Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 21


__ADS_3

“Sa … diminum susunya.” Bu Anna datang lagi mengecek kondisi putrinya, susu yang hampir lima belas menit di meja balkon itu masih utuh. Bahkan mungkin sudah mulai dingin.


Sally hanya menatap sekilas, gadis itu tak kunjung menunjukkan senyum sejak dua minggu lalu saat mendengar kabar tentang Zean yang tidak memiliki anak dengan siapa pun. Hasil dari rumah sakit menyatakan hal yang sama, pihak mereka meminta maaf karena kesalahan yang dilakukan, dengan alasan karena penuhnya antrian di laboratorium forensik membuat data dan hasil DNA orang sampai rancu. Padahal dalam dunia medis, hal seperti hampir mustahil terjadi.


Pak Bobi ingin marah saat itu tapi bu Lyra melarang. Tidak ada gunanya, yang harus dipedulikan hanya menemukan Zean.


Seminggu lalu pencarian dihentikan oleh pihak evakuasi lantaran selama tujuh hari pula tak ada kemajuan menemukan keberadaan orang yang jatuh ke sungai. Semakin menguatkan dugaan anggota keluarga jika orang itu adalah Zean.


Semua bergerak dengan orang suruhan masing-masing. Pak Bobi sendiri, adiknya Andra Pratama, dan Elo tak mau diam. Tapi percuma, seolah Zean hilang bagai ditelan bumi.


“Mi … hari lahir anakku sebentar lagi, mungkinkah kakak kembali, Mi?” Menatap lurus dengan sendu, setiap hari hanya termenung duduk dan menghabiskan waktu di balkon. Seolah sedang menunggu seperti saat Zean pulang dari kantor.


“Sabar, Sa. Harusnya kamu fokus dengan anakmu sekarang, hentikan sejenak memikirkan suamimu. Semua juga terus mencarinya. Kalau ada kabar pasti kita akan dihubungi juga.”


Mengembus napas berat, ingin sekali meluapkan segala beban dari hati. Semua orang terus berusaha tapi tetap saja tak bisa menenangkan gadis yang sebentar lagi menjadi ibu itu.


“Aku takut, Mi. Takut jika harus kehilangan ayah dari si Kecil.” Lagi-lagi kembali menangis, bu Anna sampai bingung harus bersikap bagaimana. Beliau khawatir dengan kondisi cucunya, berharap baik-baik saja tidak menambah masalah.


“Mami menemanimu, semua orang di sini membersamaimu. Kita hadapi sama-sama.”


***


“Anda sudah sadar, Tuan?”


Seorang pria berjas serba putih berdiri di hadapan. Nyala lampu terlihat begitu menyilaukan mata. Jemari dari tangan kanan ia gunakan untuk menutup mata, menghalau sinar yang terasa perih di retina.


“Saya di mana?”


“Anda di rumah sakit, Tuan. Sudah dua minggu Anda tidak sadarkan diri.” Pria tadi yang tak lain adalah seorang dokter menjelaskan dengan ramah, senyum manis terlukis jelas. “Saya periksa kondisi Anda sebentar.”


Diam. Tidak menjawab, bibirnya masih terasa sulit untuk terbuka. Semua badan terasa sakit, kepala pusing, tangan dan kaki ngilu.


“Dokter … apa yang terjadi dengan saya?”


Melepas stetoskop dari daun telinga, berbisik sebentar pada perawat yang ikut menemani. Kemudian menjawab, “Beberapa orang membawa Anda kemari dengan kondisi tak sadarkan diri, Tuan. Dari keterangan mereka …  Anda mungkin korban kecelakaan yang terseret arus sungai. Mereka mengaku warga dari sebuah kampung, salah satu orang menemukan Anda di tepian. Kemudian mereka bergotong royong dan bergantian setiap hari kemari menanyakan kondisi, Anda.”


“Apa Anda mengingat siapa diri Anda, Tuan?” lanjut dokter.


“Say—“


“Aow … kepala saya sakit, Dok.” Belum sempat menyelesaikan kata-kata sudah mengaduh kesakitan. Dokter kembali memeriksa lalu meminta untuk tenang.


“Anda tenangkan diri Anda dulu, Tuan. Kecelakaan yang Anda alami sepertinya cukup parah, mengakibatkan gegar otak dan patah tulang tangan sebelah kiri. Tulang kaki sebelah kiri Anda ikut bergeser, Anda juga koma selama dua minggu.”


“Saya menanyakan kondisi Anda, memastikan Anda tidak terkena amnesia karena gegar otak berat yang Anda alami akibat benturan dan kurangnya oksigen selama tenggelam.”

__ADS_1


“Apa saya bisa sembuh, Dok? Apakah wajah saya tidak tampan lagi?”


Ingin rasanya dokter dan perawat wanita itu tertawa, baru kali ini ada pasien menanyakan soal ketampanan. Sungguh narsis sekali.


“Saya takut istri saya tidak mengenali saya kalau wajah sudah tidak setampan dulu lagi,” desahnya frustrasi. Membuat dokter itu benar-benar tertawa geli.


“Tuan … sepertinya Anda mengingat semua tentang Anda.”


Mengangguk mengiyakan. “Saya tidak amnesia Dokter, hanya kepala saya yang masih pusing.”


Ikut mengangguk lalu berbisik kembali pada perawat untuk mencatat beberapa kondisi dan keluhan pasien. “Tuan … Anda tidak apa-apa, rasa pusing ini akan berangsur hilang seiring kesadaran penuh Anda kembali. Tapi tetap Anda harus dirawat dulu di sini, suster akan membantu Anda.”


Menatap dokter yang dari tadi begitu sabar dan ramah, lalu menjawab, “Baik, Dok.”


“Kalau begitu saya permisi. Izinkan perawat ini mengetahui data diri Anda.”


Dokter segera meninggalkan ruangan karena dirasa kondisi pasien tidak terjadi hal yang mengkhawatirkan. Seorang suster mendekat, tersenyum ramah layaknya dokter yang baru saja pergi.


“Tuan … bisa kita mulai sekarang?”


“Ya, Suster.”


“Bisa sebutkan nama Anda lebih dulu.”


“Zean Aditya Pra ….”


Tangan suster menggores aksara, menulis nama yang disebutkan. “Zean Aditya?” Laki-laki itu mengangguk.


“Baik, umur berapa sekarang?”


“Dua puluh enam.”


Suster itu tersenyum, menatap sekilas. “Anda masih muda, Tuan.” Lalu menulis kembali.


Zean hanya tersenyum kecil tidak tahu harus menjawab apa. “Sus … siapa yang bertanggung jawab sebagai wali saya di sini. Dan untuk biaya rumah sakit ini bagaimana?”


Merapikan kertas yang ada di clipboard sebentar. “Seorang lelaki tua yang mengaku sebagai Ketua RT menjadi wali Anda sementara, Tuan. Dan untuk biaya, beliau juga yang melunasi DP kemarin.”


Zean mengangguk lagi. “Saya boleh pinjam ponsel Anda, Sus.” Memberanikan diri, karena sudah jelas semua barang miliknya hilang. Termasuk dompet dan tanda pengenal. Suster tampak heran, ia ragu.


Tidak heran melihat itu, Zean kembali meyakinkan. “Saya hanya ingin menghubungi kerabat saya, Suster, untuk mengurus biaya rumah sakit ini.”


Wanita itu mengiyakan lalu merogoh ponsel di saku celana. Membukakan password dan menekan beberapa angka yang diucap Zean, karena laki-laki itu kesusahan untuk melakukan dengan satu tangan.


“Sudah tersambung, Tuan.” Ponsel diraihnya, sejenak menunggu diangkat dan menempelkan di telinga.

__ADS_1


“Halo, Nay.” Memilih menghubungi Naya, adik sepupunya. Karena tak mungkin ia menghubungi Elo atau ayahnya. Apalagi Sally, bisa kaget istrinya mendengar dia bicara.


“Siapa, ya.” Jawaban dari seberang.


“Zean. Kakakmu.”


“Kakak!” Suara meninggi sampai membuat Zean menjauhkan


ponsel dari telinga. “Di mana kau sekarang? Kau selamat? Syukurlah ….”


“Bagaimana kondisimu? Apa kau terluka parah? Atau kau baik-baik saja? Jawab aku.”


“Satu-satu, Nay. Kepalaku sakit mendengar pertanyaanmu. Datanglah ke rumah sakit ...." Zean melirik suster seolah bertanya nama rumah sakit di mana ia sekarang.


Suster berbisik lirih. "Datang ke rumah sakit Cahaya Pelita di pinggiran kota, aku butuh bantuanmu. Tapi tolong tidak usah kasih tahu siapa pun.”


“Kenapa?”


“Sudah … tolonglah ke sini. Aku tidak bisa lama ini ponsel salah satu perawat di sini.” Zean menoleh pada suster yang masih terlihat tenang menunggu ia selesai.


“Iya, iya. Pulang kerja aku ke sana.”


“Hati-hati, makasih ya, Nay. Aku tutup dulu.”


Panggilan itu berakhir ponsel kembali ke pemiliknya.


“Makasih Suster.”


“Sama-sama, Tuan. Saya turut senang Anda tidak sampai amnesia, memudahkan urusan kami dan semua orang.” Zean tersenyum tipis. “Saya undur diri, Tuan. Sebentar lagi jam makan siang, akan ada perawat lain membawakan makanan untuk Anda. Lalu kita bisa pindah ke kamar inap."


.


,.


..


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2