
Saat ini Kevin dan Kinan sedang bersiap - siap untuk makan malam di luar, sekalian belanja untuk bahan makanan selama mereka menginap di apartemen. Tadi siang saat keduanya bersantai, tiba - tiba Kinan meminta Kevin untuk memperpanjang masa menginap mereka di apartemen.
Katanya Kinan pengen merasakan tinggal berdua saja dengan sang suami. Kinan pengen dia sendiri yang menyiapkan kebutuhan sang suami, mulai dari sarapan dan kebutuhan lainnya tanpa bantuan pelayan. Sebenarnya di mansion pun, Kinan juga tiap hari melayani suaminya, kecuali mempersiapkan makanan. Biasanya pelayan yang lebih banyak menyediakannya.
Tapi khusus untuk beberapa hari ke depan, Kinan pengen semuanya dia yang mengerjakannya. Daddy Marvin dan mommy Cella juga sudah setuju, saat Kevin meminta ijin untuk menambah waktu menginap mereka di apartemen.
Kevin yang sudah selesai lebih dulu, memperhatikan sang istri yang lagi dandan. Gaya Kinan dengan jelas memperlihatkan kalau umurnya masih belasan tahun. Kalau tidak karena perutnya yang membesar, orang di luar sana tidak akan tahu kalau Kinan sudah menikah.
"Kenapa mas? Jelek iya?" Kinan yang lagi duduk di meja rias menatap sang suami lewat pantulan cermin. Di kamar ini memang tersedia meja rias, meski diatasnya hanya ada parfum dan perlengkapan suaminya. Beruntung di tas Kinan selalu tersedia alat make up seadanya.
"Nggak kok, cantik malahan!" Kinan pun meneruskan dandanannya, membuat Kevin melihat dirinya sendiri dalam cermin. Dia juga tampan dengan kaos hitam dan celana jens. Entah kenapa tiba - tiba Kevin merasa sedikit tidak pede keluar bersama sang istri malam ini. Sesaat kemudian, Kevin menggelengkan kepalanya, dia berharap tidak ada orang yang berpikiran kalau keduanya kakak beradik.
"Ayok mas, aku udah siap!" Kevin yang terlalu asyik melamun, tidar sadar kalau sang istri sudah berdiri dihadapannya dengan handbag yang warnanya sama dengan baju yang dipakainya. Sekali lagi dia memperhatikan penampilan sang istri mulai dari atas sampai ke bawah. Sang istri memang cantik, walau tanpa make up sekalipun. Tapi kenapa malam ini kecantikan sang istri berkali lipat dari biasanya.
"Harusnya kamu nggak usah dandan sayang!" Kevin memutar tubuh sang istri, hingga dia bisa memeluk sang istri dari belakang.
"Kenapa mas? Nggak cocok iya, atau jelek, atau terlalu tebal? Iya udah, biar aku hapus saja!" Padahal menurut Kinan dandanannya sudah senatural mungkin, tapi kalau menurut sang suami jelek, mending di hapus saja, pikirnya. Kinan mau melepaskan tubuhnya dari pelukan suaminya, tapi malah ditahan oleh sang suami.
"Bukan jelek sayang, tapi kamu cantik banget. Mas nggak mau kalau laki - laki di luar sana ikut mengagumi kecantikan kamu! Kamu itu milik mas, hanya mas yang boleh mengagumi semua yang ada padamu! Makanya kalau keluar nggak perlu dandan, atau kalau bisa pakai bedak pun tak boleh!" Kevin menjatuhkan kepalanya dibahu sang istri.
"Astaga, mas..." Kinan yang tadi mengira kalau dandanannya terlalu menor atau apa, menjadi tersipu mendengar ucapan suaminya. Bisa dia pastikan kalau wajahnya juga sudah merah seperti kepiting rebus.
"Terus nggak jadi keluar nih?" Tanya Kinan, setelah terdiam beberapa saat.
Kevin tidak langsung menjawab, dia malah memutar tubuh istrinya kembali, yang membuat keduanya jadi berhadapan. Tanpa aba - aba, Kevin menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri, yang awalnya ******* dengan lembut berubah menjadi lebih menuntut. Kinan sampai ngos- ngosan saat ciuman keduanya terlepas.
"Manis!"
"Iyalah manis, wong pakai lipglos!" Ketus Kinan, yang kesal dengan tindakan suaminya. Dia selalu kalah, kalau sang suami menciumnya tiba - tiba. Membuat Kevin tergelak.
"Udah biasa, padahal. Tapi kamu tetap tidak bisa mengimbangi mas." Kevin mengusap bibir sang istri yang terlihat membengkak, akibat ulahnya barusan. Dan sedikit merasa bersalah karena membuat bibir sang istri bengkak, padahal mereka mau keluar.
"Habisnya mas nyerangnya tiba - tiba, coba kasih tahu duluan, atau paling tidak kasih kode kek. Jadi aku sudah ada persiapan."
"Bahasamu sayang, memangnya persiapan mau perang. Bagaimana kalau kita ulangi lagi? Sekarang mas kasih kode, supaya kamu ada persiapan untuk mengimbangi mas!" Kevin menaik - turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Modus! Bilang saja mas pengen lagi!" Kinan mengerucutkan bibirnya.
"Ketahuan deh!" Kekeh Kevin.
__ADS_1
"Kita jalan yok, ntar keburu malam!"
"Memangnya kita jadi keluar mas?"
"Jadilah! Masa udah dandan cantik, nggak jadi keluar!"
"Tapi tadi mas bilang....."
"Nggak papa, kita akan berpegangan tangan terus, supaya orang di luar sana tahu, kalau kamu milik mas!" Kinan mengangguk - anggukan kepalanya. Sebelum keduanya keluar kamar, Kinan lebih dulu memperhatikan penampilannya dicermin. Takutnya lipglosnya berantakan akibat ulah suaminya tadi.
"Ini dia yang di tunggu - tunggu, akhirnya muncul juga!" Ujar Al, begitu melihat Kevin dan Kinan yang berjalan mendekati mobil.
"Eh, kak Al ikut juga?" Kinan menatap sang suami meminta penjelasan.
"Al hanya mengantar dan menjemput kita nanti sayang!" Sahut Kevin sembari membuka pintu mobil dan meminta sang istri masuk. Setelah Kevin dan Kinan masuk mobil, Al juga masuk dan duduk dibalik kemudi. Setelahnya dia menjalankan mobil untuk mengantar penumpangnya ke tempat tujuan.
"Ini kan bukan hari kerja mas, kenapa kak Al yang menyetir? Kan bisa mas sendiri yang menyetir, atau nggak kita pesan taksi. Kan kasian kak Al, mas. Kak Al pasti punya kesibukan sendiri, toh ini bukan bagian dari kerjaan kak Al kan?" Ucap Kinan tiba - tiba. Sementara Al tersenyum kecil di depan, dia juga melirik Kevin lewat spion.
"Itu sudah tugas Al, sayang. Jangan tanya kenapa, yang jelas Al tidak boleh membantah!" Kinan yang hendak membuka mulutnya untuk bertanya lebih lanjut, tidak jadi karena mendengar ucapan suaminya.
Setelahnya tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, hingga mobil berhenti didepan sebuah mall. Begitu mobil berhenti, Kevin turun duluan, lalu membantu sang istri turun.
"Terimakasih iya kak Al!"
"Si****. Pergi sana!"
"Mas!" Kinan sudah sering mengingatkan suaminya, supaya tidak berucap kasar atau mengumpat.
"Maaf sayang!" Tanpa mempedulikan Al yang masih meledeknya, Kevin membawa Kinan masuk ke dalam. Seperti ucapannya tadi, Kevin tidak melepaskan genggaman tangan sang istri. Keduanya memilih untuk makan malam lebih dulu di sebuah restoran yang ada di dalam. Selesai makan, keduanya masuk ke supermarket.
"Kita beli apa dulu mas?"
"Kita beli bahan pokok dulu sayang, kan itu yang lebih penting!" Ucap Kevin sembari mendorong troli besar untuk di isi dengan berbagai makanan dan persediaan lainnya, selama mereka di apartemen. Kali ini Kevin dan Kinan pergi tanpa pengawal, sehingga Kevin yang mendorong troli sendiri.
"Astaga mas, harus iya kayak gini jalannya!" Siapa yang tidak kesal, suaminya tidak mau melepas tangannya, padahal suaminya sudah mendorong troli. Kinan tidak habis pikir dengan suaminya yang tiba - tiba posesif seperti ini.
"Biarin saja, nggak ada yang larang juga!" Tidak ingin berdebat lagi, Kinan memilih daging sapi dan ayam juga ikan. Karena mereka sudah tiba di tempat bahan pokok. Tidak lupa dia mengambil beberapa jenis sayuran juga buah - buahan.
"Kita beli cemilan iya mas!" Ucap Kinan, setelah selesai dari bagian makanan mentah.
__ADS_1
"Hemmm!"
"Mas nggak mau pilih!" Kinan sudah memasukkan beberapa cemilan yang dia suka ke troli, sementara suaminya hanya melihat - lihat saja.
"Kamu saja yang pilih sayang, mas ngikut saja!"
"Mas mah gitu, apa - apa ngikut. Memangnya mas nggak punya pilihan sendiri!"
Tidak mau membuat sang istri kesal, Kevin mengambil beberapa cemilan dan memasukkannya ke troli. Dia tidak tahu yang dia ambil itu enak atau nggak, karena dia ngambilnya asal. Membuat Kinan tergelak, dia juga menggelengkan kepalanya saat melihat suaminya sudah mengambil banyak cemilan. Bahkan sudah melebihi dari yang Kinan ambil.
"Cukup mas, kita ke kasir saja!" Kalau Kinan tidak menghentikan suaminya, Kinan yakin semua yang ada di rak itu akan berpindah ke troli. Kevin juga terkejut melihat troli yang sudah menggunung, saking banyaknya cemilan.
"Yakin nggak ada lagi yang ketinggalan sayang?"
"Sudah cukup mas, takutnya kalau kita kelamaan disini, bisa - bisa kita akan buka mini market diapartemen." Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat tahu sang istri meledeknya. Setelahnya Kevin mendorong troli ke kasir.
"Kamu tunggu di kursi depan saja sayang, biar mas yang antri!" Kinan mengangguk dan berlalu dari sana. Hampir lima belas menit Kinan menunggu suaminya. Dengan mendorong troli, keduanya keluar dari dalam mall. Ternyata di depan sudah ada Al yang menunggu, dia mengambil alih troli dari tangan Kevin dan memasukkan semua belanjaan ke bagasi.
"Kak Al tadi darimana, atau kak Al kencan iya?" Celetuk Kinan.
"Nggak Kin, tadi ada urusan sebentar!"
"Al itu kan Jodi, sayang. Mana ada yang mau sama dia!"
"Bukan tidak ada yang mau, tapi aku yang tak ada waktu untuk mencari pasangan. Kan waktuku hanya untuk kamu, adik ipar!"
Kalau tidak ada sang istri disampingnya, Kevin sudah mengumpat pada Al, kalau perlu dia lempar dari dalam mobil ini. Tapi karena ada sang istri, dia harus tahan. Tapi besok di kantor, ingatkan dia untuk membalas, asisten sekaligus sahabat tidak ada akhlaknya ini.
"Mulai besok mas harus kasih kak Al keringanan. Supaya kak Al bisa kencan dengan Kesya, kalau perlu mereka segera menikah." Ujar Kinan santai, tidak tahu kalau ucapan santainya itu membuat Al, sampai terbatuk - batuk karena tersedak ludah sendiri. Beruntung mobil sudah berhenti karena mereka sudah tiba di depan apartemen.
Sementara Kevin tersenyum menyeringai, tidak tahu apa yang dia pikirkan, saat menatap Al. Membuat Al segera keluar dari dalam mobil. Dia meminta dua orang penjaga yang ada disana membawa semua barang belanjaan yang ada di bagasi.
"Terimakasih iya kak Al!"
"Sama - sama Kinan."
"Siap - siap saja, sebentar lagi kamu akan menikah!" Kevin menepuk bahu Al sebelum berlalu dari sana.
"Dasar pasangan aneh!" Al menggelengkan kepalanya melihat pasangan suami - istri itu. Setelah memastikan mobil terkunci, dia juga pergi dari sana. Lebih baik dia istirahat daripada memikirkan ucapan konyol Kevin dan Kinan.
__ADS_1