Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 26: Kunjungan


__ADS_3

Usai menempuh perjalanan hampir tiga jam, Zean dan Sally akhirnya sampai. Rumah mewah, berhalaman luas dengan nuansa putih menjadi tujuan keduanya.


Zean memarkir mobil di halaman, lalu turun. Tanpa menunggu apa pun, Sally ikut melakukan hal yang sama. Flat shoes navy menghias di kaki jenjang gadis itu, gaun putih tulang membalut tubuh sintalnya. Penampilan simpel, tetapi tetap membuatnya terlihat cantik.


Tanpa menunggu sang istri, Zean sudah melenggang lebih dulu. Gadis itu cepat-cepat menyusul sebelum pintu terbuka. Dia harus ikut berpura-pura jika hubungan rumah tangganya dengan Zean baik-baik saja.


Bel sudah ditekan dua kali oleh Zean, tetapi tak kunjung ada tanda pintu terbuka. Pria itu hendak memencet lagi, tetapi diurungkan lantaran asisten rumah tangganya sudah membuka pintu.


"Siang, Tuan Muda, Nona." Wanita paruh baya itu menyambut ramah. Ada serbet menggantung di pundaknya. Sally menebak jika beliau sedang melakukan pekerjaan ketika dia dan Zean datang.


Zean mengangguk menanggapi sapaan pekerja ayah ibunya. Dia memilih masuk dan segera duduk di sofa ruang tamu.


"Minum apa, Tuan?"


"Terserah, Bi," jawabnya ringan.


Sally hanya diam, duduk di sebelah Zean. Dia tidak berani bertanya dan berkata apa pun. Laki-laki di sampingnya tengah bersandar dengan mata terpejam, dia kembali menebak jika suaminya itu kelelahan.


"Baik, saya siapkan dulu."


"Bi Minah." Punggung Zean menegak. Dia menoleh pada asistennya yang langsung berhenti.


Wanita itu mengangguk. "Ya, Tuan Muda."


"Mama dan Papa ada di rumah, kan?"


Bi Minah tersenyum tipis. "Ada, Tuan Muda. Apa mau dipanggilkan juga?"


"Tidak, Bi. Nanti saja."


"Baik."


Wanita berbaju cokelat itu mundur. Selang beberapa menit, beliau kembali dengan satu nampan berisi dua gelas jus jeruk, sepiring kecil biskuit, dan potongan buah.


"Silakan, Nona."


"Makasih, Bi." Gadis itu tersenyum manis. Mendapat perlakuan begitu baik, Sally merasa bahagia. Setidaknya, meski sang suami menyebalkan, orang-orang di rumah Pratama bersikap sangat baik.


Satu gelas dari meja pindah ke tangan Zean. Pria itu meneguknya dengan cepat. Efek haus membuatnya tidak sempat menawari Sally.

__ADS_1


Sementara itu, istrinya hanya memperhatikan kelakuan Zean. Gadis itu ikut menelan ludah. Minuman oranye itu mengundang tangan Sally untuk ikut meraihnya. Dia melakukan hal sama seperti sang suami.


"Ayo, ke kamar, Gadis Kecil!" Zean bergerak tangkas, menarik lengan Sally usai meletakkan gelas tanpa menoleh.


Sally refleks tersedak saat tarikan Zean membuatnya terhuyung. Jus jeruk itu tumpah, membasahi gaun putih yang dipakai. Mulut dan dua mata Sally membulat.


Hatinya mulai memercik api, dia ingin marah, tetapi sedang berada di rumah mertua. Alhasil, hanya bisa melapangkan dada.


Buru-buru Zean menarik gelas istrinya. "Oh, kau masih minum, ya. Sorry, Sa, sorry." Tangan Zean menarik beberapa lembar tisu. Dia berjongkok di hadapan Sally, membantu membersihkan pakaian.


Gadis itu masih menepuk-nepuk dada dan punggung untuk menghalau rasa perih.


"Sudah, Kak," ucap Sally saat merasa lebih baik.


Suaminya yang masih bersimpuh di lantai mendongak. "Kita istirahat, ya."


Sally mengangguk-angguk. Dia mengikuti Zean berdiri, lalu menaiki tangga satu per satu.


Pintu kamar terbuka, Zean melangkah masuk, sementara Sally justru mematung di tempat. Mata kecokelatan miliknya bergerak liar, menyapu setiap sisi kamar. Sekarang, Sally baru sadar jika kamar suaminya dua kali lipat lebih besar daripada kamarnya di kediaman Birawan.


Kamar dengan dinding bercat putih bersih, lantai dengan motif kayu kecokelatan, tirai tipis menutup kaca jendela dari atas sampai bawah. Sofa dan televisi menempel di dinding, nakas kecil mengapit tempat tidur besar. Semua pemandangan itu membuat Sally mengerjap setengah tidak percaya.


"Hei, Gadis Kecil. Kenapa di situ? Masuk!" Suara Zean menyadarkan Sally dari ketakjuban. Putri pertama Pak Tomi itu masuk dan menutup pintu.


"Tidur sini."


Jam sudah menunjuk pukul 13.10. Zean mengerjap sejenak, sayup-sayup telinganya mendengar ketukan pintu beberapa kali. Dia melepas guling yang dipeluknya selama tidur, duduk sejenak sebelum akhirnya menuju pintu kamar.


"Iya, sebentar." Zean menjawab sambil terus melangkah. Satu tangan menutup mulut yang masih menguap.


Pintu terbuka. Bi Minah tersenyum sungkan.


"Tuan Muda, maaf, ditunggu Nyonya dan Tuan di bawah untuk makan siang. Beliau sudah menunggu dari tadi."


Zean mengangguk, mengiyakan dan bilang akan segera turun setelah cuci muka.


***


"Belum bangun, Bi?" Bu Lyra bertanya ketika melihat asisten rumah tangganya menapaki lantai dasar. Beliau yang mulai mengambilkan nasi sang suami berhenti.

__ADS_1


Kalimat sang Nyonya menghentikan langkah Bi Minah. Wanita separuh baya itu menjawab sopan, "Sepertinya baru bangun, Nyonya."


Jawaban Bi Minah sudah cukup bagi Bu Lyra. Ibunda Zean itu meminta asistennya kembali ke ke belakang.


"Anak itu." Bu Lyra berkata lirih sambil menyerahkan piring yang telah berisi nasi dan lauk lengkap pada sang suami.


Pak Bobi yang sejak tadi menjadi penyimak, menimpali, "Dia lelah, Ma. Kota A dan C tidak cukup hanya sepuluh atau dua puluh menit. Biarkan saja, nanti juga turun."


Perkataan Pak Bobi tidak salah. Mengemudi sendiri sampai dua jam pasti melelahkan, belum lagi jika terjebak macet. Udara panas, suara bising kendaraan lain pasti ikut membuat pusing.


"Ma, Pa." Suara serak berasal dari anak tangga mengalihkan perhatian dua orang tua yang baru memulai makan. Mereka berhenti, lantas menoleh pada putra dan menantu yang menghampiri.


Sally meraih punggung tangan kedua mertuanya, lalu mencium bergantian ketika sampai.


"Duduklah, segera makan. Pasti sudah lapar."


"Iya, Ma," jawab Zean.


Pria itu menarik satu kursi, lalu duduk dengan nyaman. Makanan diambilkan Sally. Entah istrinya refleks atau memang berakting, Zean tidak mementingkan itu.


"Kalian menginap?" Belum sempat menyuap makanan, Bu Lyra sudah bertanya lagi.


Pak Bobi berdehem dan berhasil mengalihkan perhatian istrinya. Beliau lantas bicara, "Ma, biarkan mereka makan dulu. Nanti saja ngobrolnya." Ayah Zean itu tidak terlalu berkenan atas sikap istrinya yang mengganggu kegiatan sang anak. Padahal, Sally dan Zean sudah nyaris melahap makanan. Namun, gara-gara ibunya, jadi berhenti bersamaan.


"Nginap, Ma." Zean tersenyum, lalu melahap suapan pertama makan siangnya.


Sally hanya diam. Gadis itu tidak terlalu banyak bicara. Rasa canggung masih ada padanya, mengingat belum lama kenal dengan keluarga sang suami.


Pak Bobi sudah jarang ke keluarga Birawan semenjak Sally SMA, jika pun berkunjung, gadis itu sedang tidak di rumah. Mereka jarang bertemu, sekali bertemu dengan jelas justru di rumah sakit saat sang nenek menjelang pulang pada Sang Pencipta.


.


.


______


Mkasih sudah mampir.


Lope, lope, jangan lupa pencet jempol. ❤

__ADS_1


__ADS_2