Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 97


__ADS_3

Kini Kevin dan Kinan lagi jalan santai di taman dekat apartemen. Tadi begitu keduanya bangun pagi, mereka memutuskan untuk olahraga ringan, dengan jalan pagi di sekitar apartemen. Kebetulan ada taman di dekat sana.


"Ramai juga iya mas?" Kinan mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Terlihat banyak orang di sekitar taman. Ada yang sendiri, pasangan dan ada juga yang bawa anak.


"Sabtu, Minggu tempat ini memang ramai, sayang. Selain untuk bersantai, orang - orang juga sengaja datang untuk membeli sarapan. Kamu nggak lihat disebelah sana?" Kevin menunjuk beberapa penjual yang sudah dikelilingi oleh para pembeli.


"Eh, iya juga iya!" Kinan mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk sang suami.


"Bukannya ada restoran di dalam mas?" Kinan ingat, kalau tadi malam pas mau lewat, dia melihat sekilas ada restoran di dekat pintu masuk.


"Memang ada sayang. Tapikan menunya beda dengan yang dijual di taman ini sayang!"


"Ada nggak jajanan kayak dipasar itu mas?"


"Justru jajanan pasar yang banyak dijual disana, sayang. Kenapa? Kamu mau?"


"Kalau ada, aku maulah mas!"


"Iya udah, kita cari tempat duduk dulu, biar kamu bisa istirahat sembari menunggu mas beli jajanannya!"


"Tapi aku pengen milih sendiri mas!"


"Disana lumayan rame lho, sayang. Gimana kalau ada yang dorong kamu nanti, dan malah bikin kamu jatuh!" Tentu saja Kevin tidak mau ambil resiko. Disana lumayan ramai berkerumun, melihat sang istri yang lagi hamil besar, sangat beresiko kalau dibawa ketempat ramai. Takutnya ada yang menyenggol atau gimana, yang nantinya bikin sang istri jatuh.


"Kan ada mas yang pegangin! Lagian disana meski banyak orang, tapi nggak sebanyak orang di pasar yang sampai berdesak - desakan gitu kan mas!" Meski jarak mereka saat ini tidak terlalu dekat dengan yang jualan dipinggir sana, tapi Kinan bisa melihat, kalau para pembeli itu terlihat sportif. Maksudnya nggak ada yang rebutan, supaya lebih dulu dilayani. Apa karena tinggal di apartemen, jadi semua serba teratur, pikir Kinan dengan konyol.


"Sekali - sekali nurut kata suami, kenapa sih. Kamu mau apa, bilang saja, ntar mas yang beli. Kalau perlu mas beli semua jajanan yang ada disana."


Mentang - mentang banyak uang, asal main beli saja semua.


"Padahal ini permintaan anak - anak mas lho!" Kinan mengusap perutnya.


"Katanya daddy kalian kaya, hartanya tidak akan ada habisnya, tapi beli jajanan saja tidak mau. Kalian jangan sedih iya nak, karena daddy tidak mau memenuhi permintaan kalian. Nanti mommy akan hubungi om Al, biar om Al yang menemani mommy untuk beli jajanan untuk kalian!" wajah Kinan terlihat sedih, sembari tangannya masih terus mengusap perutnya.


Kalau sudah bahas anak, Kevin selalu kalah. dia menarik nafas dalam - dalam, lalu mengacak rambut sang istri. "Kamu selalu menjadikan anak sebagai alasan iya, sayang. Lagian mas kan nggak ada bilang, nggak mau beli. Mas tadi hanya meminta, supaya mas saja yang beli kesana. Kamu tinggal duduk manis saja, nunggu mas."


"Tapi kan....."


"Iya, iya. Anak kita mau mommynya yang pilihin sendiri!" Kevin langsung memotong ucapan sang istri, karena dia sudah tahu apa kelanjutannya. Membuat Kinan terkekeh.


"Udah yok, mas kelamaan. Ntar keburu habis lagi!" Kinan menarik tangan sang suami.


"Hei, jalannya pelan - pelan saja, sayang." Kevin langsung protes saat sang istri melangkah dengan sedikit cepat.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, kini keduanya sudah tiba di tempat para penjual jajanan. Kinan lebih dulu melihat apa yang sekiranya dia pengen makan. Kinan tersenyum pada penjual yang memberikan tempat seperti nampan plastik untuk tempat jajanan yang akan dia pilih. Mungkin biar lebih gampang hitungnya, pikir Kinan. Setelahnya Kinan memilih beberapa yang dia suka, karena banyaknya jajanan yang ada, Kinan sampai tidak sadar kalau dia sudah memilih banyak.


"Mas mau yang mana?" Kinan menoleh kebelakang, karena sang suami berdiri dibelakangnya. Suaminya sudah seperti pengawal profesional, dibelakang menjaganya.


"Terserah kamu saja sayang, apapun yang kamu pilih, mas akan makan." Kinan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kinan memperhatikan kira - kira mau ngambil yang mana lagi. Kinan tersenyum saat ada yang menarik perhatiannya, dan bergeser untuk mengambilnya. Kemana sang istri melangkah, Kevin mengikutinya dari belakang.


Kevin sadar, kalau dia jadi perhatian orang disekitarnya, karena berdiri dibelakang istrinya. Tapi dia cuek saja, keselamatan istri dan calon anaknya lebih penting. Dia meningkatkan kewaspadaannya kalau ada orang yang mendekat, jangan sampai orang itu menyenggol atau lebih parahnya mendorong sang istri.


Setelah merasa hampir semua yang dia suka dan menarik perhatiannya diambil, Kinan menyudahi kegiatannya. "Tolong dihitung mbak?" Sang penjual mengangguk sambil mengangkat tempat jajanan Kinan ke tempat penghitungan.


"Ayok bayar mas!" Ucap Kinan pada suaminya, begitu sang penjual menyebutkan jumlah yang mau dibayar.


"Kamu yakin, bisa menghabiskan semua itu, sayang?" Kevin kaget melihat begitu banyak jajanan yang diambil istrinya. Bukan masalah bayarannya, tapi jajanan sebanyak dua kantong plastik itu, siapa yang mau menghabiskannya. Kalau mereka di mansion, masih banyak orang yang mau makan. Tapi posisi mereka saat ini ada di apartemen, yang mana hanya mereka berdua yang ada disana.


Sementara Kinan hanya cengar - cengir, menunjukkan gigi putihnya. Dia juga kaget, kalau jajanannya sebanyak itu. Tadi dia asal ambil saja, karena dia senang melihat jajanan sebanyak itu didepannya.


"Bayar saja dulu mas, nanti kita pikirkan siapa yang mau menghabiskannya!" Kevin menggelengkan kepalanya sembari mengambil dompetnya. Setelah selesai membayar, Kevin membawa kedua kantong plastik itu.


"Mau makan disini atau langsung balik?"


"Makan disini saja mas. Eh, yang itu ketoprak atau gado - gado iya mas?" Kinan menunjuk penjual yang didepannya ada ulekan.


"Mana mas tahu sayang!"


"Hei, ini saja belum dimakan, sudah mau beli yang lain lagi!"


"Sssttt, jangan berisik!" Ucap Kinan, begitu keduanya sudah ada didepan meja penjual yang dia tunjuk tadi. Kinan lebih dulu melihat apa yang ada diatas meja. Karena merasa cocok dengan yang ada dipikirannya, Kinan mengatakan


"Mbak bisa request nggak?" Kinan bertepuk tangan kecil, begitu sang penjual menganggukkan kepalanya. "Bungkus satu iya mbak, tapi mie sama lontongnya saja. Lontongnya tiga biji saja, terus cabainya satu tapi agak manis iya mbak!" Sang penjual tersenyum, lalu segera meracik pesanan Kinan.


"Makanan apa itu sayang? Kamu itu lagi hamil, jangan makan yang aneh - aneh!" Kevin langsung protes mendengar pesanan sang istri.


"Itu bukan makanan aneh mas, wong cuma mie sama lontong kok." Setelah pesanan Kinan jadi dan dibayar, keduanya mencari tempat yang enak untuk bersantai. Karena memang di sekitar taman ini, banyak tempat duduk disediakan.


"Mas tinggal sebentar iya sayang. Mas mau beli air minum sebentar." Ucap Kevin, setelah mereka mendapat tempat duduk.


"Jangan lama - lama iya mas! Eh, itu kayaknya kak Al deh mas!" Ucap Kinan, kala dia melihat orang yang berjalan kearah tempat duduk mereka saat ini.


"Itu memang Al sayang!" Kevin menyahut tanpa melihat orang yang dimaksud sang istri. Karena tadi dia sudah melihat Al ada di sekitar taman ini.


"Pagi semuanya!" Sapa Al, kala dia sudah berdiri dihadapan Kevin dan Kinan.


"Pagi kak Al. Kak Al olahraga disini juga? Padahal tadi aku hanya bercanda mau menghubungi kak Al, tahu - tahunya sudah nongol disini!" Al mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud ucapan Kinan.

__ADS_1


"Maksudnya gimana, nona?"


"Kok nona lagi sih kak Al?"


"Maaf, lupa. Maklum belum terbiasa. Jadi bisa dijelaskan ap...."


"Nggak ada yang perlu dijelaskan. Sana beli minum dulu, jangan pakai lama, waktumu tiga menit!" Kevin memotong ucapan Al, sembari mendorong tubuh Al, supaya Al tidak banyak tanya. Membuat Al mau tak mau menuruti permintaan Kevin.


"Nggak boleh gitu mas, ini kan bukan dikantor. Mas nggak boleh main perintah gitu saja!"


"Biarin saja sayang. Udah yok, kita makan ini saja!" Kevin mengambil satu jajanan dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Membuat Kinan menggelengkan kepalanya. Dia juga mengikuti suaminya makan. Kinan membuka bungkus mie yang dia beli tadi.


"Emm, Enak! Mas nggak mau cicip?" Ujar Kinan kala dia sudah memasukkan mienya kedalam mulutnya. Beruntung tadi penjualnya menyediakan sendok plastik.


"Aaaa...! Ayok coba dulu mas, ntar mas pasti ketagihan." Kinan menyodorkan sendok yang didalamnya sudah ada mienya ke mulut suaminya. Membuat Kevin membuka mulutnya.


"Enakkan mas?"


"Hemmm!"


"Ini minumnya adik ipar!"


"Uhukkk...uhukkk!" Ucapan Al membuat Kevin kaget, hingga dia tersedak.


"Minum dulu adik ipar!" Al memberikan sebotol air mineral pada Kevin yang langsung disambar Kevin dengan cepat.


"Aku bukan adik iparmu!" Ketus Kevin setelah dia menghabiskan minumnya hampir separuh.


"Wah, wah, wah! Kevin tidak mau mengakui kalau aku kakak iparnya. Bagaimana ini Kinan?" Al tidak mempedulikan tatapan tajam Kevin, justru Al semakin menggodanya.


"Kalian berdua harus akur. Daripada kalian berdua ribut, lebih baik kalian berdua habiskan semua jajanan itu!" Dengan santai Kinan menunjuk dua kantong plastik yang penuh dengan jajanan itu. Membuat Kevin dan Al membelalakkan matanya. Yang benar saja menghabiskan itu semua, pikir keduanya.


"Nggak mungkin dong sayang, kami berdua sanggup menghabiskan semuanya. Tadi kamu kan yang pengen jajanan itu! Masa kamu nggak ada makan sama sekali." Kevin mencoba membujuk istrinya.


"Mas dan kak Al duluan, nanti aku bantu sedikit."


"Tapi.....!


"Nggak ada tapi. Ayok buruan habiskan, keburu cuacanya panas. Mas dan kak Al nggak mau kan, kalau aku bilang pada mommy kalau kalian berdua tidak mau menuruti ngidamnya aku!"


Kevin dan Al terlihat pasrah. Keduanya mengambil satu - satu dari dalam kantong plastik dan memakannya. Rasanya sih enak, tapi kalau menghabiskan sebanyak itu, apa nggak engap itu perut. Tapi Kevin dan Al hanya bisa menggerutu dalam hati. Jangan sampai ibu hamil satu itu mengamuk kalau mereka berdua protes lagi.

__ADS_1


__ADS_2