Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 93


__ADS_3

Kini kandungan Kinan sudah menginjak usia tujuh bulan. Kurang - lebih dua bulan lagi, mereka akan bertemu dengan kedua buah hati mereka. Iya, Kinan mengandung bayi kembar. Sebenarnya Kinan sudah tahu, saat dia periksa sendiri ke dokter, waktu mertua dan Oma Jeny liburan ke luar negeri. Tapi Kinan sengaja tidak memberitahu semuanya. Meski Kinan harus berbohong pada mommy Cella, karena beberapa kali mommy Cella bertanya, apakah Kinan mengandung bayi kembar atau bukan. Karena baik mommy Cella dan Oma curiga dengan ukuran perut Kinan yang lebih besar dari ukuran ibu hamil biasanya. Tapi Kinan selalu menjawab tidak, dia beralasan kalau dia banyak makan juga kuat ngemil, makanya dia terlihat lebih gemuk. Entah mereka percaya atau tidak, tapi habis itu baik mommy Cella maupun Oma tidak pernah lagi menanyakan hal itu.


Barulah tadi mereka semua tahu, kalau Kinan mengandung bayi kembar. Karena baru saja mereka dari rumah sakit, untuk memeriksa kandungannya. Betapa bahagianya mertuanya akan mendapatkan cucu langsung dua sekaligus. Terlebih Oma Jeny, dia tidak kalah bahagianya dengan mertuanya, bahkan Oma Jeny sempat menitikkan air mata, karena terharu.


Begitu juga dengan Kevin, dia tidak menyangka anaknya kembar. Berkali-kali dia memeluk dan mencium sang istri untuk mengucapkan rasa terimakasihnya. Kini Kevin dan Kinan sudah ada dimobil, dengan Al yang mengemudi. Sementara kedua orang tuanya juga Oma Jeny, pulang dengan mobil yang lain.


Kevin dan Kinan tidak langsung pulang, keduanya sudah ijin pada keluarganya, untuk jalan - jalan. Bukan hanya ijin jalan - jalan, keduanya bahkan sudah ijin kalau malam ini Kevin dan Kinan akan menginap di apartemen Kevin. Entah kenapa sang istri dari kemarin meminta menginap diapartemennya. Karena mommy Cella mengatakan kalau sang istri kemungkinan mengidam, maka Kevin tidak bisa membantah. Jadilah malam ini keduanya menginap disana. Dan kebetulan hari ini weekend. Tapi sebelum itu, keduanya memilih untuk jalan - jalan lebih dulu.


Mobil sudah memasuki area parkir sebuah mall ternama yang ada di ibukota. Setelah mobil berhenti, Kevin turun lebih dulu, lalu dia mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri keluar. Dengan senang hati, Kinan menerima uluran tangan suaminya.


Keduanya berjalan sembari bergandengan tangan. Tidak ketinggalan Al yang mengikuti dari belakang. Terlihat sekali kalau ini lagi weekend, banyak orang lalu lalang di dalam mall.


"Sebenarnya kita mau ngapain sih kesini mas?" Kinan bertanya pada suaminya saat mereka memasuki mall.


"Kok ngapain sih, Ay? Tentu saja belanja, nggak mungkin kan kalau kita ke mall untuk tidur!"


"Isshhh!" Kinan mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban suaminya.


"Itu bibir mau di cium iya?" Kinan yang merasa kesal hingga dia memukul pelan lengan suaminya.


"Hari ini kamu bebas mau belanja apa saja. Mau beli baju, tas, sepatu atau apapun itu terserah!"


"Mau belanja baju apa lagi sih mas? Bahkan baju - baju yang dirumah saja sudah tak terhitung jumlahnya. Aku sampai bingung mau pakai kemana saking banyaknya. Mommy kalau bawa baju dari butik tidak tangung - tanggung jumlahnya. Belum lagi kalau lagi jalan ke mall kayak gini. Selalu ada baju yang dibeli!" Kinan sampai heran melihat ibu mertuanya yang selalu meminta orang butik setiap Minggu, untuk mengantar baju untuknya. Belum lagi kalau ada model baju yang lagi musim, pasti tidak lama model baju yang lagi musim itu sudah ada dilemarinya. Mentang - mentang punya butik sendiri, pikirnya.


"Maaf iya sayang, harusnya sedari awal mas yang menyediakan semua kebutuhan kamu. Termasuk untuk menyiapkan pakaian dan juga yang lainnya. Ini, malah mommy yang mengambil alih." Kevin merasa bersalah karena dari awal tidak memperhatikan istrinya. Hingga sang mommy yang turun tangan untuk menyediakan semua kebutuhan sang istri.

__ADS_1


Kevin juga udah sering meminta sang mommy untuk menghentikan kebiasaannya yang selalu menambah koleksi baju - baju sang istri. Biar sekarang sampai seterusnya hal seperti itu menjadi urusannya. Tapi jawaban sang mommy malah bikin dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sang mommy selalu menjawab 'Kamu jangan larang kesenangan mommy yang membelikan seberapa banyak baju yang mommy berikan pada putri mommy. Kalau kamu merasa cemburu karena mommy selalu memenuhi isi lemari pakaian istrimu, kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Kalau perlu tambah lemari lagi dikamar kalian. Itu saja dibikin repot'. Kalau sudah seperti itu, Kevin mau berbuat apa?


"Awal - awalkan mas jahat!" Celutuk Kinan, membuat Kevin tersadar dari ingatannya tentang ucapan sang mommy tempo hari, saat dia meminta sang mommy untuk menghentikan kebiasaannya itu.


"Eh, maaf mas!" Kinan menundukkan kepalanya.


Dasar mulut, kenapa pula sampai keceplosan sih? Tapi memang benar kan, kalau diawal mas Kevin jahat dan dingin.


Kevin menarik nafas dalam. "Mas nggak marah kok sayang. Justru mas minta maaf karena tidak memperhatikan kamu diawal kita menikah! Hingga mommy yang dari awal menyediakan semuanya, jadi sulit untuk dihentikan hingga saat ini."


"Baiklah, Kinan akan memborong banyak hari ini. Siap - siap saja dompet mas bolong hari ini!" Kinan sengaja melakukan itu supaya suaminya tidak berkecil hati karena sang suami kalah cepat dari mommy Cella yang selalu tahu apa yang Kinan butuhkan.


"Kalau kamu memindahkan isi yang ada didalam mall ini pun, mas lebih dari sanggup untuk membayarnya!"


"Sombong!"


"Iyakan sajalah, daripada bengkak!"


"Kamu nggak percaya kalau mas bisa membeli semua yang ada di mall ini?"


"Percaya kok! Oh iya, gimana kalau kita ajak Kesya untuk datang kesini mas? Biar dia juga ikut belanja, ntar habis belanja kita nonton. Lagian biar ada pasangan kak Al, mas. Apa mas nggak kasihan melihat kak Al sendirian?" Kinan melirik Al yang ada dibelakang.


Kenapa jadi bawa - bawa saya nona. Lihat suami anda itu, tersenyum meledek saya.


"Hubungin saja sayang, syukur - syukur keduanya cocok, supaya Al tidak jadi Jodi lagi. Kasihan dia menjadi obat nyamuk terus!" Kevin tersenyum licik pada Al.

__ADS_1


Al mendengus kala Kevin ikut - ikutan meledeknya. "Bukannya kamu yang menyita waktuku hampir dua puluh empat jam. Coba kamu kasih waktu longgar, atau kasih aku libur, paling tidak satu Minggu, aku pasti bisa mendapat pacar. Kalau perlu dua sekaligus." Tentu saja Al tidak mau kalah dari sahabat sekaligus bosnya itu.


"Kamu mau libur satu Minggu?" Dengan semangat, Al menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mulai Senin nanti kamu tidak usah berangkat, aku kasih kamu libur!"


"Serius?"


"Iya, habis itu kamu nggak usah berangkat ke kantor lagi untuk selamanya!"


"Itu bukan dikasih libur, tapi di pe - cat!" Al sampai menekan kalimat terakhirnya.


"Aku baik hati kan, kamu minta seminggu, tapi dengan suka rela, aku kasih selamanya! Harusnya kamu berterima kasih padaku!"


"Kenapa kalian berdua jadi ribut. Lebih baik kita cari tempat duduk sembari menunggu Kesya." Kinan yang sudah selesai menghubungi Kesya, menghentikan perdebatan Kevin dan Al.


"Sudah menghubungi temanmu itu?


"Hemmm. Mas nggak boleh marah - marah sama kak Al. Kalau nggak ada kak Al, pasti mas kerepotan mengurus pekerjaan mas kan?" Al yang mendapat pembelaan dari Kinan, menepuk dadanya sembari tersenyum penuh kemenangan.


Membuat Kevin menatapnya dengan tatapan tajam. "Nggak usah bela Al, sayang. Nanti Al bisa besar kepala!"


"Mas!"


"Iya, iya!"

__ADS_1


Sembari menunggu Kesya, ketiganya memilih masuk ke coffee shop.


__ADS_2