
Sementara di rumah sakit.
Rasa sakit yang dirasakan Kinan semakin meningkat. Mungkin dua atau tiga kali dari level sebelumnya. Pinggangnya pun terasa panas. Kinan sampai menggigit bibir bawahnya untuk meredam suaranya agar tidak memekik sakit.
Dan Kevin dengan setia disampingnya. Menyeka keringat yang kembali membanjiri kening istrinya. Kali ini Kevin melakukannya dalam diam. Bukan seperti di awal tadi yang membisikkan kata-kata penyemangat dan kata cinta.
"Mas....."
Kinan merasa tidak enak pada suaminya. Semenjak kena omelan mommy Cella, Kevin berubah menjadi pendiam. Walau tangan suaminya selalu mengusap keringat serta menggenggam tangannya. Sungguh Kinan tidak menginginkan situasi seperti ini.
Tanpa Kinan tahu, kalau Kevin diam bukan karena marah kena omelan sang mommy. Kevin diam karena tidak bisa melakukan apa-apa, disaat dia melihat istrinya kesakitan seperti itu. Seandainya bisa, biarlah rasa sakitnya berpindah pada Kevin.
"Mas....." Lirih Kinan.
Membuat Kevin mengalihkan pandangannya dari yang semula fokus mengusap kening Kinan. Kini keduanya berpandangan dengan jarak wajah yang hanya tersisa tiga senti.
"Mas marah? Maaf kalau aku......"
Kalimat Kinan tertahan oleh ciuman sang suami. Ciuman yang penuh dengan emosi juga perasaan yang campur aduk. Ada rasa marah, kesal, khawatir juga takut di saat yang bersamaan.
"Hemphhh....." Seketika Kinan mendorong tubuh suaminya dengan kuat hingga suaminya terjengkang.
"Sepertinya si kembar mau keluar mas!" Serunya cepat.
"Dokter!" Teriak kencang Kevin, hingga menggema di penjuru ruangan.
Dokter dan perawat berlari menghampiri Kevin dan Kinan. Sementara mommy Cella juga oma Jeny keluar dari ruangan.
"Pembukaannya sudah lengkap nona." Ucap dokter yang baru saja memeriksa jalan lahir.
"Kalau saya belum suruh ngejan, jangan ngejan dulu iya nona. Dan ingat, bokongnya jangan di angkat dan jangan merem."
Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban sambil menahan rasa sakit.
"Ayok nona, tarik nafas dan keluarkan secara perlahan, baru mulai mengejan."
"Aaaaaaaaaa......"
"Sekali lagi nona, ngejannya lebih panjang. Kepala dedenya sudah kelihatan ini." Dokter memberikan semangat pada Kinan.
"Ayok sayang, kamu pasti bisa!" Kevin juga ikut memberikan semangat pada sang istri.
"Aaaaaakkkhhhh......."
"Bukan berteriak nona, tapi mengejan. Eh..." Dokter Cindy langsung menundukkan kepalanya. Ternyata yang berteriak bukan Kinan, melainkan Kevin. Gimana Kevin tidak berteriak, tiba-tiba sang istri menggigit lengannya dengan kuat.
"Ayok nona, kasihan dedek bayinya." Dokter kembali fokus pada Kinan.
"Aaaaaaaaaa....."
🌹🌹🌹
Akhirnya setelah berjuang mengejan hampir satu jam, tepat jam delapan malam, kedua bayi kembar Kinan keluar dengan selamat dan sehat, tanpa kurang sedikitpun.
"Cup....cup....cup...."
Kevin mengecup semua bagian wajah istrinya yang terlihat lelah. Kedua bayinya sedang di bersihkan. Sementara dokter dan dua orang perawat melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan sisa darah dan mengeluarkan plasenta.
"Kamu hebat sayang. I love you! Terimakasih karena sudah bertahan dan berjuang, juga rela menahan sakit demi melahirkan kedua anak mas." Suara Kevin terdengar serak.
"Anak kita mas! Lirih Kinan. Tentu saja Kinan tidak terima ucapan suaminya.
"Iya, anak kita." Kevin segera meralat ucapannya.
Kini perasaan Kevin sudah lega bercampur haru. Istrinya sudah berhasil melahirkan kedua anaknya dengan selamat. Dan yang lebih utama, istrinya baik-baik saja. Tadi Kevin seperti ikut merasakan sakitnya, saat melihat sang istri mengejan. Yang membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata. Terlebih, di saat mendengar suara tangisan anaknya, semakin membuatnya mengeluarkan air mata.
Perasaan yang dialaminya, saat mendengar suara tangisan pertama anaknya, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Terimakasih mas. Terimakasih karena setia menemaniku." Kinan menggenggam tangan suaminya. Tersenyum kecil, meski wajahnya masih terlihat lelah, setelah tenaganya habis terkuras.
Tidak jauh beda dengan Kevin. Kinan juga ikut menitikkan air mata. Semua rasa sakit juga pinggang yang rasanya mau terbakar, hilang entah kemana, begitu mendengar suara tangisan kedua anaknya. Kini Kinan dan suaminya sudah sah menjadi orang tua untuk bayi kembarnya.
__ADS_1
Ibu, terimakasih sudah melahirkanku kedunia ini. Kini aku tahu, bagaimana perjuangan ibu dulu, saat melahirkanku. Pasti ibu dan bapak bahagia diatas sana kan, karena sekarang ibu dan bapak sudah punya cucu.
Tanpa sadar, Kinan melambaikan tangannya. Entah kenapa tiba-tiba dia seperti melihat bayangan kedua orang tuanya tersenyum melintas di depannya.
"Kamu kenapa sayang?" Kevin mengerutkan keningnya, melihat tingkah sang istri.
"Tidak apa-apa mas."
Obrolan keduanya terhenti melihat kedatangan dokter dan perawat. Proses pembersihan darah dan plasenta sudah selesai. Makanya dokter dan perawat membawa kedua bayi kembar itu mendekat pada orang tuanya.
Kedua bayi itu diletakkan di atas dada Kinan dengan posisi telungkup. Dengan dokter yang setia memeganginya dari samping.
"Mas, anak kita!" Untuk pertama kalinya Kinan menyentuh kulit lembut yang masih merah itu dengan jemarinya. Lagi- lagi air matanya menetes dengan sendirinya.
Kevin juga tidak mau ketinggalan, dia mendekatkan wajahnya, menoel pelan pipi kedua bayi itu secara bergantian. Ada rasa menggelitik, saat menyentuh bayinya.
"Mereka duplikatmu mas. Padahal aku yang mengandung mereka, tapi tidak ada sedikitpun ruang yang tersisa untukku." Lirih suara Kinan. Kevin membenarkan ucapan sang istri, kedua anaknya memang persis seperti dirinya.
Kedua bayi kembar itu menggeliat seperti mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicari, bibir mungil itu bergerak terbuka. Seperti tahu dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, kedua bayi itu mengecap secara bersamaan.
"Eh, mereka langsung menghisap mas!" Seru Kinan yang terlihat antusias, saat merasakan kedua bayinya menghisap pelan.
"Mereka pintar sekali nona." Dokter Cindy ikut menimpali, begitu Kinan mengatakan kalau kedua bayi itu menghisap p***** s***nya.
Kinan mengusap pelan kepala kedua bayinya bergantian. Ucapan syukur terucap dalam hati. Bersyukur atas persalinan yang lancar, meski dengan proses panjang. Juga dengan anugerah yang Kinan dapatkan, yaitu kedua bayi kembar yang ada di dalam dekapannya saat ini.
"I love you!" Bisik Kevin, sembari mengecup puncak kepala istrinya, tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua bayinya.
"Hemmm!" Kinan hanya berdehem. Fokusnya masih pada kedua bayinya.
Sementara dokter dan perawat disana tersenyum kecil. Mereka baru tahu, kalau untuk keluarganya terlebih pada istrinya, Kevin selalu bersikap hangat dan perhatian. Tidak seperti di luar sana yang selalu menunjukkan wajah dingin dan kejam.
Setelah merasa cukup, dokter dan perawat membawa kedua bayi itu kembali. Kinan juga harus di pindahkan ke ruang perawatan.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya.
"Rumah sakit! Kenapa aku bisa disini?"
Kesya ingat kejadian sebelumnya. Dimana Kesya berhasil melumpuhkan kedua laki-laki yang menculiknya itu. Setelah itu, Kesya meninggalkan tempat itu. Merasa cukup jauh berlari dari rumah itu, Kesya beristirahat sekalian makan makanan yang sempat dia bawa dari rumah itu. Selang beberapa saat selesai makan, kepalanya terasa pusing, lalu secara perlahan semua menggelap.
Apa mereka yang membawaku kesini?
Kesya mengalihkan pandangannya ke arah sofa bed. Di sana ada dua laki-laki sedang tidur. Kesya tidak tahu mereka siapa, karena satu orang tidur dengan posisi membelakanginya. Satu orang lagi, tidur dengan meletakkan tangannya diwajahnya.
"Siapa pun kalian, terimakasih karena sudah menyelamatkanku." Gumamnya.
"Aku haus sekali, tapi gimana caranya aku mau mengambil air minum." Kesya melirik air mineral yang ada diatas nakas, lalu beralih ke tangannya. Tidak ada cara lain, Kesya mencoba mendudukkan tubuhnya dengan perlahan, supaya bisa menjangkau air yang ada di atas nakas.
"Kamu sudah bangun?"
"Auuwww...." Kesya yang kaget, tanpa sengaja menimpa tangannya yang di perban.
Devano bergegas menghampiri Kesya.
"Kenapa?" Devano membantu Kesya duduk.
"Jangan banyak bergerak dulu. Lenganmu itu dijahit, tujuh jahitan tadi malam."
"Tujuh jahitan?" Lirih Kesya.
Pantesan aja darahnya keluar banyak pas aku lari, ternyata lukanya cukup dalam, sampai di jahit segala. Aku pikir hanya goresan aja.
"Ada yang sakit? Atau ada yang kamu butuhkan?" Tanya Devano lagi, membuat Kesya tersadar.
Kesya melirik ke atas nakas lalu menundukkan kepalanya, merasa sungkan. Tentu saja Kesya tahu, siapa laki-laki yang ada dihadapannya ini.
"Kamu mau minum?" Devano yang langsung tanggap, mengambil sebotol air mineral. Membukanya dan memasukkan sedotan ke dalamnya lalu mendekatkannya ke mulut Kesya.
"Ayok minum, nggak usah sungkan."
__ADS_1
Karena memang sudah haus, tanpa melihat Devano, Kesya membuka mulutnya lalu menyedot air mineral itu.
"Selamat pagi. Wah, pagi-pagi mataku jadi ternoda melihat keromantisan kalian." Celetuk Al dari arah sofa. Iya, yang menemani Kesya di ruangan ini, adalah Devano dan Al.
"Uhukk....uhukkk...."
Kesya yang lagi minum jadi tersedak. Membuat Devano menepuk-nepuk punggung Kesya. Tidak lupa Devano memberikan tatapan tajam pada sahabatnya itu. Yang dibalas dengan senyuman jahil Al.
"Terimakasih tuan." Cicit Kesya, sembari menjauhkan mulutnya dari sedotan itu, setelah dia menghabiskan hampir separuh.
"Kalau kamu butuh apa-apa, kamu ngomong aja sama kami. Tidak perlu sungkan, kami akan menjagamu disini. Dan satu lagi, jangan terlalu formal, kamu kan teman Kinan. Kinan sudah kami anggap sebagai adik kami, dan itu pun berlaku untukmu. Jadi kamu bisa bicara santai dengan kami." Ucap Al yang sudah duduk di samping tempat tidur.
"Terimakasih, karena sudah menyelamatkan dan membawa saya ke sini tuan." Kesya memberanikan diri menatap Devano dan Al.
"Aku nggak ikut kok, kamu kan tahu kalau aku dan Kevin ke luar kota beberapa hari yang lalu. Dan kami baru pulang kemarin. Yang menyelamatkanmu itu, sahabatku ini!" Al menepuk bahu Devano yang duduk di sampingnya.
"Di bantu oleh Radith dan Richard. Kamu sudah pernah kan jumpa sama mereka?"
Kesya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi tuan Devano yang membawa saya kesini?" Devano mengangguk.
"Kenapa? Kamu mencari tasmu? Tasmu ada dilaci itu." Devano menunjuk laci nakas dengan dagunya. Membuat Kesya menggelengkan kepala.
"Bukan tuan, kemarin itu saya meninggalkan dua laki-laki disana. Waktu itu mereka pingsan, apa mereka juga di bawa...."
"Keduanya meninggal." Sela Devano cepat.
"Apa!" Kesya membelalakkan matanya.
"Me...ninggal! Mereka benaran me.... ninggal, tuan?" Kesya terlihat gugup.
"Kenapa kamu ketakutan? Mereka pantas mendapatkan itu."
"Berarti aku pem...b****!" Kesya gemetaran. Bahkan dia tidak sadar mengubah kata 'saya' menjadi 'aku'.
"Kasihan anak orang kamu kerjain, bro." Al menggelengkan kepalanya, melihat kejahilan Devano.
"Kamu bukan pembunuh, karena mereka masih hidup kok, jadi kamu tidak perlu khawatir. Lagian kamu aneh, mereka sudah menculikmu, dan membuatmu terluka seperti ini, masih saja memikirkan keadaan mereka." Al tidak habis pikir dengan Kesya, yang masih peduli dengan kedua penculik itu.
"Dari man tuan Al tahu, mereka masih hidup? Sementara tadi, tuan Al bilang, kalau tuan Al tidak ikut ke sana?"
"Dari siapa lagi? Iya, dari orang ini lah!" Al merangkul Devano.
Iya, tadi malam, begitu rombongan Devano tiba dirumah sakit, mereka sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kevin dan Al. Karena Kesya di tempatkan dirumah sakit yang sama dengan Kinan. Bahkan ruangan Kesya sekarang ini, bersebelahan dengan ruang perawatan Kinan.
"Benar yang di katakan tuan Al itu, tuan Devano? Kalau kedua orang itu masih hidup?" Dengan memberanikan diri, Kesya bertanya pada Devano.
"Hemmm....."
"Syukurlah...." Kesya menarik nafas lega.
"Apa kamu tahu, kenapa mereka menculik kamu?" Devano yang penasaran, tentu saja langsung mengintrogasi Kesya.
"Mereka salah orang." Cicit Kesya.
"Maksudnya?" Sahut Devano dan Al serempak.
"Sempat ada datang seorang wanita ke tempat itu. Kalau tidak salah namanya Jessica. Dia mau balikan sama tuan Kevin, karena wanita itu menganggap aku sebagai penghalang untuk mereka bersatu, wanita itu mau menyingkirkanku. Wanita itu akan memberikan sejumlah uang, dengan syarat, aku akan pergi dari kediaman keluarga William. Dan kalau aku tidak mau, dia akan melakukan cara yang lain." Kesya menjelaskan sesuai dengan apa yang di ucapkan Jessica.
"Kamu kan bukan istrinya Kevin?" Celetuk Al.
"Makanya aku bilang, salah orang. Mereka menganggap aku sebagai istrinya tuan Kevin. Entah dari mana wanita itu dapat kabar, kalau aku istrinya tuan Kevin." Kekeh Kesya. Kesya yang melihat sikap baik Devano dan Al menjadi sedikit rileks.
"Sudah kuduga, dasar wanita g***. Siap- siap aja wanita itu menerima balasannya." Devano yang geram, mengepalkan kedua tangannya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk menangkap Jessica.
"Oh iya, bagaimana keadaan Kinan, tuan Al? Apa Kinan baik-baik saja?" Tanya Kesya pada Al.
"Kinan sudah melahirkan bayi kembarnya tadi malam. Nanti kalau keadaanmu sudah lebih baik, kamu bisa menjenguknya."
"Syukurlah." Meski sedih karena tidak bisa menemani Kinan dan memberikan dukungan secara langsung, tapi Kesya senang mendengar Kinan sudah melahirkan. Kesya jadi tidak sabar untuk bertemu dengan kedua keponakannya itu.
__ADS_1