Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Ch. 47: Luapan Rindu


__ADS_3

Warning!


Chapter 21+ pastikan usia Akak sudah mencapai batasan tersebut, jika tidak nyaman, sila skip ke chapter berikutnya.


***


Sally sibuk menimpuki Zean dengan bantal yang ada di sampingnya. Dia makin gelagapan melihat tatapan aneh dari sang suami. Gadis itu sudah panas dingin, ingin berteriak dan minta tolong pasti percuma karena kamar yang mereka tempati kedap suara.


Andai berlari ke luar, lalu meminta tolong pada orang lain, hal itu terasa lucu bagi Sally. Dia dan Zean sepasang suami istri, tinggal di satu kamar bukanlah hal yang salah. Orang-orang mungkin akan menganggap dia aneh jika tahu status di antara mereka.


“Sa, bukankah kemarin kau bilang tidak takut?” Zean tersenyum miring.


Melihat kelakuan Zean, membuat Sally berulang kali menelan ludah. Gadis yang sebentar lagi lulus SMA itu tahu maksud dari tatapan dan senyuman tidak biasa dari sang suami.


Akan tetapi, Sally harus berusaha tenang atau akan ditertawakan nanti. Makhluk di hadapannya satu itu sangat suka jail, sikapnya berubah-ubah, tetapi tidak untuk keusilannya. Bukankah sejak awal Zean suka sekali melihat Sally marah dan cemberut? Memperlakukan Sally seperti mendapat suatu mainan yang menggemaskan.


“Ka–Kakak jangan mendekat! Jangan, Kak! Cukup di situ.” Suara Sally bergetar. Dia gugup sampai menggigit kuku-kuku jarinya. Peluh mulai merembes di bagian tempat tumbuhnya rambut.


Melihat kelakuan istri kecilnya, Zean tidak mengubah pemikiran. Pria itu tetap tersenyum dan justru lebih mendekat, sedangkan Sally makin mundur. Tubuh Zean merapat, Sally tidak bisa berkutik lagi lantaran sudah tersudut— menabrak kepala ranjang.


Tangan Zean mengulur ke depan, menarik pelan tangan Sally. “Jangan lakukan itu! Kukumu bisa rusak, jarimu juga terluka nanti! Tenangkan dirimu, aku tidak akan memaksa jika kau keberatan.” Tatapan Zean melembut. Kemudian, dia mengecupi punggung tangan Sally.


Gadis itu terpesona. Sally terlena oleh perlakuan Zean. Pria keturunan Pak Bobi itu lama-lama merusak jantung anak orang, berulang kali Sally merasakan debar tidak biasa sejak pertemuannya kembali hari kemarin.


“Ka–Kakak serius? Kita enggak akan melakukannya, kan?” Menantu Bu Lyra itu bertanya gugup. Nada bicaranya sampai putus-putus seolah oksigen juga susah untuk dihirup.


“Um.” Zean memejam sambil terus mencium tangan sang istri. “Kau memang tidak bisa menyenangkan hati suami. Adanya cuma membuat emosi, kan?” tanyanya sarkastik.

__ADS_1


Sally menarik tangan, lalu mendorong tubuh Zean. Pria itu mundur dan tersenyum mengejek saat melihat Sally cemberut.


“Kata siapa aku enggak bisa? Membuat keluarga bahagia saja, aku bisa! Kalau cuma nyenengin Kakak, bukan hal sulit!” Ucapan Sally menggebu. Dia tidak terima atas penilaian Zean. Padahal, jika dia sadar, itu hanya sebuah jebakan yang suaminya siapkan.


Zean berdecak. “Kalau gitu, buktikan omonganmu!”


“Eh?” Sally terperanjat. “A–aku enggak bisa.” Dia kembali gelagapan, baru sadar jika salah bicara. Gadis itu menyesal menuruti emosi sementaranya tadi, sekarang harus berada di situasi seperti itu lagi.


“Kenapa? Apa omonganmu hanya bualan semata, Gadis Kecil?” Senyuman licik tersemat di bibir tipis Zean. Hati pria itu tengah bersiap untuk bersorak menang sebentar lagi.


“Eum … itu karena … Kak Ze masih sakit, kan? Jadi jangan banyak bergerak.”  Sally meringis usai mengucap rangkaian kalimat itu, sementara Zean yang melihatnya menaikkan satu alis.


“Alasan! Aku tahu kau pura-pura khawatir. Padahal tidak mau menyenangkanku, kan? Lagi pula, aku ini tidak patah tulang, bisa-bisanya percaya dengan omongan Elo.” Zean mendengkus sembari membuang muka karena sebal. Sejak tadi dia menahan diri dan berusaha bersikap lembut, tetapi Sally seperti tengah menguji kesabaran.


Wajah Zean yang tidak seperti biasa membuat Sally bimbang. Suaminya dengan jelas menyatakan kecewa melalui ekspresi yang diperlihatkan. Sebelum Zean merajuk lebih lama, gadis itu berkata, “Se–sebenarnya aku takut, Kak.”


Zean mendongak; menatap Sally yang menunduk. Dua tangan gadis itu saling bertaut dan memilin pakaiannya sendiri. Putra Pak Bobi itu mendekat, lantas membelai rambut sang istri. “Tenang saja, aku pasti bersikap lembut padamu. Aku berani janji kalau kau tidak percaya.”


Meski ragu, Sally perlahan mengangkat tangan. Jari kelingking dia tautkan dengan milik Zean. Suaminya tersenyum manis, senyum yang selalu menyihir Sally.


“Percaya padaku?” tanya Zean sekali lagi.


Sally terdiam, sementara Zean masih memperhatikan. Beberapa detik berlalu, akhirnya kakak kandung Dion itu mengangguk.


Suaminya bersorak riang dalam hati, senyum lebar merekah di bibir Zean. Pria itu bahagia tiada tara karena mendapat lampu hijau dari istri kecilnya.


Zean bergerak maju, mendekap Sally untuk menyalurkan kehangatan sebelum melakukan hal lebih. Perlahan dengan pasti, dia mulai merebahkan diri bersama sang istri.

__ADS_1


“Ingat, apa pun yang terjadi, jangan lupa bernapas.” Sengaja Zean bercanda di tengah keadaan Sally yang tegang, bisa pria itu rasakan tubuh istrinya terasa kaku. Mau tidak mau, dia harus pandai merayu untuk mencairkan suasana demi mencapai tujuan.


“Apaan, sih, Kak!” Istrinya memukul dada, Zean tertawa secara refleks diikuti Sally kemudian.


Suasana tegang mulai mengendur, tawa mereka berhenti, lalu saling menyatukan pandangan. Sorot penuh cinta terpancar dari kedua mata masing-masing. Zean mulai bergerak. Dia tidak bisa menunggu lagi.


Kamar hotel yang sempat menjadi tempat mereka adu mulut kemarin telah berubah dengan suasana penuh cinta. Gelora rindu menyatu dan meleburkan kebencian. Untaian kata romantis yang jarang Zean lontarkan, seakan memenuhi pendengaran Sally. Dua insan yang saling memiliki ego tinggi sebelumnya, sekarang saling merobohkan dinding penghalang yang membuat hati mereka pernah berjauhan.


Zean menggeram berulang kali, merasa tidak sabar untuk mencapai titik puncak kewarasan dirinya. Wajah Sally, suara gadis itu membius dirinya, memabukkan dan mampu membuat Zean melayang.


Kecupan, bisikan kata cinta, dan ucapan terima kasih diberikan Zean pada Sally ketika permainan mereka usai. Selimut dan bantal berserak di lantai, Zean lekas mengambilnya untuk menutup diri dan sang istri.


“Kau lelah?” Zean bertanya sambil mengusap peluh di kening sahabat Lisa tersebut.


Sally hanya mengangguk. Bibirnya kebas, sulit untuk dibuka meski sekadar dipakai untuk menjawab. Suaminya terkekeh kecil, lalu menghujani banyak kecupan ke wajah.


“Tidurlah, aku akan mengantarmu sore nanti,” kata Zean menenangkan.


“Um.” Sally menurut, lalu merangsek maju memeluk suaminya. Zean dengan sabar memberi belaian pada rambut basah Sally meskipun dia sendiri mengantuk. Pikirnya, sang istri lebih lelah daripada dirinya, tubuhnya pasti terasa sakit.


Tanpa sadar mata pria itu lama-lama juga terpejam, Zean tidur dengan memeluk istrinya dengan erat. Niat awal harus kembali ke kediaman keluarga Pratama mendadak dilupakan, padahal jelas-jelas kemarin Elo sudah berteriak dan mengeluh harus segera didatangi.


Namun, Zean tetaplah Zean. Pria yang suka bersikap sesuka hati dengan emosi yang sering berubah tidak menentu.


.


Iklan:

__ADS_1


Bab ini sudah mengalami perombakan total sebanyak 6 kali setelah tamat dari versi aslinya. Jika dirasa masih bikin gerah, komen, ya.


makasih.


__ADS_2