
Karena terlalu asyik dengan lamunannya, Kevin tidak sadar, kalau mobil sudah berhenti didepan kediaman mereka. Bahkan semua belanjaan sudah dibawa masuk sama dua orang pengawal yang ada disana. Bi Surti juga udah turun dari mobil, tinggal Al dan Kevin.
Al menoleh kebelakang, dan tergelak melihat Kevin yang senyum terus. Sepanjang jalan tadi, Al juga beberapa kali melihat Kevin dari kaca spion. Entah apa yang dibayangkan tuannya sampai senyum - senyum sendiri. Apa tuan membayangkan hadiah nanti malam, pikirnya. Karena waktu terus berjalan, Al menepuk kaki Kevin dan berucap.
"Sampai kapan anda disini tuan?"
"Apa yang kamu lakukan Al?" Ketus Kevin, lagi - lagi dia menendang kursi kemudi. Sekali - sekali, ingin dia tendang asisten kurang ajarnya itu ke kutub Utara. Bukan apa, Kevin benaran kaget dengan ulah Al barusan. Kevin mengedarkan pandangannya, ternyata mereka sudah ada didepan rumah.
"Kenapa kamu tidak bilang, kalau kita udah sampai! Kamu benaran mau mati sepertinya ya, Jodi!" Kevin membuka pintu, dan bergegas turun. Dan membantingnya dengan kuat. Al menggelengkan kepalanya.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan." Gerutu Al, dia juga keluar dan berlari mengejar Kevin, yang sudah menghilang dibalik pintu rumah.
Sementara Kevin langsung menuju meja makan, sesuai arahan Pak Salman. Di sana terlihat tiga wanita yang dia sayang. Sepertinya mereka sedang makan jajanan yang dia beli tadi. Kinan yang lebih dulu memperhatikan suaminya datang.
"Kenapa mas lama masuk rumah? Kami bahkan sudah menghabiskan beberapa jajanan yang mas beli."
"Salahkan si Jodi, sayang. Dia tidak kasih tahu mas, kalau sudah sampai rumah." Kevin memberikan kecupan dikepala sang istri.
"Siapa Jodi, mas?"
"Itu...!" Kevin menunjuk Al dengan dagunya. Sementara orang yang ditunjuk mendengus.
"Kamu itu nak, sembarangan aja ganti nama orang." Ujar mommy Cella.
"Terimakasih ya mas, udah beli jajanan ini." Kinan mengangkat tangannya, yang memegang dadar gulung. "Kata bi Surti, mas borong banyak jajanan ya?"
__ADS_1
"Sengaja, Ay. Biar para pelayan dan pengawal kebagian. Pak Salman, tolong bagikan pada yang lain ya!" Ucap Kevin, pada Pak Salman yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Telat kamu, Vin. Udah dibagi dari tadi. Mommy kaget, melihat jajanan sebanyak itu. Mommy hanya mengambil satu piring. Selebihnya mommy kasih Pak Salman, untuk dibagikan dengan yang lain." Ucap mommy Cella. Iya, tadi pas bi Surti datang, dan memberi tahu, kalau Kevin membeli jajanan, mereka langsung ikut kebelakang. Begitu bi Surti membuka jajanannya, mereka kaget melihatnya. Apalagi pas bi Surti kasih tahu, kalau anaknya memborong dagangan tiga orang penjual jajanan sekaligus. Baru sekali anaknya masuk pasar, sudah memborong jajanan. Bukan apa, takut nggak habis aja, kan sayang kebuang. Besok kalau kepasar, apa lagi yang akan diborong anaknya.
"Kalian dari mana sih, Vin. Kok bisa lama datangnya, belanjaan kalian aja udah dari tadi dibawa masuk?" Tanya mommy Cella.
"Tadi tuan Kevin tidur nyonya, pas saya bangunkan malah marah - marah." Bukan Kevin yang menjawab, tapi Al.
"Kok mas marahin kak Al sih, udah baik kak Al bangunin mas."
"Mana ada mas marah, Ay!" Kevin melototkan matanya pada Al.
"Lihat nona muda, tuan Kevin melotot pada saya." Al tidak mau kalah, dia paling senang kalau Kevin dibuat tidak bisa berkutik pada nona mudanya.
"Tidak.....! Eh, maksud mas jangan dibatalkan Ay. Mas janji tidak akan melotot lagi." Bahaya kalau istrinya membatalkan hadiahnya. Urusan Al, akan dia urus nanti.
"Iya udah mas masak sana, Kinan udah lapar, pengen makan masakan mas Kevin."
"Lapar gimana, barusan kamu udah makan jajanan banyak." Dari tadi Kevin juga memperhatikan istrinya yang sudah makan beberapa jajanan. Itu hanya yang dia lihat, gimana kalau ditambah dengan yang tidak dia lihat. Tapi sekarang istrinya bilang lapar, yang benar saja, pikirnya.
"Namanya juga orang hamil, nak. Memang banyak makan. Udah sana masak, udah jam berapa ini." Oma Jeny ikut menyahut.
"Jangan ada yang membantu ya, Pak Salman. Biarkan mas Kevin dan kak Al yang masak. Jalankan saja tugas Pak Salman!"
"Baik nona muda!"
__ADS_1
"Kamu tega, Ay. Masa nggak boleh dibantu, mas kan nggak tahu sama sekali." Kevin memelas, berharap sang istri berubah pikiran. wajah Kevin semakin masam, saat istrinya menggelengkan kepalanya.
"Kata bi Surti, mas sudah melihat Yo***be tadi, secara garis besar, mas udah tahu. Sekarang tinggal prakteknya. Semangat mas, ingat nanti malam." Kinan mengedipkan matanya. Setelahnya Kevin langsung semangat bergegas menuju dapur bersih diikuti oleh Al. Di sana sudah tersedia apa yang mereka beli tadi. Bahkan sudah dibersihkan. Tinggal direbus dan membuat bumbu.
"Silahkan tuan muda, airnya sebentar lagi mendidih. Tuan muda tinggal masukkan sayurnya saja." Ucap bi Surti dan mengambil jarak dari Kevin.
Kevin terdiam sebentar, sembari mengingat apa yang dia tonton tadi. Lalu dia mengambil sayur dan memasukkannya kedalam panci yang berisi air panas. Kalau ini mah, kecil, pikirnya. Dia mengaduk beberapa kali.
"Jangan langsung diangkat tuan, tunggu sebentar lagi. Nona muda lagi hamil, jadi sayurannya harus benar - benar matang." Ucap bi Surti, begitu Kevin mau memasukkan sayuran kedalam saringan.
"Aku bukan mau ngangkat ya, bi. Aku hanya membalik aja." Tetap ya, tuan Kevin tidak mau disalahkan. Membuat Pak Salman yang ada dibelakangnya tergelak. Kevin melirik, dia baru tahu kalau Pak Salman ada dibelakangnya.
"Ngapain Pak Salman disini, pergi sana!"
"Nona muda meminta saya untuk mengambil video anda memasak, tuan!" Pak Salman menunjuk ponselnya.
"Dikit - dikit video, dikit - dikit video!" Kevin menggerutu, lalu dia fokus kemasakannya. Setelah matang satu jenis sayuran, Kevin memasukkan sayuran yang lain. Begitu seterusnya sampai habis. Sesekali dia mengusap peluh yang membanjiri pelepisnya. Setelah itu Kevin menggoreng ayam yang sudah diungkap bi Surti tadi.
"Aduhhh....." Kevin mengaduh, ketika kena percikan minyak. Bi Surti bergegas menghampiri tuannya dan menuntunnya kearah wastafel. Lalu menghidupkan kran dan mengarahkan tangan tuannya dibawah kran air.
"Biar bibi yang melanjutkan, tuan muda istirahat saja."
"Nggak bi, biar aku saja." Tentu saja Kevin tidak mau, nanti dia tidak jadi dapat hadiah. Pak Salman masih setia dengan ponselnya, yang artinya sang istri bisa tahu, kalau bukan dia yang masak.
"Kalau gitu tuan harus hati - hati. Masukin ayamnya pelan - pelan saja." Kevin kembali kedepan kompor dan melanjutkan kegiatannya. Hingga tidak butuh waktu lama, semua sudah selesai, Al yang bertugas menyiapkan bumbu, juga sudah selesai. Hingga beberapa saat kemudian, semua masakan sudah disajikan diatas meja makan. Kini mereka semua sudah kumpul, bahkan daddy Marvin juga ikut bergabung, setelah tadi dihubungi mommy Cella.
__ADS_1