Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 118


__ADS_3

Sementara diruangan yang berbeda.


Kinan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dan pagi ini diruangan itu sudah ramai dengan kedatangan keluarga William. Tadi malam, tidak lama setelah Kinan melahirkan bayi kembarnya, kedua mertuanya juga Oma Jeny memang pulang ke mansion. Mereka bertiga hanya sebentar melihat bayi kembar itu, sesaat sebelum di bawa perawat ke ruangan bayi. Bahkan untuk menyapa Kinan pun tidak sempat, karena dokter membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk melakukan observasi pada Kinan. Makanya pagi ini mereka bertiga kembali ke rumah sakit, sekalian membawa makanan untuk Kevin dan juga Kinan.


Dan disinilah mereka sekarang. Mengerumuni boks bayi berukuran besar itu.


"Mereka benar-benar mirip dengan Kevin dad. Mommy seperti melihat Kevin waktu bayi." Mommy Cella bahkan berjongkok dengan berpegangan ke pinggiran boks bayi, agar bisa menyentuh kedua cucunya. Sebelah tangannya bergantian mengelus kepala kedua bayi kembar itu.


"Mommy benar, keduanya persis seperti Kevin, sangat tampan." Daddy Marvin ikut menimpali.


"Kalau ngomongin tampan, Kevin kalah dad. Kedua cucu kita ini, melebihi ketampanan Kevin. Benarkan ma?" Mommy Cella meminta pendapat Oma Jeny.


Oma Jeny hanya tersenyum menanggapi ucapan menantunya. Oma Jeny masih sibuk memperhatikan kedua cicitnya. Ucapan syukur terucap dalam hati, karena masih bisa menimang cicit. Dan berharap bisa menyaksikan tumbuh kembang cicitnya sampai cicitnya dewasa nanti.


Jika keluarganya sibuk memperhatikan kedua bayi mungil itu, Kevin juga punya kesibukan sendiri. Saat ini posisi Kinan, sedang duduk di tempat tidur sambil bersandar. Kinan baru saja menyusui kedua bayinya, sesaat sebelum mertuanya datang. Tanpa mempedulikan keberadaan keluarganya di ujung sana, Kevin sibuk mengecup semua bagian wajah istrinya, tanpa ada rasa bosan. Itu Kevin lakukan sebagai ungkapan, betapa bahagianya Kevin saat ini.


"Mas, hentikan!" Kinan mencoba mendorong tubuh suaminya. Tentu saja Kinan malu, kalau sampai mertuanya melihat apa yang dilakukan suaminya.


"Mas terlalu bahagia, sayang. Terimakasih sayang, terimakasih. Dengan memberikan semua apa yang mas punya untukmu, dan sebanyak apapun ucapan terimakasih yang mas ucapkan, tidak akan sebanding dengan perjuanganmu untuk melahirkan anak kita sayang. Rela bertaruh nyawa, hidup dan mati, untuk melahirkan kedua bayi kita." Kevin mencuri kecupan dibibir istrinya kilat.


"Mas sangat, sangat mencintaimu. Maafkan mas yang tidak bisa melakukan apapun dikala kamu merasa kesakitan." Mata Kevin berkaca-kaca, suaranya juga terdengar serak, Kevin mengusap sudut matanya yang berair.


Kinan tersenyum kecil. Senyuman yang diiringi dengan linangan air mata haru. Kinan tidak menyangka, kalau suaminya akan sebahagia ini menyambut kelahiran kedua bayinya.


"I love you, sayang!" Kevin menggenggam jemari Kinan lalu mengecupnya mesra.


"Hemmm...."


"Masih hem, hem aja sayang? Mas pikir, dengan kelahiran anak kita, mas akan mendengar tiga kata itu keluar dari mulutmu. Ternyata....."


Kinan hanya tersenyum kecil, sembari mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Oh iya, ini pasti sakit kan mas?" Kinan merasa bersalah, melihat kedua lengan suaminya yang mulus itu sudah ternoda karena ulahnya. Dengan pelan, Kinan mengusap bekas gigitannya yang ada di lengan sang suami. Selain bekas gigitan, bekas tancapan kukunya pun banyak di kedua lengan suaminya. Kukunya tidak ada satupun yang panjang, padahal. Gimana kalau kukunya panjang, bisa habis lengan suaminya. Kinan tidak menyangka, sekuat itu dia mencengkeram lengan suaminya tadi malam.


"Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan rasa sakit yang kamu rasakan sayang. Apalagi kalau kamu menjawab ungkapan mas tadi, pasti rasa sakitnya langsung hilang." Kevin menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. Kevin sengaja menggoda istrinya, untuk mengalihkan perhatian sang istri yang tertuju pada kedua lengannya. Kevin tidak mau, sang istri merasa bersalah dan bersedih dengan luka yang ada dilengannya.


"Ayok dong sayang, mas masih menunggu lho."


"Benaran nih, mas mau dengar?" Kekeh Kinan.

__ADS_1


"Pake nanya lagi." Kevin mengerucutkan bibirnya.


"Sebenarnya mau aku bilang sekarang mas, tapi kayaknya harus ditunda dulu." Kinan menunjuk ke belakang Kevin dengan dagunya. Membuat Kevin berbalik, Kevin mendengus melihat orang tuanya mendekat. Mengganggu saja, pikirnya. Tapi saat ingat akan satu hal, Kevin langsung beranjak dari duduknya dan....


Hap


"Ini anak kenapa sih, malah gelendotan kayak gini sama mommy?" Tanya mommy Cella yang kaget melihat tingkah anaknya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Iya, begitu mommy Cella mendekat, Kevin langsung memeluk sang mommy dari belakang.


"Kamu kenapa nak?" Mommy Cella mengusap tangan sang anak yang melingkar di perutnya.


"Tidak papa mom, pengen meluk mommy saja." Kevin semakin mengeratkan pelukannya pada wanita yang melahirkannya itu.


Mommy Cella menatap Kinan, seolah bertanya 'ada apa dengan Kevin'. Kinan yang tidak tahu apa-apa, hanya menggendikkan bahunya.


"Sudah menjadi seorang ayah juga, masih saja manja. Harusnya yang kamu peluk itu, istrimu, yang sudah rela bertaruh nyawa melahirkan kedua anakmu." Ujar daddy Marvin, sambil mendekati Kinan.


"Selamat iya nak. Terimakasih sudah memberikan cucu untuk keluarga ini." Daddy Marvin mencium puncak kepala Kinan. Yang diikuti oleh Oma Jeny.


"Terimakasih sudah memberikan dua cicit sekaligus untuk Oma, nak." Oma Jeny memeluk Kinan dengan sayang.


"Lepas dong nak, mommy juga mau memberikan selamat pada menantu mommy." Mommy Cella bahkan memukul tangan Kevin yang masih melingkar di perutnya. Mommy Cella juga menggoyangkan badannya, supaya pelukan sang anak lepas. Tapi dalam sekejap, mommy Cella langsung menghentikan gerakannya, begitu mendengar...


Bukan tanpa alasan Kevin mengatakan itu. Dari awal, saat melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan bayinya, Kevin langsung teringat dengan sang mommy. Belum lagi saat tengah malam tadi, dimana Kinan harus bangun untuk menyusui bayinya.


Pasti sang mommy juga melakukan hal yang sama waktu dia masih bayi. Kevin yang merasa belum memberikan yang terbaik pada sang mommy, bahkan tak jarang melawan omongan sang mommy. Tiba-tiba merasa bersalah dan sedih. Kesuksesannya saat ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan sang mommy, waktu melahirkannya ke dunia ini, juga merawat dan membesarkannya sampai seperti ini. Pasti tidak mudah menjalani semuanya.


Mulai saat ini Kevin berjanji pada dirinya sendiri, kalau Kevin akan berubah menjadi lebih baik lagi. Membanggakan orang tuanya, terlebih sang mommy. Juga akan menjaga dan melindungi istri dan anak-anaknya dari hal apapun. Nyawa pun akan dia pertaruhkan untuk keluarganya kelak.


"Kenapa tiba-tiba? Atau karena melihat perjuangan istrimu?" Merasa pelukan Kevin sudah longgar, mommy Cella membalikkan tubuhnya, sehingga berhadapan dengan Kevin.


Mommy Cella memandang wajah sang anak. Terlihat mata Kevin berkaca-kaca. Mommy Cella mengangkat kedua tangannya untuk membingkai wajah sang anak.


"Sudah kondrat wanita mengandung dan melahirkan nak. Termasuk merasakan sakit waktu melahirkan. Tapi percayalah, semua kesakitan itu akan hilang, begitu mendengar pertama kali suara tangisan anak.


Karena kamu sudah tahu betapa sakit dan beratnya yang dirasakan oleh wanita, dalam melahirkan, mulai saat ini jangan pernah menyakiti atau mempermainkan perasaan wanita. Bukan maksud mommy kamu harus menyayangi semua wanita dalam arti yang.... Pasti kamu pahamkan maksud mommy?" Mommy Cella menarik nafas dalam, lalu melanjutkan kembali.


"Karena itu hormati dan sayangilah istrimu, seperti kamu menghormati dan menyayangi mommy nak. Bukan hanya tugas istri yang harus menghormati suaminya, tapi sebaliknya juga. Suami istri itu harus saling menghormati. Bahkan kalau pun kamu lebih menghormati istrimu, itu tidak masalah bagi mommy, karena istrimulah yang akan menemanimu sampai tua nanti.

__ADS_1


Kamu juga tidak akan di bilang anak durhaka, kalau kamu lebih mengutamakan istri dan anak-anakmu, sejauh kamu memenuhi kewajibanmu pada orang tua. Tapi saat ini kan ada daddy yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan mommy, mommy saja sampai bingung menghabiskan uang pemberian daddymu. Jadi kamu tidak punya kewajiban untuk menafkahi mommy, karena masih ada daddy. Tapi kalau kamu mau menambah uang jajan mommy, mommy tidak akan menolak tentunya." Kekeh mommy Cella.


"Sekarang kamu sudah sah menjadi ayah. Tugas dan tanggung jawabmu akan bertambah. Tinggalkan kebiasaan buruk, karena itu bisa berpengaruh pada kedua anakmu. Sudah ah, mommy haus, kelamaan pidato!" Mommy Cella sengaja menyudahi nasehatnya. Bukan apa, Mommy Cella tidak sanggup melihat anaknya yang sudah bercucuran air mata. Meski mommy Cella sudah sengaja menyelipkan candaan, tapi anaknya tetap aja menangis. Mommy Cella pun memeluk sang anak, hingga membuatnya ikut menitikkan air mata. Terlebih mommy Cella merasakan tubuh sang anak semakin bergetar.


Mommy Cella tidak menyangka anaknya akan seemosional ini. Sepertinya kelahiran kedua cucunya membuat Kevin semakin dewasa. Dan mommy Cella yakin, anak dan menantunya bisa membimbing dan memberikan yang terbaik untuk cucu-cucunya kelak.


Kinan yang melihatnya pun ikut menitikkan air mata. Begitu juga dengan daddy Marvin dan Oma Jeny yang sudah duduk disofa, ikut terharu. Mata mereka pun berkaca-kaca. Tapi karena merasa situasi ini tidak baik untuk kesehatan mata, daddy Marvin beranjak dari duduknya menghampiri mommy Cella dan Kevin yang masih berpelukan.


"Sudah, sudah. Kenapa jadi nangis? Harusnya kita senang menyambut kelahiran si kembar. Kamu juga, Vin. Apa nggak malu sama istrimu? Sudah jadi orang tua, malah cengeng." Daddy Marvin mengejek sang anak, sembari menepuk-nepuk bahunya. Padahal, mata daddy Marvin pun berkaca-kaca.


Mommy Cella pun melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Kevin sedikit lama. Setelahnya, mommy Cella menghampiri Kinan. Sementara Kevin memeluk sang daddy. Tidak lupa, Kevin juga menghampiri Oma Jeny dan memeluknya.


"Selamat, sudah menjadi seorang ibu, nak. Kehadiranmu dan kedua cucu mommy, semakin menambah kebahagiaan untuk keluarga William." Mommy Cella memeluk Kinan.


"Terimakasih juga untuk mommy dan yang lainnya, yang sudah menerimaku masuk dalam keluarga ini, mom." Kinan membalas pelukan mommy Cella.


🌹🌹🌹


"Oh iya, apa sudah ada kabar tentang Kesya mas?" Saat ini, Kevin sedang menyuapi Kinan dengan potongan buah yang dibawa oleh mommy Cella. Sedangkan mommy Cella dan yang lainnya membawa si kembar berjemur di balkon yang ada di sudut ruang perawatan Kinan.


"Sudah! Wanita preman itu lagi istirahat di ruangan sebelah. Nanti mas minta dia datang ke sini.


"Benaran mas?" Mata Kinan terlihat berbinar.


"Hemmm, ayok buka mulutmu!" Kevin menusukkan potongan buah yang ada di piring yang dia pegang dengan garpu, lalu menyuapi istrinya, lagi dan lagi. Sesekali Kevin juga menyuap untuk dirinya sendiri.


"Syukurlah! Tapi Kesya baik-baik saja kan mas. Tidak terjadi apa-apa kan padanya?" Kinan bertanya beruntun, sambil mengunyah buah yang ada di mulutnya.


"Memangnya mau terjadi apa, pada wanita preman itu!" Tadi malam, saat ngobrol diruangan sebelah dengan para sahabatnya, Kevin sudah melihat Kesya, setelah dokter selesai menjahit luka di lengan teman istrinya itu. Kevin sengaja tidak memberitahu keadaan yang sebenarnya, karena kalau Kevin kasih tahu, Kevin yakin sang istri akan langsung mendatangi temannya itu saat ini juga. Dan Kevin tidak menginginkan itu. Kevin ingin istrinya benar-benar pulih dulu, baru bisa keluar dari ruangan ini.


"Kesya bukan preman!" Dengan kesal, Kinan memukul pelan lengan suaminya.


"Kenapa sih mas, selalu bilang kalau Kesya wanita preman? Nanti aku minta Kesya untuk menghajar mas, baru tahu rasa."


"Mas nggak takut. Lagian mana berani dia sama mas!" Kevin menyimpan piring yang sudah kosong, dan memberikan segelas air putih pada sang istri.


"Yakin nih, mas nggak takut?" Kinan menaik turunkan alisnya, menggoda sang suami.


"Baiklah, kalau mas nggak takut, nanti aku minta Kesya untuk mengeluarkan dua atau tiga jurus untuk mas." Kekeh Kinan.

__ADS_1


"Sudah, nggak usah bahas temanmu itu lagi. Sekarang waktunya kamu istirahat." Kevin membantu Kinan untuk berbaring. Istrinya harus banyak istirahat, mumpung ada keluarganya yang menunggui kedua bayinya, selain perawat tentunya.


Kevin menarik tirai untuk menutupi seluruh area tempat tidur. Dia juga pengen istirahat. Tadi malam dia juga ikut kebangun, saat istrinya bangun untuk menyusui kedua bayinya.


__ADS_2