Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 71


__ADS_3

Kinan bertepuk tangan kecil, mengapresiasi hasil masakan suaminya dan Al. Lalu Kinan mengisi piringnya dengan satu sendok nasi dan sayur urap yang sangat menggugah selera.Tidak lupa dia mengambil satu potong ayam goreng. Mereka semua membiarkan Kinan terlebih dulu menyicipinya.


"Bagaimana sayang?" Tanya mommy Cella, begitu Kinan menyuapkan kedalam mulutnya.


Kinan tidak langsung menjawab, dia mengunyah dengan pelan, lalu mengangkat jempolnya, tanda makanannya enak. Kinan kembali menyuapkannya ke mulutnya. Melihat Kinan yang makan dengan lahap, mommy Cella bergegas mengisi piring mereka semua termasuk Al. Lalu mulai makan, urapnya memang enak, rasanya pas. Tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar. Makanan yang tersaji, sebenarnya bukan hanya yang dimasak Kevin dan Al. Ada juga menu tambahan, yang dimasak bi Surti. Kevin senang melihat sang istri yang makannya banyak. Pengalaman sebelumnya, biasanya kalau sang istri menginginkan sesuatu, Kevin yang disuruh menghabiskan. Tapi kali ini tidak, istrinya justru makan dengan lahap.


Hingga tidak lama, acara makan siang selesai. Mereka semua masih berkumpul di meja makan, tapi diatas meja sudah berganti dengan makanan penutup.


"Mas Kevin pintar juga masaknya. Padahal baru pertama kali masuk dapur. Tidak bisa dipungkiri kalau...."


"Apa sih yang nggak bisa mas lakukan!" Seperti biasa, Kevin langsung menyombongkan diri, dia bahkan menepuk dadanya beberapa kali. "Besok - besok kalau kamu pengen makan sesuatu, kamu tinggal bilang aja. Dengan senang hati mas akan buatkan. Terbukti kan, baru sekali masak, tapi masakan mas seenak itu."


"Kinan kan belum selesai ngomong, mas. Kenapa mas Kevin langsung potong. Tapi tak apa, mas udah janji ya, nggak boleh ingkar!"


"Hem....."


"Mau dengar nggak, apa kelanjutan ucapan Kinan tadi?"


"Memang apa kelanjutannya, nak?" Oma yang menyahut.


"Tapi..." Kinan menatap suaminya, membuat Kevin salah tingkah. "Tapi yang berperan penting kan, kak Al. Sebab kak Al yang membuat bumbu, kalau masak sayur urap itu kan, kuncinya ada di bumbu." Kinan tergelak, ketika wajah suaminya sudah berubah masam. Yang lain ikut tertawa. Sedangkan Al tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Kinan membingkai wajah suaminya dengan kedua tangannya. "Mas Kevin jangan cemberut, mas Kevin juga tidak kalah hebat. Besok jangan lupa dengan menu kedua ya?" Kinan mengedip - ngedipkan matanya. Membuat Kevin menggigit pipi dalamnya, menahan gemas. Wajah sang istri benar - benar menggemaskan kalau sang istri mengedip - ngedipkan matanya seperti itu. Rasanya Kevin ingin membawa sang istri masuk kamar.


"Padahal tuan Kevin sudah berharap mendapat ciuman." Celetuk Al. Membuat yang lainnya mengulum senyum. Kinan langsung melepaskan tangannya. Sementara Kevin mendengus, ada apa dengan asistennya hari ini, benar - benar mau mati rupanya.


"Ehmm.....Lebih baik kita kembali ke kantor. Bukannya kalian ada meeting penting, Vin?" Ujar daddy Marvin.


"Aku tidak ikut ya, dad. Daddy sama Al aja yang handle." Melihat wajah bingung mereka, Kevin melanjutkan. "Aku ada urusan lain, yang lebih penting. Urusan ini tidak bisa ditunda, apalagi dibatalkan!" Lanjut Kevin ambigo.


"Urusan apa mas?" Kinan yang menyahut lebih dulu. Dia penasaran, ada urusan penting apa yang mau suaminya lakukan. Kevin mendekatkan mulutnya ke telinga sang istri.


"Mas minta hadiah mas sekarang, Ay!" Kinan menundukkan kepalanya, wajahnya terasa panas. Mungkin wajahnya sudah merah seperti udang rebus. Kevin terkekeh, istrinya masih malu - malu.


"Tidak ada urusan - urusan ya, Vin. Kalian bertiga berangkat sana, jangan memberikan contoh yang tidak baik untuk karyawan kantor. Awas kalau kamu macam - macam ya, Vin!"


"Macam - macam apa sih, mom? Cukup satu macam aja kok. Aku benaran ada urusan, mom."


"Nggak ada, nggak ada. Kalian harus balik ke kantor." Mommy Cella tidak mau kalah. Yang lain hanya diam saja, karena tidak tahu apa yang dibahas mommy Cella dan Kevin.


"Belum bergerak juga, Vin?" Mommy Cella melototkan matanya.


"Iya, iya." Kevin pasrah. "Ayok Ay, bantu mas bersiap, mas mau mandi, gerah banget!" Kinan yang mau beranjak tidak jadi, ketika tangan mommy Cella menahannya. Posisi duduk Kinan dan mommy Cella memang bersebelahan.

__ADS_1


"Kamu sendiri aja, kalau Kinan ikut, kamu tidak akan jadi ke kantor." Mommy Cella yakin, kalau saja menantunya ikut kekamar, anaknya yang tampan itu, pasti tidak keluar kamar lagi. Untuk itu, menantunya tidak boleh ikut ke kamar.


"Mommy kenapa sih? Kinan kan udah biasa menyiapkan kebutuhanku, mom!" Nggak asistennya nggak mommynya, hari ini bikin kesal.


"Biasanya iya, tapi hari ini pengecualian. Udah sana. Sebentar lagi Al selesai itu." Beberapa menit yang lalu, Al sudah pamit duluan. Dia juga mau mandi, karena sudah bau bumbu dapur. Beruntung bajunya ada dirumah ini.


"Udah sana, Vin. Sekali - sekali nggak papa ambil sendiri." Daddy Marvin menengahi, kalau daddy Marvin tidak bicara, sampai besok perdebatan itu tidak akan berakhir. Akhirnya Kevin pasrah dan berlalu menuju kamarnya.


Mommy Cella terkekeh. Kalau suaminya sudah turun tangan, anaknya tidak akan bisa berkutik. "Enak aja bawa menantu mommy masuk kamar, alamat tidak akan dilepas." Mommy Cella menggerutu.


"Mommy ngomong apa?"


"Tidak ada dad. Ayok sayang, dimakan lagi pudingnya. Biarkan aja suamimu, dia udah besar kok." Mommy Cella mengusap bahu menantunya.


Kinan hanya mengangguk sembari tersenyum canggung. Sepertinya mommy Cella tahu, apa yang dimaksud suaminya tadi. Tidak lama, ketiga laki - laki itu berangkat ke kantor, setelah berpamitan pada tiga wanita dikeluarga William itu.


🌻🌻🌹🌹


Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen. Hadiahnya juga boleh ✌️


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2