Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 106


__ADS_3

Saat ini Kevin dan Kinan sudah berbaring di atas ranjang. Tadi mommy Cella dan Oma Jeny pulang ke mansion, setelah mereka makan malam bersama.


"Mas kenapa, hm?" Kinan mengusap - usap kepala sang suami. Semenjak perut sang istri mulai membesar, saat keduanya tidur seperti ini, Kevin selalu menyesuaikan posisinya, supaya bisa memeluk sang istri dengan nyaman.


"Mas......"


Kinan yakin telah terjadi sesuatu pada suaminya. Meski suaminya tadi bilang pada mommy Cella, kalau dia tidak apa-apa, tapi Kinan tidak percaya. Kinan menahan diri untuk tidak mencecar sang suami di hadapan mertuanya tadi. Dan saat inilah waktu yang pas, di saat mereka hanya berdua saja untuk menanyai sang suami.


Walau mereka masih terbilang baru menjadi suami - istri dan tinggal di atap yang sama, sedikit, banyak, Kinan bisa menangkap perubahan ekspresi wajah suaminya. Memang tadi mereka senang - senang saja, bercanda dan tertawa bersama dengan mertuanya. Tapi Kinan perhatian, suaminya tidak tertawa lepas seperti biasanya. Seperti ada beban berat yang dipikul suaminya. Karena itu, Kinan ingin menanyakan apa yang menjadi beban suaminya itu.


"Mas......!" Melihat Kevin yang diam saja, Kinan menggoyangkan lengan sang suami.


"Mas tidak apa-apa, sayang!"


"Mungkin yang lain percaya dengan ucapan mas, tapi aku tidak. Aku yakin kalau mas sedang tidak baik - baik saja!"


Kevin mendongakkan kepalanya untuk menatap sang istri. "Kamu udah seperti cenayang saja, sayang!"


"Jadi benar kan tebakanku?"


"Hemmm!" Kembali Kevin memeluk sang istri.


"Mas tidak mau cerita? Mas tidak perlu sungkan untuk bercerita. Tidak salah kok, kalau seorang laki-laki bercerita atau memberitahu masalahnya pada seseorang. Terkadang, seseorang bercerita bukan hanya untuk mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapinya. Tapi dengan bercerita, kita akan mendapat kelegaan dan beban berat yang kita pikul bisa berkurang, meski hanya sedikit."


Setelah terdiam beberapa menit.....


"Dia kembali sayang!" Lirih suara Kevin.


"Dia siapa yang mas maksud?" Kinan mengerutkan keningnya, berusaha mencerna ucapan sang suami. Hingga beberapa detik kemudian....


"Jangan bilang mantan mas yang...." Kinan tidak melanjutkan ucapannya, kini tubuhnya menegang.


Kevin yang merasakan tubuh sang istri menegang kaku, semakin mengeratkan pelukannya. Hingga beberapa menit keduanya tidak ada yang bersuara. Lalu Kevin melepaskan pelukannya, mengelus wajah sang istri. Mengecup kening dan bibirnya kilat.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Kedatangan wanita itu tidak akan mengubah apapun. Mas sudah tidak punya hubungan apapun dengannya. Kamu masih ingat kan, kalau kita sudah pernah membahas tentang masa lalu mas?" Kinan hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


"Mas janji akan selalu setia pada kamu sayang. Mas tidak akan menukar kebahagiaan yang mas rasakan dengan istri mas yang satu ini, dengan wanita manapun!" Kevin mencubit gemas hidung sang istri.


"Bukannya waktu itu kamu pernah bilang, kalau kamu akan menghadapi wanita itu kalau dia kembali?"


Kinan membenarkan ucapan sang suami. Memang benar dia mengatakan hal itu, tapi kalau menghadapi kenyataan seperti ini membuat dia sedikit takut. Tapi beberapa detik kemudian, dia menghilangkan rasa takut itu.


Kalau hanya mendengar wanita itu sudah kembali, membuatnya takut, bagaimana kalau nanti mereka bertemu langsung. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka nanti akan bertemu. Karena itu Kinan harus berani menghadapinya.


"Kok diam saja sayang? Jangan pedulikan kedatangan wanita itu sayang. Prioritas kita sekarang yang disini!" Kevin mengusap perut sang istri.


"Jangan memikirkan hal yang tidak penting, sayang. Wanita itu tidak layak menerima perhatian kita. Kalau kamu banyak pikiran, akan berdampak pada perkembangan mereka!" Sebelah tangan Kevin masih asik mengusap - usap perut istrinya.


"Aku nggak mikirin wanita itu kok. Karena aku percaya, suamiku sangat mencintaiku. Cinta dan kasih sayang suamiku hanya untukku seorang. Hingga suamiku tidak akan berpaling pada wanita manapun, termasuk mantannya itu!" Kinan menekan kalimat terakhirnya, membuat Kevin tergelak.

__ADS_1


"Pede sekali anda nona. Kata siapa cinta dan kasih sayangku hanya untukmu!" Kevin menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Jadi mas masih mencintai mantan mas itu? Kalau gitu mas tidak boleh dekat - dekat aku, apalagi peluk - peluk! Peluk aja sana, mantan mas itu!" Ketus Kinan sambil mendorong tubuh suaminya, membuat Kevin terlentang.


Bukannya kesal, Kevin malah tertawa terbahak-bahak.


Tahu suaminya menertawakannya, Kinan mengerucutkan bibirnya.


"Mas!"


Kinan semakin mengerucutkan bibirnya, saat suaminya tidak juga menghentikan tawanya.


"Mas, emangnya ada yang lucu?" Kinan yang kesal, memukul lengan sang suami.


"Kenapa mas ketawa, emangnya ada yang lucu?" Kinan kembali mengulang pertanyaannya.


Kevin memegang perutnya yang terasa kaku, akibat tawa yang berlebihan. Dia juga menyeka sudut matanya.


Lalu Kevin menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya, hingga posisi mereka berhadapan.


"Lucu aja tadi mendengar ucapan kamu yang mengatakan kalau hanya kamu yang mas cintai dan sayangi!"


"Kenapa?" Kevin yang mau mengusap wajah istrinya, merasa kaget karena tangannya di tepis oleh sang istri.


"Jangan pegang-pegang. Mas pegang saja sana, orang yang mas cintai itu!"


"Kamu cemburu, kalau mas mencintai yang lain?"


"Iyah, padahal mas berharap kalau kamu cemburu, sayang!"


"Kok gitu?"


"Mas senang kalau kamu cemburu, itu artinya kamu sudah mencintai mas!"


"Ngapain cemburu, buang-buang tenaga."


"Benaran nih, kamu nggak cemburu? Kamu nggak penasaran gitu, siapa orang yang mas sayangi selain kamu?"


"Nggak tuh!"


"Yakin? Mas tahu kamu penasaran, sayang. Karena itu, sebagai suami yang baik, mas akan kasih tahu!" Kevin mengusap kepala sang istri.


"Jangan pegang-pegang!" Ucap Kinan tegas, tanpa menghindar atau menepis tangan suaminya seperti di awal tadi. Dan hal itu membuat Kevin tergelak, istrinya ini memang menggemaskan.


"Kamu menang sayang. Mas memang sangat mencintaimu. Tapi selain kamu, tentu saja kasih sayang mas untuk calon anak kita!" Tangan Kevin berpindah mengusap perut sang istri.


"Mas juga menyayangi daddy dan mommy serta Oma. Intinya mas mencintai dan menyayangi semua anggota keluarga besar kita. Tentu saja cinta dan kasih sayang mas berbeda porsinya untuk istri mas ini!Bagaimana, sudah puas dengan jawaban mas, sayang?"


"Biasa aja tuh!"

__ADS_1


Tidak dapat dipungkiri kalau Kinan senang dengan penjelasan suaminya. Tapi dia tidak mau menunjukkannya dihadapan suaminya. Bisa besar kepala nanti suaminya itu. Hehehe


"Ngomong-ngomong, tadi siang mas ketemu dimana sama mantan mas itu?" Kinan sengaja menekan kata 'mantan'.


"Biasa aja kali, bilang mantannya itu, sayang!"


"Lah, emang mantan mas kan?"


"Iya, iya. Dasar bumil. Tadi siang kan, mas ada pertemuan sama para sahabat mas. Setelah selesai membahas masalah pekerjaan, kita memutuskan untuk makan siang bersama di cafe yang di depan kampus ** itu. Tiba-tiba datanglah dia menghampiri kita semua!


Mas juga nggak tahu kenapa dia bisa tahu kalau mas dan yang lainnya lagi ada di cafe itu!"


"Pasti mantan mas itu ngajak balikan kan?"


Dengan refleks, Kevin tertawa. Karena lagi - lagi tebakan istrinya benar.


"Kok malah ketawa sih?"


Melihat wajah cemberut istrinya, Kevin menghentikan tawanya.


"Habisnya tebakanmu benar lagi, sayang! Jangan, jangan kamu dukun iya, kok bisa tahu semuanya!"


"Nggak lucu!"


"Siapa yang bilang lucu, kan mas nggak lagi ngelucu, sayang!"


"Isshhh!" Kinan mengerucutkan bibirnya, membuat Kevin mengecupnya kilat.


"Oh iya sayang, kalau mas sedikit membatasi ruang gerakmu, kamu nggak marah kan?"


" Maksudnya?"


"Wanita itu sudah tahu kalau mas sudah punya istri. Takutnya, wanita itu mencari tahu siapa istri mas dan merencanakan sesuatu. Kamu tahu sendiri, wanita kalau menginginkan sesuatu bisa nekad melakukan apapun. Jadi bisakah kamu hanya di rumah saja, jangan keluar rumah, kalau tidak bersama mas. Minggu malam kita akan pulang ke mansion."


"Kenapa harus Minggu malam mas, besok kan kita bisa pulang ke mansion?" Tentu saja Kinan harus waspada, gimana kalau pas suaminya kerja, wanita itu datang kesini dan mencelakainya. Kalau hanya keselamatan Kinan sendiri, masih bisa dia melindungi diri. Tapi sekarang keadaannya berbeda, di dalam perutnya ada calon anaknya yang harus dia lindungi.


"Mas tahu kalau kamu masih pengen tinggal di apartemen ini. Jadi kita genapin aja satu Minggu. Nanti mas akan minta beberapa pengawal untuk berjaga dibawah. Asal kamu nggak keluar apartemen sendirian, semuanya akan aman sayang!"


Kinan hanya bisa mengangguk. Apa yang bisa dia lakukan selain menuruti suaminya.


"Iya udah, kita tidur yok, udah jam berapa ini. Kita udah kelamaan ceritanya! Kinan pun mengiyakan ucapan suaminya, karena dia juga sudah mulai mengantuk. Kevin memperbaiki posisi tidur sang istri supaya lebih nyaman. Lalu menarik selimut sampai sebatas dada.


"Selamat tidur anak daddy!" Kevin mengecup perut sang istri, lalu berpindah mengecup kening dan bibir istrinya.


"Selamat tidur sayang! I love you!"


"Hemmm!"


"Rupanya sampai hari ini belum ada balasan. Sabar iya hati, kita tunggu sampai kapan bumil ini membalasnya!" Kevin mengusap-usap dadanya dengan dramatis.

__ADS_1


Sementara Kinan yang sudah memejamkan matanya, tersenyum kecil. Bukan Kinan tidak mencintai suaminya, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


__ADS_2