
Kevin langsung berlari menuju lift, begitu mobil sudah berhenti di lobby apartemen. Sebelum turun dari dalam mobil, Kevin terlebih dulu meminta Al, untuk balik ke kantor. Kevin yang sudah ada di dalam lift merasa kesal lalu menendang pintu lift. Entah kenapa saat ini, menurutnya lift ini bergerak sangat lambat. Hingga membuatnya lama tiba dilantai atas.
Padahal, lift bergerak seperti biasa. Dasarnya Kevin saja yang buru - buru, hingga dia merasa lift bergerak lambat. Begitu lift terbuka karena sudah tiba dilantai paling atas, Kevin kembali berlari menuju pintu apartemennya. Menekan beberapa angka, hingga pintu terbuka.
"Sayang....Mas pulang!" Seru Kevin sambil membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah. Setelahnya Kevin melangkah menuju ruang keluarga. Karena dari arah sana, dia mendengar ada suara, menandakan kalau sang istri ada disana.
Benar saja istrinya ada diruang keluarga bersama mommy Cella dan Oma Jeny. Tanpa menyapa keduanya, Kevin langsung terduduk di dekat kaki Kinan dan menjatuhkan kepalanya di atas paha sang istri. Kepalanya menghadap ke perut besar Kinan.
Tentu saja tindakan sang suami membuat mereka kaget.
"Mas kenapa sih? Mas....." Kinan menyentuh tangan suaminya, memintanya untuk duduk di sofa.
"Biarkan seperti ini sebentar!" Lirih suara Kevin.
Membuat Kinan membiarkan suaminya duduk dibawah. Sembari mengusap - usap kepala sang suami, pandangan Kinan beralih pada mommy Cella dan Oma Jeny.
"Mas Kevin kenapa sih, mom?"
"Mommy juga nggak tahu, sayang. Kita kan dari tadi disini!"
"Siapa tahu Kevin mengalami sesuatu hal atau apa, sebelum kesini. Biarkan saja dulu. Mungkin dia mau menenangkan diri dengan cara seperti itu!" Ujar Oma Jeny.
Sementara Kevin masih diam saja sambil menikmati usupan tangan sang istri di kepalanya. Dengan posisi seperti ini, dia merasa tenang, setelah tadi hatinya serasa campur aduk. Dan penyebabnya adalah, karena pertemuannya dengan wanita masa lalunya tadi di cafe. Setelah beberapa tahun mereka berpisah, ini adalah kali pertama mereka berjumpa.
Bukan karena Kevin masih mencintai wanita itu, tapi lebih ke kaget saja. Kevin pikir, setelah apa yang dilakukan wanita itu dulu, dia tidak berani untuk menemuinya. Tapi ternyata Kevin salah, justru wanita itu datang kembali. Dan yang membuatnya tidak habis pikir, wanita itu datang dengan rasa percaya dirinya yang tinggi mengatakan kalau wanita itu masih mencintainya. Dan wanita itu juga percaya kalau Kevin masih mencintainya. Hingga wanita itu dengan bangga menawarkan hubungan mereka yang dulu putus untuk disambung kembali.
Kalau pun Kevin belum memiliki istri saat ini, Kevin tidak akan mau kembali pada wanita itu. Cukup sudah kebodohannya dulu yang rela melakukan apa saja demi menyenangkan wanita itu. Tidak untuk sekarang, apalagi dia sudah punya seseorang. Hati dan pikirannya sudah diisi oleh sang istri dan calon anaknya. Yang harus Kevin lakukan saat ini adalah memastikan keamanan sang istri. Seperti ucapan sahabatnya tadi, yang kemungkinan wanita itu akan mencari tahu siapa istrinya. Jangan sampai wanita itu menyentuh istri dan calon anaknya.
__ADS_1
Setelah hampir lima belas menit Kevin dengan posisi seperti itu, Kevin duduk disamping Kinan. Dan langsung menciumi seluruh bagian wajah sang istri. Tidak peduli, kalau bukan hanya mereka berdua yang ada disana. Setelahnya Kevin membawa sang istri kepelukannya dan menciumi puncak kepala sang istri.
Kinan mencoba menghentikan ulah suaminya. Tentu saja Kinan malu pada mommy Cella juga Oma Jeny. Tapi tenaganya kalah dengan tenaga suaminya. Hingga akhirnya, Kinan pasrah. Tidak tahu semerah apa wajahnya sekarang karena ulah suaminya yang asal nyosor saja, tanpa melihat situasi.
Sementara mommy Cella yang geram dengan ulah sang anak, melempar bantal sofa ke punggung Kevin.
"Apaan sih, mom?" Gerutu Kevin, sembari mengambil bantal yang jatuh dibawah kakinya, setelah lebih dulu mengenai punggungnya.
"Apa! Apa! Kamu nggak lihat, ada mommy sama Oma disini. Mommy tahu, kalian itu suami istri, jadi bebas mau melakukan apa. Tapi lihat dulu situasinya, jangan asal nyosor. Tadi saja, datang - datang, sudah seperti anak ayam kehilangan induk. Tapi setelahnya...."
"Bilang saja mommy iri kan?"
"Ngapain mommy iri?" Mommy Cella mengerutkan keningnya.
"Irilah, secara daddy nggak pernah bersikap romantis, kayak yang aku lakukan barusan!"
Kevin yang mau membalas ucapan sang mommy, menelan kembali kata - katanya saat merasakan usapan lembut di lengannya. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan sang istri.
Kevin menatap sang istri, gelengan kepala sang istri menandakan kalau dia harus menghentikan perdebatannya dengan sang mommy. Kevin menarik nafas dalam, lalu menyandarkan punggungnya kesadaran sofa.
Sementara mommy Cella tersenyum kecil. Anaknya yang bandel itu sudah punya pawang sekarang. Tapi dasarnya mommy Cella yang senang menggoda sang anak, hingga mommy Cella mengatakan....
"Aku curiga ma, kalau Kevin ini bukan anakku. Takutnya waktu bayi, dia tertukar dirumah sakit!" Ucap mommy Cella pada Oma Jeny.
"Astaga, mom! Masa mommy meragukan anak sendiri sih! Oh, Kinan sayang, hati mas sungguh tercabik - cabik!" Kevin memeluk sang istri dari samping dan menjatuhkan kepalanya di bahu Kinan.
Bukannya bersimpati, Kinan malah terkekeh melihat tingkah suaminya. Kalau orang luar melihat tingkah suaminya saat ini, mungkin mereka akan pingsan. Secara suaminya kalau diluar sana terkenal dingin dan kejam. Kinan sungguh beruntung, karena sifat Kevin yang seperti ini, hanya ditunjukkan di depan keluarganya saja. Bahkan kalau hanya mereka berdua, kadang Kevin bisa berubah menjadi lebih manja dan kekanak - kanakan.
__ADS_1
"Lihat kan ma, kelakuan cucu mama itu!" Kekeh mommy Cella. Oma Jeny hanya tersenyum kecil, dia berdoa semoga keluarga mereka dilimpahi kebahagiaan.
"Oh iya, tadi kamu kenapa, nak? Ada masalah dikantor?" Mommy Cella bertanya serius, karena merasa penasaran dengan sikap anaknya tadi.
"Tidak ada apa - apa kok, mom!" Kevin menyahut tanpa melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Kalau tidak ada apa - apa, kenapa kamu bersikap aneh?"
"Aneh gimana sih, mom? Aku hanya merindukan istriku saja!" Kevin melepaskan pelukannya setelah mengecup pipi sang istri.
"Elehhh, gayamu nak. Baru berapa jam kamu pergi, sudah bilang rindu!"
"Mau berapa jam kek, menit kek. Kalau rindu mau diapain. Udah aku bilang tadi, kalau mommy itu iri kan, karena daddy tidak pernah merindukan mommy? Nantilah, aku telpon daddy!"
"Ngapain kamu telpon daddy?"
"Nggak ngapa - ngapain, telpon saja!" Kekeh Kevin.
"Dasar anak kurang asem!" Mommy Cella kembali melempar anaknya dengan bantal sofa, yang ditangkap dengan sigap oleh Kevin.
"Hati - hati mom, gimana kalau tadi bantalnya mengenai istriku! Kamu tidak kena kan, sayang?" Kevin membingkai wajah sang istri lalu menciumnya. Membuat Kinan memukul pelan lengan sang suami.
"Dasar modus! Jelas - jelas bantalnya kamu tangkap!" Omel mommy Cella.
Kevin pun terkekeh. Entah kenapa dia sekarang suka berdebat dengan sang mommy. Padahal, dulu dia tidak pernah seperti ini. Tapi semenjak kehadiran sang istri, mengubah segalanya. Dulu hidupnya selalu monoton, tahunya hanya kerja dan kerja. Tidak ada waktu bersantai dan berkumpul dengan orang tuanya. Meskipun Kevin pulang ke mansion, tapi mereka jarang ngobrol santai. Kevin selalu sibuk diruang kerjanya.
Tapi semenjak kehadiran sang istri, hidupnya jadi lebih berwarna. Selain ada yang melayani dan memperhatikannya, hubungan Kevin dan orang tuanya juga semakin dekat. Bahkan sekarang ini, dia selalu berdebat dengan sang mommy, walau dengan hal sepele sekalipun. Hal yang dulu tidak pernah terjadi. Dan itu menjadi hiburan tersendiri untuknya.
__ADS_1