Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam

Terpaksa Menikah Dengan Tuan Muda Arogan Dan Kejam
Bab 74


__ADS_3

Cahaya yang menerobos melalui celah jendela kamar, mengusik tidur seseorang yang ada diatas ranjang. Dia mengerjap - ngerjabkan matanya, setelah nyawanya terkumpul, dia mengalihkan pandangannya kearah jam dinding. Tanpa tahu, orang yang ada disampingnya senyum - senyum melihatnya.


"Jam tujuh lewat!" Lirihnya, saat dia menoleh kesamping, dia kaget melihat suaminya yang tidur menyamping sambil menyangga kepalanya dengan tangan.


"Mas Kevin!"


"Pagi sayang!" Kevin mendaratkan kecupan pada kening dan bibir istrinya.


"Pagi mas, kenapa mas nggak bangunin Kinan?" Ini udah siang, memangnya mas Kevin tidak ke kantor?" Kevin terkekeh mendengar pertanyaan beruntun sang istri.


"Satu - satu dong Ay nanyainnya! Kevin menahan tangan sang istri, yang hendak mendudukkan tubuhnya. Sehingga selimut yang menutupi tubuh polos sang istri melorot. Membuat Kinan mengerutkan keningnya.


"Kenapa mas? Kinan mau duduk."


"Kamu mau menggoda mas lagi, masih kurang yang tadi malam?" Kinan yang bingung dengan pertanyaan suaminya, mengikuti arah pandangan sang suami.


Kinan membelalakkan matanya. Buru - buru dia menutupi dadanya yang terbuka. Kinan tidak sadar, kalau dia tidak pakai baju. "Mas belum jawab pertanyaan Kinan tadi lho?"


"Mas sengaja tidak bangunin kamu, Ay. Ayok, lebih baik sekarang kita mandi, biar segar. Sebentar lagi Pak Salman akan bawa sarapan ke kamar."


"Mas belum mandi juga?"


"Belum, biar mandi bareng!" Kevin mengedipkan matanya. Tanpa menunggu persetujuan sang istri, Kevin yang hanya memakai boxernya, turun dari atas ranjang dan langsung menggendong istrinya ala bridal, dengan selimut yang menutupi tubuh polos sang istri. Kinan mengalungkan kedua tangannya dileher sang suami, supaya tidak jatuh. Kinan yang tersipu membayangkan mandi bersama, menyembunyikan wajahnya didada suaminya. Meski bukan ini yang pertama mereka mandi bersama, tetap saja membuatnya malu.


Tiba di kamar mandi, tanpa menurunkan istrinya, Kevin memutar kran air mengisi bathtub, setelah memastikan airnya cukup dan meneteskan sabun, keduanya masuk kedalam bathtub. Kevin mengambil posisi dibelakang sang istri.


"Gimana? Enak?" Kevin yang menggosok punggung sang istri bertanya.


"Hmm...." Kinan hanya berdehem. Dia terlalu menikmati tangan lembut suaminya yang menggosok punggungnya. Dan sesekali memberikan pijatan dibahunya. Sebenarnya Kevin dengan posisi ini, merasakan jantungnya tidak normal. Dia juga merasakan panas dipipinya. Kevin menggeleng - gelengkan kepalanya, pikirannya sudah dipenuhi hal - hal kotor. Ingin rasanya Kevin memakan istrinya saat ini, tapi setelah dipikir lagi, dia tidak mau membahayakan istri dan calon anaknya. Untuk itu Kevin menepuk - nepuk pipinya, berusaha mengembalikan kewarasannya. Setelah beberapa saat, Kevin mulai relaks dan melanjutkan menggosok punggung sang istri.


"Mas Kevin kenapa?"


"Tidak papa ,Ay!"


Selesai dengan kegiatan mandi, Kevin kembali menggendong istrinya keluar dari kamar mandi. Dengan perlahan, Kevin mendudukkan istrinya diatas ranjang.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini, mas mau ambil bajumu."


"Biar Kinan aja mas."


"Nggak papa, biar mas aja." Kevin menahan tubuh sang istri yang mau beranjak. "Hitung - hitung buat bayar yang tadi malam. Nanti malam pake warna lain ya!" Kevin mengedipkan matanya, sembari melangkah menuju ruang ganti.


"Ishh...." Kinan tersipu malu.


Tidak lama Kevin keluar dari ruang ganti dengan memakai baju santai. Ditangannya ada sebuah gaun berwarna mocca. Kinan memejamkan matanya, begitu sang suami membuka jubah mandi yang dia pakai. Semakin pasrah ketika sang suami memakaikan dalamnya.


"Mas....!" Seru Kinan sambil memukul tangan suaminya yang dengan jahil mencolek p******** "Biar Kinan aja, mas hadap belakang, sana!" Omel Kinan. Membuat Kevin terkekeh.


"Maaf sayang, dasar tangan nakal!" Kevin memukul tangan jahilnya. "Mas lanjutkan lagi ya, mas janji tidak akan aneh - aneh!"


"Awas aja, kalau tangannya mas masih.....!"


"Iya, iya bawel!"


Selesai dengan urusan baju, Kevin menuntun istrinya menuju meja rias dan mendudukkannya disana. Kevin membuka salah satu laci, lalu mengambil hair dryer dari sana. Bak seorang pegawai salon, Kevin mengeringkan rambut istrinya. Tangan suaminya yang menyentuh rambutnya, terasa menyenangkan bagi Kinan.


Kinan terkikik geli dengan pemikirannya. Bersamaan dengan Kevin yang telah selesai mengeringkan rambut istrinya, pintu kamar diketuk. Juga terdengar suara dari luar.


"Ini saya tuan muda."


"Masuk aja Pak!" Sahut Kevin dari dalam. Pintu terbuka, Pak Salman dan seorang pelayan muncul dengan membawa nampan berisi makanan. Setelah meletakkan makanan diatas meja, sang pelayan menundukkan kepala dan keluar dari kamar.


"Masih ada yang anda butuhkan tuan muda?"


"Tidak ada Pak!" Kevin memberi isyarat, agar Pak Salman keluar. Pak Salman menundukkan kepala, lalu mundur dan keluar dari kamar. Lalu menutup pintu dengan perlahan.


Melihat air liur sang istri yang hampir menetes, begitu melihat makanan yang ada diatas meja, Kevin menarik tangan sang istri dengan pelan dan mendudukkannya disofa.


Tanpa membuang waktu, buru - buru Kinan menyantap habis makanan yang ada di depannya. Kinan sudah menahan lapar dari tadi. Makanya dia tidak mau melewatkan kesempatan, begitu ada makanan didepannya.


"Makannya pelan - pelan, Ay, nanti kamu tersedak. Nggak ada yang minta kok."

__ADS_1


"Maaf mas, Kinan lapar banget." Kinan tersenyum malu.


"Kalau masih lapar, makan aja punya mas." Kevin menyodorkan piringnya yang masih ada isinya setengah.


"Mas nggak mau lagi?"


"Nggak, mas udah kenyang. Mas minum ini aja." Kevin mengangkat segelas kopi dan menyeruputnya.


"Kalau gitu, Kinan tidak akan menolak!" Kinan kembali menghabiskan makanan yang ada di piring sang suami. Melihat itu, Kevin tersenyum tipis. Dia memaklumi istrinya yang akhir - akhir ini, seiring perut istrinya yang semakin membesar, porsi makannya pun meningkat. Kata mommynya tidak papa, karena ada calon anaknya, yang butuh asupan makan juga. Tidak lama acara makan selesai. Setelah Kinan menghabiskan segelas susu ibu hamil yang biasa dia minum, Kevin membawa istrinya ke balkon. Keduanya ingin berjemur sebentar disana.


Tidak ada yang bersuara diantara keduanya. Kinan yang asyik menggerak - gerakkan tangan dan kakinya, sementara Kevin asyik memperhatikan setiap gerakan sang istri. Hingga beberapa saat, Kevin menyudahi kegiatan istrinya.


"Cukup, kita duduk aja!"


"Apaan sih mas, ganggu kesenangan orang aja." Omel Kinan, sembari mengerucutkan bibirnya, yang dengan cepat dikecup oleh Kevin.


"Mas.......!"


"Apa! Mau lagi?" Kevin mendekatkan wajahnya, dengan cepat Kinan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kevin tergelak dan memilih duduk dikursi yang ada disana.


"Ngapain masih disana, Ay?" Kinan melepaskan tangannya, ternyata suaminya sudah tidak ada dihadapannya.


"Kamu dapat baju tadi malam dari mana, Ay?" Tanya Kevin, saat istrinya udah duduk disampingnya.


"Dari mommy!" Lirihnya, Kinan menundukkan kepalanya. Wajahnya terasa panas, ketika ingat kejadian tadi malam yang dengan berani berpakaian seperti itu dihadapan suaminya.


"Nggak usah malu, Ay. Justru mas berharap kalau kamu pake baju seperti itu setiap malam. Mas yakin kalau mommy tidak hanya memberikan satu." Kinan membenarkan ucapan suaminya, mommy Cella memberikan lima potong baju seperti yang dia pakai tadi malam. Kata mommy Cella itu permulaan. Nanti akan diberikan dalam jumlah yang banyak.


"Apa Kinan terlihat seperti wanita nakal, kalau pakai baju transparan itu mas?" Kinan mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami.


"Siapa bilang? Hal itu sah - sah aja, kalau dipakai di hadapan suami. Makanya mas minta, setiap malam kamu pakai baju itu saja. Melihat kamu menyambut mas dengan baju seperti itu, rasa lelah yang mas rasakan dalam bekerja seharian akan hilang." Kevin menaik - turunkan alisnya.


"Itu sih maunya mas!" Kinan mendelik.


"Kalau bisa kenapa tidak!" Kevin merangkul sang istri dan mengecup puncak kepalanya. Hingga beberapa saat, keduanya memutuskan untuk masuk kamar.

__ADS_1


__ADS_2