
Waktu masih menunjukkan jam setengah dua belas malam, saat mata Kinan perlahan terbuka. Tidur ibu hamil itu sedikit terganggu, saat merasakan sapuan halus diwajahnya. Saat menyesuaikan cahaya, matanya terbelalak saat mendapati wajah suaminya hanya berjarak beberapa senti meter dari wajahnya. Bahkan suaminya sedang tersenyum manis.
Iya, Kevin sudah bangun beberapa menit yang lalu. Bahkan dia juga sudah membersihkan diri. Dan sapuan halus yang mengganggu tidur sang istri, adalah ulahnya. Kevin sengaja melakukan itu, selain dia merindukan momen dimana Kevin selalu mengerjai bagian wajah sang istri saat tidur, dia juga pengen istrinya bangun. Dia ingat istrinya belum makan malam, akibat ulahnya yang langsung menyerang sang istri tadi sore.
"Bangun bentar yok, nanti lanjut lagi tidurnya!"
"Tapi aku masih ngantuk, mas!" Suara Kinan terdengar serak khas bangun tidur. Kinan yang mau membelakangi suaminya, tidak jadi karena tangannya ditahan oleh sang suami.
"Mas!"
"Kamu tadi belum makan malam, Ay! Kamu tega membiarkan yang didalam sini kelaparan, hm!" Kevin mengusap perut sang istri. Membuat Kinan mencerna ucapan suaminya. Benar, mereka belum makan malam. Gimana mau makan malam, tadi sore mereka berdua langsung...... Wajah Kinan terasa panas, saat ingat kejadian tadi. Dia memalingkan wajahnya kearah lain, tidak tahu semerah apa wajahnya sekarang.
Kevin tersenyum geli, karena tahu apa yang membuat wajah sang istri memerah. "Kenapa Ay, kamu demam apa gimana?" Kevin menempelkan tangannya ke dada sang istri yang terlihat sedikit, karena selimut yang menutupi tubuh Kinan melorot. Membuat Kinan refleks menepis tangan suaminya.
"Mas modus ih, orang kalau demam yang dicek itu keningnya bukan yang lain. Lagian siapa juga yang demam!" Gerutu Kinan, membuat Kevin tergelak.
"Jangan salah Ay, kalau orang demam itu, bukan hanya kening yang dicek, tapi semuanya. Udah yok, kita makan dulu, mas tahu kamu pasti lapar kan?"
"Hemm, aku mau kekamar mandi dulu mas. Mas mau ngapain?" Tentu saja Kinan kaget saat suaminya bergegas turun dari ranjang dan mengambil posisi mau menggendongnya.
"Katanya mau kekamar mandi, sini biar mas gendong!"
"Nggak usah mas, aku bisa sendiri kok. Mas hadap sana dulu, tapi!" Kinan meminta sang suami berbalik.
"Kenapa?" Kevin mengerutkan keningnya.
"Nggak usah protes!" Meskipun dalam keadaan bingung, tak urung Kevin menuruti permintaan sang istri. Melihat suaminya sudah berbalik, Kinan lebih dulu mengedarkan pandangannya untuk mencari bajunya yang dilempar suaminya tadi, tapi bajunya sudah tidak ada. Kinan pun bergegas turun dari atas ranjang dan melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu berjalan dengan perlahan menuju kamar mandi. Mendengar suara pintu tertutup, Kevin membalikkan badannya. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri. Istrinya masih saja malu - malu, padahal keduanya sudah sering melihat tubuh masing - masing.
Bergegas Kevin menggulung sprei yang sudah berantakan akibat ulah mereka tadi dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Lalu Kevin masuk keruang ganti mengambil sprei dan selimut yang baru.
Saat Kevin merapikan ranjang, karena baru saja selesai memasang sprei yang baru, terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Ini saya tuan muda!"
"Masuk saja Pak!"
Setelah mendengar sahutan dari dalam, Pak Salman membuka pintu dan masuk kamar, diikuti oleh dua orang pelayan yang membawa makanan untuk Kevin dan Kinan. Tadi begitu bangun tidur, Kevin sudah lebih dulu menghubungi Pak Salman untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.
Dua orang pelayan menata makanan diatas meja, setelahnya mereka menganggukkan kepala pada Kevin lalu keluar.
"Masih ada yang anda butuhkan tuan?"
"Tidak ada lagi Pak. Pak Salman bisa istirahat sekarang, maaf sudah mengganggu waktu istirahat Pak Salman."
"Itu sudah menjadi tugas saya tuan. Kalau begitu saya permisi tuan." Setelah menganggukkan kepala, Pak Salman keluar dari kamar dan menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
Tidak lama Kinan keluar dari ruang ganti dengan memakai daster warna hijau muda. Daster yang dia pakai sangat lembut dan nyaman dipakai. Pilihan mommy Cella memang tidak perlu diragukan lagi.
"Kamu mandi Ay?" Kevin menepuk sofa disampingnya, meminta sang istri duduk disana.
"Pakai air hangat kan?" Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Iya udah, kita makan dulu!" Setelahnya keduanya makan dengan Kevin menyuapi sang istri. Hingga beberapa menit keduanya tidar sadar telah menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Sepertinya tenaga keduanya terkuras habis tadi, saat keduanya melakukan kegiatan menyenangkan mereka.
"Sekarang saatnya kamu kasih tahu, pergi kemana beberapa hari ini. Mas hampir gila karena tidak menemukan jejakmu dimana mana!" Kevin langsung bertanya to the point.
"Masih hampir kan, belum gila benaran?" Kinan menaik turunkan alisnya menggoda Kevin.
"Mas serius, Ay?"
"Sabar mas, tunggu makanannya turun dulu!" Kinan tidak mempedulikan wajah masam sang suami, dia menyandarkan punggungnya kesadaran sofa. Membuat Kevin melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat terdiam, Kevin yang sangat penasaran langsung mengatakan
"Sudah kan, sekarang kasih kasih tahu mas, kemana beberapa hari ini?"
__ADS_1
"Mas nggak sabaran banget sih!" Kinan memperbaiki posisi duduknya. "Aku nggak pergi kemana - mana mas?"
"Hah! Maksudnya gimana?" Tentu saja Kevin bingung dengan ucapan sang istri barusan.
"Iya mas. Kami nggak pergi kemana - mana, mas saja yang tidak berusaha mencari kami!" Kinan mengusap perutnya.
"Ini maksudnya gimana sih? Mas nggak ngerti!" Kinan terkekeh melihat raut bingung sang suami.
"Mas serius lho, Ay?" Kevin terlihat kesal, karena bukannya memberitahu, istrinya malah tertawa.
"Mas baru serius, aku duarius malah!"
"Ay!"
Tidak mau membuat suaminya semakin kesal, Kinan menghentikan tawanya. "Memangnya mas cari kemana saja? Masa dengan kekuasaan yang mas punya tidak dapat menemukan kami!" Padahal tanpa Kinan tanya pun, dia sudah tahu kemana saja suaminya melakukan pencarian. Karena mommy Cella selalu melaporkan apa saja yang dilakukan suaminya.
"Semua tempat sudah mas cari, keluar kota bahkan penerbangan keluar negeri mas juga cari. Tapi tidak ada jejakmu dimana mana. Bahkan sampai sekarang orang - orang mas masih tinggal disekitar rumah mu sana untuk memantau kapan kalian pulang. Makanya kasih tahu mas, kemana kalian pergi? Kenapa beberapa hari ini, kalian seperti hilang ditelan bumi!"
"Nggak ah, mas nggak boleh tahu dimana tempatnya. Siapa tahu nanti mas berulah kembali, aku bisa gampang pergi kesana."
Kevin berpindah dari sofa, dia duduk di lantai didepan Kinan. Lalu dia menggenggam kedua tangan Kinan dan menciumnya berkali - kali. "Mas janji tidak akan bertindak bodoh lagi, Ay. Cukup kejadian kemarin yang pertama dan terakhir, mas nggak mau jauh lagi dari kalian!" Kevin beralih mengusap perut sang istri.
"Mas yakin? Eh, mas pindah dulu, jangan duduk disitu!"
"Nggak papa, mas disini saja. Kamu bisa pegang omongan mas, Ay. Mas tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Karena mas sudah merasakan gimana tersiksanya mas, saat jauh dari kalian." Kinan hanya mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Sekarang kasih tahu mas, kemana kalian pergi?"
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" Kinan mengedipkan matanya.
"Ay!" Kevin yang gemas dengan sang istri, menggelitiki istrinya. Membuat istrinya tertawa kegelian. Dia berpindah kembali kesamping sang istri dan menciumi semua bagian wajah istrinya.
__ADS_1
Seperti itulah keduanya menutup malam ini. Kinan masih menambah rasa penasaran sang suami tentang tempat persembunyiannya, paling tidak untuk malam ini.