
Sementara mobil yang membawa Kevin dan Kinan sudah memasuki tempat parkir hotel. Mobil berhenti, Kevin turun duluan, lalu mengulurkan tangannya kearah sang istri. Kinan menerima uluran tangan suaminya. Kinan mengedarkan pandangannya, ini hotel tempat dia kerja dulu, juga tempat mereka mengadakan acara resepsi pernikahan beberapa bulan lalu. Kinan mengerutkan keningnya, ketika menyadari, kalau mereka tidak berhenti ditempat parkir biasa. Keduanya malah berhenti disamping hotel.
"Bukannya kita mau makan malam, mas? Kok kita malah kesini?" Dia pikir suaminya akan mengajaknya makan malam disebuah restoran, kok malah ke hotel, pikirnya.
"Kita akan makan malam disini, Ay." Kevin mengambil sesuatu dari kantongnya. "Kamu pakai ini." Kevin membantu Kinan memakai penutup mata. Iya, yang diambil Kevin dari kantongnya, adalah kain penutup mata.
"Kenapa harus pakai ini segala sih, mas?"
"Ini kejutan." Setelahnya Kevin menuntun sang istri berjalan, mereka memasuki sebuah ruangan, lebih tepatnya lift. Kevin menekan tombol untuk lantai paling atas. Hanya beberapa detik, lift sudah berhenti. Kembali Kevin menuntun sang istri, Kevin menghentikan langkahnya, ketika keduanya sudah tiba ditempat tujuan. Sama dengan ketika memasang tadi, kini Kevin juga membantu Kinan membuka penutup mata. Dengan perlahan, Kinan membuka matanya.
Kinan membekap mulutnya, sungguh takjub dengan yang ada dihadapannya. Ya, mereka berada di rooftop hotel. Kinan pernah beberapa kali keatas ini, ketika dia bekerja di hotel ini. Kini tempat ini sudah disulap menjadi tempat makan malam romantis, dengan ditengahnya, ada satu meja ukuran sedang dan dua kursi berhadapan. Temaram lampu gantung, juga sebuah piano bahkan dua orang pemain biola sudah mengiringi keromantisan mereka.
"Kenapa harus ada kayak gini sih, mas?" Tidak bisa dipungkiri, kalau Kinan merasa terharu dengan apa yang ada dihadapannya. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Kamu suka, Ay?" Bisik Kevin. Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu Kevin menuntun sang istri mendekati meja, dan meminta sang istri duduk terlebih dulu, setelah Kevin menarik salah satu kursi dan membantunya duduk. Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, Kevin duduk dihadapan istrinya.
__ADS_1
Entah dari mana datangnya, beberapa pelayan datang bergantian menyuguhkan menu demi menu. Dari makanan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup. Keduanya menikmati makan malam itu, dan sesekali, saling menyuapi. Senyum terukir indah dibibir keduanya. Selama mereka makan, iringan lagu romantis mengalun indah.
"Biasanya kalau makan malam romantis kayak gini, kalau ngak salah ada sebotol anggur, mas. Kok ini ngak ada?"
"Mas ngak suka minuman itu, Ay. Bukan tidak minum, tapi jarang." Kinan mengangguk, cukup kaget sebenarnya, ketika tahu sang suami tidak termasuk dalam golongan orang yang suka minum alkohol. Mengingat pergaulan sang suami, yang selalu menghadiri perkumpulan sesama pimpinan perusahaan.
"Kinan tidak menyangka, kalau mas Kevin termasuk orang yang romantis. Sampai kepikiran menyediakan semua ini. Ternyata mas bisa romantis juga, Kinan pikir karena mas udah tua, mas ngak akan tahu hal beginian."
"Astaga, Ay.....Bisa ngak sih ngak bahas masalah tua. Mas itu ngak tua ya, usia kita cuma beda berapa juga. Bikin orang kesal aja." Gerutu Kevin, yang membuat Kinan tergelak.
"Kok malah ketawa sih, Ay!"
"Mas mau apa?"
"Kita berdansa!"
__ADS_1
"Tapi Kinan ngak bisa, mas!"
"Nanti mas ajari." Kinan hanya bisa pasrah, dan menyambut uluran tangan suaminya. "Pegang tangan mas seperti ini." Kevin mengajari Kinan, menyatukan jemari mereka bertautan. Lalu tangan kiri Kinan diarahkan menyentuh bagian pundaknya. "Ikuti langkah mas, pelan - pelan saja, ikuti musiknya."
Meski awalnya sangat kaku, tapi akhirnya Kinan menikmatinya.Hingga dia kaget, ketika tiba - tiba sang suami berlutut didepannya.
"Apa yang mas lakukan? Jangan kayak gini, mas. Ayok bangun!" Kinan menarik tangan suaminya untuk berdiri, tapi Kevin tetap tidak mengubah posisinya. Hingga Kevin mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, dan membukanya, terlihat sepasang cincin berlian yang sangat indah.
"Kinan.... Mas akui kalau mas bukan laki - laki yang baik. Bahkan mas menikahimu karena sesuatu hal. Tapi ijinkan mas malam ini, mengungkapkan apa yang mas rasakan. Mas akui, mas sudah kalah. Mas yang dulu pernah mengatakan kalau mas tidak akan pernah memberikan cinta untukmu, nyatanya mas salah. Hanya kurang lebih empat bulan kita sudah menjalani pernikahan ini, mas mengaku kalah. Mas menelan kembali ucapan mas waktu itu, karena nyatanya mas sudah mencintai kamu, entah sejak kapan rasa itu ada.
"Kinan Anastasya! Maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku? Menerima dan menuntun mas menjadi lebih baik lagi?"
"Tapi kita sudah menikah, mas, dan sudah menjadi suami istri." Suara Kinan serak, matanya sudah berkaca-kaca. Melihat suaminya yang melototkan matanya, Kinan mengangguk.
"Kinan mau mas." Kevin bernafas lega, lalu mengambil satu cincin dan memakaikannya pada jari tengah sang istri. Karena di jari manis istrinya sudah ada cincin pernikahan mereka dulu. Kevin mengecup lembut punggung tangan istrinya. Lalu dia berdiri dan memberikan satu lagi cincin yang ada dikotak.
__ADS_1
"Sekarang pakaikan ini untuk mas." Tanpa banyak protes, Kinan memakaikannya, sama seperti suaminya, dia juga memakaikannya di jari tengah sang suami.
"I love you, Kinan Anastasya." Kevin mengecup kening dan bibir istrinya kilat. Lalu membawa Kinan kedalam pelukannya. Kinan membalas pelukan suaminya. Tidak dapat menahan rasa haru dihatinya, Kinan menangis dipelukan sang suami.