
Menjelang sore hari, Jessica tiba dipinggiran kota, di tempat di mana Kesya di sekap. Betapa terkejutnya Jessica, begitu dia tiba disana. Gimana tidak terkejut, Kesya sudah tidak ada, dan yang lebih parahnya, kedua laki-laki yang menjaga Kesya sudah terkapar tidak berdaya dilantai.
"Bre*****! Bangun woi....!"
Jessica menendang satu persatu, tapi keduanya tidak ada yang bangun. Lalu Jessica berjongkok dan mendekatkan jarinya ke hidung keduanya secara bergantian. Keduanya masih bernafas.
"Katanya profesional, menghadapi satu wanita saja tidak bisa!" Gerutu Jessica, sambil menendang mereka kembali untuk mengeluarkan kekesalannya.
Merasa rencananya gagal, Jessica berniat untuk meninggalkan tempat itu. Jessica berharap kalau Kesya belum memberitahukan semuanya pada Kevin. Kalau sampai itu terjadi, Jessica tidak akan bisa lagi untuk mengelak. Karena itu, Jessica bergegas meninggalkan tempat itu, tanpa mempedulikan kedua orang suruhannya itu.
Jessica melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, besar harapan dia menemukan Kesya di jalan. Jessica yakin, kalau Kesya masih ada disekitar tempat ini. Bukan tanpa alasan, Jessica berpikir kalau Kesya masih disekitar sini. Karena tidak ada rumah tempat persembunyiannya. Tempat ini memang seperti kebun yang terbengkalai, hingga tidak ada rumah disekitarnya. Butuh waktu hampir dua jam dari tempat ini ke pemukiman warga.
Tapi sepanjang jalan yang dilewati oleh Jessica, Kesya tidak terlihat. Membuatnya semakin kesal.
"Beruntung bayaran mereka belum semua aku transfer. Kalau tidak, akan sia-sia uangku melayang begitu saja tanpa ada hasilnya. Ck, dasar tidak berguna. Masa dua laki-laki bisa kalah sama satu wanita saja. Malah babak belur lagi! Hebat juga wanita itu bisa melawan dua laki-laki. Padahal kalau diperhatikan, istrinya Kevin itu terlihat biasa saja. Tak tahunya...." Jessica masih saja menggerutu karena rencananya tidak berhasil.
Jessica sangat yakin kalau Kesya yang menghajar kedua laki-laki itu. Karena kalau polisi atau orang suruhan Kevin yang datang, kedua laki-laki itu tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Jadi sudah pasti itu ulah Kesya. Jessica masih tidak habis pikir dengan orang suruhannya yang bisa dengan mudah dikalahkan oleh seorang wanita polos dan lemah.
Tanpa Jessica tahu, kalau Kesya bukan orang lemah seperti yang terlihat. Karena sejak kecil baik Kesya juga Kinan sudah belajar bela diri. Karena tangan dan kakinya diikat saja, sehingga Kesya tidak bisa berbuat apa-apa sebelumnya. Tapi ketika ikatannya sudah lepas, tentu saja Kesya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Dan seperti inilah hasilnya, kedua laki-laki itu tumbang ditangan Kesya. Meski Kesya pun terluka karena kena goresan pisau.
Berhubung Jessica tidak menemukan Kesya di sepanjang jalan, Jessica menambah laju kecepatan mobilnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya, Kinan dan yang lainnya belum juga mendapatkan kabar mengenai Kesya. Tapi satu hal yang pasti, kalau Kesya benar-benar diculik. Dari mana mereka tahu? Tentu saja setelah dilakukan pencarian.
Awalnya orang-orang Kevin yang mencari Kesya, hampir menemui jalan buntu karena tidak ada jejak Kesya dimana pun. Terakhir Kesya terlihat di CCTV kampus, waktu Kesya pulang kuliah pas malam hari. Dan bisa dipastikan kalau Kesya berjalan menuju halte, karena kearah sana memang tidak bisa terjangkau CCTV.
Tapi setelah dilakukan pencarian ulang kembali, mulai dari pagi hari saat Kesya meninggalkan mansion, disitulah mereka tahu, kalau ada orang misterius yang menggunakan motor, mengikuti mobil yang membawa Kesya sampai ke tempat kerjanya.
Mereka juga tahu kalau orang misterius yang mengikutinya itu juga ikut masuk kedalam hotel dan bertanya pada resepsionis hotel. Makanya orang-orang Kevin mengintrogasi resepsionis tersebut. Dan menurut penuturan resepsionis itu, yang ditanyakan adalah tentang Kesya.
Tapi karena flat motor yang digunakan orang misterius itu palsu, hingga menyulitkan mereka melacak orang tersebut.
__ADS_1
Karena sudah dipastikan kalau Kesya diculik itulah yang membuat Kinan bersedih dan menangis semalaman. Memikirkan bagaimana nasib temannya itu diluar sana. Beruntung ada mertuanya dan oma Jeny yang selalu menemani dan menenangkan Kinan.
Sementara di tempat lain.
Kevin yang awalnya tidak percaya kalau teman sang istri diculik, akhirnya percaya setelah mendapat kabar dari para sahabatnya. Iya, Kevin juga melibatkan ketiga sahabatnya untuk mencari teman sang istri. Sahabatnya itulah yang memberitahu kalau teman sang istri diculik.Tentunya setelah para sahabatnya itu turun tangan melakukan pencarian. Entah apa tujuan orang itu menculik teman istrinya itu. Bukan menghina atau apa, kalau melihat latar belakang wanita itu yang bukan anak orang kaya atau pejabat penting, Kevin sungguh bingung apa motif penculikan itu.
Terlintas dipikiran Kevin kalau yang menculik wanita preman itu adalah pacarnya atau mantan pacarnya. Bisa sajakan pacar atau mantannya itu sakit hati, makanya nekad untuk menculiknya, pikirnya. Entah apa yang membuat Kevin tidak suka pada Kesya, bahkan untuk menyebut namanya saja tidak mau.
Karena mendengar kabar penculikan itulah yang membuat Kevin harus meninggalkan Pulau Bali siang ini. Meski bisa dibilang, bukan penculikan itu poin utamanya yang membuat Kevin harus pulang.
Kalau untuk masalah penculikan itu, Kevin sudah menyerahkan semuanya pada para sahabatnya. Kevin percaya para sahabatnya itu, lebih dari mampu dalam menangani kasus seperti ini. Sementara prioritas Kevin, yaitu keadaan sang istri, yang menurut penuturan sang mommy, dari tadi malam istrinya tidak bisa istirahat karena menangis terus. Menangisi temannya yang belum ada kabar. Hingga tubuh sang istri menjadi lemah. Terlihat kejam memang, tapi keadaan istri dan calon anaknya adalah prioritasnya saat ini.
Sebelum Kevin benar-benar meninggalkan Bali, tadi pagi Kevin dan Al harus berjuang keras untuk membereskan semua urusannya disini. Dan untungnya bisa selesai sebelum makan siang. Selebihnya sudah Kevin serahkan pada orang kepercayaannya yang ada disini.
"Sudah waktunya kita berangkat, Vin!" Ucap Al yang baru saja masuk ke salah satu kamar hotel yang ditempati Kevin.
"Hemmm. Semua sudah standby di bandara kan?" Kevin yang lagi duduk disofa, beranjak menghampiri Al.
Setelahnya keduanya keluar dari kamar dan berjalan menuju lift untuk turun kebawah. Tiba di lobby, sudah tersedia mobil yang akan membawa Kevin dan Al ke bandara.
Sementara di kediaman keluarga William.
Kinan yang sedang tidur, membuka matanya karena perutnya terasa sakit.
"Kenapa nak?" Mommy Cella yang sedang menunggui Kinan tidur, merasa heran melihat menantunya sudah bangun. Padahal menantunya baru tidur sebentar. Itupun setelah dipaksa.
"Perutku sakit mom." Kinan meringis, sembari mengusap perutnya. Lalu Kinan mendudukkan tubuhnya di bantu oleh mommy Cella bersandar di kepala ranjang.
"Minum dulu nak!" Oma Jeny dengan sigap memberikan segelas air. Kinan mengambil gelas dari tangan Oma Jeny dan meneguknya hampir separuh.
"Sakit banget?" Mommy Cella mengusap perut Kinan. "Kalau gitu, kita kerumah sakit aja sekarang."
"Eh, kok sakitnya hilang mom?" Kinan meraba- raba perutnya yang tadi terasa sakit.
__ADS_1
Sementara mommy Cella dan Oma Jeny tanpa sadar berpandangan lalu tersenyum kecil. Memang dari tadi malam, mommy Cella dan Oma Jeny tidak pernah meninggalkan Kinan sendirian dikamar.
"Pasti kamu kontraksi palsu lagi sayang. Ada baiknya kita kerumah sakit, mau itu kontraksi palsu atau nggak, kita tunggu di rumah sakit saja. Akan lebih aman kalau kita kerumah sakit, biar diperiksa sama dokter. Bagaimana menurut mama?" Mommy Cella bertanya pada Oma Jeny.
"Iya, kita kerumah sakit saja. Mau melahirkan sekarang atau besok, kita tunggu saja dirumah sakit. Kita pun bisa tenang kalau ada dokter yang menangani." Ujar Oma Jeny.
Mommy Cella membenarkan ucapan Oma Jeny. Lalu mommy Cella keluar kamar.
"Pak Salman! Minta Pak Sony untuk menyiapkan mobil!" Mommy Cella berteriak dari depan kamar, lalu kembali masuk ke dalam.
"Ayok nak, kita kerumah sakit!" Mommy Cella membantu Kinan turun dari atas ranjang.
"Masih kuat jalan kan? Atau mau di gendong?" Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelahnya ketiganya keluar dari kamar. Mommy Cella dan Oma Jeny menuntun Kinan menuruni tangga.
"Kenapa dengan Kinan, mom? Apa Kinan mau melahirkan?" Daddy Marvin yang mendengar teriakkan istrinya tadi merasa kaget dan berlari kearah tangga.
"Kinan mengeluh sakit perut dad, makanya mau dibawa kerumah sakit!" Ujar mommy Cella.
"Kalau gitu kita harus bergegas!" Daddy Marvin sedikit panik, jangan sampai terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya. Terlebih anaknya, Kevin tidak ada dirumah, jadi daddy Marvin bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan menantu dan calon cucunya.
Kini mereka semua sudah ada didalam mobil. Mommy Cella dan Oma Jeny duduk dibelakang menemani Kinan. Sedangkan daddy Marvin duduk di depan, disamping supir. Travel bag berisi perlengkapan bayi dan ibunya juga sudah dimasukkan di bagasi. Pak Sony melajukan mobil meninggalkan gerbang mansion.
"Kenapa? Sakit iya?" Tanya mommy Cella, begitu merasakan pegangan tangan Kinan pada tangannya sedikit kuat. Kinan yang tiba-tiba merasakan sakit, hanya bisa mengangguk.
"Sabar iya, nak. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Sekarang tarik nafas dan keluarkan secara perlahan." Mommy Cella memberi instruksi, supaya menantunya sedikit tenang. Kinan pun mengikuti instruksi mommy Cella.
Sepanjang sisa perjalanan kerumah sakit, seperti diberikan aba-aba, mereka yang ada di dalam mobil berdoa untuk keselamatan ibu dan bayinya.
"Akhirnya sampai juga dirumah sakit!" Ucap mommy Cella, begitu mobil memasuki area rumah sakit. Mommy Cella mengusap kening Kinan yang sudah dipenuhi oleh keringat akibat menahan sakit.
Mobil berhenti di lobby rumah sakit. Disana sudah standby dokter dan beberapa perawat juga sebuah brankar dorong. Tadi sebelum berangkat, daddy Marvin sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk siap- siap.
__ADS_1