
Sudah tiga hari Kinan pergi dari rumah. Kevin berusaha untuk tetap tenang dan berpikiran positif, kalau istri dan calon anaknya baik - baik saja. Meski orang tuanya memintanya untuk tidak mencari sang istri, tapi diam - diam Kevin masih meminta orang - orangnya untuk tetap melakukan pencarian, walau hasilnya tidak ada. Bahkan tiga orang dia perintahkan untuk tinggal dekat dengan rumah lama Kinan, hingga mereka menyewa salah satu rumah warga disana. Supaya mereka bisa memantau kedatangan istri dan temannya itu.
Iya, Kesya juga ikut menghilang. Kevin juga sudah mencari Kesya ketempat kerjanya, tapi kata managernya Kesya minta cuti mendadak. Kevin sempat marah pada manager tersebut karena memberikan cuti pada karyawan baru. Kevin menganggap Kesya itu masih karyawan baru, karena masa kerjanya belum ada setahun. Bahkan ke kampus tempat Kesya kuliah tidak luput dari pencariannya. Dan ternyata sama, Kesya juga tidak berangkat kuliah. Bisa Kevin simpulkan kalau keduanya pergi bersama entah kemana.
Tapi ada satu hal yang membuat Kevin bingung, setiap dia pulang kerja, kamarnya selalu bau istrinya. Terlebih bagian ranjang, dia merasa istrinya baru tidur disana. Tapi Kevin tidak curiga dengan kejanggalan itu, justru dia berpikir karena terlalu merindukan sang istri, makanya dia selalu merasa kalau istrinya baru tidur diatas ranjang mereka. Selama istrinya tidak dirumah, Kevin seperti punya kebiasaan baru. Setiap tidur dia selalu memakai baju piyama sang istri. Baginya dengan memakai piyama sang istri, bisa mengurangi sedikit kerinduannya.
"Kalau kamu pulang, mas akan menghukummu sayang. Hukuman karena sudah membuat mas tersiksa!" Lirih Kevin sembari mengambil ponsel dan dompetnya dari atas nakas. Setelahnya dia keluar dari kamar.
"Selamat pagi tuan muda!" Sapa Pak Salman yang sudah berdiri didepan tangga, dia juga menganggukkan kepalanya saat Kevin sudah ada dihadapannya. Kevin hanya menganggukkan kepalanya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju meja makan yang diikuti oleh Pak Salman dibelakang.
"Selamat pagi semuanya!" Sapa Kevin pada mereka yang ada dimeja makan.
"Pagi!"
"Apa tadi malam tidurmu nyenyak, nak?"
"Lumayan nyenyak untuk seorang suami yang jauh dari istrinya!" Sahut Kevin sembari duduk dikursi yang sudah ditarik oleh Pak Salman. Mereka tergelak mendengar jawaban Kevin. Setelahnya mereka mulai sarapan.
"Kok gitu banget lihatinnya, mom?" Tanya Kevin, begitu dia menghabiskan makannya. Beberapa kali dia melirik sang mommy menatapnya.
"Mommy senang aja melihat anak mommy hari ini. Terlihat tampan!"
"Sudah dari dulu kali, anak mommy ini tampan, masa mommy baru sadar?"
"Tapi hari ini beda nak!"
"Beda apanya sih mom? Perasaan biasa saja."
Mommy Cella menggendikkan bahunya. "Entahlah, mommy merasa beda aja lihatnya!"
"Mommy benar, aura Kevin berbeda dari biasanya!" Celetuk Al, yang ikut sarapan. Karena Al sudah dua hari menginap di rumah itu.
"Al saja setuju dengan mommy!"
Kevin menggelengkan kepalanya. Tidak mau mendengar omongan aneh Al dan mommynya, Kevin pamit untuk berangkat kekantor.
*****
__ADS_1
Kevin dan Al baru saja selesai meeting. Mereka berdua keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangannya. Seorang staf berdiri saat Kevin dan Al mendekat.
"Ada apa?" Al maju untuk bertanya.
"Tuan Devano dan yang lainnya ada didalam tuan!" Staf itu menunjuk ruangan Kevin.
"Ck!" Kevin melihat jam tangannya, sebentar lagi sudah mau jam makan siang.
"Sekalian pesan saja untuk makan siang Al. Mereka pasti mau makan gratis kesini!" Ucap Kevin santai, setelahnya dia membuka pintu ruangannya.
Sadis banget tuduhan itu. Kalau mereka dengar, gimana?
Tidak mau berlama - lama diluar, Al segera memesan makan siang untuk mereka. Sebelum masuk keruangan Kevin, tidak lupa dia berpesan pada staf didepannya, kalau pesanannya datang, langsung diantar keruangan Kevin.
Sementara Kevin yang sudah masuk keruangannya menggerutu melihat ketiga sahabatnya ada disana.
"Ngapain kalian kesini?" Ketus Kevin, sembari duduk disamping Raditya.
"Kalau ada tamu yang datang, harusnya disambut dengan baik, bukannya diomelin!" Ujar Devano, yang diangguki oleh Radith dan Richard.
"Aku nggak meminta kalian datang kesini!" Lirih Kevin, sembari menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. Dia juga memejamkan matanya.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Al, Devano mengatakan
"Katanya istrimu pergi dari rumah ya, Vin?"
"Hemm!"
"Kok bisa pergi dari rumah, kalian berantam?"
"Nggak usah pura - pura tidak tahu, aku yakin Al udah cerita pada kalian." Ketus Kevin, membuat mereka tergelak. Mereka bertiga memang sudah tahu apa yang terjadi. Al sudah menceritakan semuanya, bahkan Kevin yang tidur memakai baju istrinya pun tahu. Mereka awalnya tidak percaya kalau Kevin bisa bertingkah aneh, saat ditinggal istrinya. Bahkan mereka menganggap ucapan Al, hanya bualan semata. Tapi foto yang dikirim Al, mematahkan dugaan mereka.
"Aku nggak nyangka, kejadian dicafe beberapa hari yang lalu, berujung seperti ini!" Celetuk Radith. Yang diangguki oleh yang lain.
"Dari sekian banyak pengawal, masa satu pun nggak ada yang berhasil menemukan istrimu, Vin?"
"Kata daddy dan mommy nggak usah dicari." Karena tiba - tiba hening, Kevin membuka matanya. Kevin tergelak melihat ketiga sahabatnya terbengong. Iya, dari tadi Kevin masih setia bersandar dan memejamkan mata.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian?"
"Heran saja, masa orang tuamu nggak khawatir menantunya pergi dari rumah!" Sahut Devano yang lebih dulu tersadar.
"Bukan nggak khawatir, tapi kata mommy, Kinan pasti butuh waktu sendiri. Anggap saja dia lagi liburan, gitu katanya."
"Jadi kamu diam saja, gitu?"
"Aku tetap nyari, tapi hasilnya nihil! Udahlah nggak usah bahas tentang Kinan lagi!"
"Kenapa? Kamu tidak suka kalau kita bahas Kinan?"
"Bukan tidak suka, tapi aku semakin merindukannya!" Lirih Kevin.
Mereka bisa melihat kesedihan Kevin. Dan keempatnya merasa senang. Anggap saja mereka kejam, karena senang melihat penderitaan Kevin. Tapi dibalik itu, dengan
melihat sikap Kevin yang seperti ini, bisa mereka simpulkan kalau Kevin sudah sangat terikat dengan istrinya. Itu artinya Kevin sudah menerima istri dan calon anaknya.
"Apa perlu kami ikut turun tangan, Vin? Ucap Devano, setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Nggak perlu, aku yakin sebentar lagi Kinan akan pulang."
"Baiklah, kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Kita siap membantu."
"Hemm...."
"Gimana kalau kita keluar makan siang?" Celetuk Devano.
"Telat, aku udah pesan. Kalian sengaja kan datang kesini pas mau jam makan siang, biar kalian bisa makan gratis disini?"
"S*****" Devano melempar tempat tissue ketubuh Kevin, yang langsung ditangkap olehnya, sebelum mengenai tubuhnya.
"Apa! Memang kenyataan kok. Coba kalian ingat - ingat, setiap kalian datang, pasti mendekati jam makan siang!"
"Tenang saja, nanti aku bayar sepersepuluh!" Kekeh Devano.
"Kok tahu sih Vin, kalau kita mau makan gratis. Kamu dukun iya?" Kekeh Radith, yang mengundang gelak tawa yang lain.
__ADS_1
"Kamu mbahnya!" Kevin ikut tertawa, paling tidak bisa mengurangi kegelisahannya dengan tingkah konyol sahabatnya.