
Kinan membuka matanya dengan perlahan. Setelah nyawanya terkumpul, dia melirik kesebelahnya, dan ternyata sudah kosong. Menandakan suaminya sudah bangun. "Apa mas Kevin sudah berangkat kekantor," gumamnya. Lalu pandangannya beralih kearah jam, sudah jam setengah tujuh. Berniat untuk melanjutkan tidurnya sebentar lagi, tidak jadi karena mendengar suara.
"Kamu sudah bangun?" Kevin keluar dari ruang ganti, dengan pakaian yang sudah rapi dan berjalan mendekati Kinan.
"Maaf mas, mas Kevin jadi ambil baju sendiri karena Kinan bangun kesiangan."
"Tidak apa-apa, sana mandi. Setelah itu kita turun kebawah." Kevin ingin mengecup bibir Kinan, tapi Kinan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak mau mas cium, itu morning kiss." Ucap Kevin dengan sedikit kesal. Membuat Kinan menggelengkan kepalanya.
"Bukan tidak mau, mas. Tapi Kinan belum gosok gigi."
"Mas tidak perduli." Ucap Kevin dan mendekatkan wajahnya. Tetapi Kinan tetap menutup mulutnya dan menggeleng. "Iya udah sana mandi." Kevin menyerah dan membantu Kinan turun dari ranjang. Sembari menunggu sang istri selesai mandi, Kevin mengambil ponselnya dari atas nakas dan duduk disofa.
Tidak butuh waktu lama, Kinan sudah datang dengan memakai gaun berwarna biru muda, yang melekat indah ditubuhnya.Setelah merapikan penampilannya didepan cermin, Kinan mengajak suaminya turun kebawah.
"Ayok, mas, Kinan sudah siap." Ucap Kinan yang sudah berdiri dihadapan suaminya. Kevin mengalihkan pandangannya dari ponselnya pada Kinan.
"Kok, mas Kevin lihatnya gitu banget sih? Kinan jelek ya pake baju ini?"
"Cantik."
"Terimakasih, mas." Sahut Kinan dengan tersenyum manis.
"Bajunya yang cantik, bukan kamu." Ucap Kevin sambil berlalu menuju nakas dan mengambil dompetnya dari sana.
"Ngak papa, hari ini mas Kevin bilang baju Kinan cantik. Besok - besok pasti mas Kevin bilang kalau Kinan yang cantik." Kinan masih menampilkan senyumannya. Dia ngak mau moodnya rusak sepagi ini.
"Hemmm....." Kevin membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu dari sana. "Ini kamu pegang, kamu boleh beli apa saja menggunakan ini. Maaf kalau mas terlambat memberikannya. Seharusnya mas memberikan ini awal kita menikah kemarin. Ayok ambil." Ucap Kevin, karena bukannya mengambil, Kinan hanya melihat saja kartu yang ada ditangannya. Melihat Kinan yang diam saja, akhirnya Kevin meletakkan kartu itu ketangan sang istri.
__ADS_1
Kinan memperhatikan blakcard yang sudah ada ditangannya. "Mas yakin memberikan ini pada Kinan. Mas ngak takut kalau Kinan menghabiskan isinya?"
"Habiskan saja kalau kamu sanggup." Sahut Kevin santai. Kinan mengangguk - anggukkan kepalanya, sembari membolak - balikkan blakcard yang sudah ada ditangannya.
"Berarti kalau Kinan beli rumah pake kartu ini, bisa kan mas?"
"Untuk apa kamu beli rumah. Mommy tidak akan mengijinkan kita pindah dari sini. Kalau mommy mengijinkan, sudah dari kemarin - kemarin mas bawa kamu pindah." Sahut Kevin.
"Siapa yang mau pindah sama mas Kevin. Kinan yang akan pergi meninggalkan mas Kevin." Sahut Kinan santai, sembari menaik turunkan alisnya.
Tubuh Kevin menegang mendengar ucapan Kinan. "Ka...mu ber...niat mau me...ninggalkan mas?" Tanya Kevin terbata - bata.
"Tergantung....." Kinan semakin menggoda sang suami. Entah kenapa saat melihat wajah suaminya gugup seperti itu, membuat Kinan terhibur. Terlihat lucu dan menggemaskan. Terserah bumil itu lah, menilainya seperti apa.
Kevin melonggarkan dasinya yang sudah terpasang rapi dilehernya. Tiba - tiba Kevin merasa sesak nafas. Lalu Kevin menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia bersandar sembari memejamkan matanya. Dia merasa dipermainkan oleh sang istri. Pada hal kemarin itu mereka sudah berjanji akan menjalani pernikahan mereka dari awal. Kinan juga sudah berjanji supaya tidak pergi meninggalkannya. Tapi ini apa, tiba - tiba istrinya membahas, kalau istrinya akan pergi meninggalkannya.
Setelah merasa sedikit tenang, Kevin membuka kedua matanya, dan memandang istrinya. "Bukannya kamu sudah janji, tidak akan meninggalkan mas?"
"Kinan kan ngomongnya, tergantung."
"Tergantung apa sih?" Kamu yang jelas kalau ngomong. Ngak tahu apa, setakut apa mas tadi, saat kamu bilang akan pergi ninggalin mas."
"Hahahaha....." Kinan sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Kok malah ketawa sih? Emang ada yang lucu?"
"Mas yang lucu. Sebenarnya Kinan tadi hanya bercanda, bilang mau ninggalin mas. Tapi mas malah nanggapinnya serius."
"Astaga, Kinannnnn....!"
__ADS_1
Pagi - pagi udah buat orang sport jantung aja.Tapi syukurlah kalau dia cuma bercanda.
"Lagi - lagi kamu berhasil ngerjain, mas ya." Kevin membawa Kinan kedalam dekapannya dan mencium puncak kepalanya. Ketika Kevin mau mencium bibir istrinya, dengan cepat Kinan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Tidak ada alasan lagi kan sekarang. Tadi kamu ngak mau mas cium, karena kamu bilang kamu belum gosok gigi. Sekarang kamu sudah mandi dan gosok gigi kan? Kenapa kamu tetap ngak mau dicium?"
Kinan melepaskan diri dari dekapan sang suami dan pindah duduk. "Ngak ada cium - cium. Tadi mas hanya muji baju Kinan yang cantik, jadi mas cium saja baju Kinan." Gerutu Kinan.
Membuat Kevin tergelak mendengar gerutuan istrinya. "Ceritanya ada yang ngambek nih, Mas ngaku kalah deh. Kamu cantik kok, cantik banget malah."
"Bohong...." Pada hal Kinan sudah tersipu malu. Bahkan wajahnya sudah terasa panas. "Turun yok, Kinan sudah lapar." Ucap Kinan sambil beranjak dari duduknya. Dia tidak mau kalau suaminya melihat wajahnya yang mungkin saja sudah merah seperti tomat.Tapi sebelum Kinan membuka pintu, Kevin berlari dan berdiri dihadapan Kinan, menghalangi Kinan. Kevin langsung menyambar bibir mungil sang istri ********** dengan lembut, bahkan dia menggigit bibir bawah Kinan yang membuat Kinan membuka mulutnya. Tidak mau membuang kesempatan, Kevin memasukkan lidahnya dan terjadilah perang lidah diantara keduanya. Ciuman itu terjadi hingga beberapa menit. Kinan memukul dada suaminya untuk melepaskan ciumannya. Karena Kinan merasa sudah kehabisan nafas. Dengan terpaksa Kevin pun menghentikan aksinya.
Kinan meraup oksigen sebanyak - banyaknya. "Mas mau bunuh aku ya?" Ucap Kinan kesal.
Kevin membawa Kinan kedalam pelukannya. "Maaf, habisnya mas sudah pengen dari tadi mencium bibirmu yang cerewet itu. Tapi kamu selalu menghindar. Kemarin - kemarin kamu sudah bisa mengimbangi ciuman mas, kenapa sekarang tidak?"
Dengan refleks Kinan memukul bahu suaminya. "Itu karena mas ciumannya tiba - tiba. Coba kalau mas....." Kinan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saat menyadari kalau dia salah ngomong.
Kevin melepaskan pelukannya dan tersenyum menyeringai. "Berarti kalau mas tidak tiba - tiba, kamu bisa mengimbangi mas. Gimana kalau kita coba sekarang?" Kevin menaik turunkan alisnya menggoda Kinan. Membuat Kinan menggelengkan kepalanya, dengan posisi masih menutup mulutnya.
"Kamu lucu banget sih, Ay." Kinan mengerutkan keningnya mendengar panggilan yang diucapkan suaminya.
"Ay..." gumam Kinan.
"Iya, Ay. Mulai sekarang mas akan panggil kamu Ay. Itu adalah panggilan sayang mas sama kamu. Semua orang kan manggil kamu Kinan atau Nan. Jadi biar beda aja dari yang lain." Gimana, panggilan mas bagus kan?" Kevin mengedipkan matanya. Membuat Kinan tergelak.
"Alay banget sih, mas. Memangnya mas masih ABG, ingat umur." Kinan meledek sang suami, pada hal dalam hati sudah berbunga-bunga.
"Biarinnnn......." Setelah merapikan dasi sang suami, keduanya pun keluar dari kamar.
__ADS_1