Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 101


__ADS_3

Kinan yang sedang asik memasak nasi goreng di dapur, tiba - tiba dipeluk oleh sang suami dari belakang. Tangan suaminya langsung mendarat di perut besarnya.


"Selamat pagi, sayang!" Kevin mengecup pipi Kinan, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri.


"Selamat pagi mas!" Sahut Kinan, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan yang ada didepannya.


"Masak apa sih sayang, wanginya kecium sampai ke kamar?"


"Masak nasi goreng saja kok!" Kinan matikan kompor karena masakannya sudah jadi.


"Eh, sini biar mas saja!" Kinan yang mau memindahkan nasi goreng ke mangkuk, menghentikan gerakannya, begitu mendengar ucapan sang suami.


"Memangnya mas bisa?"


"Bisalah, tinggal masukin saja kan?" Kevin mengambil mangkuk dari tangan sang istri. Lalu mengambil posisi di depan wajan dan mulai memindahkan nasi goreng yang ada di wajan ke mangkuk yang dia pegang.


"Gimana, mas bisa kan?" Kevin tersenyum, setelah menyelesaikan tugasnya. Lalu membawanya ke meja makan.


Anak kecil pun bisa kali, wong tinggal mindahin doang.


Tapi Kinan tetap bertepuk tangan kecil, untuk mengapresiasi usaha sang suami. Dia tidak mau mematahkan semangat sang suami yang membantunya, meski hanya hal ringan saja.


"Eh, mas belum mandi iya?" Kinan baru sadar kalau sang suami masih mengenakan piyama. Membuat Kevin cengar - cengir.


"Mas sengaja sayang! Mas pengen mandi bareng! Masaknya sudah selesai kan, jadi tidak ada alasan untuk menolak." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Kevin menggendong sang istri ala bridal. Sementara Kinan hanya bisa pasrah, saat sang suami menggendongnya.

__ADS_1


"Aku berat iya mas?" Ujar Kinan sembari mengalungkan tangannya ke leher sang suami, supaya tidak jatuh.


"Kata siapa? Malah ringan kayak kapas!"


"Bohong banget sih!" Kinan mengerucutkan bibirnya.


"Awas saja kalau nanti nyampe di kamar, mas mengeluh encok!"


"Tidak akan, sayang!" Meski sedikit kesusahan, Kevin melangkah dengan hati - hati, apalagi saat melewati tangga. Tidak lama keduanya tiba dikamar, Kevin langsung membawa sang istri menuju kamar mandi. Kevin menurunkan sang istri di depan bathtube, lalu mengisi bathtube. Setelah airnya cukup dan menuangkan sabun, keduanya masuk kedalam bathtube.


Tidak butuh waktu lama, kini Kevin dan Kinan sudah rapi dengan pakaian masing - masing. Kevin dengan stelan kerjanya, sementara Kinan dengan daster rumahan. Keduanya turun ke bawah untuk sarapan.


"Sepertinya ada yang datang mas?" Ujar Kinan, ketika mereka tiba dibawah, terdengar bunyi bell.


"Biar mas yang buka!" Kevin berjalan kearah pintu, Kevin mendengus kala terlihat dimonitor wajah Al. Begitu pintu terbuka, Al langsung masuk. Sebenarnya Al juga tahu kode pintu apartemen Kevin, karena dia sudah biasa keluar, masuk apartemen ini. Tapi semenjak Kinan ada disini, Al tidak mau asal masuk begitu saja. Al tidak mau melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat, kalau dia asal masuk seperti biasa. Makanya Al memencet bell, menunggu di bukakan pintu dari dalam.


"Wah, kejam sekali ucapanmu itu adik ipar. Aku sedih... juga sakit hati!" Al memegang dadanya, seolah - olah sakit hati benaran. "Padahal, aku kesini hanya untuk memenuhi undangan adikku, kalau bukan permintaan adikku, aku tidak akan sarapan disini. Tapi sepertinya suaminya tidak menerima kedatanganku. Kalau begitu aku sarapan di luar saja iya, Kinan." Dengan wajah pura - pura sedih, Al berjalan kembali menuju pintu.


Sementara Kevin memutar bola matanya malas. Lalu Kevin mengajak sang istri ke meja makan, tidak mempedulikan Al. Lain dengan Kinan yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya dan Al. Karena sudah sering bersama, Kinan sudah tahu kalau keduanya hanya bercanda. Makanya dia diam saja.


"Mas duduk saja, aku mau buat kopi untuk mas!" Ucap Kinan saat keduanya sudah tiba di meja makan.


"Perlu bantuan nggak?"


"Nggak usah!" Kinan berlalu tempat pembuatan kopi. Tidak sampai lima menit, Kinan sudah membawa nampan berisi tiga gelas minuman, dua gelas kopi dan segelas susu.

__ADS_1


"Kok, kopinya dua sayang?" Kevin yang tadinya sudah duduk, menghampiri sang istri dan mengambil alih nampan dari tangan sang istri.


"Satunya untuk kak Al, mas!" Kinan menunjuk Al yang baru datang dengan dagunya. Membuat Kevin berbalik, lalu mendengus.


"Katanya tadi mau pulang, kok malah nongol lagi?" Setelah meletakkan nampan di atas meja, Kevin menarik kursi untuk sang istri. Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, dia duduk di tempatnya sebelumnya.


"Aku tidak tega meninggalkan kalian berdua. Jadi daripada kalian kesepian, aku memutuskan untuk menemani kalian sarapan. Lagian Kinan sudah masak banyak, jadi daripada mubajir, mending aku ikut makan." Al juga duduk tepat di depan Kevin.


"Ck, Alasan!"


"Mas!" Al tersenyum penuh kemenangan. Kalau Kinan sudah bicara, Kevin tidak akan bisa berkutik. Setelahnya ketiganya sarapan dalam diam, hingga tidak butuh waktu lama sarapan telah selesai.


Selesai sarapan, Kinan mengantar Kevin sampai ke depan pintu.


"Daddy berangkat kerja dulu iya nak. Kalian jangan bandel, jangan buat mommy susah!" Kevin mengecup perut besar sang istri beberapa kali. Setelahnya beralih pada sang istri.


"Mas berangkat iya, jaga diri dirumah, jangan capek - capek!" Kevin mengecup kening dan bibir sang istri kilat.


Membuat Kinan mengerucutkan bibirnya. Suaminya selalu mengulang kalimat itu, berkali - kali. Padahal, Kinan nggak ada capek sama sekali.


"Hati - hati iya mas!"


"Hemmm!"


Setelah suaminya pergi, Kinan masuk. Seperti inilah rutinitas Kinan beberapa hari ini, selama tinggal di apartemen. Memasak sarapan dan mengantar sang suami kerja. Kinan hanya diperbolehkan untuk bagian memasak saja. Baik masak pagi, siang dan malam. Selain itu tidak ada, karena jam sembilan nanti, akan ada pekerja yang datang untuk membersihkan apartemen. Meski sudah Kinan minta untuk mengerjakan sendiri, dan mengatakan apa bedanya tinggal di apartemen dan di mansion kalau dia hanya memasak.

__ADS_1


Tapi sang suami pun tetap pada pendiriannya, tidak mau membuat sang istri capek, untuk membersihkan apartemen sebesar ini. Apalagi dengan perutnya yang sudah semakin besar. Kevin hanya memperbolehkan Kinan untuk memasak. Selebihnya, Kevin memanggil seorang pekerja harian untuk bersih - bersih dan mengerjakan yang lainnya. Dan Kinan hanya bisa pasrah, dengan pengaturan sang suami.


Sembari menunggu pekerja datang, Kinan duduk diruang keluarga sambil membaca buku. Sudah ada beberapa tumpukan buku diatas meja. Buku - buku ini dia ambil dari perpustakaan mini sang suami yang ada dilantai dua. Entah kenapa Kinan tertarik dengan buku bisnis, padahal mommy mertuanya sudah mengirimkan beberapa buku tentang melahirkan dan mengasuh anak. Tapi dia hanya membaca sekilas, dan lebih memilih membaca buku bisnis sang suami. Apa nanti kedua anakku akan mengikuti daddynya terjun ke dunia bisnis, pikirnya.


__ADS_2