
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan pasca si kembar lahir. Hari ini di kediaman keluarga William, di adakan pesta kecil-kecilan atas kelahiran si kembar. Sama halnya dengan pernikahan Kevin dan Kinan waktu itu. Kali ini undangan yang hadir pun terbatas. Kevin tidak mau mengekspos istrinya ke khalayak umum, begitu juga dengan si kembar. Kevin tentu tidak mau ambil resiko. Bisa jadi orang yang tidak suka dengan keluarganya memanfaatkan anak-anaknya untuk menjatuhkannya kelak, kalau identitas atau foto-foto anaknya tersebar ke luar. Biar orang tertentu saja yang tahu dan mengenal siapa keluarga kecilnya. Tentunya keputusan itu juga sudah dengan persetujuan orang tuanya.
Karena itulah Kevin hanya mengundang rekan bisnis yang sudah dipilih, juga kerabat dekat, serta sahabat-sahabat Kevin yang menghadiri acara tersebut.
Dalam sebulan ini, banyak hal yang di lalui Kevin dan Kinan sebagai orang tua baru, yang masih banyak belajar dalam mengasuh si kembar. Seperti yang rela begadang, karena beberapa kali, si kembar terbangun di waktu malam hari karena haus.
Baik Kevin maupun Kinan bekerja sama untuk menjaga si kembar. Tidak ada kata capek atau yang lainnya. Mereka sangat menikmati dan antusias menyaksikan, jika si kembar menunjukkan hal-hal baru. Perkembangan si kembar memang tergolong cepat. Selain badan si kembar yang semakin gembul, si kembar pun sudah sering memberi reaksi. Seperti sudah mengenali suara dan wajah kedua orang tuanya, si kembar akan memperlihatkan senyumannya pada Kevin maupun Kinan, kalau si kembar di ajak ngobrol.
Selain pada kedua orang tuanya, si kembar sangat pelit memperlihatkan senyumannya. Meskipun mommy Cella dan yang lainnya, setiap hari ikut mengasuh si kembar, hanya sesekali mereka mendapatkan senyuman si kembar. Sepertinya senyuman si kembar terlalu mahal, hingga hanya menunjukkannya pada kedua orang tuanya saja.
Mengenai Jessica, Kevin tidak mau turun tangan langsung. Kevin mempercayakannya pada para sahabatnya. Dan sesuai kesepakatan bersama, Jessica dan kedua laki-laki yang membantu Jessica itu, di kirim ke daerah terpencil. Sebuah tempat yang jauh di ujung Indonesia. Ketiga orang itu diantar langsung oleh beberapa anak buah Devano. Ketiga orang itu tidak di bekali apa pun, bahkan identitasnya pun tidak ada.
Begitulah cara Kevin dan sahabatnya yang lain untuk menghukum orang yang berani mengusik mereka. Hal itu juga berlaku pada rekan bisnis mereka yang berbuat curang. Mereka tak segan untuk mengirim orang tersebut ke tempat yang jauh, serta menghilangkan identitasnya, seolah-oleh orang itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Capek iya?" Tanya Kevin yang baru keluar dari kamar mandi. Kinan yang lagi duduk bersandar di kepala ranjang, sembari memijat kakinya hanya mengangguk.
"Lumayan pegal mas!" Gimana nggak pegal, sepanjang acara tadi, Kinan menemani suaminya berkeliling menyapa rekan bisnis sang suami, sembari menggendong si kembar untuk di perkenalkan pada tamu undangan. Sebenarnya acara belum selesai, tapi mommy Cella meminta Kevin dan Kinan membawa si kembar untuk istirahat.
Padahal tamu undangan terbatas. Tapi cukup melelahkan menyapa mereka satu persatu. Karena memang konsepnya, bukan tamu yang datang menyapa tuan rumah. Tapi Kevin dan Kinanlah yang berkeliling sembari menggendong bayi mungil itu. Satu di gendongan Kevin, satu di gendongan Kinan. Dan Kinan bersyukur, mertuanya cukup peka, untuk menyuruh mereka untuk istirahat sejenak.
Kini kedua bayi kembar yang diberi nama Zayden dan Aiden itu, sudah tidur pulas di boks bayi mereka.
"Biar mas pijat." Kevin naik ke atas ranjang dan duduk di dekat kaki Kinan. Kevin meletakkan kedua kaki Kinan ke atas pangkuannya dan mulai memijat dengan pelan.
"Terimakasih mas."
"Untuk?"
"Untuk pijatan inilah mas, apalagi?"
"Mas nggak mau tuh, hanya ucapan terimakasih."
"Terus maunya apa?"
Sambil tangannya masih setia memijat, Kevin menatap sang istri. Kinan yang di tatap seperti itu, tentu saja heran.
"Kenapa mas? Gitu banget lihatnya, apa ada sesuatu diwajahku, atau ada yang kotor?" Kinan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Tidak ada apa-apa, pikir Kinan, saat melihat telapak tangannya.
"Iya, ada sesuatu."
"Sesuatu apa?" Kembali Kinan mengusap wajahnya, tetap juga tidak juga menemukan apapun.
"Kamu semakin cantik!"
"Gombal banget sih?" Kinan tersipu malu.
__ADS_1
"Bukan gombal, tapi kenyataan."
Wajah Kinan terasa panas, Kinan tidak tahu semerah apa wajahnya sekarang.
Kevin menyudahi pijatannya, bergeser supaya lebih dekat dengan wajah sang istri. Di kecupnya pipi kiri dan kanan sang istri dengan penuh cinta. Berpindah ke bibir di lu****** bibir itu dengan lembut. Kinan membalas ciuman sang suami. Keduanya lupa kalau dibawah sana masih ada beberapa tamu. Juga pintu kamar mereka yang masih terbuka lebar.
"Astaga!" Seruan seseorang mengagetkan mereka. Terlihat bi Surti berdiri diambang pintu yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tapi lucunya bi Surti, jarinya direnggangkan dibagian bola matanya.
Kinan yang merasa malu, karena tertangkap basah oleh bi Surti, membenamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
"Kenapa bi?" Bukannya menghampiri bi Surti, Kevin justru mengecupi puncak kepala Kinan.
"Tuan besar meminta anda untuk turun, tuan."
"Sebentar lagi aku turun, bi."
"Baik tuan, permisi." Sebelum pergi, tidak lupa bi Surti menutup pintu dengan pelan.
"Mas turun gih, nggak enak sama tamu-tamu yang dibawah." Kinan melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Ada daddy yang mengurusnya." Kevin membingkai wajah Kinan dengan kedua tangannya.
"Maaf atas perlakuan jahat mas dulu. Dan terimakasih, karena dulu kamu bersedia mempertahankan kandunganmu. Seandainya dulu kamu menggugurkan kandunganmu, mungkin mas tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini. Terdengar konyol memang, tapi mas bersyukur, wanita di malam kelam itu adalah kamu. Wanita lembut dan baik hati. Seandainya malam itu bukan kamu yang disana, belum tentu juga ujungnya akan seperti ini. Terimakasih sayang, terimakasih!"
Biarlah Kevin dikatakan be*****". Untuk saat ini, kalau ada yang bertanya, dia menyesal atau tidak dengan kejadian malam kelam itu. Maka Kevin akan menjawab, tidak menyesal. Karena apa? Karena kejadian malam itu, membuat Kevin memiliki Kinan, juga punya si kembar, Zayden dan Aiden. Dan ucapannya tadi yang mengatakan bersyukur 'karena wanita itu Kinan', bukan hanya omongan belaka.
Kinan juga melakukan hal yang sama, membingkai wajah sang suami.
"Tidak bisa di pungkiri memang, karena kejadian malam itulah, kita bisa bersatu dan punya si kembar. Tapi, alangkah baiknya, kalau kita tidak perlu mengingat malam kelam itu. Tanamkan saja di pikiran kita, kalau si kembar lahir karena cinta kita berdua."
"Cinta kita berdua?" Cicit Kevin.
"Enghh...enghh, mak....maksudku....." Kinan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kevin terkekeh kecil, melihat tingkah sang istri yang malu-malu. Kevin membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Jadi istri mas ini, sudah mencintai mas, iya?" Kevin mengecup puncak kepala Kinan.
"Terimakasih sayang. Mas juga sangat, sangat mencintaimu dan sikembar."
Kinan membalas pelukan Kevin. 'Aku juga mencintaimu, mas!" Ucapan itu hanya bisa terucap dalam hati Kinan.
Sama seperti Kevin, Kinan juga bersyukur dengan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Menurut Kinan sendiri, tidak salah Kinan berdamai dengan apa yang terjadi padanya dulu. Dengan menyetujui permintaan mommy Cella dan daddy Marvin yang memintanya untuk menikah dengan Kevin, sebagai tanggung jawab Kevin karena telah merenggut kehormatannya secara paksa.
Meski di awal menjalaninya tidak mudah, tapi Kinan bisa melewatinya dengan baik. Kini Kinan punya suami yang sangat mencintainya juga punya anak kembar yang sangat menggemaskan. Di tambah dengan cinta dan kasih sayang mertuanya. Ucapan syukur tidak henti terucap dalam hati, atas semua anugerah yang Kinan dapatkan. Dan berharap, kebahagiaan ini akan selamanya menyertai keluarga kecilnya.
__ADS_1
Kinan semakin mengeratkan pelukannya, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga sang suami.
"I love you, daddynya si kembar." Bisik Kinan lirih.
Membuat Kevin refleks melepaskan pelukannya.
"Kamu bilang apa sayang?" Wajah Kevin terlihat berbinar. Kevin mendengar bisikan sang istri, dan ingin memastikannya kembali.
"Maksud mas?"
"Coba ulangi kata-katamu tadi, sayang!"
"Yang mana mas, aku aja nggak ada ngomong apa-apa."
"Masih nggak ngaku juga?" Kevin menggelitiki Kinan.
"Hahahaha....."
Kinan yang kegelian, tertawa terbahak-bahak. Kinan sampai meliuk-liukan badannya di atas ranjang karena tidak kuat menahan geli.
"Hahaha.......Ampun mas, ampun....."
"Ayok bilang!" Kevin terus menggelitiki sang istri.
"I love you, mas Kevin!"
I love you, daddynya si kembar!" Seru Kinan. Membuat Kevin menghentikan gerakannya.
Akhirnya setelah penantian panjang, Kevin mendengar kata itu keluar dari mulut sang istri.
I love you too, sayang. Mas mencintaimu lebih dari yang kamu tahu." Kembali Kevin memeluk Kinan, mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Berpindah mengecup semua bagian wajah Kinan. Disaat Kevin ingin me***** bibir Kinan, terdengar
Oek....oek....oek.....
Kevin dan Kinan saling pandang lalu tergelak bersama. Suara tangisan si kembar terdengar dari arah boks bayi. Sepertinya si kembar ingin bergabung dengan kedua orangtuanya, merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Kevin dan Kinan.
T A M A T
🌹🌹🌹
Terimakasih banyak untuk para pembaca semua, yang sudah meluangkan waktunya untuk mengikuti cerita yang jauh dari kata sempurna ini, mulai dari awal hingga akhir.
Mohon maaf, kalau dalam cerita ini banyak hal yang membuat para pembaca kurang puas dan bosan.
Terimakasih semuanya, semoga kita sehat selalu dan kebahagiaan menyertai kita semua.
__ADS_1
Nantikan karyaku selanjutnya iya.
🙏🙏🙏