
Sudah jam setengah dua belas siang, saat Kinan selesai menata hasil masakannya di atas meja makan. Kinan memandang meja makan yang di atasnya telah tersedia menu makan siang, hasil olahan tangannya. Kinan benar - benar menghabiskan waktunya setengah hari ini untuk memasak. Ayam betutu, lengkap dengan tumis kangkung. Tidak lupa dengan sambal matah sebagai pelengkap.
Tadi pagi setelah Kinan selesai mandi, dia memilih duduk diruang keluarga sembari main ponsel. Tak lama dia main ponsel, tiba - tiba ada status orang yang memposting makanan ayam betutu, hingga dia tergiur untuk mencobanya. Dan setelah melihat di You*ube, apa saja bahan dan cara pembuatannya, dia pun bergegas ke belakang untuk mengeksekusi resep tersebut. Dan hasilnya sudah tersedia di atas meja.
Kinan terkikik geli melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Gimana tidak merasa geli, dia sudah memasak ayam betutu, tapi tiba - tiba saja, dia pengen makan telur dadar. Jadilah dia membuat telur dadar untuk dia sendiri, sementara ayam betutu tadi, untuk sang suami dan Al. Tidak tanggung, tanggung, Kinan bahkan memecahkan tiga butir telur untuk didadar. Karena menurutnya, yang makan ada tiga orang, dirinya dan dua calon anaknya. Jadi pas satu, satu. Hehehe
Sekarang dia tinggal menunggu suaminya dan juga Al. Tadi sang suami sudah kasih kabar, kalau mereka akan datang pas jam makan siang.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di perusahaan William's Company
Sudah hampir satu jam meeting berjalan, tapi belum juga menemukan titik temu yang tepat. Padahal, Kevin sudah kepengen pulang. Dia juga sudah mengabari sang istri, kalau dia dan Al akan pulang tepat waktu. Tapi kalau seperti ini keadaannya, bisa - bisa mereka akan pulang terlambat. Itu artinya sang istri akan terlambat untuk makan siang, dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia tidak mau, karena dirinya, sang istri dan calon anaknya kelaparan karena menunggu kedatangannya. Ingin rasanya dia mengakhiri meeting membosankan ini. Karena itu, dia harus segera mengambil alih.
"Saya lebih setuju dengan opsi yang kedua, selain untuk menghemat biaya, juga menghemat waktu!" Ucap Kevin, untuk mengomentari presentasi yang sedang berjalan.
Semua peserta meeting terdiam beberapa saat, hingga seseorang mengangkat tangan.
"Saya setuju dengan tuan Kevin. Tentunya dengan sedikit perubahan!" Melihat tatapan mata semua orang yang tertuju padanya, dia melanjutkan
"Maksud saya, untuk bagian pemasarannya, bisa dipikirkan lagi, supaya lebih matang lagi!" Kevin hanya mengangguk menanggapi saran dari salah satu peserta meeting.
"Berhubung kesepakatan sudah ada, kita akhiri meeting kali ini!" Kevin berdiri, berniat untuk meninggalkan ruang meeting.
"Maaf tuan Kevin, karena sebentar lagi jam makan siang, gimana kalau kita makan siang bersama?" Ucap salah satu klien Kevin.
"Maaf tuan, saya bukan bermaksud menolak ajakan anda. Tapi saya sudah ada janji bersama seseorang untuk makan siang bersama."
"Sayang sekali, padahal saya mau membahas sesuatu dengan anda!" Wajahnya terlihat kecewa karena penolakan Kevin.
"Kalau ada hal yang mau dibahas, anda bisa menghubungi asisten saya!"
"Bagaimana kalau besok, kita makan siang bersama, atau makan malam juga tidak masalah?" Sepertinya orang ini tidak ingin membiarkan Kevin pergi begitu saja.
Sementara Kevin terlalu malas untuk berbasa - basi seperti ini. Kalau tidak mengingat orang yang di hadapannya ini adalah teman sang daddy, dia sudah pergi begitu saja.
"Seperti ucapan saya tadi, anda bisa menghubungi asisten saya. Maaf tuan, saya buru -buru, kasihan istri saya sudah menunggu!" Tanpa menunggu tanggapan orang itu, Kevin bergegas keluar dari ruang meeting. Al juga mengikuti Kevin, tapi sebelumnya, Al memberi kode pada salah satu stafnya untuk menghandle yang ada disini.
__ADS_1
Kevin masuk keruang kerjanya, tidak lama dia keluar. Dan ternyata sudah ada Al di depan pintu. Lalu keduanya berjalan menuju lift, yang akan membawa mereka ke lantai bawah.
"Ada yang mau dibahas! Ck, bilang saja dia mau mengenalkan putrinya!" Di dalam lift, Kevin malah menggerutu. Hingga beberapa saat, pintu lift terbuka, karena sudah tiba di lantai bawah. Di depan sana sudah tersedia mobil, yang pintunya sudah terbuka. Di samping pintu, berdiri seorang pengawal. Dia menundukkan kepalanya, begitu melihat Kevin dan Al mendekat. Setelah memastikan Kevin sudah duduk, Al mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Dengan perlahan Al, melajukan mobil keluar dari depan perusahaan, bergabung dengan pengendara lainnya di jalan.
"Kamu baru belajar mengemudi atau gimana, Al? Kenapa mobil ini jalannya kayak bebek, kalau kayak gini jalannya, bisa - bisa besok pagi kita baru sampai di apartemen!"
Al melirik Kevin lewat spion kecil. Tanpa banyak bicara, Al langsung tancap gas menuju apartemen. Padahal jalanan lumayan ramai karena sudah waktunya jam makan siang. Tapi dengan keahlian mengemudinya, Al bisa menyalip beberapa mobil. Hingga tidak butuh waktu lama, mobil sudah memasuki area parkir apartemen.
"Kamu mau membunuhku iya, Al? Kalau mau bunuh diri, bunuh diri saja sendiri. Jangan ngajak - ngajak orang!" Kevin langsung mengomeli Al, begitu mobil sudah berhenti. Sebenarnya cara mengemudi Al ini, sudah biasa, saat mereka diburu waktu. Dan dia tidak masalah sama sekali, Kevin menganggapnya sebagai uji nyali. Tapi sekarang situasinya sudah beda, dia sudah punya istri dan sebentar lagi punya anak. Jadi dia harus tetap sehat, supaya bisa melindungi istri dan anak - anaknya kelak.
"Kamu kenapa sih adik ipar? Ini kan bukan pertama kalinya kita seperti ini di jalanan, kenapa sekarang adik ipar terlihat takut?" Tentu saja Al bingung, terlebih saat melihat wajah Kevin yang terlihat sedikit pucat. Apa sekarang ini Kevin punya penyakit jantung, pikirnya konyol.
Kevin tidak lagi mempedulikan panggilan adik ipar yang dilayangkan Al, dia masih sibuk untuk menenangkan diri. "Kamu tidak akan mengerti!" Setelah sedikit tenang, Kevin membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Sementara Al, hanya menggelengkan kepalanya melihat Kevin yang sedikit bertingkah aneh, menurutnya. Dia juga bergegas keluar dari mobil dan sedikit berlari mengejar langkah Kevin yang sudah jauh di depan.
"Kamu memang adik ipar yang baik!" Al menepuk bahu Kevin, begitu Al masuk lift. Karena memang Kevin menahan lift untuk menunggu Al masuk. Dengan mendengus, Kevin menendang kaki Al. Hanya hitungan detik, Kevin dan Al telah sampai dilantai atas. Begitu lift terbuka, keduanya keluar dari sana. Dengan berjalan beberapa langkah, keduanya sudah tiba di depan pintu apartemen Kevin. Setelah menekan beberapa angka, pintu terbuka.
"Sayang, mas pulang!"
" Apaan sih mas!" Kinan memberi kode, kalau bukan hanya mereka berdua disini. Tapi Kevin pura - pura tidak melihat kode dari sang istri. Dengan santai, dia memeluk sang istri, lalu mengecup kening dan bibir sang istri. Bukan hanya kecupan, bahkan dia ******* bibir istrinya. Kalau bukan karena deheman Al, Kevin tidak akan melepaskan ciumannya.
"Apa! Makanya nikah sana, biar kamu juga bisa melakukan yang seperti itu." Ujar Kevin santai, berbeda dengan Kinan yang wajahnya sudah memerah. Karena merasa malu pada Al, dengan tindakan suaminya.
"Dasar adik ipar nggak ada sopan!" Al berjalan menuju meja makan, meninggalkan pasangan suami - istri itu.
"Wah, benar - benar menggugah selera. Jadi lapar!" Celetuk Al, begitu dia sudah tiba di depan meja makan, dan melihat hidangan yang ada di atas meja makan. Tanpa berlama - lama, Al berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. Kevin juga mengikuti dari belakang.
"Selamat makan!" Ucap Kinan, ketika mereka bertiga sudah duduk.
"Mas Kevin dan kak Al harus bisa menghabiskan itu semua iya!" Kinan menunjuk ayam betutu yang ada di dalam mangkuk.
"Kok, hanya kita berdua? Terus kamu makan apa sayang?"
"Aku makan ini saja!" Kinan meletakkan sepotong telur dadar kedalam piringnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah makan telur sih sayang?"
"Anakmu yang pengen mas, katanya hari ini mereka ingin makan telur dadar saja. Jadi kalian berdua harus menghabiskan ayam itu, nggak boleh ada sisa!" Kekeh Kinan.
"Tapi ayam sebesar itu nggak mungkin habis sama kami berdua, sayang!" Al mengangguk, tanda setuju dengan ucapan Kevin.
"Sssttt....Udah makan saja dulu, nggak usah protes!" Kinan pun menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Hingga membuat Kevin dan Al juga mulai makan. Ketiganya makan dengan hening, menikmati hasil masakan Kinan. Hingga beberapa menit, Kinan sudah menghabiskan makannya. Semua telur dadar bagiannya tadi, tidak ada sisa sedikit pun. Sesaat dia menggelengkan kepalanya, melihat suaminya dan Al yang hampir menghabiskan satu ekor ayam.
Tadi katanya tidak mungkin menghabiskannya, tak tahunya.....
Kinan merasa senang, karena hasil masakannya habis. Itu artinya Kinan berhasil memasak ayam betutu, meski dia baru pertama kali memasaknya.
"Sepertinya tadi ada yang bilang kalau ayamnya tidak akan habis!" Celetuk Kinan, setelah Kevin dan Al selesai makan. Membuat Kevin dan Al cengengesan.
"Daripada terbuang! Lagian, tadi kamu bilang harus habis, makanya mas dan Al terpaksa menghabiskannya!" Ujar Kevin.
"Alasan! Bilang saja kalau masakan Kinan enak pakai banget, adik ipar! Hingga kita berdua tidak sadar menghabiskannya!" Al menanggapi ucapan Kevin.
"Terimakasih kak Al!" Kinan mengacungkan jempolnya ke arah Al.
"Selama kami disini, kak Al boleh ikutan makan disini juga. Nanti aku masakin menu yang lainnya!"
"Cukup hari ini, Al makan disini sayang. Kalau dia mau makan, dia bisa masak sendiri, atau beli di luar!"
"Nggak boleh gitu, mas. Biar kak Al tidak kesepian!" Al tersenyum penuh kemenangan, sembari mengacungkan jempolnya pada Kinan.
"Apa! Sana berangkat ke kantor sendiri!" Kevin menatap Al tajam, saat Al tersenyum mengejek Kevin.
"Memangnya mas nggak ke kantor lagi?" Tanya Kinan.
"Nggak, mas mau menghabiskan waktu berdua saja denganmu hari ini!"
"Tapi sepertinya keinginanmu itu tidak akan tercapai, adik ipar. Secara sore ini, kita masih ada meeting penting!" Lagi - lagi, Al tersenyum kecil, melihat wajah Kevin yang berubah masam.
Akhirnya, setelah ketiganya berbincang sebentar, sembari makan puding coklat buatan Kinan, Kevin dan Al berangkat ke kantor. Sementara Kinan memilih untuk istirahat sejenak.
__ADS_1