Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 14: Pagi Pertama


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka. Zean keluar dengan badan yang segar. Kas polos putih menutup tubuh bagian atas, celana pendek selutut membalut kakinya yang jenjang. Handuk kecil dia gunakan untuk mengeringkan rambut basah karena terkena percikan air.


Berjalan pelan menuju ranjang, Zean meraih ponsel yang sempat dia taruh di atas nakas. Jarinya bergerak lincah  membuka beberapa aplikasi. Pesan dan e-mail berisi ucapan selamat tak kurang yang dia terima. Namun, tak ada yang dialas.


Tubuhnya lelah, Zean ingin segera beristirahat. Pandangan mata bergeser arah ke  tempat tidur. Dia melihat Sally sudah meringkuk dengan memeluk guling. Tanpa sadar, Zean menarik sudut bibir salah satu.


Suami baru Sally itu merangkak naik, lalu melongokkan kepala untuk melihat istrinya. Gadis itu sudah tertidur rupanya. Padahal tadi masih meraung-raung tidak jelas karena berada satu kamar dengan sang suami.


Satu senyuman terbit lagi di wajah Zean. Pria itu merasa lucu dengan istri kecilnya. Tak menunggu lama, Zean menarik selimut untuk menutupi tubuh Sally dan dia sendiri.


Sinar jingga menyeruak dari arah timur, fajar menggeser malam dan sebentar lagi matahari menerangi bumi.


Restoran hotel dipenuhi penghuni kamar. Di salah satu meja telah berkumpul keluarga yang menggelar pesta kemarin malam.


“Akhirnya, kita bisa sarapan bersama lagi.” Pak Tomi membuka percakapan.


Orang yang ada di sebelahnya tersenyum. “Aku bahkan lupa kapan kita terakhir duduk di meja yang sama begini saat pagi hari.”


“Ke depannya kita akan sering begini.”


“Pasti.”


Senyuman lebar tak surut dari wajah orang tua Sally dan Zean. Mereka tentu bahagia telah menyatukan keluarga dan menuruti kemauan ibunda.


Obrolan ringan terus bergulir, menyingkap suasana canggung dan menambah keharmonisan hubungan.


“Mi, Kak Sally enggak ikut makan?” Dion beceletuk saat tak melihat kakaknya sejak tadi. Bu Anna yang mendengar itu berhenti dari aktivitas. Tak langsung menjawab, beliau mungkin sedikit canggung untuk mengurusi pengantin baru yang bangun siang.


“Em, tidak. Mungkin lelah, nanti juga sarapan dengan kakak iparmu.”


“Oh.”


“Pagi, semua.”


Satu pria datang dengan senyuman ramah. Tidak perlu diminta, dia ikut bergabung dan menarik salah satu kursi.


Lisa mendadak tersedak ketika menoleh pada sumber suara. Bu Anna dengan sigap berdiri dan menghampiri sahabat putrinya.


“Minum, dulu.” Satu gelas berisi air bening diarahkan. Gadis sembilan belas tahun itu meneguk secara pelan.


“Kamu ini, kenapa makan langsung ditelan saja? Sudah kayak Sally.”


Semua orang yang ada  di meja tertawa lirih mendengar Nyonya Birawan itu mengomeli anak orang.


“Maaf, Tan.”


“Udah. Lanjutin.”

__ADS_1


Lisa hanya mengangguk, tetapi ekor matanya terus melirik wajah pria yang baru saja duduk dan mulai makan.


Gila … makhluk apa sebenarnya yang ada di sini? Kenapa keluarga Kakak Ganteng model begini semua.


Lisa tak bisa fokus. Dia terus melirik Elo yang tengah duduk di samping ibunya. Wajah pria itu terlihat teduh dan bijaksana.


Aku bisa mimisan kalau di sini terus.


Hati Lisa terus gelisah. Padahal, tidak ada yang menyadari itu. Semua hening dan sibuk dengan makanan hingga suara Bu Lyra memecah lamunan.


“El, tante kira kau sudah pulang.”


“Elo mau pulang ke rumah, Tan.”


“Tumben.” Ibunya menyela cepat. Seolah kepulangan putranya adalah hal langka.


“Kenapa? Mama nggak suka aku pulang?”


Bu Dira—ibu Elo—menggeleng. “Bukan, tapi tumben banget gitu.”


“Elo, libur, Ma.”


“Serius?” Ibunya masih memberi ekspresi tak percaya. Hal itu membuat Elo sebal.


“Memangnya El nggak boleh libur?”


Tuan Bagaskara tergelak, menepuk bahu dan menggoyangkan badan Elo sebentar. “Sudah, jangan ladeni mamamu.”


Menjadi anak bungsu dari dua bersaudara, Elo sering dapat perlakuan demikian. Orang tua terkadang memperlakukan dia seperti bocah. Oleh karenaitu pula pria berambut cokelat tersebut pergi dari rumah. Dia tidak mau bekerja dengan perusahaan keluarga, lebih memilih mendampingi Zean.


“Apa kau perlu cuti, El? Biar Tante bilang pada Zean.”


Keponakan Bu Lyra menggeleng. Lisa terus memperhatikan. Satu gerakan saja dari pria itu, membuat hatinya berdegup.


“Nggak perlu, Tan.”


“Lyra.” Bu Dira menyahut. “Apa kamu tidak tahu kalau Elo dan Ze sudah seperti lem dan kertas? Susah terpisah dan bahkan tak jarang keponakanmu ini lebih mementingkan urusan Zean daripada dirinya sendiri.”


“Mama apaan, sih?”


Semua orang terkekeh. Elo terus memasang tampang masam. Dia malas menjadi bahan pembicaraan dengan keluarga besar.


“Terima kasih sudah mau menemani adikmu sampai sekarang. Meski kau tahu sendiri sikapnya.”


“Bukan masalah, Tante.”


Semua melanjutkan makan masing-masing. Sebagian pengunjung yang kemarin menginap berpamitan pulang. Elo beranjak lebih dulu dan diikuti kedua orang tuanya. Tak lama Dion dan Lisa melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Kami langsung pulang setelah ini, ya?” Pak Tomi buka suara ketika di meja yang tersisa hanya mereka berempat.


Besannya membalas, “Kenapa cepat sekali? Anak-anak saja belum keluar.”


“Tidak apa. Bilang pada mereka agar menyusul nanti, karena Sally besok harus sekolah.”


“Baiklah.”


***


Cahaya matahari mulai menyusup ke kamar melalui celah jendela. Dua orang yang masih lelap dalam balutan mimpi terbangun salah satu.


Mata cokelat Sally mulai terbuka. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan keadaan.


Ketika menoleh ke samping, gadis itu terperanjat dan langsung duduk. Dia hendak menjerit, tepi telapak tangan sudah membungkam mulutnya lebih dulu.


“Emph … emph ….”


Dia berteriak kesusahan. Zean makin menguatkan bungkaman. Pria itu tak berpikir jika istrinya bisa saja kehabisan napas karena ulah yang diperbuat.


Istrinya tak bisa diam. Dia memukul lengan dan berakhir dengan menggigit sekuat tenaga. Pria itu refleks menjerit dan mengibas berulang kali.


“Sally! Kau kira aku ini sarapanmu? Seenaknya menggigit tangan!” Zean menghardik murka. Matanya yang hitam berkilat marah disertai dada bergemuruh. Belum sampai satu pekan mereka menikah, istrinya sudah menguras emosi.


“Suruh siapa membekapku!”


“Kau ingin berteriak, tentu saja aku menghalangi. Kau kira telingaku tidak sakit mendengar suara cemprengmu itu?”


“Apa kamu bilang? Sialan!”


Bantal terdekat diraih Sally dan dipukulkan ke Zean secara membabi buta. Pria itu sampai membungkuk dan mengadang dengan tangannya. Saat istrinya lengah, dia menarik bantal dan membuang ke lantai.


Melihat itu, Sally mematung beberapa detik sebelum lari ke kamar mandi.


“Hei, Gadis Kecil! Kemari kau!”


Percuma! Pintu kamar mandi sudah dibanting lebih dulu, menyisakan Zean yang kesal bukan main.


Tak ingin peduli lagi, Zean melangkah untuk menyibak tirai. Terik mentari menyilaukan matanya yang hitam. Pria itu sampai mengernyitkan dahi.


“Jam berapa ini?”


Kakinya bergerak ke nakas mengambil ponsel. Melihat jam digital, mata Zean melotot nyaris keluar dari tempatnya.


Apa aku tak salah lihat?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2