
Saat ini, Kevin dan Kinan sedang duduk di balkon. Lebih tepatnya, Kinan duduk dikursi sedangkan Kevin duduk dibawah menghadap sang istri. Tadi setelah keduanya selesai sarapan, Kevin sengaja mengajak sang istri kesana. Selain untuk berjemur sebentar, Kevin juga mau menuntaskan rasa penasarannya tentang tempat sang istri menghilang beberapa hari ini. Karena tadi malam sang istri belum bicara apa - apa.
"Sekarang kamu tidak bisa lagi untuk menghindar, Ay. Katakan kemana kamu beberapa hari ini? Kenapa mas tidak bisa melacak keberadaan kalian, apa kalian disembunyikan oleh seseorang?" Kevin yang sudah tidak sabar, langsung bertanya to the point.
"Pagi ini terasa indah iya, mas?"
"Jangan coba - coba untuk mengalihkan pembicaraan, Ay?"
"Siapa yang mengalihkan pembicaraan sih mas? Memang benar kan, pagi ini sangat indah?" Kinan membentangkan kedua tangannya.
"Kamu pasti tahu, apa yang mas maksud kan, Ay? Tapi kalau kamu nggak mau jawab tidak masalah!"
"Benaran mas?" Kinan tersenyum senang.
"Iya, tapi kamu harus bersedia mas kurung selama dua hari dikamar. Bukan hanya dikurung, kita akan mengulangi kejadian tadi malam sampai beberapa ronde!" Kevin menaik - turunkan alisnya menggoda sang istri. Membuat senyum Kinan lenyap, berganti dengan dia yang mengerucutkan bibirnya.
"Mas nggak kasihan sama calon anak kita? Kalau terlalu sering melakukannya, bisa bahaya lho!" Kinan mengusap perutnya yang membesar.
"Nggak usah ngajarin mas, mas tentu tidak akan membuat kalian dalam bahaya. Mas akan kasih jeda sebentar, baru lanjut lagi, begitu sampai seterusnya. Lagian mas yakin, kalau dia akan senang dikunjungi oleh daddynya. Kan sudah berapa hari dia tidak dikunjungi daddynya, pasti dia kangen. Iya kan nak, kamu masih kangen sama daddy kan nak, meski tadi malam daddy jenguk kamu?" Gantian Kevin yang mengusap perut sang istri beberapa kali, terakhir Kevin menempelkan telinganya.
__ADS_1
Sementara pipi Kinan memerah, karena dia tahu maksud ucapan suaminya barusan. Tapi mulutnya tetap bungkam, membiarkan apa yang dilakukan oleh sang suami.
Wajah Kevin menengadah untuk memandang istrinya. "Ini bahaya Ay! Anak kita bilang, pengen dijenguk lagi sama daddynya!"
Kinan mendelik. "Jangan aneh - aneh mas!" Kinan jadi membayangkan kembali kegiatan menyenangkan mereka tadi malam.
Membuat Kevin terkekeh melihat wajah istrinya, sepertinya istrinya serius menanggapi ucapannya. Kevin juga tidak mungkin melakukan itu lagi, meski dia pengen. Tapi dia juga harus ingat batasan, tidak mau menuruti nafsunya yang mungkin saja bisa berakibat fatal pada kesehatan istri dan calon anaknya. Dia hanya berniat untuk menggoda sang istri, karena menggoda sang istri membuat kesenangan tersendiri untuknya. Terlebih melihat wajah istrinya yang malu - malu saat digoda seperti itu.
Kevin kembali mendekatkan pipinya keperut sang istri. Hingga beberapa detik berlalu, Kevin yang hendak menjauhkan pipinya membelalakkan matanya, begitu juga dengan Kinan yang tercengang. Keduanya saling melempar pandangan.
"Barusan itu apa, Ay?" Tanya Kevin yang terlihat sangat kaget.
Kinan tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya, dia masih terbengong. Dia tahu bahwa barusan itu adalah pergerakan kecil dari bayinya. Rasa haru menyusup dalam hatinya. Dia tak kuasa menahan air mata bahagia. Tendangan pertama itu agak terasa ngilu, namun membahagiakan dalam waktu yang bersamaan. Sebenarnya ada rasa sedikit sedih dan kecewa dalam hatinya, sudah dari kemarin - kemarin dia mengajak calon anaknya mengobrol, berharap tendangan pertama anaknya dia yang rasakan. Tapi ini apa, malah suaminya yang merasakan pertama kalinya. Tapi tak apa, itu artinya anaknya pengen kedua orang tuanya tahu secara bersamaan. Semua rasa sedih dan kecewanya tertutupi dengan rasa senang, karena anaknya mulai menunjukkan eksistensinya, memberitahu kedua orang tuanya bahwa dia hidup dan terus berkembang diperut Kinan.
"Itu tendangan pertama anak kita mas." Suaranya bergetar karena menangis.
"Benarkah?" Melihat anggukan kepala sang istri, Kevin beranjak kesamping sang istri dan memeluknya. Menyalurkan rasa bahagia yang sama besar dengan apa yang dirasakan oleh sang istri. Sebentar lagi dia akan benar - benar menjadi seorang daddy. Dia tidak menyangka, merasakan tendangan kecilnya saja sudah membuatnya merasakan kebahagiaan yang luar biasa seperti ini. Bagaimana kalau nanti dia sudah lahir. Mungkin kebahagiaan yang dia rasakan akan berkali lipat nantinya.
"Terimakasih Ay, terimakasih. Kamu sudah memberikan mas kebahagiaan yang nggak pernah ada habisnya." Kevin tidak sadar kalau air matanya mulai mengalir dan merembes ke pundak sang istri. Kinan yang merasakan pundaknya basah, melepaskan pelukannya dan memandang wajah sang suami. Mata suaminya memerah, ada genangan air mata disana.
__ADS_1
"Kok mas nangis sih? Mas cengeng ih!" Ledek Kinan sembari tertawa, padahal dia juga tengah menangis karena terharu. Yang membuat Kevin terkekeh.
"Kamu juga nangis, bukan hanya mata, hidungmu pun mengeluarkan air. Kamu lebih cengeng berarti." Kinan memukul lengan suaminya, setelahnya keduanya tertawa bersama. Lalu Kinan mengusap pipi suaminya, menatap wajah suaminya dengan intens. Menelusuri wajah suaminya yang terpahat sempurna dihadapannya. Kinan tidak pernah bermimpi akan menjadi istri seorang Kevin Chandra William. Laki - laki yang membuat banyak wanita diluar sana berlomba - lomba untuk memilikinya. Tapi dialah yang menjadi istrinya. Apalagi sekarang dia bahkan sedang mengandung calon anak pertama mereka. Terlepas dengan alasan apa mereka menikah, tapi sekarang dia merasa bahagia.
Secara perlahan wajah Kinan mendekat dan mendaratkan kecupan singkat dibibir suaminya. Kevin mengulas senyum tipis, istrinya semakin berani, tapi dia menyukainya, walau hanya kecupan. Kevin pun tidak mau ketinggalan, rasanya dia harus membalas kecupan sang istri, tentu bukan hanya kecupan saja, dia akan memberikan lebih. Karena bibir ranum sang istri sudah membuatnya kecanduan.
Kevin yang ingin mendaratkan bibirnya, ke bibir sang istri tidak jadi karena keduluan istrinya yang menutupinya dengan tangannya.
"Kenapa?" Nada suara Kevin terdengar kesal.
Kinan menggelengkan kepalanya. "Mas tutup mata, biar aku yang melakukannya. Mas jangan buka mata, sebelum aku meminta mas buka mata."
Kevin memicingkan matanya, merasa familiar. "Kamu tidak akan mengerjai mas kan, Ay?"
"Nggak lah, mas nggak percayaan banget sih!"
"Oke!" Dengan semangat Kevin memejamkan matanya.
Kinan lebih dulu membelai semua bagian wajah suaminya. Membuat Kevin senang, dia menikmati tangan lembut istrinya menari nari diwajahnya. Hingga beberapa saat, sapuan tangan itu menghilang. Kevin tidak langsung membuka matanya, justru dia menunggu aksi istrinya selanjutnya. Tanpa tahu, kalau sang istri dengan perlahan sudah melangkah dari sampingnya. Karena sudah menunggu beberapa saat, tapi istrinya tidak melakukan apa - apa. Dengan perlahan dia membuka matanya. Tidak ada sang istri dihadapannya, Kevin mengedarkan pandangannya, tidak ada siapa - siapa disana, selain dirinya. Sadar dikerjai istrinya, Kevin berteriak.
__ADS_1
"Kinannnnn!"
Kevin bergegas masuk kamar, dia harus memberikan hukuman untuk istrinya yang sudah berani mengerjainya.