
Kini Kinan sudah ada diruang bersalin. Ruangan VVIP yang sudah disiapkan untuk tempat persalinan Kinan. Semua peralatan pemeriksaan sudah tersedia disana.
"Sudah bukaan tiga nona. Nona Kinan bisa jalan-jalan dulu, makan atau kalau bisa dibawa tidur juga bisa." Dokter menjelaskan, begitu selesai melakukan pemeriksaan pada Kinan.
Tidak lama, dokter dan perawat berpamitan setelah selesai memeriksa kondisi dan keadaan Kinan.
Mengikuti intruksi dari dokter, Kinan pun jalan-jalan di dalam ruangan. Entah sudah berapa kali Kinan mondar- mandir. Mommy Cella tidak mau membiarkan menantunya jalan sendiri, hingga mommy Cella mengikuti dari belakang.
"Pelan-pelan saja jalannya, nak! Kalau capek, kamu bisa istirahat!" Ujar mommy Cella yang melihat Kinan jalan cepat-cepat.
Kinan berhenti sejenak, menarik nafas dalam. "Siapa tahu kalau jalannya cepat-cepat, bukaannya pun tambah cepat mom." Celutuk Kinan.
Ketiga orang dewasa yang ada disana tergelak mendengar celutukan Kinan.
"Nggak gitu juga konsepnya nak. Udah, jalannya biasa aja. Atau kita pindah ke depan?"
"Ke depan mana mom?"
"Maksud mommy di koridor depan ruangan ini, nak."
"Aku pikir didepan rumah sakit ini mom!" Cengir Kinan.
"Iya nggak dong, nak. Ngapain harus didepan rumah sakit!" Mommy Cella pun menuntun Kinan keluar dari ruangan. Tapi seperti ingat sesuatu, Kinan menghentikan langkahnya, sebelum mommy Cella membuka pintu, lalu menatap mommy Cella.
"Kenapa nak, kamu butuh sesuatu?" Tentu saja mommy Cella heran, ditatap seperti itu oleh Kinan.
"Oh iya, mas Kevin udah di kasih tahu belum mom, kalau kita udah dirumah sakit?" Kinan baru sadar kalau belum memberitahu suaminya kalau mereka sudah dirumah sakit.
Mommy Cella menepuk keningnya.
"Astaga, benar juga! Anak mommy yang bandel itu belum dikasih tahu. Pantesan mommy merasa seperti ada yang kurang. Ternyata kita belum menghubungi Kevin."
"Daddy sudah hubungi tadi, mereka nanti akan langsung kesini." Ujar daddy Marvin yang duduk disofa bersama Oma Jeny.
"Memang daddy ini selalu gerak cepat tanpa harus diminta. Oh iya, jam berapa mereka berangkat dari Bali, dad?" Tanya mommy Cella
"Mereka udah tiba di Jakarta. Tadi pas daddy telpon, mereka baru turun dari pesawat." Ucap daddy Marvin. Membuat mommy Cella mengangguk tanda mengerti.
Mommy Cella pun keluar dari ruangan bersama Kinan. Lalu jalan-jalan di sepanjang koridor depan ruang bersalin. Lantai VVIP ini sengaja dikosongkan, sehingga tidak banyak orang yang lalu lalang, selain dokter dan perawat yang bertugas menangani Kinan.
🌹🌹🌹
Kevin membuka pintu dengan keras. Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah sakit, Kevin tidak bisa tenang, begitu sang daddy memberitahukan kalau istrinya sudah dibawa kerumah sakit. Beruntung dijalan tidak terlalu macet, hingga mereka tiba lebih cepat di rumah sakit.
Kevin yang terlihat ngos-ngosan berdiri diambang pintu. Tadi begitu tiba di lobby rumah sakit, bahkan mobil belum berhenti dengan sempurna, Kevin sudah keluar dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Kevin sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri. Tapi begitu tiba di ruangan sang istri, Kevin malah mendapati istrinya sedang tidur.
__ADS_1
Kevin menarik nafas dalam. Setelah merasa tenang, dia melangkah mendekati tempat tidur istrinya.
"Sayang!"
Suara lembut Kevin memanggil sang istri, begitu Kevin mendekat disamping tempat tidur. Sementara mommy Cella yang tadi duduk disamping tempat tidur, menyingkir untuk memberikan waktu untuk anak dan menantunya.
Kinan yang tadi sempat tidur setelah merasa lelah sehabis jalan-jalan di sekitar koridor tadi, segera membuka matanya.
"Mas!" Lirih Kinan.
Kevin langsung menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Kevin baru menghentikan aksinya, saat merasakan wajah sang istri basah. Dan benar saja, istrinya menangis.
"Kenapa sayang? Ada yang sakit?" Kevin yang sadar, kalau keluarganya sedang duduk disofa yang tidak jauh dari tempat tidur, segera menarik tirai, hingga menutupi seluruh area tempat tidur Kinan. Kevin butuh privasi untuk berdua dengan istrinya.
Melihat istrinya diam saja dan sesekali masih terisak, Kevin ikut naik ke tempat tidur. Ukuran tempat tidur yang luas, memudahkan Kevin untuk membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Kevin tidur menyamping dengan menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya.
"Hai baby boy, kalian jangan nakal iya! Cepatlah kalian lahir, jangan membuat mommy kesakitan!" Kevin mengusap-usap perut istrinya yang sudah mulai terasa keras. Entahlah, Kevin tidak tahu istilahnya, yang jelas, saat Kevin mengusapnya, Kevin bisa merasakan kalau perut istrinya sekarang terasa berbeda. Apa itu tandanya istrinya mau melahirkan, pikirnya.
Sementara Kinan sedikit rileks merasakan usapan tangan lembut suaminya di perutnya.
"Sakit banget iya, sampai nangis kayak gitu?" Kevin mengira sang istri menangis karena kesaktian.
Kinan yang ditanya, mengangguk, kemudian menggelengkan kepalanya. Sebenarnya, Kinan menangis bukan karena merasakan sakit. Iya, meski kontraksi kali ini lebih sakit dari kontraksi palsu yang dia rasakan beberapa hari lalu. Tapi Kinan menangis karena melihat kedatangan suaminya.
Tidak bisa dipungkiri, kalau dari tadi Kinan sangat menantikan kedatangan suaminya. Dan itu yang membuat Kinan tanpa sadar meneteskan air matanya. Suaminya yang dia tunggu sudah ada disampingnya.
"Masih bukaan tiga mas!" Lirih Kinan.
"Masih lama dong?" Kevin yang sudah banyak membaca artikel mengenai ibu hamil dan melahirkan, sedikit banyak sudah tahu, ibu melahirkan itu harus sampai bukaan sepuluh baru lengkap dan bisa melahirkan. Tapi kalau ini masih bukaan tiga, prosesnya masih lama dan istrinya pasti semakin lama juga merasakan kesakitan.
"Semoga aja nggak lama nunggu bukaannya lengkap mas. Bantu aku tidur miring mas!"
Kevin mendudukkan tubuhnya, lalu membantu istrinya tidur miring, sesuai permintaan sang istri.
"Caesar aja iya sayang?" Dari awal Kevin memang menyarankan istrinya untuk caesar. Dasar istrinya saja yang keras kepala.
"Hmmpphhh...."
Kinan merintih sembari mencengkeram tangan suaminya saat Kinan merasakan kontraksi lagi.
Kevin yang baru kali ini menyaksikan reaksi Kinan saat mengalami kontraksi, tersentak kaget. Bahkan cengkraman kuat Kinan di pergelangan tangannya terasa perih. Sepertinya kuku Kinan menembus kulitnya.
Perasaan waktu Kinan kontraksi palsu beberapa hari yang lalu tidak seperti ini. Tadi kalau tidak salah, katanya baru bukaan tiga. Bukaan tiga saja sudah seperti ini, bagaimana dengan bukaan selanjutnya? Apa Kinan bisa menahannya?
Kevin yang terlalu asyik dengan lamunannya, tersadar begitu mendengar suara Kinan.
__ADS_1
"Mas kenapa?" Kinan yang sudah merasa tenang, karena kontraksinya sudah hilang kembali, merasa heran melihat suaminya yang terbegong.
"Di caesar aja iya sayang?"
Kinan menggelengkan kepalanya. "Aku akan bertahan untuk mereka berdua, mas!" Kinan mengusap perutnya.
"Tapi....." Ucapan Kevin terhenti karena suara dari belakang.
"Eh, daddynya sudah datang ternyata." Dokter Cindy yang menangani Kinan dengan seorang perawat datang menghampiri. Tidak lupa kedua orang itu menganggukkan kepala pada Kevin.
"Sudah semakin kencang iya kontraksinya?" Tanya dokter Cindy sambil mengusap perut Kinan. Kinan hanya mengangguk, mengingat kontraksi beberapa menit lalu, rasa sakitnya mulai tak tertahan.
"Kita periksa tekanan darahnya iya, nona!"
Seorang perawat dengan sigap, memasang alat tensi untuk mengukur tensi Kinan.
"Ayok dedek bayi, daddy kalian sudah datang nih! Kalian sudah boleh keluar dari persembunyian!" Canda sang dokter, supaya Kinan merasa rileks dan tenang. Dan berhasil membuat Kinan tersenyum.
"Tekanan darahnya bagus!" Ujar sang dokter, saat perawat menunjukkan hasil tensi Kinan.
"Sekarang kita periksa bukaannya iya!" Dokter mengambil posisi diantara kedua kaki Kinan. Lalu secara perlahan melakukan Va**** To***** untuk memeriksa pembukaan jalur lahir bayi-bayi Kinan.
"Wah, sudah bukaan enam nona. Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuanya iya. Mudah-mudahan semakin cepat bukaan selanjutnya."
"Hmmpphhh......."
Hanya berselang beberapa detik sesaat dokter selesai memberi penjelasan tentang keadaan Kinan, kontraksi berikutnya datang.
Kevin dengan setia mengusap-usap punggung Kinan sembari membisikkan kata-kata penyemangat, bahkan kata-kata cinta tidak luput di ucapkan. Padahal jantung Kevin pun sebenarnya sudah berdegup kencang tidak karuan. Wajahnya pias diliputi rasa khawatir. Apa sesakit dan sesulit ini, kalau mau melahirkan, pikirnya.
Dokter Cindy yang memperlihatkan wajah khawatir Kevin, berusaha memberikan penjelasan, kalau keadaan ini normal dialami menjelang persalinan. Dan sebagai suami, Kevin harus bisa tenang dan sabar demi menguatkan istrinya.
Setelah selesai pemeriksaan dan memberi penjelasan, dokter dan perawat berlalu meninggalkan Kevin dan Kinan. Tidak lupa dokter berpesan, untuk memanggilnya jika Kinan pecah ketuban ataupun mendapatkan kontraksi yang lebih panjang dan lebih kencang lagi.
"Kali ini kamu nurut iya sayang. Caesar aja iya?" Kevin masih membujuk istrinya, sembari tangannya menyeka keringat yang membasahi kening istrinya, akibat menahan sakit kontraksi.
"Maafkan aku mas, bukan maksud untuk menolak, tapi aku yakin, kalau aku kuat mas." Kinan tahu perasaan suaminya. Tapi Kinan yakin dia mampu untuk melewati ini semua. Lagian sudah sejauh ini, masa dia mau menyerah.
"Tapi aku yang nggak kuat melihatnya sayang!" Tidak lihat kah istrinya wajah takut dan khawatir Kevin. Sungguh pendirian istrinya tidak bisa di ganggu gugat.
"Kamu ini kenapa sih, Vin? Sesar, sesar aja dari tadi. Kalau Kinan di sesar sekarang, yang ada Kinan akan merasakan sakit dua kali. Ngapain menahan sakit dari tadi, kalau ujung-ujungnya disecar. Lain hal kalau ada masalah, baru dengan terpaksa dilakukan alternatif lain. Kamu kan udah dengar, dokter bilang apa? Semua normal, pembukaannya malah terbilang cepat!"
Mommy Cella yang lagi tiduran disofa bed, dibalik tirai ikut menimpali. Bukan apa, dari tadi telinga mommy Cella terasa panas mendengar ocehan anaknya yang meminta secar. Ingin rasanya mommy Cella menjewer telinga anaknya yang bandel plus bawel itu.
Sudah jauh-jauh hari, Kinan meminta persalinan normal, padahal. Namun sudah setengah jalan kayak gini anaknya malah......
__ADS_1
Sebenarnya mommy Cella pun khawatir, tapi kalau menantunya yang minta normal, mau gimana. Yang bisa mereka lakukan hanya mendukung dan menguatkan Kinan saja. Di tambah dengan doa tentunya.
Mendengar ocehan sang mommy, Kevin mengerucutkan bibirnya. Membuat Kinan tersenyum kecil di sela rasa sakit yang dia rasakan.