
Kini mereka berempat telah dalam perjalanan pulang. Tadi habis belanja ke empatnya menyempatkan waktu untuk menonton di bioskop yang ada di mall itu. Dan sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan malam lebih dulu.
"Kak Al, jangan lupa ngantar Kesya pulang iya. Antar dia sampai ke depan rumah, kak Al tidak boleh membiarkan teman cantikku itu masuk gang sendirian. Lagian belanjaan Kesya juga banyak, nggak mungkin dia bisa bawa sendirian!" Ucap Kinan dari kursi belakang.
"Baik nona, saya akan mengantar nona Kesya sampai ke depan rumahnya." Al melirik Kesya yang duduk di sampingnya.
"Udah berapa kali sih aku bilang panggil nama saja. Anggap saja aku sebagai adik kak Al!"
"Mas yang tidak setuju kalau Al jadi kakakmu, sayang!" Ujar Kevin tiba - tiba.
"Kenapa mas?"
"Kalau Al jadi kakakmu, berarti dia kakak ipar mas dong. Jadi asisten saja dia berani membantah mas, apalagi kalau jadi ipar? Yang ada dia akan semakin besar kepala nanti."
"Mas nggak boleh ngomong kayak gitu, kak Al baik kok. Mungkin mas yang bersikap tidak baik pada bawahan mas. Makanya kalau jadi bos itu harus bersikap baik pada semua bawahannya, jangan mentang - mentang jadi bos seenaknya main perintah saja!" Diam - diam Al tersenyum mendengar perdebatan Kevin dan Kinan.
"Kok kamu jadi belain Al sih, sayang?"
"Mas mau tidur di luar?"
"Iya, iya! Dikit - dikit ngancam, dikit - dikit ngancam. Lihat mommy kalian nak, mommy marahin daddy. Kalian juga harus marahin mommy balik iya!" Kevin malah mengadu pada calon anaknya dengan mengusap perut sang istri.
"Iya seperti itu, kalau perlu tendang dengan kuat, supaya mommy juga tahu kalau kalian juga bisa marah, karena tidak terima daddy di marahin sama mommy kalian!" Kevin semakin semangat mengadu, saat calon anaknya merespon. Membuat Kinan terkikik geli dengan celotehan suaminya. Kinan masih sering kaget dengan tendangan calon anaknya, meskipun dia sudah mencoba terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
Sementara Kesya yang duduk di depan cukup kaget melihat tingkah Kevin. Dia tidak menyangka Kevin yang dia kenal dingin dan kejam langsung berubah saat bersama Kinan. Melihat kebersamaan mereka seharian ini, Kesya bisa menarik sedikit kesimpulan kalau sikap dingin Kevin akan berubah jika berhadapan dengan Kinan. Bagaimana Kevin yang selalu memperhatikan Kinan, dan mengalah juga berbicara dengan lembut pada Kinan. Terlebih saat ini, cara Kevin yang mengadu pada calon anaknya. Kinan benar - benar takjub melihatnya. Sebenarnya dia pengen menoleh ke belakang, tapi dia tidak seberani itu kalau bertatapan langsung dengan Kevin. Kesya harus bisa menjaga sikapnya, biar bagaimanapun, Kevin adalah atasannya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat parkir apartemen Kevin. Al dan Kesya juga ikut turun dari mobil. Sebelum berlalu, Kinan tidak lupa untuk mengingatkan Al....
"Kak Al jangan lupa iya memastikan Kesya tiba dirumah dengan selamat. Kak Al nggak mau kan kalau calon istri kak Al ini diculik orang!" Ucap Kinan dengan santai sembari menepuk bahu Kesya. Membuat Al yang berdiri di samping mobil tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Kinan. Sementara Kesya hampir mengumpati teman jahilnya itu. Tapi umpatan itu dia telan kembali karena ada Kevin di sana. Jangan sampai dia kena hajar Kevin, karena telah mengumpat pada Kinan. Tapi Kesya berjanji akan menghukum ibu hamil yang malah cengar - cengir itu, karena sudah ngomong sembarangan. Dan tentunya kalau Kevin tidak ada di sampingnya.
"Ayok naik, kalian harus segera istirahat!" Kevin tidak mau istrinya mengoceh kemana - mana. Karena itu dia harus segera membawa istrinya pergi.
"Tunggu bentar mas, aku harus mengingatkan kak Al untuk bersikap baik pada calon istrinya."
"Nona Kesya bukan calon istri saya nona!"
"Panggil nama saja kak Al, apa kak Al nggak mau punya adik seperti aku?" Wajah Kinan terlihat sendu, membuat Al gelagapan. Kevin yang melihat sang istri bersedih menatap tajam Al.
"Gitu dong kak Al." Kinan malah bertepuk tangan sambil tersenyum senang. Wajahnya yang terlihat sedih tadi sudah hilang entah kemana.
Membuat ketiga orang yang disana menggelengkan kepalanya. Mereka sungguh heran melihat tingkah ajaib ibu hamil itu. Yang bisa sebentar sedih dan dalam sekejap sudah tertawa lagi.
"Lebih baik kita masuk sekarang, tidak baik ibu hamil kelamaan di luar." Kinan mengangguk, karena dia juga sudah mulai kelelahan.
"Terimakasih iya Kin, untuk hari ini. Terimakasih juga sudah traktir belanjaanku tadi!" Ucap Kesya sembari cipika - cipiki dengan Kinan.
"Sama - sama Kin. Ngomong - ngomong kamu nggak mau bilang makasih sama mas Kevin. Kan kita pakai kartu dari mas Kevin tadi!" Kinan menaik - turunkan alisnya menggoda Kesya. Membuat Kesya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak tuan Kevin, karena hari ini saya ikut mendapat traktiran dari anda!" Kesya menundukkan kepalanya.
"Hemmm, tapi itu tidak gratis. Gajimu akan dipotong untuk beberapa bulan kedepan." Ujar Kevin dengan wajah serius.
"Apa! Seru Kinan dan Kesya serempak.
"Maaf, maaf saja iya tuan Kevin yang terhormat. Berhubung semua belanjaan saya masih ada di dalam mobil!" Kesya menunjuk bagasi mobil dengan dagunya.
"Saya kembalikan saja semuanya pada anda. Kalau untuk makan dan juga tiket bioskop tadi saya akan bayar setelah saya gajian!" Yang benar saja, harga satu baju yang dia beli tadi saja ada beberapa yang melebihi gajinya satu bulan. Apa kabar kalau semua belanjaannya tadi di bayar dengan potong gaji. Sampai satu tahun takkan lunas, kalau sampai potong gaji, mau makan apa nanti dia. Belum bayar uang kuliah dan biaya lainnya. Jadi jalan terbaiknya adalah mengembalikan semuanya, pikir Kesya. Dia nggak mau semua uangnya habis untuk membayar semua belanjaannya tadi. Meski Kesya suka sama semua belanjaannya tadi, tapi dia harus berpikir untuk kedepannya gimana. Dia tidak bisa kenyang dan uang kuliah lunas dengan memiliki barang - barang mahal itu.
"Iya sudah, kalau kamu nggak mau bayar."
"Mas!" Kinan yang tahu suaminya hanya bercanda, mencubit pinggang suaminya.
"Awww! Sakit sayang!" Kevin meringis merasakan cubitan pedas sang istri.
"Lagian mas ada - ada saja minta Kesya bayarin semuanya. Udah Sya, kamu nggak usah dengarin omongan mas Kevin. Mas Kevin hanya bercanda." Kinan nggak mau membuat temannya itu ketakutan karena diminta potong gaji.
"Loh, siapa yang bercanda sayang? Mas serius kok, kalau dia mau bayar silahkan...
Tapi....Kalau nggak mau juga nggak papa. Ayok masuk, kita sudah kelamaan disini!" Tanpa menunggu jawaban istrinya, Kevin sudah menggandeng tangan Kinan untuk meninggalkan area parkir.
Kevin dan Kinan berjalan menuju lift yang akan membawa mereka kelantai paling atas. Hanya beberapa detik keduanya telah sampai dilantai atas. Setelah keluar dari lift, Kinan berdiri mematung di depan lift, saat melihat hanya ada satu pintu dilantai itu. Apa satu lantai ini punya mas Kevin sendiri, pikirnya.
__ADS_1