Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 110


__ADS_3

Seharian ini Kesya menjalani kegiatannya seperti biasa di tempat kerja. Dan seperti biasa, sepulang kerja, Kesya berangkat ke kampus. Hingga bell berbunyi menandakan jam kuliah sudah berakhir. Ada yang bersiap untuk pulang, ada juga yang memilih untuk sekedar istirahat sejenak.


Begitu juga dengan Kesya yang tidak langsung pulang. Kesya akan mampir sebentar ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas bersama temannya. Tadi sebelum mata kuliah berakhir, Pak Sony, supir keluarga William sudah menghubungi Kesya untuk memberitahu, kalau Pak Sony sudah menunggu di depan kampus. Tapi Karena Kesya sudah janjian sama temannya mau mengerjakan tugas bareng di perpustakaan, Kesya meminta Pak Sony untuk pulang saja. Dan Kesya akan pulang ke mansion dengan naik taksi.


Dan seperti inilah jadinya, sudah hampir jam sepuluh malam, saat Kesya dan temannya keluar dari perpustakaan. Saking fokusnya mengerjakan tugas, Kesya dan temannya tidak sadar kalau sudah hampir jam sepuluh malam.


"Kamu yakin pulang sendiri, Sya? Gimana kalau aku antar saja?" Setelah Kesya dan temannya keluar dari perpustakaan, temannya menawarkan untuk pulang bersama.


"Tidak usah Rin, aku udah mau pesan taksi kok!" Kesya menunjukkan ponselnya, yang menampilkan salah satu aplikasi *****.


"Iya udah, aku duluan iya! Sampai jumpa besok!" Teman Kesya berbelok ke samping kiri, tempat dimana motornya parkir.


Sementara Kesya berjalan kedepan, menuju gerbang kampus. Keluar dari gerbang kampus, Kesya berjalan menuju halte yang tidak jauh dari gerbang kampus. Di sana, Kesya akan menunggu taksi yang dipesannya datang. Kesya tidak menyadari kalau ada orang yang mengikutinya dari belakang. Hingga baru beberapa langkah melewati gerbang, orang yang mengikutinya itu membekap mulut Kesya dengan sapu tangan.


"Hmmmppphh..." Kesya awalnya berontak, tapi beberapa detik kemudian, tubuhnya sudah lemas dan hampir jatuh.

__ADS_1


Keadaan di sekitar halte yang lumayan sepi dan lumayan gelap, juga kejadian yang begitu cepat, hingga tidak ada orang yang menyadari apa yang terjadi di sekitar tempat itu. Setelah melihat Kesya yang sudah tidak sadarkan diri, orang itu dengan cepat memapah tubuh Kesya ke dalam mobil yang baru saja berhenti di sampingnya.


"Cepat jalan Ton!" Ucap orang itu, setelah mendudukkan Kesya di kursi tengah.


Orang yang dipanggil Ton atau Toni itu, segera melajukan mobilnya, meninggalkan area kampus.


"Hufftt.... Tidak sesulit yang aku bayangkan." Ucapnya sembari melepaskan topi dan maskernya.


"Jangan lupa kasih tahu bos, Rio. Kasih tahu, kalau kita sudah berhasil membawa target!" Ujar Tono dari depan.


Tanpa berlama-lama orang yang dipanggil Rio sekaligus orang yang membekap Kesya tadi, mengambil ponselnya dari dalam kantong, dan mencari no seseorang yang sering dia hubungi beberapa hari ini. Hingga di dering ketiga, orang yang diseberang mengangkat panggilannya.


"Aman bos!"


"Bagus! Bawa dia ke markas." Terdengar nada suara riang dari seberang. "Kalian sudah pastikan, tidak ada yang melihat kalian membawa wanita itu kan?"

__ADS_1


"Tidak ada bos, tempat itu sepi dan gelap. Oh iya bos, apa kami bisa men......" Ucapannya terpotong karena yang diseberang langsung menyela.


"Jangan macam-macam, cukup lakukan seperti apa yang aku minta!" Ujar yang diseberang, seakan sudah tahu kelanjutan ucapan itu, dan langsung mematikan panggilannya.


"Padahal aku belum selesai ngomong, tapi sudah langsung dimatikan." Gerutu Rio sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong.


"Memangnya kamu mau ngomong apalagi sama bos?" Tanya rekannya yang mengemudi mobil.


"Siapa tahu kita bisa bermain-main dengan gadis ini. Kan sayang kalau dilewatkan begitu saja. Kalau dilihat-lihat, gadis ini boleh juga!" Ujarnya sembari memperhatikan tubuh Kesya yang sudah tak berdaya.


"Tahan keinginanmu itu, bos hanya meminta kita membawanya. Jangan sampai karena keinginanmu itu, kita tidak mendapatkan bayaran kita."


"Ck, jangan munafik kamu Ton! Aku yakin, kamu sepemikiran denganku."


Rekannya yang bernama Tono itu hanya diam saja, sambil fokus mengemudi. Sesekali dia melirik Kesya dari spion, tidak bisa dipungkiri kalau dia membenarkan ucapan Rio. Target mereka kali ini memang masih muda dan punya paras yang cantik. Entah ada masalah apa antara targetnya ini dengan sang bos. Tapi apapun itu, dia nggak peduli. Yang penting mereka dapat bayaran, karena sudah berhasil menjalankan misi. Syukur-syukur kalau bosnya sudah menyelesaikan urusannya, bosnya itu berbaik hati memberikan bonus, dengan memberikan wanita ini untuk dia dan rekannya.

__ADS_1


Setelahnya Toni memfokuskan perhatiannya pada jalanan. Karena perjalanan mereka masih lumayan panjang. Mereka akan membawa target ke pinggiran kota, tempat yang jauh dari keramaian. Berhubung jalanan sudah tidak terlalu padat karena sudah hampir larut malam, Toni melajukan mobil dengan menambah kecepatan.


Toni tidak mau kalau targetnya sadar, sebelum mereka tiba di tempat. Akan sangat merepotkan kalau targetnya sadar ditengah jalan. Dan lebih parahnya, mereka bisa ketahuan pada orang sekitar, kalau targetnya teriak-teriak di dalam mobil.


__ADS_2