberi isyarat agar Sally memosisikan diri di sana.


Tidak berkutik, Sally ragu. Jika tidak ada Lisa dan kakak kelasnya, mungkin ia akan menurut saja.  Tapi kali ini berbeda, Zean meminta hal semacam itu di saat yang tidak tepat bagi Sally.


“Berapa kali harus mengulang kata-kataku?” Mode tak baik, sedang dalam kondisi on.


Lisa mendorong Sally sedikit, karena melihat tak ada pergerakan dari gadis di sebelahnya. Gadis itu hampir  jatuh, menubruk Zean karena dorongan Lisa yang tiba-tiba.


“Maaf ….” Bukan Lisa yang meminta maaf, tapi justru Sally. Takut jika tadi tubuhnya mengenai beberapa lebam di tubuh Zean, yang pasti masih nyeri .


Sally kembali menegakkan tubuhnya, ia tak bisa duduk sesuai permintaan Zean. Yang benar saja, ia pasti malu dengan Lisa dan Leon yang masih ada di sana.


Bukan duduk di sofa seperti perintah Zean, Lisa justru meraih kursi yang Sally duduki sejak pagi saat menemani Zean.  Lisa pikir, hubungan keduanya masih seperti dulu. Jadi, apa masalahnya? Dia tak merasa, jika kehadirannya mengganggu.


Pintu kamar terbuka lagi, empat orang paruh baya dan seorang cowok remaja masuk.  Dandanan sudah rapi, mereka  sudah bilang jika akan mampir langsung sekalian pamit.


Sally menghampiri keluarganya, memeluk erat ayah dan ibunya bergantian.


“Mami pulang sekarang?” rengeknya manja, masih di pelukan sang ibunda.


Bu Anna hanya mengangguk, membuat Sally cemberut.


“Kamu ikut?” Sally menggeleng.


Bu Anna melirik pak Tomi dan kedua besannya, mereka semua tertawa. Sally melepas pelukan, melihat mereka bergantian. Bu Lyra mendekat, lalu mengusap kepala Sally.


“Pulanglah, biar Zean di sini dulu. Besok juga sudah pulang, kamu nggak harus jagain dia lagi di rumah sakit.”


Omongan mama Lyra memang benar, tadi pagi dokter bilang jika Zean sudah bisa pulang besok, dan hanya perlu menjalani rawat jalan saja. Rutin kontrol, jika mengalami keluhan.


“Tapi, Ma ….” Gadis itu ragu sendiri. Sebenarnya ia ingin pulang, tapi tidak enak jika harus tanpa Zean. Bisa-bisa dia kesepian, sama saat malam ujian try out pertama dulu.

__ADS_1


“Nggak papa.  Tanya Ze, kalau kamu tak percaya.” Sally reflek menoleh pada Zean, lelaki itu hanya menjawab ‘ya’ dengan ekspresi malas.


Leon masih bingung dengan kondisi di ruangan itu, sebenarnya orang-orang ini siapa? Hendak bertanya pada Lisa juga tak mungkin. Gadis itu masih sibuk memperhatikan keakraban kedua keluarga tersebut.


Sally mendekat, menuju pembaringan. “Kakak nggak papa aku pulang?” Gadis itu bertanya setengah ragu.


“Memangnya kenapa? Dari kemarin aku menyuruhmu pulang!”


Astaga! Sally tertegun. Kenapa tiba-tiba Zean jadi ketus seperti itu, padahal … akhir-akhir ini tembok kebencian Sally mulai goyah.


Namun perkataan Zean barusan seakan mengingatkan Sally kembali, untuk menguatkannya sebelum roboh.


“Oke, aku pulang!” jawabnya tak kalah jutek.


Zean berdecak malas, ia lalu pura-pura membenarkan posisi untuk istirahat. Tak peduli pada orang-orang yang tengah membesuk dirinya. Semakin membuat Sally kecewa.


Pak Bobi geram, ingin sekali dia menarik Zean saat itu juga, jika tak ingat anaknya tengah terluka. Semua orang diam, tak ada yang angkat bicara pada sejoli itu.


“Ah, Lisa ….” Bu Anna mengalihkan perhatian. “Kok bisa di sini?”


Lisa datang memeluk bu Anna yang sudah seperti ibunya sendiri. “Kemarin Lisa ke rumah, Tan. Tapi nggak ada orang, bi Mur bilang Sally kecelakaan jadi buru-buru ke sini.”


“Iya, untungnya gadis keras kepala itu tidak papa.” Lisa tersenyum, lalu mengangguk.


“Sendiri?” tanya bu Anna lagi.


“Tidak, Tan. Sama kakak sepupu.” Menarik Leon sampai di sampingnya. “Kebetulan … dia kuliah di kota ini. Jadi, sekalian aku minta jemput dan antar ke sini.”


Leon tersenyum, lalu bersalaman dan mencium tangan dua pasang suami istri paruh baya di depannya.


“Kamu tampan ya, Nak.” Bu Lyra menyela, Leon hanya tersenyum manis.


Mendengar itu, Zean yang pura-pura memejamkan mata mengintip dari posisi. “Cih!” Dia berdecih malas, memutar tubuhnya ke samping tapi sudah menjerit sakit sebelum berhasil —lupa jika kakinya tengah cedera.


“Kak ….”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung….


__ADS_2