
Kinan mengerjab - ngerjabkan matanya. Setelah kesadarannya terkumpul, tatapannya beralih pada sekelilingnya. Cat yang mendominasi warna putih, Kinan merasa tidak asing dengan tempat ini. Benar, ini adalah kamar hotel tempat.......
Ketika Kinan melihat kebawah, dia tidak mengenakan apapun, selain selimut yang menutupi tubuh polosnya. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya terasa panas, ketika mengingat kejadian tadi malam. Awalnya dia takut, tapi karena perlakuan lembut sang suami, membuat ketakutannya hilang entah kemana. Dia tidak menyangka suaminya bisa memperlakukannya selembut itu. Satu hal yang pasti, dia bisa melawan traumanya, sekaligus memberikan hak suaminya, setelah kurang lebih empat bulan menikah. Kinan masih termenung dalam pikirannya, tapi suara pintu kamar mandi yang terbuka, segera menyadarkannya.
"Kamu sudah bangun?"
Ketika Kinan menolehkan kepalanya kearah pintu, hal pertama yang dia lihat adalah pemandangan seorang pria yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya dan handuk kecil ditangan. Kevin termasuk pria yang memiliki otot perut yang bagus. Semakin dilihat, jantung Kinan semakin berdebar, ditambah dengan wajahnya yang tampan. Hal ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantung Kinan. Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Kinan segera menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
Kevin yang melihat tatapan memuja dari sang istri, membuat dia tersenyum senang. Seakan dia merasa bangga pada tubuhnya. Tidak sia - sia dia yang selalu rajin olahraga. Dia mendekat kearah ranjang dan duduk disisi ranjang, disamping sang istri. Kevin menurunkan selimut yang menutupi wajah sang istri, tetapi istrinya menahannya.
"Kamu bisa sesak nafas nanti!" Ucap Kevin lembut, mencoba menurunkan kembali selimut yang menutupi wajah istrinya. Kinan melepaskan tangannya, tapi dia memejamkan matanya, tidak berani menatap wajah suaminya. Membuat Kevin tersenyum geli, melihat tingkah sang istri. Kevin menundukkan kepalanya dan mencium kening dan bibir istrinya kilat, membuat Kinan refleks membuka matanya. Kinan membelalakkan matanya, ketika melihat tubuh atas suaminya tidak mengenakan apapun.
"Kenapa mas tidak pakai baju?" Tanya Kinan gugup.
"Kenapa kamu malu, Ay? Bagian mana dari tubuh mas yang belum kamu lihat. Tadi malam kamu sudah melihat semuanya kan?" Kevin mengedipkan matanya, menggoda sang istri. Mendengar ucapan suaminya, membuat Kinan semakin malu. Dia ingin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tapi kalah cepat dengan suaminya yang langsung menahan tangannya.
"Kamu kan udah biasa melihat mas telanjang dada, kenapa sekarang harus malu." Memang benar, Kinan udah biasa melihat suaminya habis mandi, yang kadang hanya memakai handuk. Tapi masalahnya, kali ini beda, kinan langsung ingat kejadian tadi malam, ketika melihat suaminya tidak pakai baju. Karena gerakan Kinan, dia tidak sadar, selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot. Hingga memperlihatkan bagian dadanya.
"Kamu mau menggoda mas lagi sayang?" Kevin memandang ke satu titik. Kinan mengikuti arah yang dilihat suaminya, Kinan membelalakkan matanya, ketika bagian atasnya terlihat. Buru - buru Kinan menarik selimut sampai menutupi wajahnya. Kinan sungguh malu, ingin dia sembunyi entah kemana.
Apa tadi katanya, menggoda. Siapa yang mau menggodamu tuan muda. Aku kan ngak sadar kalau ngak pakai baju.
Kinan merutuki kecerobohannya. Tapi tunggu dulu, suaminya memanggilnya 'sayang' kan barusan. Baru kali ini suaminya memanggil seperti itu. Entah kenapa membuat Kinan senang.
"Kenapa kamu menutup wajahmu lagi? Kevin dapat melihat wajah merah istrinya, saat selimut terlepas dari wajahnya. Kevin yang tidak tahan, mencium bibir istrinya kilat.
"Mas......!"
"Kamu mandi gih, habis itu kita sarapan. Kamu pasti sudah lapar kan. Anak kita juga pasti sudah lapar." Kevin mengusap perut istrinya yang tertutup selimut. "Atau mau mas mandikan?" Kevin mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Apaan sih mas!" Sepertinya mulai sekarang, Kinan harus terbiasa menghadapi tingkah suaminya yang sudah berubah menjadi suami mesum.
"Mas......!" Kinan kaget ketika merasakan tubuhnya seperti melayang. Lagi - lagi suaminya menggendongnya. Kinan mengalungkan kedua tangannya dileher sang suami, supaya tidak jatuh.
"Kamu lama, sayang!" Kevin membawa Kinan kekamar mandi. Dia menurunkan istrinya perlahan disamping bathtube. Lalu Kevin mengisinya dengan air hangat. "Mandilah, mas tunggu diluar." Kevin mengusap kepala istrinya, sebelum keluar dari kamar mandi. Begitu suaminya keluar, Kinan menanggalkan selimut yang menutupi tubuh polosnya kelantai lalu masuk kedalam bathtube. Kinan menikmati acara berendamnya. Hingga beberapa saat, dia menyudahi kegiatannya ketika ingat sesuatu. Dia menyambar jubah mandi yang digantung.
Pake apa dong nanti, ngak ada baju ganti. Masa pakai baju tadi malam.
Kinan baru ingat tidak bawa baju ganti. Dia mengikat jubah mandi ditubuhnya dengan kuat, lalu membuka pintu. Dia menyembulkan kepalanya keluar. Dia kaget melihat suaminya ada didekat pintu.
"Mas Kevin bikin kaget aja. Ngapain mas Kevin ada disini?"
"Udah selesai mandinya?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Kevin malah balik bertanya.
"Udah mas. Tapi baju gantinya ngak ada." Kinan masih mempertahankan posisinya, yang hanya menyembulkan kepalanya.
"Minta tolong bawa kesini, mas. Kinan pakai dikamar mandi saja."
"Kenapa harus dikamar mandi. Apa yang mau kamu tutupi. Mas udah lihat semuanya tadi malam." Ucap Kevin santai.
"Kalau mas tidak mau, Kinan dikamar mandi saja terus." Kevin mendengus, tapi tak urung menuruti keinginan istrinya.
"Nih....jangan lama - lama."
"Iya...." Kinan mengambil paper bag dari tangan suaminya dan menutup pintu dengan kuat. Kevin menggelengkan kepalanya. Kenapa harus malu, tadi malam aku udah lihat semuanya, pikirnya. Kevin kembali duduk disofa. Didalam kamar mandi, Kinan melihat tampilannya dicermin. Dia sudah selesai memakai bajunya. Bajunya sih bagus, tapi masalahnya, gimana dia mau menutupi bekas gigitan ****** yang ditinggalkan suaminya. Dia baru menyadari, begitu banyak bekas gigitan disekitar lehernya. Bahkan didagunya juga ada. Dia tidak menyangka suaminya seganas itu tadi malam. Padahal seingatnya, suaminya memperlakukannya dengan lembut, tapi kenapa semua bagian lehernya seperti habis digigit.......
Apa mas Kevin berubah jadi singa tadi malam.
Kinan menggelengkan kepalanya. "Kalau seperti ini, gimana mau keluar." Kinan menggerutu didepan cermin. Sampai dia kaget mendengar gedoran pintu.
__ADS_1
"Kamu ngak papa kan, Ay? Kenapa lama banget mandinya?" Kevin yang menunggu sang istri mandi, merasa heran, karena istrinya tidak keluar dari kamar mandi sudah lebih dari setengah jam. Dia takut terjadi sesuatu sama istrinya. "Kamu dengar mas kan, Ay?" Tidak lama pintu terbuka.
"Kamu tidak papa kan?" Tanya Kevin khawatir, dia memeriksa tubuh istrinya, bahkan dia memutar - mutar tubuh sang istri yang membuat Kinan sedikit pusing.
"Mas Kevin ngapain? Pusing tahu!" Kinan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang." Kevin membawa Kinan kedalam pelukannya. Dia mengusap punggung istrinya dan menciumi puncak kepala sang istri. "Kamu tidak papa kan?" Tanya Kevin, setelah dia melepaskan pelukannya.
"Kinan ngak papa mas."
" Terus kenapa lama dikamar mandi?"
"Nih......" Kinan menunjukkan tanda yang ada dilehernya. Membuat Kevin bernafas lega. Dia pikir istrinya kenapa - napa. Lalu dia tergelak.
"Kok malah ketawa sih mas? Gimana Kinan mau pulang! Kalau ada orang yang lihat kan malu mas!"
"Ngapain malu, biar semua orang tahu, kalau kamu sudah ada yang punya." Kevin membawa Kinan ke arah ranjang dan mendudukkannya disana. Lalu dia mengambil handuk yang melilit dikepala sang istri. Dia mengeringkan rambutnya dengan lembut. Membuat Kinan yang masih mau mengomeli suaminya, terdiam karena merasakan tangan lembut suaminya mengerikan rambutnya.
"Sudah kering, sekarang kita sarapan ya. Nanti mas akan sediakan hair dryer disini sekalian sama meja riasnya juga." Kinan hanya diam saja, dia terlalu terkejut dengan semua sikap sang suami. Kevin menuntun Kinan menuju sofa, disana sudah tersedia sarapan. Ketika sudah duduk disofa, Kinan baru menyadari kalau keadaan kamar sudah rapi. Ranjang yang tadi berantakan dan juga pakaian mereka yang berserakan dilantai sudah tidak ada. Kelopak mawar yang tadi malam pun sudah tidak ada sama sekali.
"Aaaa....." Kevin mendekatkan garpu yang sudah ada potongan roti, kemulut istrinya. Kinan membuka mulutnya, menerima suapan suaminya.
"Terus ini gimana, mas?" Disela - sela makannya, Kinan masih bertanya pada suaminya.
"Ngak akan ada yang lihat, sayang. Seharian ini kita akan disini. Nanti malam baru kita pulang." Tidak lupa Kevin juga menyuapkan kedalam mulutnya.
"Ngapain seharian disini, mas?"
"Mengulang yang tadi malam." Kevin langsung memasukkan makanan kemulut istrinya, ketika istrinya mau protes. Setelahnya, keduanya menghabiskan sarapannya dalam keheningan.
__ADS_1