
“Pa … tambah kecepatan lagi napa, Pa?” Bu Lyra dari tadi
heboh, padahal pak Bobi sudah mengemudi dengan kecepatan di atas biasanya.
Saking gusarnya saja, jadi mobil itu terasa melata lelet seperti siput.
“Ma … ini mulai masuk siang, beda sama malam jalanan sepi. Mama nggak lihat, semua juga pada ngantri.” Pak Bobi jengah, sejak tadi terus dihebohkan dengan omongan berisik yang menusuk telinga. Dasar ibu-ibu, lebih banyak membuat pusing daripada diam dan tidak menganggu konsentrasi orang.
Bu Lyra mencebik kesal. Bersedekap memilih memalingkan wajah sebal. Pak Bobi melirik dengan ekor matanya, beliau hanya bisa menghela panjang. Ibu dari Zean itu memang selalu begitu, terkadang sampai membuat pak Bobi memilih tak peduli daripada pusing.
“Doa aja deh, Ma. Masih sejam lagi perjalanan.” Bu Lyra semakin memasang muka masam, kekesalan memuncak sampai ubun-ubun. “Kenapa nggak bangun jalan khusus buat ke rumah besan aja sih, Pa. Uang Papa, kan, banyak.” Mulai omongan di luar nalar, sampai otak cerdas yang dimiliki pak Bobi tak bisa menyerap setiap kata dari mulut pedas istrinya.
“Ma … uang banyak bukan buat menekan orang lain, atau untuk membuat sok berkuasa pemiliknya. Kita hidup diatur Negara juga.”
“Tsk! Giliran gini bisa bilang gitu, kalau lagi marah lupa segalanya. Nggak inget waktu mau ngehancurin rumah sakit beberapa kali saat anaknya ada masalah.”
Seolah tak ada habis stok pilihan kata dari mulut bu Lyra, pak Bobi memilih diam. Nyatanya memang benar, jika beliau kadang semaunya sendiri. Dari saat Zean yang keracunan dulu, hingga kemarin kesalahan dalam tes DNA. Beliau semakin murka, ingin meratakan rumah sakit yang dianggapnya tak becus.
“Pa … perjalanan dua jam, pasti cucu kita udah lahir. Ish … mama ketinggalan, Pa.” Terus berceloteh tanpa henti, kuping orang di sebelah sampai panas.
***
Mobil terparkir sempurna di parkiran, segera bu Lyra berlari meninggalkan pak Bobi yang terlihat masih melepas sabuk pengaman. Mantan Dirut Pratama Group itu hanya geleng kepala, lalu segera turun dan menyusul istrinya yang sudah tak sabaran.
Dilihatnya sang istri sudah menuju lorong rumah sakit menuju sebuah ruangan seusai bertanya dari meja resepsionis, pak Bobi melangkahkan kaki lebih cepat agar tidak kehilangan jejak.
“Ma … tunggu papa!” Sedikit berteriak, tapi kemudian mendapat kode dari seorang perawat yang kebetulan lewat, untuk tidak berisik. “Maaf ….” ucap beliau sopan.
Memutar handle pintu dengan tergesa, mendorong dan segera masuk. Kedua manik matanya langsung mengarah pada seseorang yang tengah terbaring di brankar, beliau menyeka sudut mata.
“Sa … maafkan mama terlambat.” Memeluk menantunya yang begitu dirindu, semenjak sebulan lalu meninggalkan rumah Pratama. Ditambah lagi dengan kondisi Sally yang harus melahirkan tanpa hadirnya seorang suami.
“Nggak papa, Ma. Ada Mami sama papi, kok,” jawabnya dengan tersenyum. “Mama nggak mau lihat cucu Mama? Dia lucu lhoh.” Senyum tak surut dari bibir mungil Sally, gadis itu sudah tersenyum cerah usai melewati persalinan yang menyakitkan. Berusaha sekuat tenaga melawan hidup dan mati, bahkan sempat kehabisan darah dan memerlukan tranfusi. Bu Anna yang menemani, menggantikan posisi Zean yang harusnya ada di samping Sally saat detik-detik bayi mereka melihat dunia.
Terus meraung sakit dengan tangisan dan jeritan silih berganti, saat dokter meminta untuk mengejan beberapa kali. Sempat ingin menyerah, tapi ibunya selalu menyemangati.
__ADS_1
Semangat … Sa. Buatlah Zean bangga padamu, meski tak ada dia sekarang, kau bisa menyelamatkan anak dan dirimu. Dia akan senang melihat kalian.
Kata-kata itu dibisikkan sang ibu beberapa kali. Membuat Sally ingat pesan Zean jika diminta untuk menunggu dan melahirkan anaknya dengan selamat.
“Di mana cucu, papa?” Pak Bobi baru datang, cukup jauh ketinggalan dari bu Lyra. Bahkan sampai sempat tersesat dan harus kembali ke resepsionis untuk bertanya.
“Di sini.” Terlihat bu Anna menggendong bayi kecil yang belum sempat dilihat bu Lyra tadi, karena masih sibuk melihat kondisi Sally.
Pak Bobi mendekat, mengulurkan tangan ingin merasakan menggendong bayi yang di dalam darahnya mengalir darah keluarga Pratama.
“Dia ganteng, mirip denganku.”
“Aow … Ma.” Mengaduh kesakitan, karena bu Lyra sudah memukul punggung kekarnya dengan tas yang ditenteng sejak tadi. Ibu Zean itu tidak terima jika cucu mereka disamakan ketampanannya dengan sang suami.
Berjalan mendekat, melongok ke arah dekapan pak Bobi. Bayi terbungkus bedong berwarna putih tulang, wajahnya masih kemerah-merahan. Bibirnya merah merekah, dengan bentuk yang mungil. Imut, mirip yg Sally miliki.
“Sepertinya Zean banget, Pa.”
Pak Bobi malah berdecak sebal, karena bu Lyra justru mengatakan jika cucunya mirip Zean. “Papa nggak setuju mama bilang dia mirip Zean?” tanya bu Lyra.
Diam tidak menjawab, memilih memandang si kecil bahkan ingin mendekap erat karena gemas.
“Nggak mau!” Mundur segera, menjauhkan diri dari bu Anna dan bu Lyra. “Mama nanti saja, biar papa puas dulu.”
“Enak saja, dia juga cucu mama. Siniin, Pa.” Meringsek maju.
“Eh!” Bu Anna dan Sally jadi ikut bingung, melihat sepasang suami istri itu berebut tak mau mengalah.
Sally menggeleng, pertanda meminta sang mami untuk melerai.
“Bob … Ra, dia tidur dari tadi. Biarkan tidur di samping Sally saja, kalian pasti capek, ‘kan? Sudah pada sarapan tadi?”
Kedua orang tua itu berhenti, menatap bu Anna lalu menggeleng.
“Kalian ke kantin dulu nggak papa, biarkan dia tidur dengan ibunya.”
__ADS_1
“Tapi aku belum menggendongnya,” protes bu Lyra.
Bu Anna tersenyum, lalu berkata, “ Nanti juga masih ada waktu banyak. Biarkan dia dengan Sally. Kalian makan saja dulu.” Tangannya mengulur mengambil si kecil, lalu menuju bed dan menaruh pelan.
“Ayo, Ma. Biar kuat kalau gendong cucu kita.” Pak Bobi seolah tak melihat ekspresi kecewa di wajah bu Lyra, dengan segera ia menggandeng dan menarik keluar meninggalkan ruangan.
Sally dan bu Anna hanya terkekeh. Kehadiran malaikat kecil membawa heboh semua orang ternyata.
“Sa … sudah kau siapkan nama?”
Deg!
Jantung Sally kembali berdetak, mengingat surat yang masih tertinggal di kamar. “Mi … bilang pada papi untuk ke kamarku, mengambil surat kecil di sofa. Aku lupa jika nama anak ini ada di kertas itu," terang Sally, saat ia ingat dan mumpung sang ayah masih di rumah mengambilkan pakaian ganti.
“Surat?” Sally mengangguk. Beliau bingung, karena memang tidak tahu apa-apa. Sally sendiri tak sempat cerita.
“Kak Ze mengirimkan surat pagi-pagi sekali. Dia bilang memang mengalami kecelakaan yang waktu itu, sekarang masih proses penyembuhan. Tapi dia nggak mau pulang, memintaku menunggunya sampai dia pulih. Aku sempat syok sampai akhirnya kontraksi.”
“Kenapa? Memang dia sampai separah apa? Kenapa tidak menjalani pengobatan di sini saja.”
Sally menarik napas. “Aku juga nggak tau, Mi. Dia bilang nggak akan lama, dan nggak perlu mencarinya lagi. Nanti Mami tolong bilang ke papa untuk berhenti nyari kakak, ya.”
Tak bisa menjawab seketika, bu Anna ikut dibuat bingung. Aneh baginya, menantunya tidak mau pulang, padahal jelas-jelas dia selamat dan anaknya akan lahir. Tapi memilih untuk tidak kembali.
“Mi … Mami mau, ‘kan?” Sally menyadarkan ibunya, lantaran bu Anna malah terlihat bengong.
Tersentak sekian detik, lalu memandang teduh wajah anaknya, beliau mengangguk. Sally menarik dua sudut bibirnya ke atas, kemudian memeluk ibunya yang selalu ada.
“Makasih, Mi. Mami selalu ada.” Diusapnya lembut rambut panjang anaknya, kecupan hangat diberikan.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung…