
Kesya masih mematung didepan ruangan Kevin.Tadi Kesya dipanggil atasannya, dia diminta untuk menemui tuan Kevin. Kesya sudah bertanya pada atasannya, kenapa dia di panggil kesana, tapi atasannya pun tidak memberikan informasi apa pun. Karena atasannya sendiri pun tidak tahu, kenapa Kesya dipanggil. Dia hanya diminta untuk memberitahukan kepada Kesya, kalau dia dipanggil tuan Kevin dan diminta untuk datang keruangannya.
Dan disini lah Kesya sekarang. Sudah beberapa menit dia berdiri disana. Tapi dia belum mengetuk pintu. Kesya masih menerka - nerka, kesalahan apa yang dia lakukan, sampai dia harus berhadapan dengan tuan Kevin. Namun, setelah dia ingat - ingat, dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Dia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Selalu datang tepat waktu, tidak pernah terlambat. Kesya juga pulang kerja, setelah jam kerja selesai. Dia tidak pernah pulang kerja sebelum waktu jam kerjanya habis. Jadi apa yang membuat tuan Kevin memanggilnya. Atau ada hubungannya dengan Kinan.
Dengan cepat, Kesya mengambil ponselnya dari saku bajunya, tidak ada panggilan apa pun dari Kinan. Berarti Kinan baik - baik saja, seandainya terjadi sesuatu pada Kinan, pasti dia sudah dihubungi. Terus kenapa dia dipanggil keruangan tuan Kevin?
Apa jangan-jangan aku mau dipecat.Tapi kenapa?
Supaya Kesya tidak semakin penasaran, dia harus secepatnya masuk kedalam.Kesya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Dia tidak boleh takut, apa pun yang akan terjadi di dalam, dia harus menghadapinya. Setelah merasa tenang, dan juga memperbaiki penampilannya dia pun mengetuk pintu.
Tok.....tok....tok
"Silahkan masuk, nona." Ucap Al, ketika Al sudah membuka pintu. Al menggeser badannya kesamping, supaya Kesya bisa masuk. Setelah Kesya masuk, Al menutup pintu kembali.
Kesya melihat sekeliling, dia merasa kagum, melihat ruangan tuan Kevin yang cukup mewah. Ini pertama kalinya dia masuk keruangan ini. Tidak sembarangan orang membersihkan ruangan ini, ada orang yang ditugaskan khusus untuk membersihkannya. Pandangannya beralih kearah tuan Kevin yang duduk bersandar disofa, dengan mengangkat kedua kakinya keatas meja. Kesya langsung menundukkan kepalanya,saat menatap kearah tuan Kevin, ternyata tuan Kevin juga sedang menatapnya. Kesya tidak berani melihat tuan Kevin yang menatapnya dengan tatapan matanya yang tajam. Ternyata keberaniannya langsung hilang entah kemana, saat ditatap seperti itu. Pada hal sebelum masuk tadi, Kesya sudah mengumpulkan keberaniannya untuk berhadapan dengan tuan Kevin.
Kenapa lihatnya seperti itu. Sudah seperti mau makan orang saja.Kesya
"Siapa namamu?" Tanya Kevin datar.
"Kesya tuan."
"Apa kamu tahu, kenapa aku memanggilmu?"
Mana aku tahu, untuk apa tuan memanggilku kesini.
__ADS_1
Kesya menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, tuan."
"Apa kamu tahu, kalau kamu sudah melakukan kesalahan!"
Kesya memberanikan diri menatap wajah tuan Kevin. "Setahu saya, saya tidak pernah melakukan kesalahan, tuan. Saya selalu mengerjakan pekerjaan saya dengan baik, tuan. Saya juga datang tepat waktu." Sahut Kesya tegas.
"Coba kamu ingat - ingat, apa yang pernah kamu lakukan pada wajah tampanku ini." Ucap Kevin dengan percaya diri, sembari memegang wajahnya.
"Saya tidak per....." Kesya tidak melanjutkan ucapannya, saat ingat sesuatu.
Barusan tuan Kevin bilang wajah. Jangan bilang dia mau balas dendam. Licik sekali, dia menggunakan kekuasaannya untuk balas dendam. Aku melakukan itu kan diluar, bukan ditempat kerja.
"Kenapa diam? Sudah ingat apa kesalahanmu?"
"Terserah aku. Aku yang punya tempat ini. Jadi aku berhak melakukan apa saja disini. Termasuk memecat kamu saat ini juga." Sahut Kevin ketus.
"Saya tidak takut, kalau anda memecat saya tuan. Tinggal saya sebarkan diluar sana, kalau tuan Kevin Chandra William, yang sangat dikagumi banyak orang, tidak bisa bersikap profesional. Yang telah memecat seorang karyawan wanita,yang lemah dan tidak bersalah, tanpa sebab." Wahhh.... keberanian Kesya semakin bertambah ternyata.
Kenapa jadi aku yang terpojok sih. Berani juga dia menantang ku. Aku tidak boleh kalah dari gadis ini.Kevin
Hanya kamu yang berani menantang tuan Kevin, nona. Aku mendukungmu, nona. Jangan mau kalah sama tuan Kevin.Al
Al yang berdiri dibelakang Kevin, tersenyum. Dia salut melihat keberanian Kesya, dan dia patut diacungi jempol.
"Sebarkan saja, aku tidak takut. Tapi sebelum pemecatan terjadi, kamu harus membersihkan seluruh ruangan ini. Aku tidak mau melihat ada debu sedikit pun, disetiap sudut. Waktumu hanya lima belas menit, untuk mengerjakannya. Lebih dari lima belas menit, tugas yang lain sudah menantimu. Dan kamu tidak boleh membantah, karena kamu masih terikat kerja sampai saat ini. Kalau kamu membantah, kamu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dimana pun. Dan satu hal lagi, kamu ngak mau kan, kalau kamu dikeluarkan dari kampus?" Kevin tersenyum penuh kemenangan, melihat wajah kaget Kesya.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi, cepat ambil peralatanmu. Waktu terus berjalan, jangan sampai, waktunya sudah habis, tapi kamu belum selesai mengerjakannya.
Tanpa permisi, Kesya langsung keluar dari ruangan tersebut. Bahkan saat dia keluar, dia menutup pintu dengan kuat.
"Aku tahu yang punya hotel ini dia, tapi dia ngak boleh seenaknya seperti itu dong. Kan sudah ada orang yang ditugaskan untuk membersihkan ruangannya. Mana waktunya cuma lima belas menit. Memangnya aku robot,bisa kerja secepat itu. Aku tidak mungkin menghajarnya, karena ini masih diarea kerja. Tapi lihat saja nanti saat diluar, aku akan membalasnya." Sepanjang jalan, Kesya menggerutu, mengeluarkan unek-uneknya.
Sementara diruangan Kevin.
Kevin tidak bisa menahan tawanya.Dia tertawa terbahak - bahak, karena melihat wajah Kesya yang ketakutan, saat dia mengatakan akan dikeluarkan dari kampus. Pada hal, dia tidak mungkin sekejam itu. Kevin hanya berniat memberikan sedikit pembalasan, karena waktu itu Kesya sudah berani memberikan stempel pada wajah tampannya.
"Jadi gara - gara ingin balas dendam, kamu memanggilnya kesini, Vin." Tanya Al, yang sudah duduk didepan Kevin.
"Hemmmmm......."
"Kejadiannya kan sudah lama, kenapa baru sekarang kamu, mengerjainya?"
"Sebenarnya aku sudah lupa, tapi berhubung tadi malam aku melihatnya dirumah, aku jadi ingat belum membalas perbuatannya waktu itu."
"Tapi gadis itu cukup berani untuk berdebat denganmu. Gimana kalau nanti, saat diluar, gadis itu membalasmu kembali. Bisa sajakan, dia menghajarmu lebih dari yang kemarin."
"Tidak mungkin dia berani. Kamu tidak lihat tadi, saat aku menyinggung kampus, dia langsung ketakutan."
"Gimana kalau gadis itu mengadukanmu pada nona Kinan?"
Kevin mencerna ucapan, Al. Benar juga, gimana kalau dia mengadukannya pada istrinya. Dan membuat istrinya marah dan mendiamkannya. Sementara hubungan mereka berdua baru saja berbaikan dan memulai kembali. Tapi kalau seandainya istrinya marah, Kevin sudah punya caranya untuk membujuk istrinya.
__ADS_1