
Turun dari mobil dibantu sang suami dengan hati-hati. Sepasang suami istri saling menampakkan raut bahagia. Termasuk kedua orang tua mereka sendiri, yang berbeda mobil lebih dulu sampai di restoran mewah bergaya klasik dan elegan.
Menginjakkan kaki di restoran yang mereka tuju, makan malam sebagai perayaan pengalihan jabatan dan rasa bahagia pak Bobi pada anaknya sendiri.
Menuju sebuah meja yang memanjang dengan penyatuan dua meja, disertai kurang lebih 16 kursi. Dua kursi berhadapan di masing-masing ujung, 14 sisanya berada di sisi kanan dan kiri. Lampu kristal menggantung di atas berbagai sisi, kaca besar sebagai jendela, beberapa lukisan terpampang di bagian sisi dinding beberapaa titik.
Sally menghentikan langkah, ia menutup mulut secara tak sadar. Melihat kedua orang tua dan adiknya sudah duduk tenang di meja yang akan mereka tuju. Merasa bahagia dan haru saat itu juga.
“Mami!” Ia segera berjalan lebih cepat menghampiri ibunya yang duduk di sebelah sang ayah.
Memeluk erat kedua orang tua bergantian, Zean hanya tersenyum bangga dengan kebahagiaan yang dirasakan calon ibu dari anaknya.
Tak berapa lama Andra Pratama datang dengan sang anak, Eza yang sejak tadi digandeng bu Lyra berlari kecil menghampiri Naya.
Zean terpaku, melihat senyum terlukis jelas di wajah sang paman saat menatap dirinya. Ingin menarik kedua sudut bibir juga, tapi terasa begitu susah.
“Ze!” Om Andra sudah mengulurkan tangan lebih dulu, tapi putra pak Bobi itu bergeming.
Semua orang ikut menoleh pada apa yang mereka lihat. Pak Bobi diam pun istrinya. Eza menatap lekat pada Naya, seolah bertanya ada apa dari sorot mata hitam yang dimiliki anak itu.
Entah di detik ke berapa, Zean menghambur memeluk pamannya. Tiba-tiba suasana haru menyelimuti area tersebut, bahkan bu Lyra ikut meringsek ke pelukan sang suami. Tak terkecuali keluarga Birawan pula.
“Om … maafkan aku.” Suara Zean terdengar bergetar.
Om Andra diam, bulir kristal terlihat dari kedua sudut mata yang ia miliki. Tangannya menepuk pelan punggung keponakan yang selama ini seolah menjadi musuh bebuyutan.
“Bukan salahmu, om sendiri yang memulai semuanya. Pamanmu ini tak tahu diri, dengan bodoh menyulut pertikaian antara keluarga kita.”
Untuk kali kedua air mata Zean tak terbendung. Ketika hampir mati karena dikeroyok dulu tak pernah menangis, kali ini ia benar-benar cengeng.
“Ada apa ini?” Elo datang dengan wanita pujaan. Membuat semua orang menoleh dan Zean sendiri tersentak saat itu juga.
Melepas pelukan, lalu mengusap kasar wajah tampan yang ia miliki, kedua sorot mata berubah tajam saat melihat sosok wanita yang dibawa sepupunya.
Elo mendekat, bersamaan dengan Alika di sampingnya. Berjarak mungkin selangkah dari Zean dan Andra Pratama, ia mengulurkan tangan memberi ucapan selamat.
Diraihnya tangan itu, lalu memeluk sebagai tanda sangat berterima kasih pada sepupunya satu ini. “Thanks, El, semua ini juga karena bantuanmu. Tetaplah bersamaku.” Elo hanya mengangguk kecil, ia tidak menjawab.
Alika melihat jelas hubungan saudara antar mereka berdua begitu lekat, mengalahkan saudara kandung. Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan Zean, sorot mata lelaki itu berubah dengan tatapan dingin.
Wanita beranak satu itu tentu merasa aneh, padahal pertemuan pertama mereka di restoran kala itu, Zean tampak ramah. Mungkinkah Zean mengingat dirinya? Rasa takut tiba-tiba menyelimuti.
“Hei … kalian tidak ingin makan?” Pak Bobi sudah menyeru empat orang yang tidak tahu diri itu, sibuk hanyut dalam posisi yang sama dalam beberapa menit, sedang makanan mulai dihidangkan.
__ADS_1
Menghampiri posisi duduk masing-masing, pak Bobi memilih di kursi paling ujung, berhadapan dengan adiknya. Ditemani sang istri di samping kanan, Sally lalu putranya, Zean. Sisi kiri beliau duduk pak Tomi dan bu Anna, tidak lupa Dion di hadapan kakak iparnya. Eza memilih duduk di antara Naya dan Zean, sedang Elo dan Alika di hadapan Naya dan Eza, menemani Om Andra.
Tatapan Alika terpaku pada gadis berperut bucit di sebelah Zean, menebak-nebak dalam hati jika perempuan itu adalah istrinya.
Menu mulai tersaji, tampak Sally sedikit gelisah. “Kenapa, Sayang?” tanya Zean.
Kedua manik mata Alika tak lepas dari pasangan di hadapannya sejak tadi, omongan Zean terdengar jelas masuk ke telinga. Dengan yakin, ia tahu jika Zean sudah menikah dan sebentar lagi memiliki anak.
“Nggak papa, Kak. Nungguin Lisa.” Zean mengangguk, lalu meneguk segelas air.
Uhuk … uhuk!
Putra Pratama itu reflek tersedak dengan air yang baru saja akan melewati kerongkongan, ketika melihat kedatangan Lisa dengan lelaki yang pernah membuatnya sesak karena cemburu.
“Ngapain Bocah itu ke sini?!”
Tak peduli omongan Zean yang menghentikan aktivitas makan semua orang, Sally meraih tisu lalu memberikan pada suaminya. “Aku yang minta mereka ke sini, Kak.”
“Ck! Sa … Sa, mau bikin aku mati kepanasan.” Lelaki itu berdecak kesal, padahal Leon tak ada niatan untuk mendekati Sally lagi.
Tersenyum ceria seperti biasa, gadis berambut pendek itu hendak duduk di samping Dion setelah memeluk hangat pada bu Anna. Matanya melirik ke arah kiri, tiba-tiba tubuhnya menegang mendapati lelaki pujaan sudah membawa wanita lain.
“Duduk, Kak!” Dion mengingatkan, lantaran Lisa seperti kehilangan nyawa saat itu. Pemuda itu sedikit menarik lengan sahabat kakaknya, menyadarkan dari lamunan. Hancur sudah harapan Lisa. Ingin menangis dan meraung saat itu juga jika bisa.
“Dia kakak sepupu saya, Tante.” Leon tersenyum.
Pak Bobi dan bu Lyra mengangguk, sedang Zean mukanya sudah kusut tak berbentuk.
“Ehem … ada yang makan cuka nih ….” Elo berseloroh, lalu mendapat tatapan tajam dari Zean.
“Maksudmu, El?” tanya bu Lyra di sela makan mereka.
“Tante nggak tahu, pemuda ini yang pernah nolongin adik ipar waktu mereka berantem. Terus akur, dan Zean ninggalin mobil di hotel, menyusahkan diriku yang harus mengurusi mobil yang ditinggal gitu aja. Tapi sebelum itu, terjadi baku hantam antara anak Tante dan dia.” Tak ada takutnya, Elo malah berceloteh ria dan membuat semua orang kaget tapi kemudian tertawa.
"Maafkan anak Tante, ya." Bu Lyra berkata, menatap penuh pada Leon.
"Iya, Tante. Saya sudah memaafkan dari dulu."
Zean mengepalkan tangan di atas meja, laki-laki itu ingin menendang kaki Elo jika saja mereka duduk berhadapan. Sally justru menggenggam mesra kepalan tangan Zean, laki-laki itu menoleh lalu mendapat gelengan kepala dan senyuman dari sang istri.
“Udahlah, Kak. Semua udah jelas, aku nggak ada apa-apa sama Kak Leon,” bisiknya.
“Haah ….” Menghela napas sejenak, lalu tersenyum dan mengacak rambut istrinya. “Makanlah.” Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Larut dalam suasana bahagia, semua akrab dengan hal itu. Keluarga Birawan saling mengobrol dengan keluarga Pratama, sesekali Lisa ikut nimbrung. Tak terkecuali Elo dan om Andra sendiri, mereka saling mengenal tentu bukan hal yang asing.
“El ….” Menoleh pada pak Bobi. Lelaki 25 tahun itu lantas berhenti dengan obrolan bisnis dengan paman Zean. Kemudian menjawab, “iya, Om.”
“Siapa wanita yang kau bawa ini. Dari tadi tak kau kenalkan dia. Om sampai lupa karena ketemu besan.”
Senyuman manis terangkat. “Namanya Alika, calon istriku, Om.”
Jawaban Elo seketika membuat Zean dan Lisa tersedak bersamaan. Dengan cepat Sally dan Leon sigap membantu menenangkan keduanya.
“Kalian kenapa?” Pak Bobi heran.
Keduanya menggeleng. Sally sibuk menelisik sahabatnya, justru tidak terlalu peduli dengan Zean.
“Lisa ... ke kamar mandi sama aku, yuk.” Mengangguk, lalu beranjak.
“Sayang ….”
“Aku sama Lisa, Kak.” Zean mengangguk, lalu melepaskan genggaman tangan suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Bersambung …
Catatan kaki, ✍
kalian tahu nggak, istilah makan cuka yang dikatakan Elo?
istilah itu aku ambil dari bahasa Cina. 醋(cù) berarti cuka, karena cuka mempunyai rasa asam, istilah ini merujuk ke ekspresi ketika seseorang memakan sesuatu yang masam, makanya ekpresi mukanya jadi masam sama seperti ketika melihat pasangan kita lagi berduaan sama orang lain, cemburu. orang cemburu nggak ada kan yang tertawa ngakak? 😁
__ADS_1
Like + komen, Gratisss....✊✊