Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 84


__ADS_3

Kevin yang nyawanya belum terkumpul, menggerakkan tangannya yang memeluk tubuh istrinya. Dia meraba wajah sang istri, tanpa membuka matanya. Karena merasa ada yang janggal, Kevin langsung membuka matanya. Kevin membelalakkan matanya melihat apa yang dia peluk. Hingga dalam sekejap, guling dan gaun istrinya yang dia peluk saat tidur tadi malam, sudah tenggorok dilantai. Hingga Kevin yang mau memanggil sang istri menghentikan niatnya saat dia ingat sesuatu.


"Kinan kan tidak ada dirumah, dan tadi malam aku yang meletakkan gaun Kinan diatas guling itu!" Lirihnya, sembari turun dari atas ranjang, lalu mengambil guling dan gaun istrinya yang dia lempar tadi. Beberapa kali dia menciumi gaun sang istri, setelahnya Kevin meletakkan kembali keatas ranjang. Kevin melirik jam yang ada didinding, hampir jam tujuh pagi. Kevin memutuskan masuk kamar mandi. Tidak sampai sepuluh menit, dia sudah keluar dari sana.


Kevin sengaja tidak mandi, hanya cuci muka saja. Hari ini dia tidak ingin berangkat kekantor, dia mau melanjutkan pencariannya, untuk mencari sang istri. Besar harapannya kalau hari ini akan menemukan istrinya. Kevin berjalan kearah nakas dan mengambil ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga WA dari pengawal yang bertugas mencari istrinya. Kevin mengusap wajahnya kasar, begitu dia membaca WA tersebut, yang menyatakan sang istri belum ditemukan.


"Hufttt.....kamu sebenarnya dimana sih sayang?" Lirihnya. Lalu menarik nafas dalam. Setelah merasa sedikit tenang, Kevin keluar dari kamar. Dua orang pelayan yang lagi mengerjakan pekerjaannya menutup mulutnya supaya tidak tertawa, ketika melihat tuan muda mereka turun tangga. Saat tuan muda mereka sudah tidak terlihat, keduanya tertawa bersama. Gimana tidak tertawa, tuan muda mereka turun dengan memakai piyama wanita, yang dipastikan kalau itu adalah piyama nona muda mereka.


"Ehmmm..." Kedua orang itu menghentikan tawanya, ketika mendengar deheman Pak Salman.


"Lanjutkan pekerjaan kalian!"


"Maaf Pak!" Ucap keduanya serempak, dan melanjutkan pekerjaannya. Tanpa keduanya tahu, kalau Pak Salman juga berusaha menahan senyumnya saat melihat Kevin tadi. Sepertinya tuan muda merindukan nona Kinan, makanya tuan muda memakai piyama nona Kinan, pikirnya.


Daddy Marvin dan Al yang lebih dulu menyadari kedatangan Kevin sampai tersedak, membuat Oma Jeny dan mommy Cella kaget.


"Kenapa kalian berdua tersedaknya bisa barengan?" Tanya mommy Cella, heran melihat suaminya dan Al. Daddy Marvin menunjuk Kevin dengan dagunya, membuat mommy Cella dan Oma Jeny menoleh. Keduanya sempat kaget, tidak lama tergelak melihat penampilan Kevin.


"Apa kamu sudah tidak punya baju? Hingga kamu memakai baju istrimu, nak?" Kekeh mommy Cella. Kevin tidak menjawab pertanyaan mommynya. Dia duduk disamping sang mommy dan meneguk habis segelas air putih yang sudah tersedia didepannya. Melihat belum ada kopi untuknya, dia memanggil bi Surti.


"Bi Sur...." Kevin tidak melanjutkan ucapannya, begitu melihat bi Surti datang membawa segelas kopi.


"Terimakasih iya, bi!" Ucap Kevin, sesudah bi Surti meletakkan segelas kopi didepannya.

__ADS_1


"Sama - sama tuan!" Setelahnya bi Surti berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Apa sudah ada kabar dari orang - orang daddy?" Tanya Kevin to the point.


Daddy Marvin menghentikan makannya, lalu memandang anaknya. "Selesai sarapan kita bahas!"


Meski sedikit kecewa dengan jawaban sang daddy, Kevin mengangguk pasrah. Lalu dia mengambil sepotong sandwich untuk sarapannya. Kevin menghabiskan sarapannya dengan cepat, bersamaan dengan yang lainnya. Karena sebelum Kevin turun, mereka semua yang ada dimeja makan sudah memulai sarapannya. Karena acara sarapan sudah selesai, sesuai dengan ucapan daddy Marvin tadi, mereka semua pindah keruang keluarga. Tidak lupa Kevin membawa kopinya, karena dia baru meminumnya sedikit.


"Bagaimana dad, apa sudah ada kabar dari orang - orang daddy?" Kevin mengulang pertanyaannya, setelah mereka duduk diruang keluarga.


"Belum, daddy juga heran kemana mereka berdua pergi?" Mendengar jawaban daddynya membuat Kevin langsung lemas. Dia menyandarkan punggungnya kesadaran sofa sembari memejamkan matanya. Padahal dia sangat berharap pada orang - orang daddynya. Bukan dia meragukan orang orangnya, tapi dengan ikutnya orang - orang itu mencari, semakin cepat istrinya ditemukan. Tapi ini......


"Bagaimana kalau Kinan diculik?" Celutuk Kevin, dia langsung mengubah posisi duduknya dengan tegap. Entah kenapa pemikiran itu terlintas begitu saja.


"Iya mom, kita kan sudah mencari Kinan, bahkan orangku maupun orang daddy sudah menyebar dimana - mana, tapi Kinan tidak kunjung ditemukan. Berarti dia diculik kan, mom? Bagaimana menurutmu Al?" Kevin mengalihkan pandangannya pada Al.


"Aku juga sependapat. Kita sudah cari nona Kinan kemana - mana, tapi tidak ketemu. Aku yakin seseorang menyekapnya disuatu tempat." Ujar Al.


"Tapi siapa yang menculiknya, nak? Kalian jangan macam - macam ah, mommy ngeri membayangkannya."


"Siapa tahu saingan bisnis kita yang melakukannya, mom. Aku yakin Kinan diculik. Ini lebih berbahaya lagi mom, dad. Bagaimana kalau Kinan disiksa disana dan tidak dikasih makan!" Suara Kevin sudah serak, bahkan tubuhnya sudah gemetaran. Dia membayangkan istrinya disekap dan disiksa.


Sementara daddy Marvin, mommy Cella juga Oma saling pandang. Ketiganya kasihan melihat Kevin, tapi disaat yang bersamaan mereka lucu dengan pemikiran Kevin yang mengatakan kalau Kinan diculik. Tidak mau membuat anaknya curiga dengan sikap mereka bertiga, mommy Cella pindah kesamping anaknya.

__ADS_1


"Kinan pasti diculik, mom!" Ucap Kevin seraya memeluk mommy Cella.


"Kinan tidak mungkin diculik, nak. Tidak banyak orang yang tahu, kalau Kinan istrimu. Mommy yakin, menantu dan calon cucu mommy baik - baik saja. Mungkin dia hanya menenangkan diri sebentar, nanti dia juga akan pulang sendiri!" Ujar mommy Cella sambil mengusap - usap punggung sang anak. Ingin rasanya mommy Cella tertawa, terlihat kejam memang, tapi itulah kenyataan. Kemana anaknya yang selalu bersikap santai dalam menghadapi suatu masalah. Sepertinya kepergian istrinya dari rumah, membuat Kevin sangat terpukul. Itu artinya dia sudah sangat terikat dengan Kinan. Sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Astaga, darimana pemikiran itu, Kinan diculik? Tidak mau kelepasan tertawa, mommy Cella berdehem beberapa kali. Setelah beberapa saat, mommy Cella melepaskan pelukan anaknya. Dia ingin menenangkan anaknya, biar tidak terlalu kepikiran. Karena itu, dia membingkai wajah Kevin dengan kedua tangannya.


"Dengar nak, buang jauh - jauh pikirkan burukmu itu. Menantu mommy baik - baik saja, kalau sudah waktunya, menantu mommy akan pulang. Karena itu, kamu harus tenang, jangan sampai melakukan hal yang bisa merugikan dirimu sendiri. Kamu tidak usah mencarinya lagi, bukan mommy tidak sayang pada menantu mommy, mommy juga sedih saat tahu menantu kesayangan mommy pergi dari rumah. Tapi kita harus memberikan waktu pada Kinan nak, dia pasti butuh waktu untuk sendiri.


Dia pasti kaget dengan kehidupan yang dia jalani sekarang. Memang keluarga kita menerimanya dengan baik, bahkan kamu juga sudah mencintai dan menyayanginya. Meski kejadiannya sudah lama, dimulai dari kejadian waktu itu, hamil dan menikah ditambah dengan kejadian dicafe. Belum lagi usianya yang masih sangat muda, masih labil. Pasti tidak gampang berada diposisinya, walau dia terlihat bahagia. Karena itu, mommy mohon kamu jangan lagi mencarinya. Menantu mommy baik - baik saja diluar sana. Kamu percaya kan nak, pada mommy dan daddy?" Tidak langsung menjawab, Kevin mengalihkan pandangannya kearah sang daddy. Melihat anggukan kepala daddynya, Kevin menarik nafas dalam dan mengangguk. Tidak ada rasa curiga sedikitpun pada orang tuanya, yang begitu tenang menantunya pergi dari rumah.


"Iya, mom. Aku percaya pada mommy dan daddy!" Semua yang ada disana menarik nafas lega, kecuali Al. Dengan begitu Kevin tidak akan mendesak mereka untuk mencari Kinan. Bukan apa - apa, takutnya mereka keceplosan memberitahu Kinan dimana.


"Jadi aku tidak perlu mencari Kinan lagi, mom?"


"Iya, biarkan dia diluar sana sejenak, sebelum nanti disibukkan dengan kelahiran anak kalian. Tenangkan dirimu, juga berfikir positif."


"Iya mom!" Kevin menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. Kevin sudah sedikit tenang, mendengar penjelasan mommynya. Walau dia harus menahan rindunya pada sang istri, dia akan mencoba tenang dan berpikir positif, kalau istri dan calon anaknya baik - baik saja.


"Sekarang kamu ganti baju iya, nak! Sekalian mandi, kamu juga belum mandi kan? Jangan lagi pakai baju istrimu. Segitu kangennya pada istrimu, hingga kamu memakai baju istrimu? Baru semalam istrimu pergi, padahal!" Ledek mommy Cella.


"Tadi malam nggak bisa tidur, mom!"


"Tapi kamu cantik, Vin pakai baju itu, terlihat gimana, gitu!" Celetuk Al, membuat Kevin melempar bantal sofa pada Al yang langsung ditangkap oleh Al sebelum mengenai tubuhnya.


"Kamu ke kantor saja Al, hari ini kayaknya aku nggak berangkat ke kantor. Atau nggak siangan saja aku berangkat, aku mau istirahat sebentar!" Setelah menghabiskan kopinya yang sudah dingin, Kevin kembali ke kamar.

__ADS_1


Setelahnya Al dan daddy Marvin berangkat ke kantor. Lain halnya dengan mommy Cella dan Oma yang masih tinggal diruang keluarga.


__ADS_2