Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 54: Anak?


__ADS_3

Sepasang suami istri itu masih sibuk bergelung di dalam selimut dan saling memeluk untuk mengusir hawa dingin yang makin merasuk.


Sally sibuk bermain kancing piyama suaminya, sedang Zean sibuk dengan ponsel karena urusan pekerjaan. Tidak ada protesan yang terlontar dari bibir mungil Sally karena Zean sudah menjelaskan jauh-jauh hari sebelum mereka berangkat. Hampir satu jam mereka dalam posisi seperti itu. Hening. Sunyi dan hanya terdengar detakan jarum jam.


“Kak.” Sally akhirnya memanggil Zean. Akan tetapi, tanggapan yang didapat hanya deheman sepintas. Meski demikian, perempuan itu tetap lanjut bicara, “Apa yang Kakak pikirkan tentang anak?”


Jari Zean berhenti menggulir layar. Pria itu akhirnya mengalihkan perhatian dari ponsel. “Anak?” tanyanta dengan alis sedikit menyambung.


“Ya. Anak, Kak.”


“Anak, ya?” ulang Zean lagi. Kemudian, dia mematikan ponsel dan menaruhnya di meja kecil dekat ranjang.


Tubuh Sally yang ada di pelukan makin tertarik. Zean memberi kecupan di dahi. “Bagiku, seorang anak adalah anugerah tersendiri. Makhluk kecil yang lucu dan menggemaskan. Meski tidak kurang ulahnya untuk menyulut emosi, tapi itu tetap membawa kebahagiaan tersendiri.” Laki-laki itu menjawab sesuai isi pikirannya. Saat semua kalimat tersusun, Zean tengah membayangkan Eza dengan segala tingkah lucunya.


“Dari jawaban Kak Ze, sepertinya Kakak menyukai anak kecil, ya?”


Satu kecupan mendarat di puncak kepala Sally lagi, lalu tersusul jawaban, “Tidak semua. Aku hanya menyukai anak kecil yang ada hubungan darah denganku. Misalnya ….”


Hobi baru, Zean tukang menggantung omongan di depan Sally. Dia sengaja membuat gadis yang tengah serius mendengarkan menjadi penasaran.


“Misal apa, Kak?” tanya Sally dengan mengangkat wajah menghadap sang suami.


Terlalu dekat jarak mereka, membuat Zean tersenyum tipis lalu dengan cepat mengecup bibir Sally. Awalnya hanya kecupan biasa, lama-lama Zean menuntut dan membuat Sally gelagapan.


Dorongan dari Sally menghentikan tingkah Zean. Gadis itu bersungut. “Kak Ze! Aku sedang serius.” Dia mendengkus dengan tatapan sengit.


Zean berdecak lantaran sang istri tidak bisa diajak kompromi. Sejak perjalanan kembali ke vila, pria itu sudah ingin sesuatu yang menyenangkan. “Iya, iya. Kau tanya apa tadi, Gadis Kecil?”


Ganti Sally yang berdecak dan memutar bola matanya. “Aku mau to the point aja, deh." Lelah karena Zean seolah tidak memperhatikan, gadis 19 tahun itu memilih cara demikian.


“Apa?”

__ADS_1


Tatapan mereka bertemu. “Aku belum pengin punya anak sekarang. Kakak enggak keberatan, kan, kalau aku menundanya?”


“Sampai kapan?” Masih dengan ekspresi tenang, Zean seakan ingin mendengar semua ungkapan hati Sally.


“Eum, mungkin sampai lulus kuliah, Kak."


Hening menjeda keseriusan mereka. Zean terus memandangi sang istri, sementara Sally turut mengatupkan bibir mendapat tatapan demikian. Gadis itu tidak berani berucap lagi.


“Kenapa?” Satu kata sebagai pertanyaan keluar dari mulut Zean pada akhirnya. Gradasi wajah Tuan Muda Pratama itu berubah dan membuat Sally makin takut.


Akan tetapi, seperti apa pun kondisi, Sally tetap harus menyampaikan pendapat. “Kak Ze, aku … aku ….”


“Kau lupa bernapas?” Zean berseloroh, membuat Sally memukulnya dengan bantal. Istrinya sudah serius dan takut, ternyata Zean masih bisa mengusili.


Susah-susah Sally menyusun kalimat di kepala, tetapi tingkah Zean membuat semua ambyar.


“Sudah, Gadis Kecil. Kau belum menjawab pertanyaanku.” Tangan kekar Zean menarik bantal dari Sally, sehingga membuat gadis itu ikut tertarik dan menabrak dada bidangnya.


Melihat Sally kesakitan, buru-buru Zean mengangkat wajah sang istri. Kedua tangannya menangkup pipi. “Di mana yang sakit?”


Tak menunggu jawaban, Zean mencium hidung istrinya beberapa kali seolah kecupannya bisa menghilangkan rasa sakit.


“Sudah, Kak. Aku mau bicara serius.” Sally kembali menjauhkan diri.


Zean menghentikan tingkahnya, lalu menatap tenang wajah Sally. “Katakan!”


Oksigen di ruangan terhirup oleh hidung Sally sebelum bicara. Setelah dirasa cukup, dia berkata, “Seperti tadi yang aku bilang, aku enggak ingin hamil dulu sampai lulus kuliah. Karena aku takut kalau sampai hamil dan masih kuliah, anakku akan terabaikan.” Wajah Sally menunduk selepas bicara.


Zean membuang napas dari bibir mendengar jawaban Sally. “Gadis Kecil, kalau kau hamil dalam masa masih belajar, aku yang akan mengurus anak kita. Kita juga bisa mencari seorang pengasuh untuknya, bukan? Kenapa kau harus repot-repot berpikir seperti itu?”


“Tapi, Kak.”

__ADS_1


“Kenapa?”


Ragu. Sally ragu untuk mengungkapkan alasan sebenarnya. Dia tidak sampai hati untuk bilang pada Zean bahwa dirinya belum siap menjadi seorang ibu muda. Bayangan tangisan anak kecil di malam hari, proses melahirkan yang harus bertaruh nyawa, kerewelan saat kehamilan, belum lagi jika dia hamil saat kuliah. Semua hal itu membuat Sally benar-benar belum siap.


Tak kunjung dapat jawaban, Zean tetap tenang menghadapi Sally. Dia sengaja membiarkan istri kecilnya berpikir. Meski dalam hati, Zean berharap akan hadirnya anak lantaran mengingat usia yang sudah pantas memiliki buah hati. Akan tetapi, jika sang istri belum siap, dia harus apa? Zean pikir, mungkin Sally masih butuh dimengerti.


“Kamu takut, Gadis Kecil?” Akhirnya Zean bertanya lebih dahulu setelah beberapa menit tak kunjung dapat jawaban.


Sally menatap Zean sekilas, lalu mengangguk. Suaminya tersenyum, tanpa ada kata terucap.


"Kak."


“Gadis Kecil, kenapa takut? Ada aku. Aku akan menemani hari-harimu.”


Jawaban Zean membuat Sally tertegun. Sekejap, nyawa gadis itu seolah hilang dari raga. Dia mengerjap-ngerjap lalu bertanya, “Ma-maksud, Kakak?”


Tatapan bingung dan ekspresi bertanya dari wajah Sally membuat Zean gemas. Laki-laki itu tersenyum manis, lalu berkata, “Kalau kau hamil, aku yang akan menemanimu. Aku akan memanjakanmu, tidak akan membuat kau lelah. Aku akan berusaha selalu ada di sampingmu. Kapan pun itu dan menuruti semua inginmu. Jadi, jangan takut lagi.”


Tak ada jawaban, Sally makin bingung. Dia dilema. Bibirnya mengatup rapat karena tidak tahu harus menjawab apa.


“Kau percaya padaku, kan?” Senyum semanis cokelat hangat menghias bibir Zean dan sukses menyihir Sally.


Gadis itu seperti patung. Sally kembali diam dan tidak menyanggah atau menolak. Dalam kondisi demikian, Zean mengambil kesempatan. Pria itu maju dan memangkas jarak. Dia menempelkan bibir pada bibir sang istri dan berakhir mengajak Sally mengarungi samudera cinta.


Perbincangan serius berakhir dengan hasil abu-abu. Sally belum bisa memastikan dia yakin atau tidak akan pernyataan Zean. Sekarang, justru hanyut dalam permainan sang suami.


Udara dingin puncak yang menggigit kulit tersingkap rasa panas menggelora yang tercipta karena sentuhan. Kata cinta dan erangan menjadi pengganti suara serangga malam dari luar. Dua insan bergelung di balik selimut saling berbagi kehangatan dan kenikmatan tanpa tahu kapan akan berakhir.


.


.

__ADS_1


__ADS_2