
Kak, Assalamualaikum. Masih inget aku, gak? 😁
Semoga masih, ya.
Cuma mau kasih info kalau aku nulis lagi di Noveltoon. Insyaallah akan tamat di sini, enggak aku bawa pindah². Temenin aku yuk, baca karyaku yang terbaru berjudul "Menikahi Teman Kelas"
Baru 2 bab. Tapi silakan intip dulu barangkali suka. Jangan lupa subscribe dan follow akunku, ya.
Lopeee ❤️🫰
***
***
Cuplikan bab 1:
“Woi! Cari mati lo?”
Hujan deras yang mengaburkan pandangan, memaksa sesosok pemuda turun dari kendaraan saat nyaris menabrak seseorang. Standart motor yang dikendarai diturunkan, lalu dia menghampiri satu gadis berjibab hitam yang tengah menyembunyikan wajah di balik tas yang dibawa.
“Bisa nggak kalau bosan hidup jangan nabrakin diri ke motor gue?” tanya pemuda itu penuh emosi. Kaca helm yang menutup matanya sampai dinaikkan karena geram. Namun, semarah apa pun dia, bukan jawaban yang didapat, melainkan hanya kebisuan dari sang gadis.
Suasana hujan bercampur sedikit angin menjadi pendukung kesabaran pemuda berjas hujan dan helm hitam itu sangat tipis bahkan nyaris habis. Dia ganti berdiri lalu hendak menyeret sang gadis. Namun, belum sampai tangan pemuda itu mengeluarkan tenaga, gadis di depannya mendongak hingga membuat dua pasang mata mereka bertemu.
__ADS_1
“Myria!” teriak pemuda itu secara spontan saat melihat gadis yang hampir ditabrak tadi adalah orang yang dikenal.
“Angkasa ….” Bibir pucat gadis itu menyahut saat tahu siapa yang baru saja memarahinya. Dia mengusap wajah dan berkata lirih, “Ma−maaf, aku enggak sengaja kepleset tadi.”
“Ngapain lo di sini? Bukannya tadi ….”
“Aku ….” Myria menunduk. “Aku baru saja diusir dari kontrakan karena nunggak uang sewa beberapa bulan.”
Dua mata hitam Angkasa melebar mendengar jawaban Myria. Dia kembali membungkuk dengan tangan menumpu lutut. “Yang punya kontrakan enggak tahu apa kalau lo lagi berduka? Nyokap lo, kan ….”
Myria menggeleng. Dia memeluk erat-erat tasnya. “Orangnya bilang sudah beberapa kali ngasih tenggat waktu buat almarhum Ibu. Dan sekarang sudah enggak bisa kasih keringanan lagi. Ditambah kondisiku sebatang kara dan masih sekolah, beliau enggak yakin kalau aku bisa bayar.”
Dari balik helm yang menutup wajah, Angkasa membuang napas. Hujan masih setia mengguyur Bumi, tetapi Angkasa lupa jika butuh berteduh daripada mengobrol.
Sampai bawah pohon, keduanya berhenti. Angkasa menanti jawaban, sementara Myria masih berpikir. Gadis itu tidak banyak tempat untuk menjadi tujuan.
“Kasa, aku mau coba ke rumah Friska dan tinggal di sana sementara waktu. Besok atau lusa baru cari kos buat aku tinggali.”
Tidak ingin kehujanan terus menerus, Angkasa menarik Myria lagi menuju motor. “Naik! Gue antar lo sampai tempat Friska.”
Bukannya menurut, Myria justru memperhatikan tangan yang dipengangi Angkasa terus menerus. Ketika kesadaran kembali utuh, buru-buru dia menyentak tangan pemuda sekelasnya itu.
“Oh, sorry.” Angkasa turut menyadari apa yang diperbuat. “Gue enggak maksud mau lakuin hal aneh-aneh sama lo.” Demi meyakinkan Myria, Angkasa sampai mundur dua langkah. Kemudian, pemuda itu hendak membuka jas hujan yang sejak tadi dikenakan.
Melihat tindakan Angkasa, Myria buru-buru menyergah, “Jangan dilepas, Kasa! Pakai kamu saja. Aku sudah telanjur basah kuyup.”
__ADS_1
Tangan Angkasa berhenti. Dia lihat wajah Myria yang tengah berpaling. Kemudian, tak banyak bicara,pemuda itu kembali membenarkan ritsleting jas hujannya ke atas. Rintik hujan masih menemani perjalanan dua pelajar kelas tiga SMA itu. Myria di belakang terus menunduk agar air tidak terlalu sering mengenai wajah dan mata. Dua indra penglihatannya sudah pedih karena terlalu banyak menangis dan tepercik air sedari tadi.
“Gue enggak tahu rumah si Friska!” teriak Angkasa dari depan. Dia pelankan kembali laju kendaraan untuk mendengar jawaban Myria.
“Di gang depan situ. Ini masih 200 meter, nanti belok kiri.”
Jawaban sudah didapat. Angkasa diam lagi dan fokus mengendalikan tuas gas motornya. Pemuda itu memang tidak banyak bicara selama satu tahun terakhir setelah sadar dari koma. Angkasa yang dahulu hobi basket dan balapan, kini tak pernah lagi terlihat menjalani aktivitas tersebut. Di kelas, dia banyak diam dan tidur saat jam kosong.
Sampai di ujung gang yang dimaksud Myria, Angkasa berhenti. Dia matikan mesin dan menarik standart kendaraan menggunakan kakinya. “Gang ini?”
“Iya. Terima kasih, Kasa.” Myria berkata sembari turun dari motor secara perlahan. Pakaian yang basah kuyup mengharuskan tangannya memeluk badan sendiri. “Kamu bisa pulang sekarang. Enggak lupa jalan, kan?”
Angkasa masih terdiam. Diamnya yang sangat misterius karena bibir di baik helm tak tampak, sementara mata terus memandang intens. Entah apa yang sebenarnya pemuda itu pikirkan.
Myria tentu tidak nyaman akan perlakuan Angkasa. Gadis 18 tahun itu mendongak sembari mengusap wajah. ”Eum, Kasa, aku akan membayarmu nanti kalau sudah masuk sekolah.”
Kedua alis Angkasa langsung naik bersamaan saat mendengar penuturan Myria. “Lo pikir gue tukang ojek?”
Makin salah Myria menghadapi pemuda seperti Angkasa. Dia tidak paham mengapa cowok satu itu terus memperhatikan tanpa menyampaikan sesuatu. Jadi, jangan salahkan Myria jika mempunyai pikiran perkara timbal balik karena sudah ditolong. “Terus apa yang kamu mau? Kenapa enggak buruana pergi?”
“Gue tunggu lo sampai masuk rumah Friska.”
___
Baca lanjutannya langsung di novelnya ya, Kak. Makasih 😊
__ADS_1