Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 113


__ADS_3

Sementara di tempat lain.


Dua orang laki-laki yang bernama Rio dan Tono, yang ditugaskan untuk menjaga Kesya, masuk ke ruangan dimana Kesya berada.


"Hai....anak manis! Bagaimana dengan permintaan si bos, tentu kamu sudah menentukan pilihan kan?" Ucap laki-laki yang bernama Tono. Dia mendekati Kesya, setelah sebelumnya meletakkan sebungkus nasi dan sebotol air mineral yang dia bawa di atas kursi yang ada di depan Kesya.


"Jangan sampai kamu salah pilih. Tapi saran abang, mendingan kamu meninggalkan suami kamu itu dan menikah dengan abang. Semua kebutuhanmu akan abang penuhi, kamu tidak perlu capek-capek bekerja. Cukup layani abang dengan baik!" Tono mencoba untuk mencolek dagu Kesya, tapi Kesya langsung memalingkan wajahnya.


"Wowww....." Tono menyeringai, melihat reaksi cepat Kesya.


"Bagaimana, kamu mau kan menikah dengan abang?" Kamu tidak akan menyesal menikah dengan abang, anak manis." Kesya tidak bisa melakukan apapun, ketika Tono menahan wajah Kesya, hingga sebelah tangan laki-laki itu membelai wajah Kesya, mulai dari kening sampai bibir.


"Singkirkan tangan kotormu itu dari wajahku. Dan ingat satu hal, lebih baik aku mati daripada menikah dengan orang sepertimu! Cih...." Kesya meludah tepat disamping Tono.


Plak!


Satu tamparan kuat mendarat di pipi mulus Kesya. Bahkan saking kuatnya tamparan itu, pipi Kesya meninggalkan bekas jari-jari Tono. Sudut bibir Kesya juga mengeluarkan darah. Iya, Tono yang seketika emosi mendengar ucapan Kesya, tiba-tiba menampar Kesya.


"Jangan memancing emosiku nona, jadilah gadis yang baik!" Tono mencengkeram dagu serta mulut Kesya dengan kuat, membuat Kesya meringis menahan sakit.


"Jangan berbuat kasar Ton, kau lupa kalau bos meminta kita menjaganya. Aku nggak mau iya, gara-gara kamu, bayaran kita tidak turun! Sebentar lagi bos akan datang!" Rio yang dari tadi duduk sambil memainkan ponselnya menegur rekannya. Rio tahu, rekannya itu orang yang nekad, kalau sudah menginginkan sesuatu.


"Lebih baik kamu kasih makanan itu untuknya." Rio menunjuk makanan yang ada diatas kursi dengan dagunya.


"Dari tadi pagi dia belum makan, akan sangat merepotkan kalau dia pingsan karena kelaparan." Tambah Rio lagi.


"Urusan kita belum selesai anak manis." Dengan terpaksa Tono menyodorkan makanan itu kehadapan Kesya.


Melihat Kesya yang diam saja, Tono mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kamu tidak mau makan?"


"Bagaimana aku mau makan, kalau tanganku diikat. Aku juga mau ke kamar mandi!" Lirih Kesya.


"Ngapain ke kamar mandi! Jangan coba-coba untuk mengelabui kami anak manis."

__ADS_1


"Memangnya orang ke kamar mandi itu ngapain? Nggak mungkin aku shopping di kamar mandi. Dari tadi aku sakit perut, mau ke kamar mandi. Kalian mau kalau aku BAB disini!" Wajah Kesya terlihat memelas, berharap ikatannya dibuka. Bukan tanpa alasan Kesya bersikap seperti itu. Karena Kesya sudah punya rencana, jika nanti ikatannya dilepas.


Kedua laki-laki itu serempak bergidik membayangkan Kesya BAB di hadapan mereka.


"Kita buka aja sebentar Ton, nanti kita tungguin dia di depan kamar mandi." Rio membuka ikatan tangan Kesya. Tono pun mengikuti rekannya, dia membuka ikatan yang ada di kaki.


"Ayok ikut, aku akan menunjukkan kamar mandinya!" Rio berjalan duluan setelah ikatan tangan dan kaki Kesya terlepas.


Tanpa sepengetahuan kedua laki-laki itu, Kesya tersenyum tipis, begitu keduanya melepaskan ikatan tangan dan kaki Kesya. Dengan perlahan Kesya mengikuti Rio dari belakang.


"Ini kamar mandinya, jangan lama-lama didalam." Rio menunjuk pintu kamar mandi, begitu keduanya tiba di bagian belakang.


Kesya langsung masuk kedalam. Kesya menarik nafas lega, saat Kesya sudah menyelesaikan urusannya.


Aku harus keluar dari tempat ini, sebelum wanita sinting itu datang lagi. Sekarang yang harus aku lakukan adalah melumpuhkan kedua laki-laki itu. Sepertinya tidak sulit untuk melumpuhkan mereka. Tapi aku harus tetap hati-hati, siapa tahu mereka membawa senjata tajam.


"Sudah lama juga aku tidak berolahraga. Anggap saja saat ini aku sedang berolahraga menghadapi dua orang itu. Sekaligus melihat kemampuan bertarungku, apa masih sehebat dulu!" Lirih Kesya, sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya. Sebenarnya saat ini, Kesya merasa lemas juga haus. Gimana tidak lemas, dari tadi malam dia belum makan apa-apa, bahkan air putih pun tidak ada masuk ke dalam tubuhnya. Tapi demi bisa keluar dari tempat ini, Kesya mengesampingkan semua itu.


"Apa kabar dengan Kinan iya? Kinan....Semoga, kamu dan calon keponakanku baik-baik saja" Kesya yakin kalau Kinan pasti mencari Kesya ke rumah dan tempat kerjanya, saat Kesya tidak pulang ke kediaman keluarga William. Dan temannya itu pasti khawatir tidak menemukan Kesya dimana pun. Dan kabar buruknya, temannya itu malah kontraksi, karena memikirkan keberadaan Kesya ada di mana.


"Hei.....sudah belum? Kenapa lama sekali?" Suara ketukan pintu diiringi dengan suara yang ada diluar, sepertinya orang yang diluar sudah tidak sabar menunggu.


"Kamu dengar tidak? Kalau kamu tidak keluar juga, aku akan mendobrak pintu ini!" Pintu bukan lagi di ketuk, tapi digedor.


Hingga beberapa detik, terdengar handle pintu yang di putar. Begitu pintu kamar mandi dibuka, Kesya langsung


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Kesya menghajar wajah dan perut Rio habis-habisan dengan tinjunya, membuat Rio terkejut. Juga kejadian yang begitu cepat, membuat Rio tidak sempat menghindari serangan Kesya. Alhasil, Rio tersungkur ke belakang. Tidak sampai disitu, Kesya tidak membiarkan Rio menarik nafas, dengan cepat, Kesya juga melakukan tendangan memutar, untuk menendang wajah dan perut Rio kembali. Kesya benar-benar menjadikan tubuh Rio sebagai samsak. Hingga beberapa saat, Rio terkapar dilantai. Tidak tahu, laki-laki itu pingsan atau...

__ADS_1


"Kurang a***!" Tono yang baru masuk keruangan dan melihat rekannya sudah tergeletak, merasa marah. Tono bergegas untuk menghajar Kesya. Tadi pas Kesya di kamar mandi, Tono memang keluar sebentar.


Kesya yang melihat kedatangan Tono dengan ekor matanya, dengan refleks memundurkan tubuhnya dan langsung menepis kaki Tono yang hampir mengenai wajah Kesya.


Sementara Tono yang masih terkejut karena tendangannya berhasil ditepis oleh Kesya, tidak sempat menghindar, saat Kesya menyerangnya balik. Hingga kaki Kesya mendarat tepat di wajahnya, membuat Tono terpental. Setelah menguasai diri, Tono berdiri dan bersiap menghadapi Kesya.


"Ternyata kamu tidak bisa diremehkan anak manis!" Tono memasang kuda-kudanya dan tanpa menunggu lama, Tono menyerang Kesya. Tapi semua serangannya tidak ada satupun mengenai sasaran karena Kesya dapat menepisnya.


Hingga disatu kesempatan, Kesya melakukan tendangan memutar dengan kaki tangan sebagai tumpuan. Kesya mengangkat kaki kirinya dan melakukan tendangan kearah wajah Tono. Membuat Tono terduduk dilantai.


Tono yang merasa harga dirinya terluka karena bisa dikalahkan oleh seorang wanita, segera berdiri. Lalu memandang Kesya dengan tajam.


"Jangan senang dulu anak manis. Kau akan membayar mahal perbuatanmu ini."


Tono kembali memasang kuda-kudanya dan tanpa ampun menyerang Kesya. Kesya pun tidak tinggal diam, dia juga mengeluarkan semua kemampuannya untuk melumpuhkan laki-laki yang ada dihadapannya ini. Tidak seperti diawal tadi, dimana Kesya dapat menepis semua serangannya. Kali ini dua kali bogem mentah Tono mengenai tubuh Kesya. Dan Tono kebalikannya, hampir semua serangan Kesya mengenai sasaran. Tapi beberapa detik berikutnya, Kesya tersungkur karena tendangan Tono berhasil mengenai perutnya. Tapi dia bergegas berdiri.


Pertarungan keduanya cukup imbang. Kesya yang sudah mulai kehabisan tenaga segera menendang se********** Tono.


Argghhhhh!


Tono mengerang kesakitan sambil memegang p*********.


Melihat Tono yang kesakitan tidak membuat Kesya menghentikan serangannya. Kesya memukul tengkuk Tono dengan kuat, hingga membuat laki-laki itu pingsan.


Melihat kedua lawannya sudah tumbang, tubuh Kesya luruh kelantai, karena tenaganya benar-benar terkuras. Kesya menarik nafas dalam-dalam. Setelah hampir lima menit dan Kesya merasa sedikit tenang, Kesya bangkit berdiri. Karena Kesya harus secepatnya pergi dari tempat ini.


"Rasakan ini!" Kesya yang baru saja berdiri tegak terkejut melihat kedatangan Rio dengan sebuah pisau ditangan. Entah sejak kapan laki-laki ini sadar. Beruntung Kesya mempunyai refleks yang bagus, hingga pisau Rio tidak mengenai perutnya.


Rio yang kesal karena tidak berhasil menusuk Kesya, mengayunkan kembali pisaunya. Beberapa kali Kesya menepis, memanfaatkan kelengahan Kesya yang sudah mulai kehabisan tenaga, Rio berhasil melukai lengan Kesya. Rio menyeringai, setidaknya dia bisa melukai Kesya. Tidak dapat perut, lengan pun jadi pikirnya.


Kesya baru sadar lengannya terluka karena merasakan darah mengalir ke tangannya. Kesya membelalakkan matanya, dan dengan sisa tenaga yang Kesya punya, Kesya melakukan hal yang sama pada Rio. Yaitu menendang se********** Rio dan memukul tengkuk Rio hingga pingsan.


Melihat Rio yang tergeletak dilantai. Kesya tidak mau berlama-lama lagi, dengan memegang lengannya yang terluka, juga dengan tertatih, Kesya segera berjalan menuju pintu. Sebelum mencapai pintu, seperti ingat sesuatu, Kesya membalikkan tubuhnya dan berjalan kesudut ruangan untuk mengambil tasnya.

__ADS_1


Aku harus punya tenaga untuk lari dari sini, pikirnya. Hingga Kesya menyambar nasi dan sebotol air yang ada diatas kursi. Setelah itu, Kesya bergegas meninggalkan tempat itu, sebelum ada orang yang datang.


__ADS_2