
Kini mobil yang membawa mommy Cella dan Kinan sudah berhenti di lobby perusahaan. Keduanya turun, setelah salah satu pengawal membuka pintu. Keduanya berjalan menuju kedalam yang diikuti dengan dua orang pengawal membawakan semua bekal.
"Selamat siang, nyonya!" Sapa dua orang resepsionis yang melihat kedatangan nyonya William.
"Selamat siang." Jawab mommy Cella ramah. Sambil melanjutkan langkahnya menuju lift. Sementara Kinan hanya mengangguk dan tersenyum. Dia sedikit grogi saat resepsionis itu memperhatikan Kinan.
"Siapa ya gadis yang datang bersama nyonya William itu? Ngak biasanya nyonya William datang dengan seorang gadis?" Tanya seorang resepsionis pada rekannya.
"Keluarganya mungkin, atau bisa jadi gadis itu calon istrinya tuan Kevin." Sahut rekannya santai.
"Calon istri? Tapi kelihatannya gadis tadi lagi hamil. Kamu ngak perhatian tadi, kalau perut gadis itu kelihatan buncit. Belum lagi gaun yang dipakainya, itu kan gaun ibu hamil."
"Berarti gadis tadi istrinya tuan Kevin, dong." Sahutnya asal.
"Bisa jadi. Sudahlah, siapa pun dia, itu bukan urusan kita. Mending kita lanjut kerja. Bisa - bisa kita ketahuan kalau ngegosip saat kerja." Keduanya pun melanjutkan pekerjaannya. Sementara didalam lift.
"Kenapa sayang?" Tanya mommy Cella pada Kinan.
"Kinan takut, mom, dilihatin kayak tadi." Ucap Kinan pelan.
__ADS_1
"Takut kenapa? Biasa saja sayang, kita akan sering - sering kesini. Atau bisa saja kamu sendiri yang berangkat. Tadi masih kedua resepsionis itu yang lihat, tidak banyak orang lalu lalang, karena masih jam kerja. Coba kalau sudah jam istirahat kamu datang, pasti ramai. Mungkin tatapan mereka berbeda - beda saat melihat kamu. Dan bisik - bisik juga pastinya, karena mereka tidak pernah melihat kamu datang kesini."
"Kamu harus berani menatap mereka, jangan menundukkan kepala. Makanya tadi mommy bilang, kamu harus sering mampir kekantor suamimu. Supaya mereka tahu, kamu siapa. Mommy bukan ngajarin kamu untuk bersikap kejam atau apa, sayang. Tapi belajar menjadi seseorang yang angkuh untuk menghadapi orang luar juga perlu. Ini baru lingkungan kantor. Beda lagi kalau kamu jumpa dengan orang diluar sana atau rekan bisnis suamimu. Kamu harus punya mental kuat dan cara untuk menghadapi mereka yang ingin mengambil suamimu."
"Mommy bukan asal ngomong, sayang. Tapi kamu juga tahu, kalau banyak wanita diluar sana yang tergila-gila pada anak mommy. Segala cara mereka lakukan, supaya bisa menjalin hubungan dengan anak mommy. Karena itu, kamu harus punya cara tersendiri untuk menghempaskan wanita - wanita yang mencoba untuk merebut suamimu. Kamu tidak boleh menunduk pada siapapun. Jika kamu merasa, kalau kamu itu benar, maka angkat daguku tinggi - tinggi. Pelan - pelan mommy akan mengajarkannya nanti. Mommy yakin, menantu mommy ini bisa melakukannya." Mommy Cella mengelus bahu menantunya. Sudah beberapa menit mereka keluar dari lift, namun mereka masih berdiri didepan lift, karena keasikan ngobrol. Bahkan beberapa karyawan yang melihat mereka berdiri disana bingung.
Tapi tidak ada yang berani komentar, karena mereka tahu, salah satu yang berdiri itu, Nyonya William, istri dari pemilik perusahaan. Sama seperti resepsionis yang dibawah tadi, karyawan yang ada disana juga memperhatikan Kinan, dan bertanya - tanya, siapa gerangan wanita yang bersama nyonya William tersebut.
"Ayok sayang, kita keruangan daddy. Kita malah keasikan ngobrol. Ini sudah mau jam makan siang." Mommy Cella tersenyum, membuat Kinan juga ikut tersenyum, menyadari kalau mereka masih berdiri didepan lift. Untung tidak ada karyawan yang mau menggunakan liftnya, kalau tidak, mereka pasti akan menghalangi jalan.
"Kita keruangan daddy saja. Disana mejanya lebih besar." Mommy Cella berjalan didepan, diikuti oleh Kinan. Juga dengan dua orang pengawal yang membawa bekal.
"Suami saya ada didalam kan?" Tanya mommy Cella pada sekretaris yang ada didepan ruangan daddy Marvin. Membuat sekretaris itu berdiri dan menundukkan kepalanya.
Mommy Cella membuka pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat Daddy Marvin yang duduk dikursinya kaget. Tapi langsung tersenyum, ketika melihat siapa yang datang.
"Kalian datang?" Daddy Marvin beranjak dari tempat duduknya menghampiri sang istri. Setelah mommy Cella dan Kinan menyalami daddy Marvin, ketiganya duduk disofa. Sementara dua orang pengawal tadi sudah keluar, sesudah meletakkan barang bawaannya diatas meja.
"Mommy sama Kinan mau makan siang disini." Mommy Cella menunjuk beberapa paper bag yang ada diatas meja. "Daddy kasih tahu Kevin, supaya dia datang kesini. Tapi jangan kasih tahu, kalau mommy dan Kinan ada disini. Jangan lupa, Al juga diajak." Ucap mommy Cella, sembari mengeluarkan semua kotak makanan dari paper bag, dan menyusunnya diatas meja. Sementara daddy Marvin menghubungi anaknya supaya datang keruangannya.
__ADS_1
Pintu ruang kerja diketuk dari luar. Tampak Kevin dan Al memasuki ruangan.
"Ada apa daddy memang....." Kevin tidak melanjutkan ucapannya, ketika melihat mommy dan istrinya ada disana.
"Mommy dan istrimu pengen makan siang dikantor. Ayok duduk, kamu juga Al." Sahut daddy Marvin.
"Saya makan diluar saja, tuan." Tentu saja Al merasa sungkan, bergabung dengan mereka. Tentu Al ngak mau mengganggu makan siang kedua pasangan itu.
"Ngak papa, sudah duduk saja. Kayak sama siapa aja." Tambah daddy Marvin lagi. Dengan terpaksa, Al pun ikut duduk, ketika Kevin sudah duduk disamping Kinan. Kevin tidak mengatakan apa-apa lagi, justru tindakannya membuat ketiga orang yang disana tersenyum. Kevin dengan santainya merangkul dan mencium kening istrinya, setelah Kinan menyalami tangannya.
"Lebih baik kita mulai makannya, keburu makanannya dingin." Ujar mommy Cella, membuat Kevin melepaskan rangkulannya. Kevin juga memperhatikan menu makanan yang sudah terhidang diatas meja. Ada ayam lada hitam dan udang yang dia tidak tahu dimasak apa, lengkap dengan lalapan, semua begitu menggugah selera, belum lagi harumnya yang menguar diruangan, sungguh membuat air liur keluar.
Kelima orang itu pun makan dalam keheningan. Al yang tadinya canggung, dengan cepat kembali bersikap biasa, ketika merasakan makanan yang dia makan. Bahkan tanpa disadari keduanya, Al dan Kevin seperti berlomba menghabiskan apa yang ada diatas meja.Sementara baik daddy Marvin dan mommy Cella juga Kinan sudah menyelesaikan makannya. Tinggal Kevin dan Al yang rebutan. Keduanya baru menyadari, tingkah mereka, ketika semua sudah habis tidak ada sisa sedikit pun.
"Kalian lapar, apa gimana?" Ledek mommy Cella. Membuat wajah keduanya merah.
"Mas suka menunya?" Tanya Kinan pada Kevin, sembari memberikan segelas air putih untuk sang suami. Kevin menerima gelas, sesudah dia membersihkan tangannya. Lalu menghabiskan isi gelas tersebut.
"Suka banget malah." Jawab Kevin, sambil mencuri kecup kening Kinan. " Makasih sudah antarin makan siang untuk, mas." Kevin mendekatkan wajahnya, berniat untuk mencuri kecupan dibibir sang istri. Dengan cepat Kinan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kenapa?" Kinan mengkode suaminya, kalau bukan cuma mereka berdua yang ada diruangan ini. "Anggap saja mereka tidak ada." Ucap Kevin santai.
"Kamu itu, Vin. Lihatlah situasi, kasihan Al yang jomblo." Celutuk mommy Cella. Membuat Kevin mengurungkan niatnya. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.