Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Part 69


__ADS_3

Selama diperjalanan, Kevin menyempatkan membuka Yo***be. Dia menonton bagaimana cara memasak urap. Tidak lama mobil yang dikemudikan oleh Al, telah sampai di tempat parkir pasar besar yang tidak jauh dari rumah. Kevin mengedarkan pandangannya, ketika mobil telah berhenti.


"Kenapa kita kesini? Kamu mau mati ya Al, bawa aku kesini, kamu lupa jalan kesupermarket atau gimana? Ketus Kevin sambil menendang kursi kemudi yang diduduki Al.


Bibi Surti yang duduk disamping Al, menoleh kebelakang. "Nona muda yang minta, kita belanja di pasar tuan?"


"Bibi jangan mengada - ngada ya. Kapan istriku bilang kayak gitu. Kita kan langsung berangkat tadi. Bibi sekongkol dengan Al, ngerjain aku ya?"


"Bibi mana berani tuan. Tadi nona muda WA bibi, untuk belanja kepasar." Bibi Surti menunjukkan ponselnya, terlihat WA istrinya dilayar.


"Kenapa bibi ngak bilang dari tadi. Buang - buang tenaga saja, aku marah - marah." Gerutu Kevin, dia membuka pintu mobil dan turun, lalu membantingnya kuat. Sementara bi Surti dan Al tergelak, melihat sikap tuan mereka. Bi Surti dan Al pun bergegas turun, takut tuan mereka jalan duluan masuk pasar, dan malah nyasar. Nggak lucu kan, kalau muncul berita besok pagi, dengan judul 'Tuan Kevin Chandra William nyasar dipasar dan disandera oleh seorang kakek tua'. Entah pemikiran siapa itu.Hehehe


Kini ketiganya sudah masuk pasar, lokasi parkir memang agak jauh dari area pasar. Memang ada tempat parkir yang dekat, tapi khusus motor. Kevin mengedarkan pandangannya, dia bersyukur keadaan pasar, tidak seperti yang dia pikirkan. Dimana pasar yang becek, kotor dan bau. Tapi yang ada dihadapannya ini, sudah tertata dan bersih.


"Tuan muda, tadi nona Kinan juga mengingatkan supaya kita membeli bahan untuk membuat pecel besok." Ucap bi Surti, disela - sela mereka berjalan. Refleks Kevin meninju lengan Al yang jalan disampingnya.

__ADS_1


"Gara - gara kamu, aku harus masak lagi besok!" Kesal Kevin. Al meringis kecil dan mengusap lengannya. Sepertinya Kevin meninjunya kuat.


"Sebagai hukumannya, kamu yang harus belanja, Al. Cepat pilih sana, habis itu kita pulang. Apa!! Mau melawan perintah." Kevin tersenyum penuh kemenangan, melihat Al yang menghentikan langkahnya, dan terlihat tidak berkutik. Mereka tidak sadar, kalau mereka sudah jadi tontonan beberapa orang yang ada disana.


"Tuan muda yakin menyuruh saya belanja?"


"Yakin lah, kenapa tidak!"


"Dengan senang hati saya akan belanja. Dengan begitu, nona Kinan akan memberikan saya hadiah nanti malam." Al bergegas mendahului Kevin. Di depan sana, Al senyum - senyum. Dia yakin Kevin kelabakan, saat mendengar hadiah yang diucapkannya. Sebagai pria dewasa dan normal, tentu Al tahu, hadiah yang dimaksud nona mudanya tadi.


"Kamu benaran mau mati ya, Al? Enak aja kamu mau minta hadiah nanti malam sama istriku. Ayok bi, kita belanja, kita tinggalin aja si Jodi ini disini." Kevin menarik tangan bi Surti.


"Jodi siapa tuan? Itu kan Al, Alvaro asisten tuan!" Ujar bi Surti polos.


"Mulai saat ini, dia udah ganti nama bi. Dari Al menjadi Jodi, mulai sekarang bibi bisa panggil dia Jodi." Bi Surti menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Eh....Kita beli disini aja tuan. Disini sayurannya lengkap, biasanya bibi kalau kepasar, belanjanya disini." Bi Surti berhenti disalah satu tempat penjual sayuran. "Ayok tuan pilih saja, kata nona muda bayamnya dibanyakin." Tambah bi Surti lagi.


"Yang mana saja itu bi?" Tanya Kevin. Dengan sabar bi Surti menunjuk apa saja yang mau dibeli. Sementara Kevin tinggal mengambilnya saja.


"Jangan lupa ambil videonya Jodi!" Bi Surti menoleh kebelakang, ternyata Al udah mengarahkan kamera ponselnya kearah Kevin yang memilih sayuran. Kevin tergelak, bi Surti serius memanggil asistennya Jodi.


"Sayurannya nggak usah sebanyak itu tuan." Gimana bi Surti tidak kaget, tuannya sudah menumpuk begitu banyak, berbagai macam sayuran.


"Nggak papa bi!" Sahut Kevin santai. Sekarang apalagi, bi?"


"Kita kesebelah sini tuan!" Bi Surti kembali menunjuk apa saja yang mau diambil. Lagi - lagi dengan serius, Kevin mengambilnya. Kevin bukan tidak tahu, kalau orang - orang berbisik - bisik membicarakannya, tapi dia cuek saja. Dia hanya fokus dengan permintaan sang istri. Tidak lama mereka bertiga keluar dari pasar. Kevin juga memborong banyak jajanan pasar. Penjual jajanan sampai kaget dan berterima kasih beberapa kali, karena Kevin memborong semua dagangannya. Kevin berpikir, kalau sang istri pasti suka sama jajanan pasar. Dia juga berencana akan membagikan jajanan itu untuk semua pelayan dan pengawal yang ada dikediaman mereka.


Tidak tahu datangnya dari mana, dua orang pengawal datang menghampiri Kevin yang membawa beberapa kantong plastik belanjaan. Mereka mengambil alih, bawaan Kevin dan yang lainnya.


Di perjalanan pulang, Kevin menyandarkan punggungnya kesadaran kursi, ada senyuman dibibirnya. Sepertinya dia menikmati acara belanjanya tadi. Belanja dipasar, tidak terlalu buruk, pikirnya. Dia bisa melihat banyak orang dari kalangan mana pun. Tidak seperti, saat ada perkumpulan sesama pengusaha yang rata - rata dari kalangan atas. Kapan - kapan Kevin pengen belanja lagi kesana.

__ADS_1


__ADS_2