
Setelah acara dansa yang berakhir dengan Kevin yang berlutut sembari memberikan cincin pada Kinan, kini keduanya berpindah kesisi pinggir rooftop.Keduanya memandangi lampu kerlap - kerlip yang ada dijalan, serta dari kendaraan yang lalu lalang dibawah sana. Melihat sang istri kedinginan, Kevin membuka jas yang dia pakai, dan menyampirkannya dibahu sang istri. Membuat Kinan menatap suaminya dan tersenyum.
"Terimakasih mas."
"Hmm....Masih mau disini? Atau kita turun?" Beberapa kali, Kevin mencium puncak kepala sang istri.
"Bentar lagi ya, mas?" Kevin hanya mengangguk. Kevin merangkul sang istri. Menyandarkan kepala sang istri dibahunya. Hingga beberapa menit berlalu, juga yang semakin larut, Kevin mengajak sang istri turun.
"Kita mau kemana, mas?" Tanya Kinan, ketika lift yang membawa mereka berhenti bukan dilantai bawah.
"Kita nginap disini, Ay."
Sebelum sang istri protes, Kevin sudah menuntun sang istri menuju salah satu pintu yang ada disana. Kevin membuka pintu dan langsung menutupnya, hingga terdengar bunyi klik, menandakan pintu telah terkunci. Dari tempatnya berdiri, Kinan mengedarkan pandangannya, kamar ini sudah dihias seperti kamar pengantin. Diatas ranjang telah dihiasi dengan kelopak mawar, berbentuk hati. Seluruh lantai juga ada beberapa taburan kelopak mawar, juga menyalakan lilin - lilin aromatherapy yang diletakkan disudut - sudut ruangan, yang membuat kamar sangat wangi. Lampu kamar sepertinya sengaja diset, dengan lampu remang - remang. Juga ditambah dengan cahaya dari lilin yang menyala, agar menimbulkan suasana yang romantis.
Kinan membelalakkan matanya, saat merasakan tubuhnya melayang. Ternyata sang suami yang membuat ulah. Kevin menggendong Kinan ala bridal, membuat Kinan mengalungkan tangannya dileher sang suami, supaya dia tidak jatuh. Kevin membawa istrinya menuju ranjang, dan membaringkan Kinan dengan pelan dipinggir ranjang. Kevin menyapukan tangannya untuk menyingkirkan apa yang ada diatas ranjang. Membuat Kinan merasa sayang pada kelopak mawar yang sudah berserakan dilantai. Kinan baru saja mau protes, kenapa bunganya dibuang, tapi tidak jadi ketika melihat suaminya sudah ada diatas tubuhnya.
__ADS_1
"Mas mau nga....pain?" Mendadak Kinan gugup.
Kevin yang menindih tubuh istrinya, tentunya dengan posisi yang aman untuk perut sang istri. "Mas tidak bisa mengubah kejadian malam itu, Ay, tapi mas bisa membuat kenangan baru." Tangannya mengelus wajah sang istri dengan lembut, membuat Kinan refleks memejamkan matanya. Kevin mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya, bibir keduanya bertemu, Kevin memagut bibir tipis itu dan menggigit bibir bawahnya lembut. Membuat Kinan membuka mulutnya, Kevin memasukkan lidahnya, Kinan yang sudah biasa mendapat serangan seperti itu mulai membalas dengan mata masih terpejam. Hingga beberapa waktu, keduanya bertukar saliva, Kevin menyudahinya. Untuk beberapa saat dia memandangi wajah sang istri yang masih setia memejamkan matanya. Lalu mengecup kening istrinya.
"Boleh mas melakukannya?" lirih suara Kevin. Membuat Kinan membuka matanya. Bisa Kinan lihat, mata sayu sang suami. Dia bukan wanita polos, untuk mengerti apa yang dimaksud suaminya. Melihat sang istri yang diam saja, dia mencoba bangkit dari atas tubuh istrinya. Tapi dia menghentikan gerakannya ketika mendengar ucapan sang istri.
"Mas boleh melakukannya!"
"Kamu benaran sudah siap?"
"Mas janji tidak akan kasar, Ay. Mas akan melakukannya selembut mungkin, tidak akan menyakiti kalian." Kevin mengusap perut buncit sang istri. "Boleh kita mulai?" Tanpa ragu, Kinan mengangguk. Membuat Kevin tersenyum. Dia kembali mencium seluruh bagian wajah istrinya. Dan beralih mengecupi tengkuknya, kemudian menjalar menuju lehernya dan menggigit pelan telinganya.
"Mas buka ya!" Suara Kevin semakin serak. Kevin meraih ujung gaun yang dipakai istrinya, ditariknya gaun itu keatas dan lolos begitu saja lewat kedua tangan dan kepala sang istri. Dan melemparnya ke sembarang tempat. Saat bajunya terlepas, Kinan refleks menutup dadanya dengan kedua tangannya yang hanya tertutup dengan dalaman saja.
"Kenapa ditutup?"
__ADS_1
"Kinan malu." Cicit Kinan. Dia tidak berani menatap suaminya. Selain karena malu, dia juga sibuk mengatasi degupan jantungnya. Kinan merasa khawatir, kalau sang suami mendengarnya. Kinan tidak tahu saja, kalau Kevin juga merasakan hal yang sama. Ini interaksi intim pertama mereka setelah malam itu. Meski hubungan keduanya membaik, selama ini mereka hanya sekedar pelukan dan ciuman.
"Tidak usah malu." Kevin menyingkirkan tangan istrinya dan kembali mencium bibir istrinya. Pagutan demi pagutan mereka lakukan dengan hasrat yang kian menggebu dan nafas yang semakin memburu. Kinan dapat merasakan tangan suaminya terasa panas dikulitnya, bahkan semakin panas ketika sang suami berhasil melepaskan pengait yang menutupi bagian atasnya.Kinan hanya bisa pasrah ketika kini tubuhnya dalam keadaan polos dihadapan suaminya.
Tapi beberapa saat, Kinan membelalakkan matanya, ketika dia melihat tubuh polos suaminya terpampang nyata dihadapannya. Entah kapan sang suami membuka pakaiannya. Mendadak dia gugup, hingga akhirnya dia merasakan kulit mereka perlahan menyatu. Membuat desiran menyala pada dirinya. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan.
Untuk adegan selanjutnya, kalian pasti sudah tahu. Authornya deg - degan menulisnya. Jadi kalian bayangkan saja sendiri ya!
π»π»πΉπΉ
Ini kan yang kalian tunggu - tunggu!
Jangan lupa dukungannya ya, vote, like dan komenπ
Terimakasih π
__ADS_1